
*Semoga Jodohku Kamu*
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, mama Erick telah sampai di depan gerbang rumah, mama diantar oleh paman.
Dengan cepat Erick berjalan menuruni anak tangga dan berlari menuju pintu...
Tok.. tokk...
"Assalamu'alaikum" ucap mama Ratih dengan tersenyum manis.
"Wa'alaikumussalam, mama" Erick berjalan menghampiri mama Ratih dan langsung memeluk manja mamanya.
"Erick... ih kebiasaan manjanya. Nih, bawain koper mama" memberikan koper kepada Erick, lalu masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh anaknya dari belakang.
"Mama mau makan apa? ntar sekalian delivery hehe" tanya Erick.
"Hmm anak mama bisanya cuman delivery terus, makanya punya istri biar ada yang jagain dan perhatiin kesehatan kamu nak" ucap mama Ratih.
"Iya ma.. nanti pasti ketemu kok calon mantu buat mama" Erick terlihat begitu semangat meladeni ucapan mamanya yang ingin segera mempunyai menantu itu, entah apa yang menyebabkan Erick begitu bahagia.
Apa mungkin yang dimaksud Erick adalah gadis kecilnya (Yuna)???
"Yaudah mama tunggu loh, siapa sih yang bisa buat anak mama senyum-senyum sendiri gitu.. hayo ngaku...!" ucap mama Ratih curiga.
"Hehe nanti mama akan tahu" sesaat Erick berfikir bagaimana jika mama tidak menyukai Yuna? dia kan hanya anak ABG, lagipula dia masih muda sekali! apa mungkin mama mau menerimanya??.
"Kamu kenapa? kelihatan bingung begitu?" mama Ratih menghampiri Erick yang duduk di tepi ranjang.
"Eh.. gak papa kok mam. Hmm yaudah Erick kedepan dulu ya nungguin pesena" ucap, Erick berusaha mengelak.
"Iya udah sana, gak usah bengong terus kesambet setan baru tau rasa, haha" mama nya menertawakan sikap anaknya itu yang tampak gelisah.
**Yuna**
Huh melelahkan... cuaca begitu panas! ditambah lagi harus naik angkot, karena Syila belum selesai kerja membuat adiknya itu harus naik angkutan umum. Hanya gerah yang dirasakan Yuna saat itu.
Sesampainya di halaman rumah, Yuna berjalan lunglai karena harus menahan macam-macam bau yang ada di dalam angkot tersebut. Perutnya terasa mual, karena memang pas hari ini penumpang sangat padat.
Seketika bunda melihat anak kesayangannya itu lalu berjalan dengan cepat menghampiri Yuna yang sempoyongan.
"Yuna,,, kamu kenapa nak?" tanya bunda khawatir.
"Pusing bund, mungkin karena tadi penumpang begitu padat dan sesak.. apalagi harus mencium berbagai macam bau di sana, Yuna mual bund" jawab Yuna.
"Ya sudah ayo kita ke kamar kamu bunda khawatir kamu kenapa-napa" ajak bunda.
Setibanya di kamar Yuna langsung merebahkan diri, bunda reflek langsung membelai lembut wajah anak nya itu yang terlihat sedikit pucat.
__ADS_1
Terdengar ponsel Yuna berdering.
Drrrttt... drrttt...
Segera Yuna mengambil dan berfikir untuk menjawab atau tidak.
"Siapa nak? bunda langsung membantu anak nya untuk duduk" tanya bunda.
"Kak Erick bund" jawab Yuna seadanya.
"Oh.. teman atau kakak kelas mu?" bunda bertanya kepada Yuna dengan nada yang sangat lembut, karena ia tahu anaknya pasti takut jika harus di introgasi macam-macam.
"Teman bund.. tapi Yuna tidak pernah melihatnya secara langsung. Kak Erick anak kuliahan, umurnya 21 tahun sekarang dia kuliah di Universitas ternama yang ada di kota nya, kota A untuk menyelesaikan S2" jawab Yuna panjang lebar.
Setelah menjelaskan panjang lebar dering ponsel nya Yuna pun berhenti, pertanda Yuna belum sempat mengangkat telepon dari kak Erick.
"Bund..." ucap Yuna sambil memeluk bunda dengan erat.
"Iya kenapa nak?" tanya bunda heran.
"Ada yang ingin Yuna tanyakan, masalah kak Erick"
"Berapa lama kamu mengenalnya?" bunda bertanya kepada anak gadisnya itu.
"Satu minggu yang lalu bund... itupun hanya sebatas kontek an lewat handphone" jawab Yuna.
"Sebenarnya kak Erick menyukaiku, bahkan dia mempunyai perasaan lebih daripada teman. Apa bunda marah?" ucap Yuna perlahan.
"Tidak nak, bunda tidak akan marah selagi itu baik-baik saja.. toh kamu juga tidak kenapa-napa kan?
"Kak Erick juga menyayangiku, aku tidak tau harus berkata apa padanya. Yuna hanya bilang datanglah kerumah temui ayah dan bunda jika benar-benar ingin menemui Yuna.
Lalu bagaimana dengan ayah bund,, Yuna takut" ucap Yuna.
"Kamu tenang saja nanti biar bunda yang bilang ke ayah, sekarang lebih baik kamu makan, kamu kelihatan begitu pucat nak! bunda khawatir akan kesehatanmu" bujuk bunda.
"Iya bund.. hmm soal kak Erick mau kerumah bagaimana apa boleh?" tanya Yuna.
"Tentu saja boleh, hanya laki-laki sejati yang menemui perempuan yang di cintainya berhadapan langsung dengan kedua orang tuanya. Bunda yakin ayah tidak akan marah atau pun terbebani..." jelas bunda dengan mantap.
"Baik bund, terimakasih..." Yuna memeluk bunda dengan begitu erat.
**Erick**
Makan siang telah selesai, Erick segera mandi karena terasa gerah, cuaca cukup panas hari itu.
"Ma.. Erick mandi dulu ya udah gerah banget soalnya" ucap Erick.
__ADS_1
"Yaudah sana, nanti langsung ke bawah aja mama tunggu diruang tamu" jawab mama.
"Oke mam..." Erick berjalan meninggalkan mama Ratih seorang diri di ruang tamu sambil menikmati cemilan yang dibawanya dari kampung.
Tak berapa Lama, Erick pun turun dengan memakai celana jeans selutut dan kaos oblong warna putih.
"Ehm ma..." Erick berdehem.
"Iya sini duduk" mama menggeser posisi duduknya agar anaknya duduk di sebelah mamanya.
"Ada apa katanya ada yang ingin kamu bicarakan, soal apa nak??" ucap mama Ratih.
"Sebenarnya Erick menyukai seseorang, dia menarik di mata Erick ma" jelas Erick.
"Wah siapa mama penasaran? Alhamdulilah ya Allah anak ku sudah mau membuka hati yang sempat rapuh karena ulah wanita materialistis (Mira) itu" ucap mama Ratih membathin didalam hatinya.
"Hmm apa dia kuliah? apa jangan-jangan satu Universitas dengan mu??" tanya mama.
"Tidak ma...dia bukan anak kuliahan. Umurnya pun jauh berbeda dengan Erick..apa mama bisa menerimanya?" ucap Erick.
"Sejak kapan kamu berhubungan dengannya, kelihatannya anak mama bahagia sekali!" tanya mama penasaran.
"Lebih kurang 1 minggu yang lalu ma" jelas Erick seadanya.
"Ya sudah bawalah kemari jika mama tidak melihatnya mama tidak akan tahu..." ucap mama sambil tersenyum manis kepada anaknya itu.
"Ma... sebenarnya dia masih anak SMA itupun baru kelas X. Apa mama menyetujui??" ucap Erick sedikit ragu.
"Untuk sekedar hubungan saling mengenal tentu saja mama menyetujui, jika dia bisa menemani dan menghargaimu sebagai seorang lelaki mama pasti merestui kalian.
Bawalah kemari nak mama ingin sekali mengenalnya lebih jauh. Siapa nama nya??" jelas mama.
"Yuna Astari Wijaya ma" Erick tersenyum bahagia mendengar jawaban mama Ratih yang tampak mendukung.
"Nama yang bagus,, hmm kapan kamu akan mengajak nya kemari? mama ingin mengobrol dengannya" tanya sang mama dengan serius.
"Yuna masih terlalu polos ma, dia masih terlihat seperti anak kecil, tapi Erick gemas dan tertarik padanya.
Pergaulannya juga dibatasi oleh Ayahnya terlebih jika teman seorang laki-laki...Lalu Yuna sempat bilang jika memang ingin bertemu dengannya datanglah kerumah temui ayah dan bunda.. Apa mama mau menemani Erick ke sana? Apa mama setuju??" tanya Erick.
"Apapun kebahagiaan mu mama selalu dukung nak, termasuk pilihan hidup mu.
Kapanpun kamu mau menemui nya mama akan menemanimu..." mama Ratih memeluk Erick sambil mengusap lembut rambut anak bungsunya itu.
Tunggu perjuangan Erick selanjutnya😉
Happy Reading😍😍😍😍
__ADS_1
Jangan lupa like and comment nya😘😘