
Dengan wajah yang kusut seperti benang yang tak selesai di pintal. Alex mengikuti langakah Bella dengan malas. Tapi gadis di sampingnya itu malah kian cepat dan bersemangat untuk menarik Alex ke tujuan ke tujuh mereka! Benar ke tujuh! Bayangkan kamu berada di acara membosankan seperti berita dan itu di ulangi sampai tujuh kali! Alex bisa mati karena bosan dan memutuskan untuk bunuh diri.
“Bella, Isabella....” pekik Alex dan membuat Bella membalikan badan, menengok ke arah Alex dengan bertanya tanya.
“Ada apa Alex? Ayo cepat! Kita harus ke arah sana....” tunjuk Bella entah ke barisan toko yang mana yang harus ia masuki nantinya.
“Apa kamu tidak lelah? Aku sangat lelah saat menemanimu, ke both foto, ke tempat aksesoris dan perhiasan langgananmu, ke tempat tas langgananmu, ke tempat sepatu langgananmu, salon langgananmu, juga ke store make up langgananmu.” Alex menyebutkan ke tujuh tempat yang sudah ia datangi dengan Bella.
“Apa lagi tempat langgananmu yang belum pernah kamu datangi? Apa setiap jengkal tubuhmu punya tempat langganana sendiri?”
Sebenarnya, Alex menyatakan ini dengan retoris dan sarkasme yang sangat tinggi. Intinya, ia ingin berhenti mengikuti Bella. Tapi sepertinya Bella salah tangkap, ia malah tersenyum ke arah Alex. Ia mengira kalau Alex sedang menaruh perhatian padanya.
“Ada, satu lagi. Aku ingin membeli dress.” Pungkas Bella dan kembali menarik tangan Alex dengan cepat.
Ya Tuhan!! Aku harus berbicara seperti apa agar gadis ini mau mengerti!! Alex menjerit frustasi. Kenapa setiap perempuan berlomba mencari dan memakai pakaian mahal kalau setiap laki laki lebih menyukai mereka tanpa busana! Alex takan mengerti itu. takan.
Dengan lemas, Alex menatapi Bella yang mondar mandir keluar dari ruang ganti dengna dress yang berbeda beda tiap saatnya. Dan satu komentar yang selalu Alex layangkan.
“Bagus, itu cocok untukmu.”
Sepertinya, di kali ke delapan ini Bella sudah takan percaya lagi dengan komentar Alex itu.
“Jawab jujur Alex! Apa aku terlihat cantik dengan dress ini?” tanya Bella mulai ragu, kalau Alex berkata seperti itu hanya untuk menyenangkan hatinya.
Alex memutar bola matanya dengan malas,”Apa perlu aku pilihkan dress untukmu juga Bella? Agar kamu puas?!” tandas Alex. Tapi ia, lagi lagi takan mengira kalau binar mata Bella akan secerah sekarang ini.
__ADS_1
“Kalau begitu pilihkan satu untukku!” seru Bella dengan sangat ceria dan semangat.
Alex ingin menghantamkan kepalanya ke tembok sekarang juga! Ia tak kuat. Dengan sekali rampas, Alex mengambil belasan dress yang ada di sampingnya sejak tadi.
“Ini, cobalah semua ini. Sejak tadi aku berpikir, apakah ini akan cocok denganmu atau tidak....” geram Alex, giginya gemeletuk menahan amarah. Dan lagi lagi Bella tersenyum, ia tersanjung merasa di perhatikan oleh Alex.
Tuhan! Perempuan ini terlalu polos atau bagaimana?!!
“Baik, kamu tunggu di sini. Aku akan mencobanya....”
Dan Bella langsung pergi lagi ke ruang ganti dengan banyak dress yang harus di cobanya. Dan Alex menjatuhkan diri di sofa. Tubuhnya lelah, otaknya apa lagi! Bahkan mentalnya musti di kuatkan dengan pergi ke psikolog. Oh! Psikolog tidak cukup, ia pasti membutuhkan obat juga. Ya! Lebih tepat ia harus pergi ke psikiater!
Dengan memijit pelipisnya. Alex terus menunduk ke bawah. Ia kemudian melayangkan pandangan ke barisan dress yang ada di depannya dan melihat sebuah dress hitam dengan pita yang akan melingkar di bahu pemakainya. Terlihat sederhana. Tapi sepertinya Alex akan tau, kala dress itu akan cantik kalau di pakai. Seperti....? Ehm, polos tapi seksi....?
“Pilihan bagus...” komentar Alex pada seseorang yang mengambil dress itu. ia kembali menunduk dan memijit pelipisnya saking pusingnya.
Di landa kebosanan karena Bella belum juga keluar. Sepertinya gadis itu benar benar mencoba memakai dress itu satu persatu. Persetan dengan itu. ia sudah di ancam hari ini oleh Ayahnya.
“Semuanya harus berjalan dengan baik Alex...” pungkas Alex, ia mencoba menirukan gelagat Ayahnya saat memperingatinya. Menyebalkan.
Dengan langkah terseok seok karena bingung apa yang akan di lakukan, Alex akhirnya berkeliling butik ini. Dengan tatapan mengamati, rasanya ia ingin bersembunyi dari Bella. Tapi tubuh Alex terpaku saat melihat sosok Cassandra sedang terbalut dress hitam yang sejak tadi ia perhatikan.
Seriangai puas terpancar di mata Alex saat ia mendapati, Cassandra sangat cantik di balut dress hitam dengan pita menyilang di belakang bahu Cassandra. Gadis itu belum menyadari kedatangan Alex. Ia masih mencoba dress itu dengan gelagat aneh.
“Sudah sempurna, pakai saja itu...” komentar Alex dan membuat Cassandra langsung terperanjat dan berbalik badan. Tak bisa di pungkiri. Bagaimana dunia sangat sempit!!!
__ADS_1
“Ale-“
“Hai Cassie....” sapa Alex sambil mendekati Cassandra. Cassandra tak bisa mengelak. Di belakangnya cermin, berarti tembok. Harus kabur bagaimana??
“Bukannya hutang hutang kita sudah lunas?!” pekik Cassandra saat tubuh Alex kian mendekatinya. Tapi sepertinya. Aelx menjadi tuli.
“Alex!!!” jerit Cassandra.
“Apa?!” tanya Alex dengan menaikan satu alisnya. Cassandra membulatkan matanya. Ia terkekeh dengan reaksi Cassandra itu. terlihat...?e hm.. imut. Bahkan lebih imut dari Bella yang malah terlihat seperti bocah yang menuntut semua keinginanya di penuhi, di ikuti.
“Aku hanya ingin merapikan dress ini, bagaimana cara memakainya....” ujar Alex, tapi tangannya dengan cepat sudah berada di bahu mulus Cassandra. Alex bersumpah!!!!! Bahu Cassandra benar benar mulus dan ia justru tak ingin membenarkan posisi pita di pakaian Cassandra. Ia ingin melepaskan semuanya! Dress yang menghalangi kemulusan dan kelembutan kulit Cassandra.
Cassandra sendiri sudah terpaku, karena perlakuan Alex yang tiba tiba ini.
“Hentikan.” Tepisan tangan Cassandra menghardik gerakan tangan Alex. Laki laki itu hanya tersenyum.
“Aku lupa, sebaiknya kita robek saja dress ini.” Kekeh Alex dengan puas. Ia sangat puas dengan leluconyna itu.
“Hentikan tindakanmu yang menggangguku Alex! Urusan kita sudah selsai.”
“Justru karena urusan kita sudah selesai, bagaimana kalau kita buat urusan urusan yang lain? Hem? Tertarik??”
Alex bersumpah! Entah Tuhan ataukan memang ia yang mengendalikan mulutnya barusan. Sepertinya ia mulai gila tanpa sebab karena mulai menggoda Cassandra.
Dengan menyilangkan tangan di depan dadanya. Cassandra tersenyum tengik.
“Maaf, laki laki impoten sepertimu bukanlah tipeku.” Ucap Cassandra. Akhirnya ia bisa mengeluarkan unek uneknya. Alex terkesiap, laki laki impoten? Jadi itu ya, sebutan Cassandra untuknya di belakang.
Dengan seringai penuh aura yang tak bisa Cassandra prediksi, ketengan justru terlihat jelas di antara mereka. Tapi ini ketengangan sensual. Cassandra bisa saja tergoda dengan cara Alex menggerakan rahang tajamnya yang terlihat sangat seksi.
__ADS_1
Dengan gerakan lambat, Alex mendekatkan bibirnya ke telingat Cassandra.
“Aku tidak impoten. Dan aku bisa buktikan itu kepadamu, kalau kamu mau.”