
Sinar mentari pagi mulai masuk di celah-celah jendela kamar Yuna,,,
Begitu silau tetapi sungguh pemandangan yang indah dipagi hari memberikan kehangatan tersendiri untuk gadis kecil.
Huaaammm....ahh aku ngantuk sekali!! gumam Yuna.
Tiba tiba drrrttt.... drrttt.. seperti biasa, kalau soal handphone Yuna terlalu bersemangat untuk mengeceknya.
Ohh.. ternyata kak Erick, ada apa ya nelpon pagi-pagi begini? pikir Yuna.
"Halo Na...morning" sapa Erick di seberang telefon.
"Ehm iya kak, morning too" jawab Yuna.
"Bagaimana? apa kamu sudah mempunyai jawaban?" tanya Erick.
"Hah... a.. aku tidak tau kak, tidak tau harus menjawab apa. Sungguh aku bukan gadis yang tepat untukmu" jawab Yuna terbata-bata.
"Kenapa berbicara seperti itu?? apa kamu tidak menyukaiku?" ucap Erick.
"Jika kakak ingin jawaban temui aku di rumahku bicaralah pada ayah dan bundaku, karena keputusan ada ditangan mereka, sebab saat ini aku tidak diperbolehkan terlalu bergaul dengan lelaki" jawab Yuna dengan mantap.
"Baik, aku akan menemui orang tua mu, aku harap kamu bisa membalas perasaanku nantinya" ucap Erick penuh harap.
"I.. iya kak. Maaf harus membuatmu repot dan terbebani" jawab Yuna.
"Tidak ada beban bagiku untuk menemuimu dan orang tuamu, apalagi soal gadis kecil yang sangat aku rindukan! Ya udah mandi gih sana, jangan lupa sarapan. Semangat sekolahnya, oke" ucap Erick.
"Iya kak makasih, oke aman" jawab Yuna.
.
Setelah menutup telefon, Yuna bergegas mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah.
.
Sedangkan Erick, kini ia masih mendekam di dalam kamar sambil memandangi foto gadis kecil yang di download nya kemarin sore di akun Facebook Yuna, nama lengkapnya adalah Yuna Astari Wijaya.
Sedikit terobati rasa rindu yang sempat menggebu, Erick hanya senyum-senyum dengan fokus memandangi foto di ponselnya.
Drrttt... drrtttt...
Panggilan masuk, dari mama Ratih.
"Hallo Assalamu'alaikum nak" ucap mama Ratih.
"Wa'alaikumussalam ma, ada apa ma?
mama apa kabar?" jawab Erick.
"Gak papa mama cuman kangen sama kamu, kamu jangan khawatir mama disini baik-baik saja" jawab mama.
"Mama yang khawatir Erick kenapa-napa, bagaimana keadaanmu?" tanya mama.
"Baik mam, Erick rindu sama mama ada yang ingin Erick bicarakan tapi tidak bisa lewat telefon seperti ini hehe" jelas Erick.
__ADS_1
"Apa terlalu serius nak hingga harus ngomong secara langsung?? lusa mama pulang kesana" jawab mama.
"Ini menyangkut masa depan Erick mam, makasih ya ma. Kalau begitu Erick mau siap-siap, soalnya ada kuliah pagi ma. Mama jaga kesehatan jangan kecape'an ma" ucap Erick.
"Iya sayang, yaudah mandi sana jangan lupa sarapan nanti beli aja dikantin kampus" jawab mama.
"Oke Asyiap bos!! hahahaha" ucap Erick tertawa lepas.
**Mama Ratih**
Diakhir menutup telepon Ratih berfikir, kenapa? ada apa dengan anaknya itu?? sampai harus bicara langsung. Kegelisahan seorang ibu bisa terlukis diwajahnya yang tampak sedikit keriput itu...
Apa mungkin ada masalah dengan perkuliahannya, atau mengenai biaya kuliah? ahh rasanya tidak mungkin!! Erick anak yang baik, dia bertanggungjawab dan dia juga tergolong mahasiswa berprestasi di kampus nya itu, tidak mungkin Erick melakukan hal macam-macam yang bisa mempermalukan mama serta keluarga besar Arif Hermawansyah..hmm mungkin Erick terlalu merindukan aku...mama Ratih membathin memikirkan ucapan anak bungsunya itu.
**Kampus Erick**
Dipersimpangan jalan Erick melihat Riko sedang berbicara pada seorang bapak-bapak terlihat begitu akrab.
"Riko!" teriak Erick.
"Eh Erick.. sini bro!" sambil melambaikan tangannya kearah sahabatnya itu.
"Siapa dia nak?" ucap Erlangga Kusuma bokap Riko.
"Sahabat Riko pa,,, dia kuliah di sini juga kebetulan satu jurusan, satu kelas, dan one heart hahahah" ucap Riko.
"Husstt.. maksudnya apa One Heart? jangan bilang anak papa Homo mau taruh dimana muka papa" jawab papa Erlangga menyelidik.
"Haha ya muka papa tetep aja akan nempel disitu pa, mau di mana lagi?"jawab Riko becanda.
"Hahaha" Riko dan papa tertawa bersamaan, dan dihampiri oleh Erick.
"Ehh lo ngetawain gue ya?! Erick langsung berbicara dengan nada suara lumayan tinggi" ucap Erick.
"Ehh baper amat lo bro, pasti belum sarapan kan makanya tu emosi gak konek ama perut lo... hahaha" Riko mengejek Erick.
"Hust... kamu ya Ko.. kalau ngomong gak bisa di rem!" bentak papa Erlangga.
"Hmm om siapa? apa dosen baru??" Erick mulai mengintrogasi papanya Riko.
"Haha bukan! saya Erlangga Kusuma papanya Riko" jawab om Erlangga.
"Oh maaf om, saya kira om dosen baru di sini hihi" ucap Erick.
"Lagian lo bro ngapa gak ngomong dari tadi ****'!" ucap Erick.
"Ehh biasa aja sih jangan bilangin gua ****' mulu, di depan bokap juga" bantah Riko dengan kesal.
"Sorry.. udah kebiasaan soalnya, sampai lupa gue gimana cara ngilangin nya" jawab Erick nyolot.
"Udah-udah jangan di perpanjang, Riko.. Erick.. lebih baik kita sarapan, kalian laper kan? biar om deh yang traktir" Papa Erlangga mencoba akrab bersama sahabat anaknya itu, karena ia tahu bahwa Riko sebenarnya sering menceritakan Erick kepada nya, bahwa Erick termasuk sahabat yang tangguh, mandiri, bertanggungjawab, terlebih lagi dia mahasiswa yang berprestasi di kampus dan kelasnya itu".
"Om, tumben nganterin Riko biasanya kan ni anak bawa motor kesayangannya itu dengan lagak sombongnya" tanya Erick.
"Kebetulan motornya si Riko masuk bengkel, oh ya nak Erick ke kampus sama siapa?" jawab om Erlangga.
__ADS_1
"Sialan lo Rick, gak tau gue lagi sad😭 juga.. mikirin mitor gue! lo malah ngeledekin gue mulu" jawab Riko.
"Ehh diem lo..." timpal Erick menyuruh sahabatnya itu untuk diam.
"Oh iya om kebetulan Mama Erick pulang kampung karena harus menjaga rumah peninggalan Papa, dan Erick disini sendiri, tadi perginya juga pakai mobil sendirian". jawab Erick.
"Tuh Pa.. Erick aja pake mobil! dari dulu juga Riko mau mobil gak dibeliin" ucap Riko sambil senyum senyum mencolek papa Erlangga.
"Ehh Riko gue juga gak pernah minta tuh mobil, itu kebetulan aja pas lulus SMA dan gue dapet Juara Umum di sekolah makanya dapet hadian dari almarhum papa". sahut Erick.
"Wah bagus dong nak Erick, om salut sama kamu! Tuh contoh sahabat mu ini, kalau udah pinter dan bisa membanggakan kedua orang tua jangan kan mobil, pesawat juga papa beliin kok!!" ucap papa Erlangga.
"Beneran ya pa, pesawat eyang **. Habibie harus papa beliin" sahut Riko.
"Iya tenang aja,,, 10 pesawat mainan papa beliin but kamu, haha" papa Erlangga tertawa puas.
Hahahha Mereka tertawa bersamaan sambil tersenyum kepada papa Erlangga.
"Ya sudah kalian lanjut aja makannya ntar papa yang bayar, sekalian om pamit Erick, karena ada meeting jam 09:00 nanti.
Titip Riko ya, tolong otak anak om diservis biar ketularan genius kayak kamu!" ucap om Erlangga.
"Hahah aman terkendali ditangan Erick om, ****** lo" ucap Erick sambil melihat Riko yang kelihatan menahan malu dan sebal ulah candaan papa nya itu.
Erick tersenyum puas karena ia merasa sangat terhibur.
.
Sejenak Erick terlihat murung, seperti memikirkan sesuatu. Dia juga mendadak melamun, entah apa yang ada di fikiran nya saat itu...
"Heh ngapain muka handsome di tekuk kek begitu..." ucap Riko mengagetkan Erick.
"Apaan sih lo main tabok-tabok aja" ucap Erick.
"Lo yang kenapa?" tanya Riko.
"Jujur gue keinget bokap bro! sedih gua kemarin pas SMA sempet ngelawan, bahkan bikin malu papa sama mama gue karena sempet di sekolah terkenal sebagai anak Funk!" ucap Erick dengan raut wajah murung.
"Inget bro! yang namanya masa lalu ya masa lalu, sekarang fokus aja ke masa depan lo , gue yakin kok papa lo jauh lebih bangga melihat anak nya yang sekarang, lo pinter, genius, top deh" Riko mencoba menghibur sahabatnya.
"Makasih bro Lo selalu ada buat gue, meskipun baru di perkuliahan gue ketemu lo tapi gue bersyukur punya sahabat kayak lo bisa nempatin situasi dan kondisi" Erick mencoba menyemangati dirinya sendiri dan tersenyum kepada Riko.
"Kalau lo mau, bisa kok lo anggap papa Erlangga sebagai bokap lo. Papa gue juga pasti bangga banget kalo punya anak smart kaya lo Rick." ucap Riko tulus.
"Serius ni bro!! lo gak takut tersaingi gitu? ntar papa malah anggap gue anak kandung nya lagi, sedangkan lo anak tiri...haha" ucap Erick.
Hahhaha... suara tawa mereka terdengar jelas memenuhi kantin yang di tempati mereka.
"Udah ah yok, let's go to class!" ajak Erick.
"Okey" sahut Riko menepuk bahu sahabatnya itu.
Happy reading kakak-kakak😉
Ini baru permulaan, ikuti terus part-part selanjutnya😘😘
__ADS_1
Saksikan bagaimanakah kisah cinta Erick dan gadis kecilnya, Yuna😍