
Tanpa di sadari waktu begitu cepat berlalu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 15:35
Setelah selesai melaksanakan shalat Ashar, Erick dan Yuna menikmati suasana indah di balkon kamar lantai 3, ya tepatnya di kamar mereka. Entah mengapa keduanya sangat menyukai kamar di atas, daripada di lantai bawah. Terpaan angin berhembus memberikan sensasi tersendiri untuk mereka berdua, kami sangat menikmati suasana sore itu...
....
Tiba-tiba suamiku mengajakku untuk bermain game, padahal aku tidak begitu menyukai game. Demi mas Erick aku rela melakukan apapun pikirku dalam hati.
"Sayang, main yuk" ucap mas Erick di sela-sela telingaku.
"Main... apa?" tanyaku pada suamiku.
"Game" jawab Erick singkat, jelas, dan padat.
"Haha aku tidak suka game mas" jawabku sesuai fakta tentang diriku.
"Percayalah game ini akan membuatmu ketagihan" goda mas Erick.
"Masa sih mas??" jawabku setengah tak percaya.
"Iya sayang, apalagi jika semakin besar dan panjang maka akan membuat mu semakin tegang dan teriak-teriak, pastinya akan membuat istri mas ini ketagihan hehe..." rayu mas Erick.
"Apaan sih mas, pasti lagi ngerjain aku yaa...mas fikir aku tidak tahu apa yang ada di otak mas yang super mesum itu!" aku menjawab dengan cemberut dan kesal.
"Haha idih istri mas fiktor nih, yaudah sini handphone kamu" mas Erick mencubit kedua pipi ku, lalu merebut ponsel yang ku pegang.
__ADS_1
"Ihh mas mau ngapain sama handphone aku, gak ada apa-apa juga kok" jelas Yuna...
"Sayang, game nya di download dulu tau!" seru Erick.
"Oohh game online yaa mas, kirain... hehe"
"Kirain apa hayoo??" Erick mengintrogasi istrinya.
"Hehe gak ada mas, gak jadi" jawabku.
"Ada paket datanya gak nih sayang?" tanya suamiku.
"Ya gak ada mas, kan mas gak kasih uang jajan selama di rumah aja hehe" jawabku memojokkan mas Erick.
"Iyadeh iya, besok kita beli sayang... sekarang mas hotspot in aja dulu buat download game nya"
"Ini nih game yang cocok buat kamu" menyerahkan handphone milik istrinya.
"Ih kok cacing sih mas"
"Udah jangan protes, ayo main bareng" ucap mas Erick.
....
Akhirnya merekapun main bareng, benar saja semakin lama cacing nya semakin besar dan panjang... reflek membuat Yuna geregetan sampai teriak-teriak gak jelas menghindari cacing-cacing yang lain. Di sela-sela permainannya, Yuna menantang Erick.
__ADS_1
"Mas, kalau aku yang menang maka mas harus pijitin aku yaa" tantang Yuna pada suaminya.
"Oke siapa takut, jika kamu yang kalah maka kamu harus melayani mas seharian besok... gimana?" Erick lebih menantang.
"Hmm jangan cari kesempatan dalam kesempitan mas, mentang-mentang aku gak bisa main game mas seenaknya buat peraturan begitu" jawab Yuna dengan kesal.
"Iya memang harus begitu sayang" jawab Erick santai.
.....
Kali ini mereka lebih fokus ke masing-masing cacing mereka, bobot cacing Yuna ketinggalan jauh dari cacing suaminya. Itu membuat mas Erick besar kepala dan sombong.
"Wah kayaknya mas nih yang bakalan menang... asyik!" seru mas Erick.
"Ehh jangan sombong mas, kita buktikan saja siapa yang akan menang nanti" jawab Yuna dengan percaya diri.
....
Erick hanya tersenyum melihat gadis kecilnya yang semakin fokus pada handphone nya tanpa melihat ke arah kiri dan kanan, berbeda dengan Erick yang selalu melirik ke arah handphone istrinya. Karena mata Erick jelalatan, itu membuatnya kurang konsentrasi dan akhirnya cacing miliknya menabrak cacing lain, dan tentunya Erick kalah.
Melihat Erick game over otomatis membuat Yuna tertawa lepas melihat ekspresi suaminya yang setengah kesal...
Itu artinya Erick akan menjadi tukang pijit untuk istri kesayangannya, terhitung mulai dari detik kekalahan Erick dalam permainan cacingnya yang sudah game over.
Kita sambung part sebelah yaa😘😘😘
__ADS_1
Jangan bosan mampir, dan jangan lupa like+vote biar author semangat nulisnya hehe😁🤗