Sexy Partner

Sexy Partner
30. I won't.


__ADS_3

 


               Alex kembali datang ke rumah. Ia kembali permintaan Ayahnya dengan tujuan perjodohan Kali ini, Ayahnya akan bertindak. Langsung eksekusi. Kemarin kemarin hanya di kenalkan, saat selusin wanita itu di tolak Alex. Sekarang Ayahnya mengambil tindakan ekstream dengan langsung melakukan perjamuan keluarga.


               Stella mendapati putera sulungnya masih terpaku di depan cermin. Ia menghembuskan nafas dengan berat.


               “Maafkan Ayahmu Alex.”  Stella melihat ke arah puteranya yang nampak frustasi. Kadang, ada orang yang justru lebih bahagia tanpa menikah. Stella paham makna kebebasan. Saat kamu lebih memilih sendiri dan bahagia melakukan semuanya. Tapi orang orang di sini lain.


               “Mama, sedang apa?” tiba tiba Danil muncul dengan seringai jahilnya yang biasa membuat Alex kesal bukan main. Tapi kali ini Danil heran. Alex? Tidak .... marah?


               “Jangan ganggu Alex.” Pekik Stella dan langsung menggandeng lengan putera keduanya itu untuk pergi. Danil menatap Alex tak percaya. Alex terlihat, seperti... pasrah? Tapi buru buru Danil menghempaskan pikiran anehnya itu. ini mungkin hanya kedok Alex.


               Setelah yakin kalau saudaranya benar benar sudah pergi. Alex kembali memantaskan diri. Ia sapu rambutnya yang terlihat berantakan.


               “Kenapa aku seperti orang yang kacau setelah putus cinta?” tanya Alex pada cermin di hadapannya, lihat lah bayangan Alex yang seperti di rundung rasa rindu itu. dengan tersenyum sengit Alex menatap wajahnya sendiri.


               “Bagus,” pujinya. Dan kemudian ia berlalu. Tubuh jenjang Alex melewati kamarnya begitu saja. Dan pintu itu di tutup. Alex benar benar keluar dari kamarnya. Siap menghadapi, entah siapapun itu yang akan di jodohkan dengannya.


^^^


               Dengan wajah sumringah, Cassandra memasuki potongan besar sushi ke dalam mulutnya.


               “Pelan pelan Cassie,” hardik Allen yang tak bisa mengetahui alasan pasti, nafsu makan Cassandra kenapa menjadi meningkat. Cassandra melirik Allen dengan tatapan marah.


               “Nanti baju baju mahalmu takan muat di tubuhmu.” Ucap Allen mencoba berdalih. Cassandra akhirnya melepaskan emosinya, ia mengunyah sushi itu pelan pelan.


               “Aku sedang merayakan kemenangan, sekaligus kebebasan Allen. Jadi aku harus makan double hari ini.” Dalih Cassandra meminta pengertian. Allen hanya mengeryit karena tak paham. Kemenangan, iya. Mereka memang baru saja memenangkan sebuah perang ekonimi. Tapi kebebasan? Memangnya siapa yang memenjarakan Cassandra sebelumnya?


               “Apa kita Cuma merayakan berdua?” tanya Allen, ia menaruh potongan suhsi tuna ke dalam piring Cassandra, senyum sumringah Cassandra melebar karena pengertian kekasihnya iti.


               “Alexa sedang ada urusan Allen, urusan keluarga. Jangan ganggu dia.” Ujar Cassandra dengan nada memperingatkan. Allen seolah menimang, mencoba mengingat sesuatu. Ia kemudian teringat satu hal.

__ADS_1


               “Ah benar, aku dengar salah satu kakanya akan di jodohkan.” Celetuk Allen dengan riang karena berhasil mengingat sesuatu.


               Reaksi terbalik justru di tunjukan Cassandra, gadis itu terbatuk batuk karena kaget.


               “Hati hati Cassie....” Allen menyerahkan minuman pada Cassandra yang masih terbatuk batuk. Dengan hidung perih karena washabi. Cassandra memimun setengah gelas, dan kepalanya masih terbakar. Perjodohan? Kakak Alexa? Itu hanya dua kemungkinan. Danil atau.... Alex. Dan rasanya, ada sedikit gelenyar rasa sakit saat kemungkinan Alex yang di jodohkan, lebih besar dari Danil.


               “Kenapa kamu makan seperti anak kecil, bahkan sampai tersedak?”


               “Aku tidak tau, tadi ada duri..” bohong, Cassandra berbohong. Tapi raut wajah Allen nampak percaya dengan alasan Cassandra.


               “Ya sudah, makan yang nori, jangan yang ini....” Allen dengan sigap menepikan piring berisi sushi dengan irisan daging ikan. Padahal, Allen tau. Tuna takan menyisakan duri.


               Cassandra sekarang seperti kehilangan nafsu makannya. Ia menepikan sushi, dan kembali membuat Allen tercengang. Baru saja dia ngotot kalau harus makan double, kemana semua nafsu makan itu sekarang??


               “Aku kekenyangan, antar aku pulang Allen....”


               “Cassie....” hardik Allen, Cassandra hanya menunjukan senyum jahil. Allen menyerah. Gadis di depannya ini adalah gadis termanja yang pernah ia temui di muka bumi. Tapi yang membuat Allen tak habis pikir, Cassandra hanya manja padanya dan ayahnya. Itu membuat Allen merasa kalau Cassandra hanya nyaman di sampingnya.


               “Kamu tidak akan pergi, kemanapun.” Jawab Cassandra. Dan Allen hanya mengangguk mengiyakan. Ia menopang tubuh Cassandra yang baik baik saja. Tapi Cassandra malah menikmati cengkeraman tangan Allen dan memeluk laki laki itu.


^^^


               Suram, hanya itu suasana yang terpancar di makan malam ini. Walaupun meja di isi dengan beragam makanan yang pasti tidak di ragukan lagi. Kokinya saja punya hotel dengan restoran yang berpredikat michelline. Artinya, itu lebih dari bintang lima. Tingkat tertinggi di bidang kuliner. Dan mustahil kalau makananya tidak enak. Aura Alex saja yang tak mengenakan.


               “Jadi, bagaimana?”


               Airlangga nampak menimang. Ia sudah tak punya umur panjang kalau Alex terus terusan membuatnya jantungan dan darah tinggi. Benar benar ingin memeluk cucu.


               “Kita biarkan dua orang ini mendekat saja dulu, masalah pernikahan ini. Toh mereka baru saja bertunangan.” Pungkas Stella. Ia tau, kalau suasana hati puteranya sedang tidak baik. Mendengar istrinya berbicara, Airlangga hanya tersenyum bijak.


               Sedangkan di sisi berlainan, wajah Alexa nampak sangat sumringah. Ia takan di paksa lagi untuk menikah. Takan. Dan Danil? Ia masih memandangi Alex sesekali. Ada yang salah di Alex. Tentu saja. Dan ia akan mencari sumber masalahnya.

__ADS_1


               “Apa Ayah yakin? Pernikahan mereka akan bertahan?” pancing Danil, dan Airlangga langsung menghujaninya dengan tatapan tajam. Tak suka.


               “Ayah, maksudku. Percuma kalau mereka menikah dan memberikan cucu kalau akhirnya mereka bercerai. Karena tidak saling cinta. Menikah hanya karena perjodohan.” Pungkas Danil dengan cepat dan tak bisa di sela oleh Airlangga.


               Alex sendiri merasa kalau ini benar benar keajaiban dunia!!! Danil sedang berada di pihaknya atau apa?


               “Aku tidak mau ada sejarah di keluarga kita, ada yang menduda karena di campakan istrinya.” Pungkas Danil dengan nada mengejek yang merendahkan. Dan Alex merasa ingin mencengkeram leher Danil sekarang juga. Mumpung otot bisep dan trisepnya sudah berisi tenanga dari makan malam yang baru ia telan.


               Tapi nampaknya, pembicaraan Danil ini seperti di anggap serius ole Airlangga. Ia nampak menimang sesuatu. Ia menarik sebuah kesimpulan, kalau Danil ada benarnya.


               “Kita biarkan mereka berlibur selama seminggu bersama? Bagaimana?”


               Alex makin geram saat ia menancapkan kuku tanganya ke sendok. Untung saja Stella, ibunya dengan sigap menahan tangan Alex. Kalau tidak? Mungkin ayah dan anak itu akan baku hanyam.


               “Ayah, bukan seperti itu maksudku....” Danil menggelengkan kepala. Nampaknya, Ayahnya sudah ngebet ingin cucu. Sampai memikirkan liburan bersama? Satu minggu! Memang apa yang di harapkan kalau mereka berdua selama seminggu tanpa bisa di awasi!


               “Maksudku, biarkan mereka berdua. Menghabiskan waktu bersama. Entah berbelanja atau apapun yang di lakukan pasangan normal. Supaya saat mereka menikah nanti, tidak ada percekcokan.”


               Alex makin ingin mengajak Danil untuk baku hantam dengannya.


               “Siapa yang hendak menikah? Dan siapa yang ribut membahas hubunganku dengan calon istriku nantinya? Lebih baik kamu diam dan tidak memberikan segala usulan konyolmu itu Danil!!”


               Nada Alex meninggi. Danil justri cuek. Nyatanya, hubungan kaka beradik yang mereka bangun selalu seperti itu. Danil memancing amarah Alex dan ia akan berpura pura seolah tak peduli.


               “Alex, itu ada benarnya. Lebih baik, esok kamu mengajak Bella untuk berbelanja, menemani Isabella melakukan banyak hal yang ia sukai.”


               Alex sepertinya harus mengorek kupingya dalam dalam, Ayahnya sudah di jejali segala ide konyol Danil.


               “Perempuan suka berbelanja, ke salon dan di ajak makan di tempat yang romantis. Kaka bisa mengajaknya besok. Akan ku kosongkan jadwal Kaka di kantor.” Ujar Alexa. Gadis itu tak bisa melihat suasana hati Alex. Mata Alex sudah siap memancarkan laser penghancur untuk menghanguskan Alexa dan Danil secara bersamaan.


               “Baiklah, besok aku akan menemani Bella.” Bertolak belakang. Alex mengiyakan.

__ADS_1


               Sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku!!!


__ADS_2