
Alex dengan langkah terburu buru langsung menuju ke kantor Cassandra saat menerima panggilan tidak biasa dari perempuan itu. biasanya, Cassandra akan mengabaikan panggilannya dan mematikan ponselnya. Ini justru sangat aneh bukan?
“Alex, kenapa kita ke sini?” Alexa berusaha sangat keras untuk mengikuti langkah kaki Alex yang sangat cepat.
“Aku tidak tau,” jawab Alex. Ia malah berpikir kalau Cassandra membutuhkannya. Karena? Hei! Ini memang tidak biasa kan?! Berarti ini darurat bukan?
“Kenapa aku punya Kaka sepertimu Alex!!” kutuk Alexa yang kelelahan dan memegangi lututnya karena lemas. Alex justru sudah berjalan di depannya tanpa peduli pandangan orang orang di sekitar.
Alex langsung memasuki lift dan menuju ke ruangan Cassandra. Ia pernah membatalkan meeting dan menyuruh Danil mengikuti meeting. Tapi Alex tau seluk beluk perusahaan Cassandra ini.
Tanpa menunggu Alexa yang masih ada di belakangnya. Alex langsung menuju ke ruangan Cassandra.
“Cassandra!” panggil Alex, dengan nafas memburu ia membuka pintu dan langsung di sambut dengan senyuman puas Cassandra di sebrang sana tanpa bisa Alex artikan apa maksudnya.
“Kamu datang, duduklah.” Perintah Cassandra. Ini benar benar tak seperti biasanya. Bagaimana Cassandra yang biasanya mengumpat yang tidak tidak di dalam hati, tiba tiba tersenyum pada Alex?
“Duduk.” Perintah Cassandra lagi penuh dengan penekanana. Seperti di cucuk hidungnya. Alex menurut.
“Akan aku buatkan minum.”
Dan kata kata Cassandra itu semakin membuat Alex heran dan tercengang. Cassandra justru sudah berlalu pergi. Ia di balik pintu sana entah sedang mengerjakan apa. Tidak mungkin Cassandra membuatkan minuman untuknya kan?
__ADS_1
Dan rasanya seperti kiamat, Cassandra benar benar membawa sebuah nampan dengan gelas berisi es espresso. Alex harus apa? Meloncat atau justru menepuk kepalanya supaya menjadi percaya?
“Minuman.” Ujar Cassandra dengan sangat ceria. Entah apa maksudnya. Alex sampai tak percaya.
“Ada apa ini? Kamu melakukan kesalahan atau apa sampai kamu harus berbuat baik baik padaku?” pancing Alex, ia tak ingin meminum minuman itu. bisa saja itu tanda? Maaf? Penyesalahan? Atau sianida?
Cassandra terkekeh geli, ia tau. Hubungan mereka berdua buruk karena keadaan. Tapi ia tak akan melakukan itu, meracuni Alex misalnya. Tidak.
“Maaf Alex, mungkin hubungan kita memang tidak baik. Tapi ketidak harmonisan hubungan kita ini, bukankah karena ulahmu? Yang menariku ke dalam duniamu?”
Alex diam, ia tak menuntut penjelasan karena Cassandra sudah memberikan sebuah map berwanra biru tua dengan sampul yang sangat Alex pahami. Logo perusahaan keluarga Cassandra. Iya, gerombolan orang orang yang mengitnimidasi Cassandra saat ayahnya sedang sakit. itu yang namanya keluarga.
“Apa ini?” tanya Alex. Rasanya, ketidak jelasan situasi saat ini telah membuat kecerdasaanya menurun.
“Kamu tidak bilang harus dengan apa aku membayar hutang hutang Ayahku bukan?”
Alex memicingkan pandangannya. Cassandra sekarang menatapnya dengan lekat.
“Aku membayar hutangku dengan saham dari perusahaan keluargaku.”
Dan Alex seperti di sambar petir. Ia tak tau, kalau Cassandra benar benar bisa melakukan semuanya. Seminggu, waktu yang di minta Cassandra. Dan wanita itu melakukannya.
“Aku sudah membereskan masalah perusahaan ini. Sahamnya di beli pamanku dan di gelapkan, jadi seolah perusahaan ini akan bangkrut. Lalu dengan sisa saham Paman yang ada di perusahaan keluarga. Ia bisa mengakuisi perusahaan ini. Tapi aku tidak bodoh. Aku menjatuhkan Pamanku agar rencananya gagal.”
__ADS_1
Cassandra tersenyum sumringah, ketidak ikhlasan justru terpancar dari binar mata zamrud Alex.
“Jadi hari ini kita berdamai karena bisnis kita sudah selesai.” Cassandra mengulurkan tangannya dan menanti jabatan tangan dari Alex. Tapi laki laki itu tetap terdiam.
“Alex?!”
“Aku pergi.” Pamit Alex tanpa membalas jabatan tangan Cassandra. Laki laki itu langsung pergi tanpa menyentuhnya. Espresso buatan Cassadnra, ataupun surat kepemilikan saham untuknya. Benar benar pergi.
“Dia kenapa?” Cassandra tak tau, laki laki impoten itu memang kadang labil. Kadang bisa marah marah seperti singa, kada juga. Sama seperti saat Alex mengurung diri di kamarnya. Sendu.
^^^
“Kita ke kantor.” Pungkas Alex pada Alex yang sudah menyusulnya dengan susah payah.
“Alex!!” jerit Alexa dengan marah. Kalau seperti ini? Kenapa kamu bawa bawa aku untuk ikut!! Dan ia di tinggalkan kembali di belakang.
Alex benar benar kembali ke kantornya. Ia tak bisa bekerja dengan tenang saat otaknya terpecah. Tak bisa memikirkan satu hal pun dengan benar. Ia seperti... tak rela? Benar!
“Benar, aku tak senang karena aku sangat suka mengganggu landak betina itu.”
Alex mengacak acak rambutnya. Dengan sangat keras karena frustasi. Rasanya, bukan ini jawabannya! Bukan! Tapi apa?!! Tak menemukan jawaban, justru Alex mendapatkan panggilan telephone dari Airlangga. Ayahnya.
“Hallo??” jawab Alex dengan lesu, Airlangga tak mendengar nada lesu Alex. Ia sudah sibuk dengan apa yang akan ia bicarakan pada Alex.
__ADS_1
“Pulang malam ini, ada anak dari teman Ayah yang ingin bertemu denganmu. Siapa tau kalian berjodoh.”