Sexy Partner

Sexy Partner
37. Two faces.


__ADS_3

Alex dengan mata sehijau batu safir, hijau zamrud. Ia menatap ke arah mobil yang di kendarai Allen dan Cassandra bersama laki laki itu tentunya. Dengan langkah berat, Alex ikut berjalan ke arah mobilnya sendiri. Belum pernah ia merasakan sensai seperti ini, gelenyar panas seperti...? Tidak rela..?


Ah benar! Ini bukan jenis perasaan seperti ini! Ini hanya karena Alex belum biasa melihat Cassandra begitu lengket dengan laki laki, yang justru selalu di tampilkan Cassandra di depannya adalah sikap menolak, membelot, dan juga menentang dengan suara keras.


“Allen bilang apa barusan? Dia selalu manja di dekatnya? Heh!” Alex tertawa sengit, ia tak bisa percaya kalau itu adalah kepribadian Cassandra yang sesungguhnya. Alex kemudian, entah alasan apa, ia kembali melihat mobil itu berjalan, hanya dua orang di dalamnya. Melihat itu, membuat rasa gelenyar panas di dada Alex kembali muncul.


“Sial!” umpat Alex sambil meremas tangannya sendiri dengan sangat berang,”Dia belum pernah tinggal dengan Cassandra, makanya dia hanya tau sikap manjanya. Dia itu landak berduri.”


Dan Alex melanjutkan langkanya dengan cepat, ia ingin segera sampai ke kantornya dan mengerjakan sesuatu yang menghasilkan uang, dari pada di depan restoran dan kesal tanpa alasan.


Mobil yang di kendarai Alex benar benar melaju sangat cepat. Tangan Alex yang mengendalikan kemudinya. Tapi otak Alex entah melayang kemana. Ia tak fokus menyetir, sampai panggilan Alexa membuat Alex terperanjat dari lamunannya. Ia bahkan tak menyadari, kalau mengendarai mobil di kecepatan tinggi, sambil melamun itu berbahaya.


“Alexa? Ada apa?” tanya Alex membuka percakapan setelah ia berhasil menepikan mobil. Terdengar Alexa sedang mendengus dan menarik nafas dengan sangat berat di sebrang.


“Kakaku yang sangat tampan...” sela Alexa tanpa berpikir panjang,”Bisakan kamu pulang ke kantor? Dan jangan berkeliaran di jam seperti ini? Tunangannmu membuat masalah!!!”


Alex mengerutkan keninggnya karena bingung.”Isabella maksudmu?” tanya Alex memastikan.


“Iya! Siapa lagi! Cepat kemari! Secepat yang kamu bisa!” dan Alexa menutup telponnya dengan sangat geram karena marah akan sesuatu.


“Apa yang di perbuat gadis itu.” geram Alex, ia justru tak ingin ke kantor kalau tau ada Bella di sana. Alex melemparkan ponselnya untuk pelampiasan rasa kesalnya. Dengan refleks yang cepat, Alex menjalankan lagi mobilnya dan sekarang Alex melajukan mobilnya dengan cepat dan pikiran yang spenuhnya fokus.


Saat Alex pertama kali menjalankan kakinya memasuki kantor, yang ia lihat adalah sebuah kerusuhan dengan Isabella yang sedang di rundungi oleh para petugas keamanan kantor. Dengan kening berkerut, Alex mendekati mereka. Senyum merekah Isabella yang menyambut Alex, ia abaikan.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Alex, tapi bukan pada Isabella, padahal gadis itu sudah membuka sedikit mulutnya. Tapi kemudian mengundurkan niatnya. Alex bertanya pada sekuriti.


“Nona ini, ingin masuk ke ruangan rapat dan meminta untuk menemui anda. Kami sudah megnatakan kalau anda sedang pergi makan siang.”


Alex menatap Isabella dengan tatapan malas, baru beberapa hari ia mengenal gadis itu, sepertinya di masa depan, gadis itu akan sering membuatnya kerepotan kalau sudah menjadi istrinya.


“Bella?!” sapa Alex dengan nada marah dan memperingati gadis itu, raut wajah Isabella hanya menunduk ketakutan. Kembali, sekuriti itu melanjutkan laporannya.


“Tuan, Nona ini juga masuk dengan paksa ke ruang meeting saat Nona Alexa sedang melakukan rapat dengan klien dari Arab.”


Dan saat itu juga Alex tak mau menahan lagi amarahnya. Ia langsung meraih tangan Isabella dan membawa gadis itu pergi ke tempat yang hanya bisa mereka masuki.


Dengan tergopoh gopoh, Isabella mencoba mengimbangi langkah kaki Alex yang sangat panjang karena kaki Alex yang jenjang itu. dengan cepat, Alex membuka pintu kantornya dan menguncinya. Menghela nafas dengan berat, Alex menatap Isabella dengan menahan amarah.


“Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan?” tanya Alex dengan mata zamrudnya yang mungkin akan berubah menjadi semerah rubi delima. Isabella mulai menyadari kalau ia memancing amarah Alex. Tapi dengan segenap keberanian, Isabella mencoba untuk menjawab pertanyaan Alex.


“Aku ke sini untuk menemuimu Alex..” jawab Isabella dengan suara lembut dan mencoba tenang. Ego Isabella terluka saat mendengar sekuriti itu melaporkan pada Alex tentang dirinya, seperti seorang tawanan yang memaksa masuk.


“Mereka melebih lebihkan, aku tidak sebrutal itu, merusak meeting penting-“


“Kamu membuat keributan, dan Alexa sangat marah sampai memanggilku untuk cepat datang ke kantor, kamu masih merasa kalau kamu tidak membuat keributan di kantorku Bella?” kata kata tajam Alex itu tak membuahkan hasil, Isabella tetap pada pendiriannya.


“Tapi Alex, kalau mereka bilang kamu sedang pergi, aku tidak akan memaksa masuk.” Pungkas Isabella.

__ADS_1


“Mereka sudah mengatakannya, dan kamu tidak percaya dan akhirnya memilih tetap membuat keributan di banding duduk tenang menungguku pulang ke sini.” Kembali, kata kata tajam Alex membungkam mulut Isabella.


Sekarang gadis itu menelan ludahnya dengan sangat kak, ia menatap wajah Alex dengan rahang yang mengeras. Ia takut.


“Itu karena aku kira mereka membohongiku.”


“Siapa yang akan membohongimu.” Tanya Alex retori. Dan Isabella hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lemah.


“Ayahmu menyuruhku untuk mengajakmu makan siang. Tapi kamu tidak ada, aku kira kamu tetap meeting hanya untuk menghindariku.” Isabella berkata dengan meredupkan sorot matanya.


Alex sampai harus mendesah panjaaaang sekali agar ia tak berkata kasar, atau mengumpati gadis bodoh super posesif di depanya ini.


Oke Alex, jangan mengumpat! Mengumpatlah dengan estetik!


Setelah berulang kali menahan amarah dan menarik nafas dengan sangat berat. Akhirnya Alex bisa mengendalikan amarahnya dengan mulus. Andai Alexa melihat kendali diri Alex saat ini, mungkin Alexa akan heran atau mengucap syukur secara bersamaan. Secara, julukan Alexa untuk kakanya ini adalah orang yang hobi marah marah.


“Oke Bella, aku paham sekarang.” Alex menjauhkan diri dari Bella dan mengacak acak rambutnya hingga berantakan, Alex sangat frustasi bagaimana caranya mengatasi Isabella.


“Pertama Bella, aku tidak suka kamu mengurusiku di jam jam kerjaku. Aku bisa ingatkan kamu, kita ini baru bertunangan. Kita belum menikah. Lagi pula, pertunangan ini bisa juga di batalkan.”


Isabella langsung menarik nafas dan tertahan di paru parunya untuk waktu yang lama. Ia tak bisa melepaskan Alex! Laki laki di hadapannya ini adalah laki laki impian untuk semua wanita! Bagaimana mungkin ia bisa membiarkan Alex membatalkan pertunangan dengannya!! Tidak akan!!


“Alex maa-“


“Sebentar Bella, aku belum selesai berbicara.” Alex langsung memotong kembali ucapan Isabella dengan sangat cepat.


Setelah Alex berhasil megnucapkan kata kata pengusirannya pada Isabella, udara yang tertahan di paru paru gadis itu akhirnya berhasil di hembuskan. Nyatanya, kegugupan Isabella mereda sekarang. Ia berganti takut saat melihat sosok itu berubah menjadi sedikit beraura gelap dan menakutkan saat mengintimidasi lawan bicaranya.


“Tapi Alex, aku tunanganmu. Aku-“


“Kamu tunanganku, dan aku tidak mencintaimu. Jadi aku tidak punya kewajiban untuk memperlakukanmu, seperti pasangan kekasih. Jangan manja padaku Isabella.”


Saat Alex mengucapkan kata manja, ia jadi teringat perlakuan manja Cassandra pada Allen. Alex menjadi tidak suka perempuan manja sekarang! Mulai sekarang, ia akan menghunuskan pedang pada siapapun wanita yang berlaku manja padanya! Alex bersumpah akan itu!!


“Pergi sekarang Isabella, aku benar benar sibuk.”


Alex membalikan badan dan membukakan pintu selebar lebarnya pada Isabella,”Keluar.”


Dengan ragu ragu karena takut, Isabella langsung pergi saat Alex dengan keras menutup pint hingga pintu besar dengan ukiran kayu jati itu mengeluarkan suara bedebum yang sangat keras. Dengan langkah terburu karena taku, Isabella menuju lift dan langsung memencet tombol untuk ke lantai paling bawah. Saat pintu lift terbuka, Isabella bertatapan dengan Alexa yang dari lantai bawah dan hendak menemui Alex.


Dengan tatapan sengit seperti membunyikan genderang perang, Isabella melayangkan tatapan ketidak sukaan pada Alexa, begitu juga Alexa, ia juga tak suka Isabella. Dengan gerakan tenang dan sedikit menjatuhkan. Alexa menggerserkan tubuhnya dengan sangat lambat untuk keluar dari lift.


“Silahkan masuk, lain kali tolong lihat jam tangan sebelum memutuskan untuk berkunjung...”


Seringai puas dari Alexa itu membuat Isabella sangat marah.


“Aku akan pastikan, kalau lain kali. Aku akan membuat kamu harus mengunjungiku, walaupun kamu sangat ingin menemuiku.”

__ADS_1


“Lupakan mimpi itu calon kaka ipar, karena aku sangat sibuk sampai tak punya waktu untuk mengunjungimu.” Sela Alexa dengan sangat puas, membuat Isabellea seperti di guyur air panas tepat di puncak kepalanya.


“Alex....!!” teriak Alexa dengan sangat keras sampai bergema di penjuru lorong. Isabella memencet tombol lift dengan gemas, berang dan marah.


“Awas saja nanti kalau aku sudah menikah dengan Alex.” Gumam Isabella.


Alexa masu ke ruangan Alex dengan langkah ringan, ia bahkan bisa mengabaikan aura gelap pancaran yang keluarkan Alex saat duduk di kursi kebesarannya.


“Ini.” Tunjuk Alexa dengan sangat berani, ia berani karena mau dan berbicara dengan santai saat Alex sedang tidak mood dan bisa menyemburkan lava kapanpun.


“Ini hasil meeting dari rapat barusan, untung saja klien dari Arab Sauidi tadi tidak terlalu menganggap Isabella sebagai kendala yang seberapa. Ini hasilnya, mereka akan tetap menggunakan sistem dari Airlangga Corporation untuk beberapa penerbangan komersial di Dubai.”


Alexa tersenyum puas, tentu saja ini berkat otak cerdasnya yang bisa mengatasi masala secepatnya. Alexa sudah meninggikan kepala berharap mendapatkan pujian. Nyatanya, ia sudah salah dengan mengharapkan pujian dari Alex kakanya.


“Bagus, sekarang enyahlah.” Putus Alex dengan melambaikan tangannya dengan gerakan malas, bahkan Alex tak melihat wajah Alexa sedikitpun.


“Alex?” panggil Alexa dengan nada heran. Ia bisa marah atau tidak dengan Alez? Ya! Jawabannya iya!!


“Aku sudah berusaha keras untuk projek ini, padahal aku adalah sekretarismu. Aku bukan General Manager! Kenapa aku harus bekerja dua kali lebih keras dari pekerja lainnya. Bahkan gajiku tidak dobel!”


“Karena semua orang sudah tau, kamu anak pemilik perusahaan. Jadi kenapa mengharapkan gaji dobel saat semua penghasilan bersih masih bisa kamu minta sebanyak mungkin pada Ayah?”


Alexa di buat kesal dengan jawaban Alex, walaupun kakanya ini laki laki. Tapi mulutnya sudah tak bisa di jelaskan lagi bagaimana tajamnya. Alexa sampai bingung, bagaimana tips dari Alex agar memiliki lidah setajam itu.


“Setidaknya berikan adikmu ini pujian atas kerja kerasnya Alex!” rengek Alexa, walaupun . Alexa berani bertatapan dan berdebat dengan kedua kakaknya. Ia terbiasa berperilaku manja pada Alex maupun Danil.


“Sekarang aku sadar, kenapa kamu sangat jauh dari jodoh. Pasti lidahmu yang jadi masalahnya.” Gerutu Alexa, dan tak di sangka. Ternyata gerutuannya di dengarkan oleh Alex.


“Apa kamu bilang Alexa? Mulutku? Apa kamu tidak sadar, kalau kamu juga tak pernah berkencan dengan laki laki manapun! Dasar cebol!” tanpa sadar Alex menghina tinggi adiknya yang tak seberapa dari tinggi tubuhnya itu.


Walaupun Alexa perempuan, ia sangat tak suka kalah dalam bidang apapun dari kedua kakaknya. Masalah tinggi badan juga begitu, walaupun perempuan memang tak lebih tinggi dari laki laki pada umumnya. Alexa tetap tak terima.


“Wah! Seharusnya aku berada satu kubu dengan Isabella. Mendukung pertunangan kalian, agar aku bisa melihatmu tersiksa karena menikahi gadis sepertinya...” Alexa membuka mulutnya dan melongo karena syok. Alex tak terima dengan do’a buruk adinya itu.


“Wah Alexa....”


Alexa tak membiarkan Alex menyelanya, ia sebal karena Alex.


“Aku akan menjadi bridemaid kalian, aku akan menjadi orang yang paling berbahagia di pernikahan kalian Alex!!” ucap Alexa dengan suara keras dan bersungguh sungguh. Alex bahkan tak bisa membayangkan kalau ia berada di atas altar dengan Isabella sebagai pengantinya. Tidak!!


“Aku akan senang menjadi adik yang baik di hadapan Tuhan dengan cara mendoakanmu di hari pernikahanmu Alex, selamat tinggal...!!”


Buru buru Alexa meninggalkan Alex yang sepertinya sudah hampir meledak dengan cara mendoakanya menikah


dengan orang yang tidak ia cintai. Benar benar adik yang sangat pengertian! Pengertian dalam mendoakan yang buruk buruk untuk saudaranya.


Dengan cepat, Alexa sudah menghilang dari ruangan Alex dan menuju ruangannya sendiri sambil berdo’a semoga kakaknya itu tidak membalas dendam dengan cara memberikan lembur ekstra padanya. Semoga saja.

__ADS_1


Dengan malas, Alex mengambil laporan yang Alexa berikan padanya. Ia juga akan berusaha sekuat tenaga. Agar penikahannya dengan Isabella menjadi sebuah rencana tanpa realisasi.


__ADS_2