
Di kediaman Syila dan Dewa, bunda sedang berkunjung bersama ayah. Mungkin karena terlalu merindukan kak Syila membuat bunda bersikeras menjenguk anak dan menantunya itu. Di pernikahan Syila dan Dewa yang belum mencapai satu tahun, alhamdulillah Dewa sudah bisa membeli rumah yang layak untuk mereka tempati. Dewa dan Syila juga bekerja keras agar bisa membeli mobil, meski keduanya harus sama-sama menjual motor kesayangannya. Bisa dikatakan, Syila dan Dewa sama-sama berjuang untuk rumah tangga mereka. Berbeda dengan Yuna ia bahkan tidak pernah bekerja untuk mencari uang, karena tugasnya hanyalah berdiam diri di rumah melayani segala kebutuhan suaminya dengan baik.
Pukul 10:20 ayah dan bunda sampai di rumah Syila yang baru saja Dewa beli beberapa bulan yang lalu. Rumah yang sederhana dan tidak juga norak. Meski rumah ini tidak sebagus rumah sang adik, namun Syila bersyukur karena sudah bisa memiliki rumah sendiri bersama suaminya. Karena memang pantas di akui, bahwa Erick jauh lebih sukses daripada mas Dewa. Meski Syila lebih dekat dan satu kota dengan bunda, ia jarang ke rumah menjenguk bunda dikarenakan kesibukannya dalam bekerja. Padahal mas Dewa sudah menyuruh Syila untuk berhenti bekerja, namun Syila tidak mau... karena ia adalah tipe wanita yang tangguh dan pekerja keras.
Ia lebih senang menghabiskan waktu di depan laptopnya untuk bergelut dengan berkas-berkas kantor...
Berbeda sekali dengan sang adik, Yuna adalah sosok wanita yang manja dan bergantung, namun sifat kekanakannya malah membuat orang-orang disekitarnya simpati dan care. Meski sang adik dikenal sebagai anak yang manja, namun tidak mengurangi kasih sayang seorang Syila terhadap adiknya. Ia sangat menyayangi Yuna, tak pernah sedikitpun mereka saling iri dan dengki. Itu semua karena pemikiran mereka adalah, saudara tidak akan pernah menjadi orang lain. Baik buruk nya saudara kandung, ia tetaplah bagian dari hidup kita yang paling istimewa.
.
.
"Bagaimana kandungan kamu nak, sehat-sehat aja kan calon cucu bunda" ucap bunda dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Alhamdulillah Syila rasa baik-baik saja, kita semua mengharapkn kehadiranmu dengan segera nak" jawab Syila sambil mengelus perut nya yang mulai membuncit.
Usia kandungan Syila sekarang sudah 18 minggu. Lebih kurang 4 bulan lebih atau hampir mendekati 5 bulan.
"Semoga calon cucu opa sehat dan kuat" sambung sang ayah Wijaya.
Bunda dan Syila menyunggingkan senyum lebarnya yang menghiasi bibir kedua wanita berharga itu.
Sementara Dewa, ia masih sibuk memperbaiki beberapa berkas untuk di presentasikan besok siang. Sejak tadi Dewa masih berada di ruang kerjanya.
"Iya bund, karena semua pekerjaan kantor udah pindah ke rumah untuk sementara waktu yang tidak bisa ditentukan, nah ini semua karena kita harus mematuhi anjuran pemerintah untuk menerapkan sistem social distancing"
"Oh ya sudah kalau begitu" jawab bunda.
"Oh ya Syila, bunda kangen banget deh sama Yuna" seketika wajah bunda menjadi sendu.
__ADS_1
"Bund, kan bisa kabar-kabaran via telefon?" mencoba menghibur bunda.
"Akhir-akhir ini Yuna tidak pernah menghubungi bunda nak, bunda sangat mengkhawatirkannya" cairan bening mulai membasahi pipi nya yang sudah mulai keriput.
"Bunda tenang aja, adek pasti baik-baik di sana" ucap Syila.
"Semoga saja begitu nak"
.
Bunda begitu terlihat senang meski tak bisa dipungkiri bahwa ia juga sedih tanpa kehadiran anak bungsunya. Namun Syila tak henti-hentinya menghibur, dan membuat bunda tertawa dengan hal konyolnya.
Mereka menghabiskan waktu seperti anak kecil yang terus bermain, tak lupa bunda juga mengajari Syila memasak, agar Syila bisa memasak sendiri untuk suaminya.
Pukul 12:10 mereka memutuskan untuk makan siang bersama. Syila makan dengan lahap, karena ia sedang berbadan dua, itu menyebabkan ia harus makan dua kali lebih banyak dari porsi biasanya.
__ADS_1