
Suasana malam yang begitu dingin hingga terasa menembus tulang... dingin!! itulah yang dirasakan Erick sepeninggal mamanya.. dia sebelumnya belum pernah merasakan hal seperti ini!
Hah bodoh kenapa sampai begini!?, bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi padaku!! apa aku sakit?? apa aku terlalu merindukan mama?? ahh tidak mungkin! ucap Erick bagaikan orang gila di dalam kamar nya.
Mungkin lebih baik aku menghubungi mama...ucapnya dalam hati.
Baru saja hendak menelpon mamanya Erick teringat bahwa ini sudah larut malam tidak mungkin kau mengganggu dan membuat mama khawatir padamu,, dasar bodoh! Erick memaki dirinya sendiri dalam hati.
Ditengah rasa gundah nya melewati terpaan angin malam sempat Erick memikirkan sosok seorang wanita yang dianggapnya hanyalah sebatas anak kecil, tidak lebih dari itu. Benar saja ia adalah Yuna, yang asal dan tempat tinggalnya pun tidak diketahuinya, bahkan bertemu pun tidak pernah sama sekali.. ahh kacau kenapa kau begini Erick?? umpatnya dalam hati.
"Apa mungkin aku merindukan gadis kecil itu??" lagi-lagi Erick memikirkan gadis kecilnya.
.
Sedangkan di kediaman gadis kecil, Yuna pun merasakan hal yang sama, gelisah... entah apa yang difikirkan nya.
Langit begitu indah dengan adanya bintang-bintang...tapi tak bisa dipungkiri suasana malam itu memang begitu dingin bagaikan ada salju!
"Dingin sekali... hmm" gumam Yuna sambil menarik selimut dan memeluk boneka Doraemon kesayangannya yang merupakan hadiah ulang tahun dari ayah Wijaya pas saat ia berusia 15 tahun.
Baru saja hendak terlelap terdengar ponsel miliknya bergetar
drrrttt... drrrtttt....
Bergegas Yuna bangun untuk mengecek ponselnya tapi tentunya tidak akan sampai melepaskan selimut tebal yang membungkus tubuh mungilnya itu..
Setelah ia melihatnya betapa terkejutnya bahwa yang menelponnya adalah Erick Hermawansyah.
__ADS_1
"Hmm kenapa kak Erick menelponku? padahal sudah larut begini??" pikirnya dalam hati.
Sudahlah Yuna... kalau kau tidak mengangakat telpon nya kau tidak akan tahu.. ucapnya membathin.
.
Terdengar suara serak.. memanggil Yuna melalui telepon.. ia adalah Erick.
"Hallo Na.. " ucap Erick.
"Ehm,, iya Assalamu'alaikum kak" jawab Yuna, mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam, maaf aku lupa" ucap Erick.
"Iya tidak apa-apa, ada apa kak kenapa nelpon sudah larut begini??" Tanya Yuna.
Bagaimana bisa ia mengutarakan semua isi hatinya pada gadis kecil yang menurutnya hanyalah anak-anak dan ia pun tidak tahu setan apa yang menghasutnya saat itu.
"Aku rindu padamu Baby!! aku tidak tau pikiranku saat ini hanya tertuju padamu! bahkan aku tidak tau kenapa aku memikirkan mu" ucap Erick dengan suara seraknya.
"Apa kau marah padaku Yuna?" suara Erick mulai melemah dan terdengar seperti sedang menggigil.
" Ta.. tapi kak, apa kamu ngigo atau gimana sih??" tanya Yuna mulai sebal, karena gadis kecil seusia nya memang belum pernah menjalin hubungan asmara dengan laki-laki manapun, apalagi ayah Wijaya sangat membatasi pergaulan anaknya itu dari yang namanya lelaki.
"Aku hanya ingin bersamamu saat ini, bukan mereka ataupun yang lain!" jawab Erick
"Apa kau tidak suka padaku? jawab.. tolong jawab aku Yuna!!" ucap Erick semakin ngelantur.
__ADS_1
"Aku tidak tau kak, bagaimana bisa aku menjawabnya?" ucap Yuna seadanya.
"Baiklah kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, bisa besok, lusa, bahkan bisa setiap hari, aku akan bertanya padamu sampai kau mau menjawabnya" jelas Erick.
"Lebih baik kakak tidur, sepertinya kamu sangat kelelahan. Lanjutkan besok saja aku sangat mengantuk, mengertilahh!" ucap Yuna dengan nada suara memelas.
"Baik aku akan menunggu jawabanmu babe, selamat tidur.. maaf aku mengganggumu" ucap Erick di penghujung telefon.
"Tidak apa-apa, segeralah tidur kakak juga butuh istirahat. Assalamu'alaikum!" ucap Yuna mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam..." jawab Erick mengakhiri telefon.
Entah angin apa yang membuat Erick mengatakan bahwa dia menyukai Yuna, gadis kecil yang bahkan belum pernah ia lihat secara langsung. Seolah seperti menemukan mainan baru, atau bahkan barang antik!
Itulah kata hati, kita tidak tahu pada siapa
rasa CINTA itu akan singgah.
Suasana yang tadinya begitu dingin seolah-olah berubah drastis memberikan kehangatan pada tubuh Erick, perlahan ia memejamkan mata dan tidur terlelap sampai pagi.
Mungkin inilah kekhawatiran mama Ratih yang selama ini bersikeras ingin segera anaknya ini mencari pendamping hidup..
Karena "Sepi" bisa datang kapan saja, tanpa meminta dan dipinta...
Lanjut part berikutnya ya kakak-kakak🥰
Jangan lupa like dan ikuti terus ya😘🤗
__ADS_1