Semoga Jodohku Kamu

Semoga Jodohku Kamu
Part 15 Menikmati senja


__ADS_3

*Semoga Jodohku Kamu*


Erick dan Yuna masih duduk manis di taman belakang, menatap langit yang mendung, sejuk, berangin, tapi tetap mereka sangat menikmatinya.


Suasana serasa indah walaupun terlihat seperti ingin mengeluarkan hujan deras, awan putih menjadi kelabu, pekat...


"Kak dingin ya, cuaca juga sedikit buruk" ucap Yuna.


"Iya, kenapa? apa perlu aku peluk agar kamu tidak kedinginan" sahut Erick mengedipkan sebelah mata nya.


"Iiih dasar mesum, Yuna aduin ayah baru tau rasa!" jawab Yuna memasang wajah cemberut dan terlihat malu-malu.


"Haha, becanda lo dek.. jangan diaduin lah baru PDKT begini jugak ah. Ntar yang ada aku dimarahin sama mama" ucap Erick memohon.


"Biarin, huu...Makanya jangan kayak gitu" ucap Yuna.


"Jadi, kakak harus gimana?" Erick menatap mata gadis kecil nya.


"Gak tau, iih apaan sih kak. Aku mau ke rumah aja" ucap Yuna.


Seketika pipi Yuna terlihat merah seperti udang rebus, mungkin karena baru pertama kali digoda oleh lelaki.


"Kenapa itu pipimu sudah seperti udang rebus saja, merah Haha" Erick tertawa begitu kencang melihat gadis kecilnya itu.


"Auk ah" sahut Yuna berjalan meninggalkan Erick.


"Na...apa kamu marah padaku? sorry" ucap Erick.


Yuna tetap bergegas meninggalkan Erick tanpa menoleh ke belakang.


Setelah masuk rumah, bunda langsung mengintrogasi Yuna yang memasang wajah cemberutnya.


"Kamu kenapa nak? lho Erick mana kok kamu sendiri?" tanya bunda.


Yuna masih tetap diam tak menjawab pertanyaan bunda, tiba-tiba Erick datang...


"Maafin aku Na, cuman bercanda kok" jelas Erick dengan serius.


"Erick, ada apa? kenapa Yuna terlihat seperti marah begitu? kamu apain ayo ngaku..!" ucap mama Ratih mulai mengintrogasi putranya dengan tangan kanannya menjewer kuping anak nya itu.


"Aww sakit ma, aku tidak ngapa-ngapain kok.. cuman salah paham aja lagian cuman bercanda, Na jangan gitu dong masa di masukin ke hati aku kan cuman becanda aja gak serius" jelas Erick.


"Sebenarnya ada apa sih kalian ini?" tiba-tiba ayah Wijaya bersuara dengan penuh rasa penasaran ia bertanya kepada dua anak remaja tersebut.


"Gini om, kan cuaca diluar lumayan buruk.. terus Yuna yang bilang kak dingin ya cuaca juga sedang buruk...


Lalu Erick jawab: Ia apa perlu aku peluk agar kamu tidak kedinginan!

__ADS_1


Cuman itu aja kok om, bund, ma serius deh Erick cuman bercanda aja tadi" Erick menjlaskan dengan sungguh-sungguh.


"Hahaha Rick mohon dimaklumi ya nak, Yuna memang mudah ngambek begitu, mungkin dia malu atas ucapan nak Erick tadi" Ayah dan bunda menjelaskan secara bersamaan.


"Yuna maafin kak Erick ya, dia memang suka bercanda yang kelewatan..." mama Ratih mencoba membujuk Yuna yang masih bersungut masam dan memasang wajah cemberut.


"Ehh iya ma, mungkin Yuna yang terlalu sensitif. Kak maaf ya, oh iya bund Yuna mau ke kamar sebentar" ucap Yuna.


Setibanya di kamar Yuna terus berdiri di depan meja riasnya menghadap cermin, dia merasa malu dengan mama Ratih dan kak Erick,,, huh kenapa juga aku pakai ngambek segala sih kan gak enak, bisa-bisa aku di ledekin ayah sama bunda nanti... gumam Yuna.


Langit terlihat makin mendung dan ingin segera hujan,,, tidak begitu lama hujan deras turun membasahi bumi.


Yuna langsung turun ke bawah bergabung kepada bunda, ayah, mama, dan kak Erick.. karena saat hujan deras Yuna sangat takut dan trauma bila ada petir yang menyambar.


"Bunda..." dari tangga terlihat bahwa Yuna tergesa-gesa pergi ke pelukan bundanya.


"Bunda.. Yuna takut" ucapnya dengan manja.


"Kamu kenapa Na, kenapa ketakutan begitu?" ucap Erick bertanya sambil rasa khawatir muncul di benaknya.


"Sebenarnya Yuna sangat takut dan trauma saat hujan deras apalagi bila sampai ada petir" ayah menjelaskan kepada Erick.


"Oh begitu, Na kamu gak usah takut kita semua di sini ada untuk mu" ucap Erick mencoba menenangkan Yuna.


"Iya, makasih kak" jawab Yuna tersenyum manis pada Erick, rasa takutnya telah membuang jauh perasaan dongkol nya terhadap Erick.


Bagaimana mungkin Erick dan mama bisa pulang ke kota A sementara hujan bertambah deras dengan semangat nya?


"Hmm jeng sepertinya kami harus pulang karena takut kemalaman smpai ke kota A" ucap mama Ratih.


"Lho tapi kan masih hujan deras jeng, setidaknya tunggulah agak reda... atau kalau tidak keberatan bisa menginap saja di sini jeng, nak. Lagipula ada dua kamar tamu yang kosong, kalau jeng bersedia bisa kok untuk menempatinya" ucap bunda ramah.


"Iya Rick, mengendarai dalam keadaan hujan juga berbahaya, ayah harap kalian tidak keberatan. Bagaimana?" tanya ayah Wijaya.


"Erick gak keberatan kok yah, tapi... apakah Yuna mengizinkan saya untuk menginap di sini, apa kamu sudah memaafkan saya?" tanya Erick dengan tatapan menyelidik kepada Yuna.


"Hmm ya boleh saja kak, tapi aku membiarkan kakak nginap di sini demi mama Ratih, bukan kakak hahaha" jawab Yuna dengan tawa riang.


"Iya.. iya aku tahu. Terimakasih sudah perduli pada mama" sahut Erick.


"Ya sudah nak mendingan kamu temenin kak Erick, masa jauh-jauh datang pengen nemuin kamu, ehh kamunya malah anggurin dia" ucap bunda.


"Iyadeh bun, yuk kak. Bun Yuna ke kamar dulu ya mau melihat langit yang tengah derasnya oleh hujan" ucap Yuna.


.


Erick berjalan mengikuti langkah gadis kecilnya itu, kemana? aku juga tidak tahu, hmm sudahlah ikuti saja toh tidak akan tersasar bila hanya mengikuti gadis kecilnya itu, tapi kalau bisa aku ingin sekali tersasar di hati dan fikirannya, pikir Erick dalam hati.

__ADS_1


*


Kini mereka menatap langit gelap, yang masih menurunkan hujan deras. Erick hanya tersenyum bahagia, kini gadis kecilnya berada disampingnya, menemani dia di senja ini. Tiba-tiba petir menyambar... tanpa sengaja Yuna teriak histeris dan memeluk tubuh Erick dengan begitu kuat, kuat sekali bahkan jantung Erick berdegup kencang, darahnya mengalir deras...


"Aku takut, jangan marah bila aku memeluk kakak" ucap Yuna dengan polosnya.


"Aku tidak akan marah padamu, lakukanlah selagi itu bisa membuatmu nyaman, dan damai. Aku berjanji aku akan selalu menjagamu Yuna..." refleks Erick membelai lembut rambut gadis kecilnya itu, sambil sesekali ia mencium pucuk rambut gadis itu.


Yuna merasa aman, damai saat berada di pelukan Erick.. bahkan dia tidak menolak saat Erick menciumi rambutnya. yang ia rasakn hanyalah ketenangan yang hakiki, dia merasa Erick sangat melindunginya di senja ini, begitupun yang dirasakan oleh Erick.


Hujan semakin deras dengan petir yang sering timbul menyambar... seakan-akan memberikaan kesempatan penuh pada dua insan tersebut untuk saling memeluk dan mendekap lebih lama...


Tiba-tiba bunda ke kamar Yuna yang memang tidak di kunci, betapa terkejutnya bunda melihat anak gadisnya di peluk lelaki lain selain ayah Wijaya...


"Apa yang kalian lakukan..!" teriak bunda dengan suara khasnya.


Erick dan Yuna begitu takut dan menjawab dengan terbata-bata...


"Ini tidak seperti yang bunda bayangkan" jelas Erick dan Yuna bersamaan.


"Iya bunda,, tadi hujan sangat deras bahkan petir menyambar dan saat itulah Yuna merasa takut dan reflek memeluk saya, maafkan saya bunda seharusnya saya menahan Yuna agar tidak sampai memeluk saya. Bunda boleh hukum saya" ucap Erick menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Iya bunda, hukum saja kami apapun hukumannya kami akan terima sebenarnya ini salah Yuna, Yuna begitu kekanakan bun... hanya mendengar petir saja ketakutan... hmm Yuna tidak bermaksud ingin memeluk kak Erick lama-lama, tapi..." Yuna menjelaskan pada bundanya.


"Tapi apa sayang?" bunda bertanya dengan lembut kepada anak nya itu di iringi dengan tatapan menyelidik".


"Tapi Yuna nyaman bun berada di pelukan kak Erick... Yuna merasa damai. Ini salah Yuna bun, terserah bunda mau menghukumku apa saja asal bunda mau memaafkan aku dan kak Erick" ucap Yuna.


"Hmm baik bunda akan memaafkan kalian, dengan satu syarat" sahut bunda.


"Apapun syaratnya pasti akan kami penuhi bunda" ucap Erick mencoba menenangkan Yuna yang mulai gelisah.


"Erick kamu harus berjanji pada bunda dan ayah Wijaya kalau kamu benar-benar bisa menjaga Yuna, apa kamu sanggup?" tanya bunda.


Erick merasa kaget dengan apa yang diucapkan oleh bunda. Tapi tidak membuat Erick gentar sedikitpun, Erick menjawab dengan penuh semangat.


Yuna dan Erick saling melempar senyum, untunglah kali ini mereka selamat dari mulut buaya, tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di bawah nantinya, bisa sja malah di terkam harimau hidup-hidup...Erick membathin dalam hatinya.


Ahh sudahlah jika harus berhadapan dengan ayah Wijaya, fine dia juga pernah muda kok. Santuy ajalah dia juga manusia biasa gak mungkin akan menelanku hidup-hidup... Erick menenangkan fikirannya sendiri dengan membathin di dalam hati.


Mau tau kelanjutannya😘😘😘


tetap di sini ya *Semoga Jodohku Kamu*


jangan lupa tekan menu favorit😉


Terimakasih 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2