
Alex mematikan ponsel itu tanpa menunggu penjelasan Clara. Sudah jelas bukan salah pelayan itu. Ini semua salah Cassandra, batin Alex.
“ Gadis itu pasti terus berusaha untuk kabur dari kemarin,” gumam Alex. Sekarang, Alex ingin sekali segera menemukan Cassandra dan memberikan gadis itu pelajaran karena telah membangkang. Alex melayangkan pandangannya ke arah lacinya. Pagi tadi, dan kontrak itu masih kosong belum berisi tanda tangan Cassandra.
“ Dia benar benar mau menentang dan mau tau kejutannya karena telah menentangku, “
Alex meletakan kembali kontrak itu. Cassandra adalah perempuan yang ideal. Tapi pembangkang. Seolah gadis itu adalah pilihan terbaik untuk Alex tapi juga cobaan dari setan. Menguji kesabaran Alex. Sampai mau tersulut habis.
“ Boss, time to meeting … “ Alexa datang dengan senyum merayunya, yang kiranya kalau di artikan. “ Sekarang sudah waktunya untuk bekerja, atau Danil yang akan ada di situ bodoh ! “ pandangan mengingatkan Alexa membuat Alex bangkit. Untung dia sabar, menghadapi adiknya yang kekanakan itu.
“ Jangan pernah melayangkan pandangan itu padaku lagi! Aku akan mengawasimu … “ tunjuk Alex dengan kedua jarinya pada Alexa. Tapi gadis itu malah tersenyum sumringah.
“ Dan aku juga akan memperhatikan kinerjamu—“ Alexa tersenyum sumringah, “ Boss …” lanjutnya dengan riang. Maksudnya, kalau sampai Alex tak bekerja dengan baik, sudah pasti ia akan melaporkannya pada Ayah mereka dan otomatis. Danil naik pangkat. Terbang ke udara.
“ Terserah, tapi maaf. Aku akan membuatmu kecewa. Karena aku, selalu memberikan hasil yang luar biasa …”
Kata kata dingin itu menggema di lorong kosong itu, Alexa hanya mengikuti Alex dengan menggeleng gelengkan kepalanya. Kenapa mereka tidak pernah akur ? mereka cuma berbeda rupa, bukan dari kandungan yang berbeda! Alexa terus menggerutu sambil mengekori Alex.
Alex masuk ke ruang meeting dengan di barengi Alexa. Para petinggi itu langsung menyambut Alex. Wajah berparas Dewa itu sedingin batu. Tak ada senyum dan tak ada keramahan yang terpancar, walaupun mata zamrud Alex begitu indah, matanya tak berperan penting. Orang orang tetap merasa, kalau mata itu mengintimidasi.
“ Kita mulai meeting hari ini …” ujar Alex sembari menarik kursi. Tapi anehnya. Di otak Alex tak tersusun peluang peluang fluktuasi. Otak itu malah penuh dengan satu nama. Cassandra.
Dasar gadis perusak suasana! Batin Alex. Otaknya tak bisa berkonsentrasi. Dengan sembunyi sembunyi, Alex mengetikan sesuatu.
^^^
__ADS_1
Cassandra tak tau kalau rumah Alex sangat jauh dari rumahnya.
Mungkin saja besok besok aku akan di asingkan ke pegunungna Everest! Gila sekali psikopat itu, membawaku sejauh ini. Cassandra terus menggerutu di dalam hati sembari memperhatikan jalanan panjang yang ia tempuh sekarang. Bersama laki laki yang memberikan tumpangan.
“ Hei wanita gila ! “ seru Danil. Ia merasa, kalau ia telah beralih peran menjadi supir. Bukan lagi si empunya mobil.
“ Cas—“ Cassandra menutup mulutnya rapat rapat, hampir saja ia keceplosan menyebutkan nama aslinya.
“ Sudah ku bilang! Al-a-na!! “ teriak Cassandra.
“ Iya, Al-a-na! “ teriak Danil tak kalah galak dengan Cassandra. Ia meniru gaya bicara Cassandra dan membuat perempuan itu kesal.
“ Ada apa! “ teriak Cassandra tak kalah ketus. Ia ingat, ini bukan mobilnya. Kalau sampai ia membuat si pemilik mobil marah. Ia bisa di depak di jalanan, tempat sampah, kuburan, bahkan di dekat gorong gorong. Membayangkan ia terduduk di tepi kuburan, Cassandra jadi bergidik ngeri.
“ Urusan apa ? Kemana ? Lalu aku bagaimana ? “ Cassandra memborong pertanyaan dan membuat Danil menutup telinga karena mulut cerewet Cassandra.
“ Bisa kamu bertanya satu satu ? Apa otot mulutmu tidak kejang karena banyak bertanya … ? “ Danil menatap sinis ke arah Cassandra. Ia baru menemui makhluk berjenis aneh seperti Cassandra. Golongan speaker aktif. Suaranya nyaring sekali.
Cassandra hanya memutar bola matanya dengan jengah. Ia tau, mulutnya susah di kontrol. Dan mulut Danil lebih tidak bisa di kontrol lagi. Komentarnya tanpa filter dan tanpa basa basi. Keturunan asli lambe turah.
“ Pertama tama, bisa kamu lihat aku menggunakan apa …? “ Danil memutar arah mobilnya, sepertinya kemacetan di depannya akan berlangsung lama. Ia memutuskan untuk putar arah dan mencari jalan lain.
“ Baju kantor. “ jawab Cassandra seperti burung beo.
“ Ah! Benar sekali. Itu artinya, aku ini punya pekerjaan. Jam seperti ini adalah jam untuk orang orang bekerja. Bukan untuk beramal dan mengantarkan perempuan gila yang menyebrang ke tengah jalan sambil mengaku ngaku gila- “ Danil tak bisa menahan tawanya. Ia mempercepat laju mobilnya.
__ADS_1
“ Bisa tidak? Berhenti menyebut nyebut perempuan gila. Aku ini Ca-! “ Cassandra menampar bibirnya yang cerewet tapi juga bodoh di saat yang bersamaan.
“ Aku ini punya nama, perempuan gila yang terjun ke tengah tengah jalan ini bisa kamu panggil Alana !! “
Semenetara Cassandra marah marah, Danil sudah berhenti tertawa. Ia melirik Cassandra sebentar. Kemudian fokus menyetir lagi.
“ Oke, baiklah. Al-a-na. “ ujar Danil kemudian Ia melanjutkan kata katanya.
“ Pertama tama, aku harus bekerja dulu. Ada meeting penting, dan jarak dari sini ke rumahmu itu dua jam. Bisa bisa, klienku ini kabur dulu, mengingat atasanku adalah orang yang tak sabaran. “
Danil menjelaskan dengan sangat tenang sambil terus berkendara.
“ Sebagai laki laki yang bertanggung jawab, walaupun aku tak menghamilimu – “ Danil tersenyum ganjil. Ia tau ini aneh, tapi Cassandra itu teramat cantik dengan garis keturunan asing yang sangat menarik mata. Tak bosan bosan untuk di pandang terus menerus. Menarik. Itu Cassandra di mata Dani. Di tambah, ia muncul dengan cara yang sangat menarik.
“ Siapa juga yang mau di hamili oleh mu! “ sungut Cassandra dengan sangat jelas. Kalau ia takan mau mengandung anak Danil. Apalagi laki laki gila yang hanya mau anak dengannya, Alex sinting!
“ Nah, itu. Kita sama sama tidak mau. Jadi dengar, Al-a-na.” Danil mengucapkan nama Alana dengan mengejek. Cassandra mendengus saat mendengar nama samarannya di lecehkan.
“ Aku mau menemui klienku dulu, setelah itu. Laki laki bertanggung jawab yang tidak mau menghamilimu ini akan mengantarkan kamu pulang. Puas … ? “ tanya Dion sambil melihat bangunan tinggi di kiri jalan. Perjalanan panjangnya tak terasa panjang. Berkat mulut cerewet Cassandra yang memenuhi kupingnya.
“ Apa Nona Alana punya tujuan lain selain rumah? “ Danil berucap seperti seorang sopir.
“ Hentikan berbicara dengan nada mengejek itu ! “ Cassandra membentak Danil.
“ Ah lagi lagi! Hentikan mulut crewetmu itu Alana! “ Danil berteriak frustasi. Mulut crewet itu menggangu. Tidak membantu sama sekali di dalam perjalanan panjang ini. Ralat. Mulut speaker aktif.
__ADS_1