
Pagi harinya.
Cassandra sudah bersiap untuk ke kantor. Ke kantor Ayahnya maksudnya. Baru kali ini di dalam hidupnya yang berisi dengan malas malasan. Ia bangun pagi untuk bekerja. Ya! Ini semua gara gara hutang sepuluh triliyun! Main gila! Rasanya sudah seperti hutang negara!
Cassandra menuruni tangga itu dengan hati hati, semalam kamarnya benar benar berdekatan dengan kamar Alex. Cassandra jadi harus ekstra hati hati. Ia boro boro mau bertegur sapa dengan Alex, menatap wajahnya saja sudah ogah.
“ Pagi …. “ sapaan itu justru membuat jantung Cassandra meloncat.
Laki laki itu tersenyum dengan wajah kusut khas orang yang baru bangun pagi. Ia menikmati keterkejutan Cassandra saat mendengar suaranya. Benar benar lucu. Batin Alex.
“ Wah wah wah! “ komentar Alex seolah terperangah dengan penampilan Cassandra.
“ Kamu benar benar mau berangkat sepagi ini? “ dalih Alex saat melihat penampilan Cassandra yang sudah rapi dengan setelah rok span dan kemeja yang di masukan ke dalam rok. Alex malah jadi gatal untuk menyingkap rok itu.
“ Tentu saja, aku di isi energi positif hari ini. “ ujar Cassandra sembari mencoba pergi karena jalannya di halangi oleh Alex. Tapi tiba tiba Alex menghalangi jalannya.
“ Benar kamu ingin berangkat sepagi ini? “ tanya Alex lagi dengan sedikit heran tapi juga bercampur rasa geli.
Iya! Memang aku seprti kamu, rentenir yang hanya tinggal menunggu tanggal menarik hutang! Tubuhku! Tenanglah, kita akan keluar dari masalah ini.
Alex malah terkekeh, berbeda dengan tampilannya kali ini. Airlangga, ayahnya pasti akan mencemooh tampilan Alex yang masih ambrul adul itu. Rambut berantakan, kaos putih yang kusut, dan juga celana selutut yang di pakai Alex. Bertolak belakang dengan Cassandra yang sudah bangun pagi dan bersiap.
“ Apa! Jangan tersenyum, atau kamu di kira gila! “
Cassandra menyemprot Alex. Harusnya aku memberikan tambahan peraturan. Di larang tersenyum yang memancing emosi. Batin Cassandra, karena senyuman Alex. Benar benar memancingnya untuk menghujat Alex.
“ Cassandra, sekarang baru jam tujuh pagi. “ tunjuk Alex ke arah jam di meja makan.
Lantas apa? Berarti aku sudah telat! Minggirlah kamu titisan dajjal! Ingin sekali Cassandra mengatakan itu, tapi ia urungkan.
“ Dan, asal kamu tau jam di rumahku ini. Di majukan satu jam. “
Dengan senyuman puas, Alex meninggalkan Cassandra yang melongo karena tak percaya. Jadi? Hawa dingin yang menyerang tubuhnya jam lima pagi tadi, pertanda kalau ia akan masuk angin karena sebenarnya. Ia mandi pukul empat dini hari?! Gila!!!
“ Alex!!! Dasar baj- “
Dengan cepat Cassandra menutup mulutnya, Alex sudah menghilang entah kemana. Berani beraninya laki laki itu mempermainkannya. Tunggu saja, pembalasannya. Cassandra sudah berniat untuk mencincang Alex menjadi sedemikian rupa. Dadu, kerucut, bahkan limas!
Alex berjalan dan mengabaikan pelayanya. Clara sudah sejak setengah jam yang lalu menyiapkan makanan. Karena Alex biasa bangun pagi. Dan nyatanya, laki laki itu sudah berjalan di depannya sambil meminum jus.
“ Kenapa kamu masih di situ? “ komentar Alex saat melihat tubuh Cassandra yang masih di ambang pintu dapur.
Karena aku tidak mau satu ruangan denganmu!
Kalau seperti itu, kebodohanmu terlihat sangat natural. Alex memandangi Cassandra yang melihatnya ogah ogahan.
Krekkk. Alex menarikan kursi di meja makan tanpa melihat meja makan isinya apa. Ia malah menatap ke arah Cassandra yang masih di ambang pintu.
“ Duduk. “ perintah Alex dengan tegas, “ Kita sarapan. “
Ujarnya dengan santainya menaruh gelas yang sudah tak ada isinya itu. Alex mengambil makanan apapun itu di meja. Ia makan dengan hati gembira dan Cassandra hanya melongo melihat wajah bahagia Alex. Benar benar ingin di gampar.
Cassandra merasakan tubuhnya merinding karena di guyur air dingin subuh subuh tadi. Ia sengaja tak menggunakan air hangat supaya tak mengantuk di kantor nanti. Bukan untuk merasakan masuk angin seperti ini.
“ Aku berangkat Clara, hati hati di rumah. “ bukannya berpamitan dengan Alex, Cassandra malah menyapa Clara yang sudah berpura pura sibuk mengelap meja.
“ Hei! “ teriak Alex saat tangan Cassandra menyambar sandwich dan berlari pergi meninggalkannya. Cassandra sudah pergi tanpa harus repot repot melihat wajah Alex.
__ADS_1
^^^
Ruangan kantor itu benar benar sangat lenggang. Damian bahkan belum ada di sana.
“ Cassie? “ panggilan itu membuat Cassandra membalikan badannya. Ayahnya sudah berangkat rupanya. Dan sapaan itu juga mewakili rasa ke khawatirannya karena putrinya itu tak pulang semalam.
“ Kamu semalam, di mana? “ tanya Damian dengan nada sangat khawatir.
“ Aku? “ Cassandra nampak menimang, rasanya semakin membuat ayahnya khawatir saja kalau sampai tau ia tinggal dengan Alex.
“ Alex. “ ujar Cassandra dengan malas malas. Lebih tepatnya, ia tak mau ayahnya khawatir. Khawatir mungkin masalah sekian, Damian lebih terejut mendengarnya.
“ Kamu tidak apa apa kan? “
Cassandra menggeleng. Ia tak ingin berbohong tapi juga tak ingin membuat ayahnya khawatir. Jadi ia putuskan, untuk berpura pura baik baik saja. Walaupun badannya masuk angin.
Sialan, perutku kembung!
“ Aku baik baik saja dan hari ini aku akan membantu ayah. “
Dengan sematan senyum itu, Damian menjadi merasa sedikit lega. Akhirnya, puterinya mau turun langsung dan memanfaatkan otaknya.
“ Aku akan langsung ke bagian audit dan investasi. Do’akan aku ayah, semoga hari pertamaku lancar. “
Cassandra dengan penuh senyum dan rasa riang langsung melepaskan pelukan dan pergi meninggalkan ayahnya. Ia tau ruangan demi ruangan di tiap lantai di perusahaan ayahnya. Karena ia sering berlarian di koridor ini. Entah saat masih kecil ataupun saat ia sudah setua ini.
Cassandra tak perlu di sambut. Semua orang tau dia dan ia langsung mengambil alih menilik semua dokumen yang harus ia periksa. Perusahaan akan bangkrut dan uang triliyunan milik Alex itu adalah sumber suntikan modal. Yang perlu Cassandra lakukan adalah perbaiki pemasukan, tutup kebocoran pengeluaran dan mencari investor baru agar ia bisa menendang apa yang Alex berikan.
“ Apa relasi lama tak mau lagi bekerja sama dengan kita? “ Cassandra menatap tumpukan map itu dengan frustasi. Ini juga termasuk salahnya, karena Ayahnya sudah memintanya untuk membantu perusahaan. Tapi ia tidak mau membantu. Damian tak terlalu pandai dalam hal bisnis. Dan ini adalah hasilnya. Banyak kecerobohan yang di buat ayahnya.
“ Keuntungan bekerja sama dengan kita tak terlalu banyak karena profitnya kian tahun kian menurun. Mungkin itu alasan banyak sekali kontrak yang di batalkan atau di putuskan sepihak. “
“ Ya sudah kalau begitu, tinggalkan aku. “ Cassandra sangat frustasi. Seminggu, berarti sehari harus ada pemasukan minimal satu koma lima triliyun. Boro boro uang sebanyak itu. Seribu rupiahpun belum pernah Cassandra hasilkan.
“ Kenapa wajahmu di tekuk seperti itu? Hari pertama sudah sangat frustasi? “
Tanpa harus di panggil seperti jailangkung. Alex ternyata lebih menyeramkan dari boneka setan itu. Cassandra sampai terperanjat dari bangkunya.
“ Kamu? “ tanya Cassandra seolah mengkonfirmasi ilusi ini tidaklah nyata. Laki laki penyebab kepalanya pusing itu ada di depannya sekarang ini. Iya! Saat ini juga.
“ Kenapa? Kaget, “ ucap Alex sambil menarik kursi dan duduk di depan Cassandra.
“ Bisa berikan aku minuman? Haus sekali perjalanan dari kantorku ke ruangan sempit, kecil, dan panasmu ini. “
Cacian demi cacian Alex semakin membuat Cassandra kesal. Mau apa sih dia? membuatku menjadi pembantu atau bagaimana?
“ Pergilah, dan minta tolong OB untuk membuatkanmu minum. “
Cassandra pura pura tak dengar. Gerutuan Alex.
“ Kalau begitu, temani aku minum. “ ajak Alex dengan tanpa harus menunggu persetujuan dari Cassandra, ia langsung menarik tangan gadis itu dan menariknya tanpa jeda hingga langkah Cassandra tergopoh gopoh.
Alex membawa Cassandra yang sejak tadi mengomel.
Bagaimana aku bisa melunasi hutangku kalau aku tidak bekerja! Kamu sengaja hah!! Ingin sekali Cassandra menjerit tepat di telinga Alex. Tapi ia takut di tendang keluar dari mobil yang ngebut di jalanan siang hari ini.
Jalanan sangatlah padat, tapi Alex malah memacu mobilnya tanpa peduli dengan spedometernya yang menjerit jerit itu.
Dia kenapa? Takut kecepatan ngebut seperti ini? Hah, lemah!
__ADS_1
Melihat ekspresi Cassandra yang ketakutan itu malah semakin membuat Alex ingin mempercepat laju mobilnya. Ayo! Lebih cepat dan lebih cepaaaatt.
Mobil itu berhenti di parkiran sebuah kafe yang entah lah, Cassandra belum pernah ke kafe itu sebelumnya padahal hobinya nongki nongki dan tebar pesona. Setelah mobil sepenuhya berhenti. Alex turun dari mobil dan membukakan pintu. Ia malah mendapati wajah masam Cassandra.
“ Keluar, apa kamu tidak mendengar aku tadi bilang apa saat membawamu kemari? Temani aku minum. “
Dan untuk yang ke dua kalinya, Alex menarik Cassandra masuk ke dalam kafe. Cassandra hanya tak mau berdebat. Rasanya tubuhnya lemas dan menggigil kedinginan gara gara mandi air dingin subuh subuh tadi.
“ Duduk. “ perintah Alex dengan singkat. Cassandra hanya mengikuti perintah Alex, ia berharap kalau ia menuruti Alex ia akan cepat cepat di lepaskan.
Dan nyatanya, laki laki itu langsung pergi ke arah bar dan entah memesan apa. Aneh, itu pikiran Cassandra, laki laki itu memesan banyak sekali minuman dan Cassandra sampai bingung untuk siapa minuman itu nantinya.
Dan tangan Alex langsung teralihkan, ia mendapatkan panggilan. Entah dari siapa itu. Dan Cassandra tak ingin tau itu. Dengan siapa Alex berbicara. Sepertinya menyenangkan.
Cassandra bisa melihat ada ulasan senyum di bibir Alex.
“ Minum. “ perintah Alex seperti pada soerang ternak. Dan Cassandra tentu tidak meminumnya. Dan Alex juga tidak peduli. Ia duduk di depan Cassandra seolah sedang menunggu seseorang. Dan tak lama kemudian ia tersenyum lebih lebar dari penggaris tiga puluh senti.
“ Ka Alex!!! “ teriakan itu memang memekakan telinga, dan saat sosok lain itu muncul. Alex langsung mengitarakan pandangan tak suka. Ada Danil bersama Alexa.
“ Kamu!! “ pekik Cassandra saat ia melihat penampakan Danil yang masih ia ingat dengan jelas.
“ Hai, “ balas Danil dengan sangat santai.
“ Alexa?!! “ lagi lagi Cassandra lebih terkejut saat ia melihat kalau perempuan bersama Danil adalah sahabatnya.
“ Cassie? “ pekik Alexa tak percaya. Alex memanggilnya ke sini untuk membahas masalah kerja sama dengan klien, tak di sangka yang ia temui justru Cassandra. Sahabatnya sendiri.
Danil terkejut saat Alexa memanggil perempuan ini apa tadi? Cassie? Bukannya Alana?
Alex di kejutkan oleh banyak hal. Kedatangan Danil dengan Alexa. Danil yang ternyata mengenal Cassandra. Dan juga, Alexa yang kenal dengan Cassandra.
Apa bumi sedang tidak berputar pada porosnya?! Batin Alex masih tak bisa mencerna banyak hal dalam sekali tatap.
Sepanjang pertemuan itu, Cassandra hanya menatap Danil dengan sebal. Masih terngiang di pikirannya betapa menyebalkannya Danil kemarin itu.
Setelah urusan meeting meeting di antara Alex, Alexa dan ternyata juga menyangkut Cassandra di dalamnya. Alex permisi ke belakang dulu, dan Danil? Ia di abaikan oleh Alex dan langsung ke arah bartender dan memesan entah minuman apa.
“ Kamu? Sekretaris Alex? “ tanya Cassandra memastikan.
Alexa hanya mengangkat sebelah alisnya dengan gelagat sok misterius, “ Tebak hubungan apa lagi yang ku miliki dengan bosku itu? “ umbar Alexa seolah ia ingin ada skandal perselingkuhan yang terbongkar.
“ Tidak tau dan tidak ingin tau. “ jawab Cassandra dengan sebal. Sudah jelas, kalau Alex mengangkat telfon dari Alexa dengan tersenyum sumringa. Berarti hubungan mereka spesial. Tak perlu di jabarkan lagi!
“ Aish! Kamu benar benar tak mengasyikan. “ Alexa menyeruput Macchiato-nya dengan tak sabaran.
“ Dia itu kakaku! “ racau Alexa dengan sebal. Cassandra yang mendengar itu sontak jadi kaget sendiri.
“ Dia juga kakaku. “ tunjuk Alexa lagi pada Danil yang sedang meminum sesuatu di cangkirnya.
Cassandra yang tak pernah bertemu dengan kaka sahabatnya itu. Alsan Alexa tak mempertemukannya dengan kakanya adalah. Memang ada urusan apa kita dengan kakaku? Ayo, kita jalan jalan saja.
Dan saat mengetahui kalau dua laki laki menyebalkan itu adalah saudara Alexa. Cassandra semakin ingin menjitak kepala Alex dan Danil dalam sekali jurus.
“ Pantas. Dua duanya sama sama menyebalkan. Membuat orang emosi, tampangnya saja tak mengenakan untuk di lihat. “
Ujaran kebencian Cassandra itu di dengarkan dengan seksama oleh Alex yang manggut manggut di belakang Cassandra.
“ Lalu apa lagi, aku siap mendengarkan dengan telinga terbuka lebar. “
Mendengar suara Alex di belakangnya, tubuh Cassandra semakin menggigil dan tambah menggigil.
__ADS_1
Kapan dia berteleportasi? Bukannya dia tadi pamit ke kamar mandi?
Cassandra semakin berdo’a semoga saja ini bukan hari terakhirnya di dunia dan menghirup udara. Semoga saja.