Sexy Partner

Sexy Partner
23. We are family?


__ADS_3

               Cassandra berangkat ke kantor dengan terburu buru. Pagi ini ia menghindari Alex dengan sengaja. Tentu saja, kesalahannya semalam memang tak bisa di maafkan. Mana mungkin Alex melepaskannya saat rasa sakitnya sudah hilang. Cassandra takut akan di ***** habis habis oleh Alex.


               Pagi ini, ia berangkat dengan patokan jam di ponselnya. Dan Alex tidak iseng dengan mengubah jam di rumahnya ternyata. Cassandra jadi tak perlu mandi subuh subuh seperti kemarin.


               “ Ayah. “ panggil Cassandra saat tubuh Damian mendekatinya di dalam ruangannya itu.


               “ Kamu tidak apa apa? “ Damian melihat tubuh Cassandra yang masih lengkap, huft. Ia pikir, kemarin Alex datang untuk mencabik cabik puterinya itu. Tapi tidak ternyata.


               “ Aku baik baik saja, kenapa? “ Cassandra melihat ekspresi kelegaan itu.


               “ Tidak apa apa, hari ini akan ada rapat keluarga. Biar Ayah saja yang datang. Kamu selesaikan masalah keuangan yang rumit di perusahan ini saja. “


               Cassandra tersenyum. Ia khawatir, ia tak di perbolehkan ikut supaya tak melihat bagaimana Ayahnya di caci maki anggota keluarga yang lain. Cassandra ingin menolak. Tapi Damian sudah menghadang anaknya itu.


               “ Jangan khawatir, Ayah bisa menangani ini semua. Bagaimanapun, kita keluarga. “


               Dan Cassandra tak bisa menolak. Ayahnya terlalu baik hati. Tapi tidak untuknya, ia ingin memberikan pelajaran suatu saat pada orang orang itu. Suatu saat. Lihat saja.


               “ Oke, aku akan menurut. Ayah jangan tinggal diam. Warga negara kita ini, menyelesaikan masalah dengan kekerasan. “ ujar Cassandra dengan senyum tengil.


               “ Biar cepat selasi. “ sambung Cassandra lagi. Dan Damian hanya tersenyum dan berlalu. Cassandra sudah sibuk dengan banyak map dan hal yang harus di selesaikannya. Walaupun begitu, ia cermat untuk menyelesaikan sesuatu. Otaknya tajam untuk mengingat sesuatu. Tapi masalah di perusahaan ini. Memang tak semudah pikiran awal Cassandra.


               “ Ada yang ingin bertemu ? “ sosok asisten yang sejak tadi membantu Cassandra itu muncul dan melihat tampang frustasi Cassandra itu.


               “ Siapa,” jawab Cassandra dengan mata yang tak teralihkan dari tumpukan map di mejanya. Ia terus menerus membalikan lembaran demi lembaran itu. Tak ada sahutan lagi. Pasti tidak jadi menemui. Batin Cassandra. Ia kembali membalik lembaran lembaran itu.


               Tangan itu bergerak dengan cepat membalikan lembaran map. Cassandra memang cepat kalau hanya membaca memindai. Ia tak ingin buang buang waktu. Ia harus segera-


               “ Kamu cantik kalau sedang serius seperti ini. “ suara itu membuat buyar konsentrasi Cassandra.


               “ Allen!!! “ teriak Cassandra pada laki laki di depannya itu. Matanya membulat saat melihat kekasihnya sudah duduk di hadapannya dengan menangkupkan tangan di dagunya.


               “ Lanjutkan, biasanya aku hanya melihat kamu marah marah karena tidak bisa belanja. “ goda Allen pada Cassandra. Perempuan itu hanya terkekeh geli sambil menutup map di tangannya.


               “ Ayo kita makan siang! “ ajak Cassandra pada Allen yang terlihat masih mengenakan jas rapi dan belum kusut sedikitpun.


               “ Kenapa? “ Allen nampak kebingungan. Ia tak biasanya di perhatikan seperti ini oleh Cassandra. Mata itu malah masih menatapnya dengan lekat lekat.


               “ Tidak ada apa apa, aku hanya terlalu rindu. “ Cassandra sudah menggandeng Alllen untuk  pergi mencari makan. Tak apa waktunya berkurang untuk hal ini. Ia akan bekerja dengan cepat. Kalau bisa, lembur bagai kuda supaya bebas dari jeratan Alex.


***


               Mata Alex memicing saat melihat lingkaran tangan Cassandra pada lengan seorang laki laki yang tak di kenalnya. Mereka berjalan memasuki mobil yang ada di pelataran.


               “ Siapa dia? “ Alex bertanya tanya.


               “ Kekasih Cassandra,” jawab Alexa yang sejak tadi berada di samping Alex. Mereka baru saja selesai meeting dengan salah satu klien yang membuat Alex emosi. Kaka Alexa ini memang mungkin sangat hobi marah marah.


               “ Ikuti mobil itu, “ perintah Alex dengan jelas pada sopir. Yang Alex lihat bukanlah Danil tapi laki laki lain. Alex bilang itu kekasih Cassandra. Jadi berapa banyak kekasih yang di miliki Cassandra?


               Mobil itu berhenti di salah satu restoran yang sangat terkenal karena sushi dan desert yang di sajikan.


               “ Ini tempat kami biasa berkumpul. “ gumama Alexa saat ia memasuki restoran. Mata Alex sudah terpicing untuk mencari di mana keberadaan Cassandra dengan kekasihnya itu. Ia ingin tau, seberapa wah kekasih perempuan itu jika di bandingkan dengannya.


               “ Kalau begitu, di mana kalian biasanya duduk. “


               “ DI sana. “ Alexa langsung menarik Alex ke ruangan yang sering mereka gunakan untuk makan dan memang benar. Di sana sudah ada Allen dengan Cassandra yang sedang bercengkerama dengan riang.


               “ Alexa? “ sapa Allen dengan riang karena menemui sahabat Cassandra itu.


               “ Hai Allen, Cassie. “

__ADS_1


               Alexa duduk di depan pasangan itu. Alex sudah beradu tatap dengan Cassandra.


               Mau apa dia kemari?


               Berani sekali dia menatapku seperti itu!


               “ Dia siapa? “ tanya Allen tanpa rasa takut.


               “ Alex, Alex Dirgantara. “ ucapan perkenalan itu langsung mengendurkan cengkeraman tanga Allen pada Alex.


               Alex Dirgantara. Laki laki super power itu? Nampaknya hanya Allen yang kaget ia belum pernah bertemu Alex sebelumnya, fotonya bahkan tak tau. Di majalah saja tak ada. Tunggu sampai Allen tau identitas lain Alex.


               “ Alex ini Kakaku Allen. “ dan kembali, Allen di buat kaget mendengar itu. Jadi adik misterius keluarga Airlangga? Sahabat kekasihnya sendiri.


 


***


               Alex masuk rumah dengan terburu buru. Ia langsung menuju kamar Cassandra dan mendapati perempuan itu sedang menatap layar komputer dengan sangat serius.


               “ Jadi tadi siang itu kekasihmu yang kamu bangga banggakan? “ punggung Alex sudah di sandarkan pada pintu. Ia memang berniat mengusik Cassandra sampai ia puas melihat kemarahan gadis itu.


               Dan, tangan itu masih saja sibuk menari nari di atas keyboard. Alex di abaikan.


               “ Dia tidak setampan aku rupanya. Ternyata masalahnya memang ada di matamu itu. “


               Brak! Cassandra menutup laptopnya dengan kesal karena cibiran cibiran Alex padanya. Apalagi membahas selera laki laki. Ia nyaman dengan Allen. Bukan karena mencari teman kencan yang akan di bawa ke pesta.


               “ Keluar. Apa kamu sedang tidak lihat? Ada seorang perempuan yang banting tulang sampai malam untuk membayar hutang hutangnya? “


               Cassandra melemaskan kakinya dengan menendang nendang udara di depannya. Ingatan rasa ngilu karena sabetan kaki Cassandra itu membuat Alex ketakutan.


               “ Cepat ke- “


               Cassandra langsung menutup pintu dan menguncinya. Besok besok, ia harus ingat. Untuk mengunci pintu. Cassandra berjalan kembali ke meja, ia akan bekerja keras malam ini. Harus. Agar hutang hutangnya cepat lunas.


               Panggilan itu membuat mata Cassandra beralih. Ada telfon, entah dari siapa.


               “ Hallo? “


               “ Ayahmu di rumah keluarga besar. Dia terkena serangan jantung barusan. “


               Dan panggilan itu tak di selesaikan. Cassandra yang langsung menelfonya. Ia tak bisa berpikir, dengan cepat Cassandra langsung meraih jaket dan sepatu. Ia harus cepat. Karena mulut keluarga besarnya. Adalah mulut mulut berbau azab.


               Gerakan cepat itu mengusik Alex, kamarnya tak jauh dari kamar Cassandra dan gadis itu tengah terburu buru entah karena apa. Tiba tiba ia mendengar suara seseorang menabrak sesuatu di lantai bawah.


               “ Aish! Apa dia sedang bermain kejar kejaran sekarang? “


               Alex bangkit dan melihat Cassandra yang sedang mengusap usap dengkulnya. Lalu berlari kembali.


               “ Dia mau kemana?” Alex bertanya tanya saat melihat Cassandra membuka pintu dengan cepat dan tak lama, suara mobil di hidupkan dan meninggalkan rumahnya.


               Cassandra langsung ke rumah keluarga besarnya. Rumah dengan urutan keluarga yang masih utuh di generasi ketiga sampai ke generasinya. Dari semua keluarganya. Yang menganggapnya keluarga hanyalah beberapa orang. Dan Cassie yakin, yang baru saja menelfonyna adalah salah satu sepupunya yang diam diam menghubunginya.


               “ Mana Ayah!! “ teriak Cassandra dengan panik saat ia menggebrak pintu. Semua mata tertuju padanya. Paman dan Bibinya yang menyebalkan. Juga Neneknya yang kadang ingin Cassandra jatuhkan saja dari lantai dua rumahnya.


               “ Tidak sopan santun! Begini Ayahmu mendidikmu! “


               Cassandra mendapatkan semprotan dari Pamannya. Ia malah tak peduli.


               “ Mana Ayahku! “ Cassandra menghentikan salah satu pelayan rumah dan wajah pelayan itu nampak takut taku.

__ADS_1


               “ Di—di lantai dua kamar ujung. “ jawab pelayan itu dengan takut takut. Cassandra langsung berlari dengan terburu buru menaiki tangga.  Nafasnya memburu dengan cepat dan ia mendobrak pintu di depannya.


               “ Ayah. “ panggil Cassandra dengan lemas. Ia melihat Ayahnya yang sedang terbaring lemas di ranjang dengan salah sorang sepupunya yang tengah merawatnya.


               “ Thank Shel. “


               Shella hanya mengangguk dengan ekpresi tenang. Ayah Cassandra sudah lebih baik.


               “ Paman seperti ini karena banyak tekanan. “ Shella yang lulusan kedokteran itu langsung menjelaskan situasi. Ia sudah memberikan pertolongan pertama.


               “ Mulut siapa yang membuat Ayahku jadi begini? “


               Cassandra sudah siap mendengar nama nama itu.


               “ Paman, Bibi, dan Nenek sedikit. “ ujar Shella sambil mengacungkan jari telunjuknya. Sedikit berarti banyak hal. Karena Nenek Cassandra itu cerewetnya bukan main. Cassandra adalah blasteran. Keluarga besarnya itu kurang suka pada Ayahnya. Status ekonomi. Dan selalu di rendahkan. Perusahaan yang dulunya milik ibunya, berpindah tangan ke Ayahnya karena ibunya meninggal. Mereka jadi tambah tak menyukai Ayah Cassandra.


               “ Aku turun dulu, “ celetuk Cassandra sambil berbalik hendak turun ke lantai satu.


               “ Jangan terbawa emosi. “ pesan Shella tapi Cassandra sudah berlalu dan tak mungkin mendengar pesannya barusan.


               “ Duduk. “ perintah perempuan tua yang sudah jelas adalah Nenek Cassandra.


               Sudah tua, kenapa Tuhan tidak mengambilnya cepat cepat! Cassandra sudah berdo’a yang buruk buruk untuk Neneknya ini.


               “ Jangan memutar matamu seperti itu di depan orang tua! “ bentak perempuan itu dengan sangat kesal. Ia tak suka dengan perangai Cassandra yang memang sangat kebarat baratan. Terlalu terbuka tak pantas seperti di silsilah keluarganya.


               “ Kenapa Ayahku sampai terkena serangan jantung.” Cassandra tak menggubris perintah Neneknya. Yang ia mau hanya penjelasan. Siapa yang sudah membuat Ayahnya jantungan.


               “ Jangan berbicara yang tidak tidak! Memangnya siapa yang mau menyakiti Ayahmu. Laki laki yang tak punya apa apa. Hanya benalu. “


               Semprotan Paman Cassandra itu membuat Cassandra menahan emosi. Memangnya siapa yang sedang memungut harta dan menjadi benalu. Ayahnya bahkan tak pernah liburan ke luar negeri mengunjungi keluarganya sendiri. Karena uangnya adalah uang perusahaan.


               “ Memangnya siapa lagi di sini yang tidak menginginkan Ayahku stres. Pasti kalian. “ tunjuk Cassandra pada Paman dan Bibinya yang sudah meradang. Karena bertengkar dengan Cassandra sama saja adu mulut tanpa henti.


               “ Kamu memang pandai berdebat, tapi kenapa Ayahmu payah sekali dalam berdebat? Mengurus peusahaan saj- “


               “ Sebaiknya Bibi diam, kemarin aku baru menendang ************ laki laki. Aku juga tidak keberatan menendang ************ Bibi. Walaupun Bibi perempuan. “


               “ Astaga! Kasar sekali kamu. “ Bibi Cassandra langsung menarik kata katanya. Cassandra memang nekat. Dan kenekatan Cassandra untuk menendang selangkangannya. Tidak perlu di buktikan.


               “ Ayahmu stress karena bekerja. “ akhirnya mulut Nenek tua itu berbicara dengan nada yang sedikit tenang. Tapi masih tidak bersahabat.


               “ Kalau kamu tidak mau Ayah kesayangannmu itu kelelahan. Biarkan dia pensiun dari perusahaan. Mengurus usaha keluarga saja tidak bisa. Bisa bisa usaha keluarga ini hancur di tangan Ayahmu itu. “


               Cassandra meradang. Ia ingin bangkit dan memberikan pelajaran. Kalau Ayahnya stress begitu karena tak ada yang membantu. Bahkan anak laki laki Neneknya itu. Tak memberikan sepeserpun uang untuk membantu.


               “ Duduk. “ tangan itu menyentuh pundak Cassandra dengan keras. Dan menyuruh Cassandra untuk duduk kembali di sofa.


               “ Kamu! “ saat Cassandra berbalik badan, yang ia lihat justru wajah Alex yang di sana. Dengan tangan yang sedang memegang pundaknya.


               “ Kenapa? Kaget begitu. “ Alex malah nyengir. Sepanjang jalan ia mengikuti Cassandra. Dan ternyata, tujuan gadis itu menyetir dengan cepat. Karena ia panik dengan kondisi Ayahnya. Alex jadi merasa tersindir, ia tak seakur itu dengan Ayahnya. Lebih mirip air dan api malahan.


               “ Siapa kamu! Masuk tanpa izin. Penjaga itu tak bisa bekerja rupanya!! “


               Laki laki yang Alex kira Paman Cassandra itu menatap Alex dengan tatapan terganggu.


               “ Alex, Alex Dirgantara. “ dan hanya itu. Nama Alex adalah jati dirinya. Dengan sekali sebut, orang orang itu diam dan terperangah.


               “ Dan karena kerja keras Tuan Damian. Aku jadi ingin bekerja sama dengan Leonidas Corporation. “


               Sekali lagi, membuat terperangah. Damian yang payah dalam berbisnins, bisa menarik perhatian Alex Dirgantara? Bagaimana mungkin!!

__ADS_1


               Bagus sekali akting kamu! Kamu itu bukan mengajak kerja sama. Tapi memberikan pinjaman!!


               


__ADS_2