
Cassandra pulang dengan banyak dokumen di tangannya. Ia sampai kewalahan karena banyak sekali yang harus ia kerjakan. Hanya tinggal menghitung hari lagi. Esok, waktu tersisa tinggal tiga hari lagi. Tiga hari!! Satu juta pun belum ia hasilkan.
“ Bodoh sekali mulutku ini! Selalu saja membawa petaka! “ umpat Cassandra sambil memukul mulutnya. Gara gara menantang Alex, tak melihat seberapa kemampuannya. Ia jadi kocar kacir sendiri.
“ Nona. “ panggilan Clara itu mengangetkan Cassandra. Sosok pelayan itu muncul dengan takut takut saat mendekatinya. Seperti sedang melihat penampakan saja.
“ Ada apa Clara? Kenapa kamu ketakutan begitu? “
Clara mendengar pertanyaan itu dan nampak takut takut, ia melirik ke sekliling rumah. Gara gara Tuan rumah marah marah. Aura rumah Alex jadi bertambah gelap saja.
“ Tuan, Tuan Alex- “ ujar Clara sambil terputus putus saat berkata. Ia bingung, harus di sampaikan atau tidak? Baiknya bagaimana?
“ Ada apa dengan Alex? “ tanya Cassandra, mau tak mau ia harus penasaran. Dia si pemegang kendali hutang hutangnya. Jangan sampai gara gara moodnya yang jelek. Hutangnya jadi meningkat, bunga seratus persen misalnya?
“ Tuan Alex mengurung diri di kamarnya. “ ujar Clara dengan nada sangat panik dan ketakutan.
“ Dia tidur? “ tanya Cassandra memastikan.
“ Tidak, Tuan baru saja pulang dari rumah inti, rumah keluarga. Biasanya, kalau Tuan baru pulang dan bersiteru dengan Tuan besar. Ia akan mengurung diri seperti ini. “
Clara menejelaskan dengan takut takut, ia tau kalau dua Tuannya itu tak akur. Tak seperti Ayah dan anak. Takut saja, kalau terjadi sesuatu pada Alex.
“ Sejak kapan dia mengurung diri di kamar? “ Cassandra bertanya dengan acuh tak acuh.
“ Sejak tadi siang. “ jawab Clara dengan cepat.
Cassandra melirik jam tangannya. Sudah pukul tujuh malam dan Alex sudah bertahan hampir delapan jam di kamarnya untuk apa?
“ Mungkin dia kelelahan atau apa. Biarkan saja dia. “ ujar Cassandra tanpa peduli dan langsung melenggang pergi, tapi Clara hendak menahan kepergian Cassandra itu.
“ Tunggu Nona! Jangan seperti itu, saya mohon. Tengok keadaan Tuan Alex barang sebentar saja. Sebagai kekasih Tuan Alex, Nona harusnya khawatir kalau Tuan Alex kenapa napa. “
Cassandra melirik ke arah tangan Clara, “ Kenapa tidak kamu saja yang melihat keadaan Alex? “ tantang Cassandra yang sebal. Kekasih your head!!
Kenapa juga aku harus peduli dengan keadaan Alex? Bagus saja kalau dia mati. Haha!! Hutang hutangku jadi lunas tanpa harus ada pembayaran. Batin Cassandra sudah berdo’a yang tidak tidak untuk Alex.
“ Nona, saya mohon. “ pinta Clara. “ Saya takut, kalau saya yang mengetuk pintu. Saya membuat Tuan Alex marah dan malah memecat saya. “ wajah memelas Clara itu benar adanya. Pasalnya, Tuannya itu kan memang hobi marah marah untuk hal yang tidak penting. Kalau sedang tidak moob mungkin, nafas Clara saja bisa di permasalahkan.
“ Baiklah, tapi dengarkan aku dulu. Aku bukan ke- “ Cassandra mengibaskan tangannya dengan frustasi. Percuma saja. Berkali kali meluruskan ini pada Clara takan ada hasilnya. Cassandra akhirnya dengan sedikit malas. Ia menaiki tangga. Map di tanganya kini tak berasa berat. Yang berat adalah, harus menengok keadaan Alex.
“ Apa dia sedang bersemedi atau bagaimana? “ komentar Cassandra saat melihat kamar Alex masih gelap. Sedangkan kamarnya yang ada di samping Alex saja sudah terang benderang. Setakut itu Clara akan mengganggu semedi Alex.
“ Tunggu saja! “ tekad Cassandra sambil berlalu. Ia meletakan map map itu di kamarnya dahulu. Kembali Cassandra sudah berdiri di depan pintu kamar Alex. Ia mengingat alasan apa yang bisa membulatkan tekadnya.
“ Untung saja dia sedang baik, kemarin mau membantuku.” Celoteh Cassandra dengan tangan yang sudah memegang gagang pintu. Ia berdecak dengan sebal. Ia menarik gagang pintu itu dengan sekali hentakan. Dan Cassandra kaget. Benar benar kaget. Ia lupa mengetuk pintu, dan pintu tidak di kunci.
__ADS_1
“ Wah, kenapa tidak sejak tadi siang atau sore tadi Clara membuka pintu. Setakut itu ia akan mengganggu Alex rupanya. “
Dan Cassandra memasuki kamar gelap dengan tanpa penerangan itu. Tangan Cassandra menggapai gapai dinding berusaha mencari cari saklar.
“ Ah, ketemu. “ sorak Cassandra bersamaan dengan lampu menyala. Keadaan kamar acak acakan. Benar benar awut awutan.
“ Seperti kebiasaan negara santuy. bar bar. “ komentar Cassandra sambil menjelajah kamar Alex. Kamar itu benar benar. Wah? Bagaimana kata yang tepat untuk menjelaskannya. Benar benar kacau, selimut acak acakan. Vas pecah bertebaran di penjuru lantai. Bunganya bahkan teronggok tak berdaya di ujung meja. Seperti ada tawuran masal di sini.
“ Sebenarnya apa yang membuat dia sangat emosi? “ ucap Cassandra dengan heran. Ia masih menjelajahi kamar dan belum menemukan sosok Alex. Tanpa sadar, langkah Cassandra sudah mendekati pintu kamar mandi yang setengah terbuka. Sama, ruangan itu juga gelap tanpa cahaya.
“ Alex?!! “ pekik Cassandra saat ia membuka pintu dan pandangannya tertuju pada Alex yang acak acakan, sedang bersidekap di dekat bath up. Tubuh laki laki itu lunglai dengan mata yang tertutup.
“ Jangan! Jangan!! “ Cassandra sudah setengah berlari mendekati Alex. Ia khawatir kalau Alex bunuh diri. Kamar acak acakan, selalu bertengkar ketika bertemu dengan Ayahnya. Jangan jangan karena masalah keluarga Alex jadi frustasi dan memutuskan bunuh diri.
“ Alex!! Bangun Alex!! “ tangan Cassandra menepuk nepuk pipi laki laki itu, matanya mengobservasi mencoba mencari luka di tubuh Alex, ceceran darah atau apalah. Tapi Cassandra bersyukur. Tak ada luka serius, kecuali memar dan darah sedikit di buku buku jari Alex.
“ Alex?! Alex!! Bangun!! Jangan sampai kamu menarik hutang hutangku dalam jelmaan roh!!! “ teriakan Cassandra itu memanggil kesadaran Alex. Tanpa sadar, mata itu membuka dan melihat sosok Cassandra yang sedang terlihat khawatir. Lampu itu sudah di nyalakan dan wajah keduanya terlihat jelas.
Entah apa atau bagaimana. Dua duanya seakan bisa melihat pantulan masing masing di mata lawannya. Pantulan diri Cassandra yang ada di mata Alex. Laki laki itu sedang menatapnya dengan sangat dalam.
“ Ku katakan padamu. Jangan berteriak teriak di dalam rumahku. “ tegur Alex dengan suara dalam dan dingin. Suara Cassandra yang di sebut Danil mirip speaker aktif itu memekikan telinga.
Cassandra yang baru saja, hampir terpukau dengan pesona Alex. Jadi mengurungkan niatnya. Laki laki ini benar benar menyebalkan. Sudah membuat khawatir dan masih bisa membuat orang sebal dengannya.
“ Siapa suruh kamu seperti orang depresi?!! “ pekik Cassandra membela diri. Ia tak mau terlihat seperti peduli dengan keadaan Alex yang memang menghkawatirkan barusan. Tidak. Jangan memperlihatkan empati di depan Alex.
“ Siapa pula yang mau repot mempedulikanmu?!! “ bentak Cassandra sambil melepaskan pegangannya pada kepala Alex, akhirnya kepala itu terjun dan membentur lantai kamar mandi. Alex mengaduh kesakitan dan memegangi kepalanya. Cassandra memang tak punya perasaan.
^^^
Cassandra melirik ke arah Alex yang sedang mengusap usapi kepalanya. Memang sih, tadi bunyi benturan kepalanya terdengar. Ehm, nyaring?
“ Bantu aku bangun! “ perintah Alex dengan mengulurkan tangannya. Ia merasa kalau sekujur tubuhnya dingin.
“ Tidak mau. “ tolak Cassandra dengan niatan hendak meninggalkan Alex. Sudah sadar, memangnya harus di apakan lagi? Batin Cassandra.
“ Ku potong hutangmu dua ratus juta. “ ucap Alex, ia benar benar butuh bantuan untuk di tolong segera. Dan hanya Cassandra yang bisa di mintai bantuan sekarang. Mendengar itu, Cassandra langsung setengah berlari menghampiri Alex yang tersungkur di lantai itu. Tanganya dengan cepat terulur meraih tangan Alex.
“ Ayo, biar aku bantu. “ ujar Cassandra dengan sumringahnya. Potongan dua ratus juta! Wah wah! Gara gara di jedotkan ke lantai. Efeknya ke hati Alex. Ia jadi laki laki yang baik.
“ Cih. “ desis Alex menahan geli melihat kelakuan Cassandra yang benar benar kentara padanya. Perlakuan baiknya hanya saat ia mendapatkan keuntungan.
“ Kenapa tertawa? “ selidik Cassandra. Ia sudah susah payah sekarang, membantu Alex bangun dan melangkahkan kaki dengna memapah tubuh yang dua kali lebih berat darinya ke ranjang.
“ Apa?! “ bentak Alex, ia tak mau ketahuan kalau sedang menertawakan Cassandra.
“ Dasar laki laki labil. “ desis Cassandra sambil mempercepat jalan. Membuat Alex yang masih pusing itu jadi tambah pusing. Ingin menghentikan Cassandra tapi tak punya tenaga. Benar benar. Cassandra tak kehabisan ide untuk mengusili Alex.
__ADS_1
Bruk! Tubuh Alex di nistakan begitu saja di lemparkan ke ranjang tanpa perasaan. Dengan cepat Cassandra menghilang meninggalkan Alex. Sebelum itu, Cassandra sempat menjulurkan kepalanya melongok Alex lewat daun pintu.
“ Jangan lupakan kata katamu barusan! Ingat!! “ tukas Cassandra sambil berlalu dan menghilang. Alex hanya bisa meringis tak habis pikir. Ada perempuan seperti Cassandra. Benar benar. Polah tingkahnya membuat Alex jadi sedikit mengaggumi, sedikit sedikit takut, sedikit sedikit marah, sedikit sedikit geli, dan sekarang. Terperangah.
Alex mencoba membaringkan dirinya dengan nyaman. Tapi rasanya. Sama saja bohong. Seluruh tubuhnya terasa sakit bukan main. Bukan karena bergulat dengan Danil siang tadi. Tapi lebih karena bergulat dengan diri sendiri. Rasa marah yang sulit di hilangkan. Adalah marah pada diri sendiri. Rasanya, semarah apapun. Rasa marah itu tetap ada. Apa lagi rasa kecewa. Selalu saja, yang di salahkan diri sendiri. Sama halnya dengan Alex. Rasa marah dan kecewa pada diri sendiri itu. Lama kelamaan membuatnya lelah sendiri. Memanggulnya bertahun tahun dan berpura pura tak peduli. Ternyata sulit.
Rasa sakit di buku buku jarinya membuat Alex tersadar. Luka batinnya masih ada, sekarang ada luka di fisiknya. Perfect! Keduanya sekarang sempurna. Alex menatap sekeliling kamarnya. Sudah terang dan semuanya terlihat dengan jelas sekarang. Berantakan.
“ Abaikan saja Alex, abaikan. “ lirih Alex sambil menutup matanya mencoba melanjutkan tidur yang tadinya di kamar mandi.
“ Kenapa kamu malah menutup mata!! “ pekikan suara Cassandra itu menyadarkan Alex yang mencoba terlelap.
Kenapa ia kembali lagi ke sini? Batin Alex. Ia mencoba membuka mata dan menangkap sosok Cassandra yang berdiri di samping ranjangnya. Di tangan Cassandra sekarang sudah ada kotak P3K.
“ Cepat ulurkan tanganmu! “ perintah Cassandra dengan brutalnya. Ia langsung memepet pada tubuh Alex di atas kasur. Ia buru buru meraih tangan Alex.
“ Hei! Ada apa dengan tanganku memangnya!! “ pekik Alex saat dengan cepat Cassandra merampas tangannya.
“ Memangnya apa lagi! Memberikan obat! Kamu pikir apa? Sianida!!! “ gerutu Cassandra sambil meraih kapas dan alkohol dengan tangan kirinya. Tangan kananya sudah di gunakan untuk mengunci tangan kiri Alex. Ia membersihkan luka luka di tangan Alex dengan sangat telaten.
“ Ah!! Pelan pelan bodoh!! “ pekik Alex saat ia merasakan kalau rasa perih itu seperti menggerogoti dading daging di tangannya.
“ Hei! Kamu yang bodoh! sudah tau luka itu sakit saat di obati. Siapa yang menyuruhmu melukai dirimu sendiri memangnya!!! “
Cassandra mencibir Alex dan mengerucutkan bibirnya. Tapi tangannya sudah fokus untuk mengobati tangan Alex. Kalau bukan karena rasa terima kasih masalah kemarin. Cassandra takan berubah pikiran dan meminta Clara untuk menyiapkan kotak P3K. Mana mau!!! Gengsinya terlalu tinggi setinggi tower.
Melihat Cassandra cemberut tapi tetap melakukan hal yang tak ia inginkan, membuat Alex sedikit merubah peringisannya jadi senyuman. Ia tau, Cassandra tak mau mengobatinya. Tapi untuk alasan entah apa itu, gadis itu mengabaikan gengsinya dan mengobatinya.
Tiba tiba, saat Alex sedang menikmati pemandangan yang di suguhkan Cassandra. Ponsel gadis itu berdering. Membuat Cassandra terlonjak dan menghentikan aktifitasnya.
“ Iya, sayang. “ sapa Cassandra dengan raut bahagia tanpa harus malu malu di tutupi di depan Alex. Laki laki itu mengernyit. Membayangkan si lawan bicara. Pasti laki laki yang ia temui saat makan sushi bersama Cassandra.
Cassandra melirik ke arah Alex sebentar sebelum ia melanjutkan percakapannya. Tangannya menutupi ponsel itu dengan tingkah melindungi.
“ Kau, bersihkan sendiri luka di tanganmu itu. Aku permisi dulu. “
Dan dengan kata kata itu. Alex di tinggalkan begitu saja. Ia melihat Cassandra dengan tingkah polahnya berlari sambil setengah berteriak saat menjawab ponsel. Alex hanya menatap nanar. Ia di tinggalkan lagi.
“ Sepertinya menyenangkan kalau bisa membisukan mulut seseorang. “ niatan jahat Alex saat ia ingin sekali membisukan Allen agar tak menelfon Cassandra.
Tapi aku siapanya sampai bertindak seperti ini?
Dengan statemen itu, Alex bersyukur. Ia jadi sadar dari rasa cemburu yang entah datang dari mana dan untuk alasan apa. Ia kembali membersihkan luka di tangannya. Dan meringis menahan rasa sakit.
“ Ah!! Sial…! “ Alex tak bisa melakukannya kalau bukan orang lain yang melakukannya. Niat itu menggelitik hatinya.
Haruskah aku panggil Cassandra? Supaya dia juga tak bertelfonan dengan kekasihnya? Haruskah?
__ADS_1