Sexy Partner

Sexy Partner
24. Hitting each other.


__ADS_3

           


           “ Kenapa kamu kemari? “


           Cassandra sudah mengajak Alex untuk duduk di ruangan yang nyaman. Ruangan kecil yang biasanya di gunakan untuk minum teh sambil melihat ke taman lewat jendela kaca.


           “ Sama sama. “ jawab Alex dengan singkat dan kemudian menyeruput tehnya. Ia mendapatkan pelirikan dari Cassandra.


           “ Apanya yang sama sama. Dasar gila. “ Cassandra memelototi Alex yang sedang terkekeh. Benar benar, hobi Alex ini unik. Di depan Alexa ia hobi marah marah. Di depan Cassandra ia hobi terkikik dan tertawa.


           “ Kamu lupa berterima kasih. Karena aku sudah menolongmu. “ jawab Alex. Ia sangat puas dengan ekspresi Cassandra yang tak bisa membantah kata katanya barusan. Cassandra hanya diam saja, entah sejak kapan. Alex mulai memperhatikannya. Pandangan mata itu sepertinya tak bosan bosan di itarakan untuk Cassandra.


           “ Jangan melihatku terus!! “ bentak Cassandra. Ia tak suka di pandangai Alex dengan cengiran entah apa yang di pikirkan laki laki itu. Alex hanya melemparkan senyum. Ia meletakan cangkir teh yang sedang ia minum barusan.


           “ Kalau begitu, berterima kasih padaku. Dengan cara yang benar. “ tegas Alex sembari mempertajam pandangannya. Cassandra mulanya bingung. Sebenarnya, cara berterimakasih seperti apa yang Alex inginkan.


           “ Dengan ini, atau ini. “ tunjuk Alex pada bibir dan pipinya. Ia tersenyum geli saat melihat pelototan Cassandra.


           “ Aku memperbolehkanmu memilih, ini atau ini. “ tunjuk Alex lagi pada bibir dan pipnya. Cassandra sudah bangkit dan meraih cangkir berisi teh panas itu. Alex jadi ketakutan sendiri karena bayangannya adalah byur.


           “ Kenapa? “ tanya Cassandra heran. Sekarang ia yang gantian memberikan cengiran jail pada Alex. Ia tau sejak insiden tendangan ************, Alex sedikit takut dengan kebrutalannya. Dan terbukti.


           “ Aku hanya ingin minum, dan terima kasih untuk hari ini. “ ujar Cassandra sembari berjalan pergi meninggalkan Alex dan dengan senyuman puas. Alex jadi ngeri, ia tak mau lagi menggoda Cassandra dengan cara barusan.


           “ Sulit di taklukan. “ komentar Alex saat Cassandra benar benar sudah menghilang dari pandangan.


           “ Juga sulit untuk di abaikan. “ tegas Alex. Ia kembali menyeruput teh di cangkirnya itu.


***


           Pagi itu Cassandra bangun dengan segar. Ia sudah menjaga Ayahnya sepanjang malam dan ternyata kondisinya membaik. Damian tak berangkat ke kantor.


           “ Waktuku semakin tipis saja. “ gumam Cassandra dengan kesal. Ini hari ketiganya dan berkurang sudah sisa waktu tenggang yang di berikan Alex padanya. Hanya hitungan empat hari!! Ia harus melunasi uang bernilai triliunan itu. Mustahil memang.


           “ Sarapan dulu dasar tidak punya sopan santun!!! “ teriakan Nenek tua itu membuat Cassandra memalingkan pandangannya. Ia hendak berangkat ke kantor dengan hati yang “BAIK BAIK SAJA” tapi suara yang keluar dari mulut keriput itu membuat Cassandra marah.


           “ Oke, baiklah. Kita sarapan bersama pagi ini. Layaknya keluarga. “ ucap Cassandra dengan nada menyindir saat ia mengatakan kata keluarga.


           Cih, sejak kapan aku di anggap keluarga. Apa karena aku lahir di luar nikah, Ayahku itu laki laki yang tak pantas di keluarga ini. Hey!! Aku lahir karena mereka saling cinta dan kalian menentang cinta mereka!! Jadi jangan salahkan aku kalau aku lahir di dunia!!!  Cassandra sudah membatin dengan marah maran. Seperti kata orang bijak, cinta tak di restui. Dede bayi jadi solusi.


           “ Selamat pagi. “ sapaan itu membuat pasang mata di meja makan terlempar ke sumber suara. Kecuali Cassandra. Ia bisa menebak si pemilik pita suara dan tenggorokan itu tanpa harus memandang rupa.


           Si Alex itu kenapa hobi sekali mengganggu duniaku! Kemain hutang budi, sekarang apa lagi!!


           Keluarga itu sudah tau Alex dan kekuatannya di perekonomian mereka. Dengan cepat, Bibi Cassandra bangkit dan turun langsung untuk melayani Alex. Ada cengiran puas di bibir Alex saat orang orang sadar dengan seberapa besar kekuasaanya.


           “ Ayo berangkat. “ ajak Alex, ia mengabaikan Bibi Cassandra yang mendekat membawa nampan biskuit dan teh.


           Kenapa dia diam saja? Kernyitan di jidat Alex semakin kentara saat Cassandra mengabaikan kata katanya. Ia sengaja berangkat sepagi ini untuk menjemput Cassandra. Agar gadis itu tak lagi terjebak dalam jerat keluarga setan seperti ini.


           Kenapa dia ke sini? Sebenarnya dia itu berbicara pada siapa sih?

__ADS_1


           Cassandra tak mendengarkan dengusan sebal Alex, ia malah membalik piring dan menaruh segala makanan ke atas piringnya. Alex merasa di abaikan sekaligus tertantang. Ia berjalan mendekati Cassandra dan duduk di samping gadis itu.


           “ Semakin kamu membangkang, aku jadi semakin memikirkan. Bagaimana caranya membalas dendam, mencabikmu di malam pertama kita mungkin? Sepertinya itu ide yang bagus. “ kekehan Alex itu di sambut lonjakan tubuh Cassandra karena kaget. Merinding, membayangkan Alex mencabik cabik tubuhnya.


           “ Aku jadi ingin melawan dengan menyepak selangkangannmu. “ cetus Cassandra. Alex malah terkekeh. Kekehannya membuat orang orang di meja makan jadi bingung. Apa hal lucu yang sedang di bisik bisikan antara Alex dan Cassandra sebenarnya. Apa?


           “ Kamu pikir, aku masih takut dengan cara pembelaanmu itu Cassandra? Aku tidak bisa di serang dengan cara yang sama. Carilah cara lain. “


           Cassandra memasukan salad dengan besar besar ke mulutnya.


           “ Aku berangkat dulu, terima kasih untuk makannya Nenek. Semoga saat aku bebas dari hutang hutangku pada seseorang. Aku bisa membalas hutang hutangku padamu atas makanan makanan ini. “


           Kreeek. Kursi di tarik dan Cassandra melenggang pergi. Wajah marah itu terlihat jelas. Rasanya, Cassandra tak suka keluarganya sendiri. Berbeda memang kadang menyebalkan. Sejak kecil di bedakan oleh keluarga dan lingkungan. Hanya karena warna rambut, bola mata dan kulit. Rasis sekali.


           Alex melenggang pergi juga. Tanpa berbalik menatap si tuan rumah. Ia berjalan dengan sumringah di belakang Cassandra. Benar benar menyenangkan. Dari dulu ia sangat ingin hal baru. Seperti mendapatkan perlawanan misalnya.


           Melihat Cassandra memasuki mobil yang ia bawa semalam bersamanya. Alex juga masuk ke dalam mobilnya. Mereka keluar bersamaan tapi ke tujuan yang berbeda tentunya. Waktu Cassandra semakin sedikit dan Alex sangat tak sabar menunggu waktunya datang. Rasanya menghitung mundur waktu Cassandra, sangatlah mengasyikan.


           Cassandra langsung menuju ke kantornya, ia kembali menerka nerka kebocoran apa yang membuat perusahaan Ayahnya harus berhutang. Banyak pula. Cassandra sampai tak habis pikir, Ayahnya pasti sangat stress beberapa tahun belakangan.


           “ Kenapa rasanya hanya menemukan jalan buntu? “ protes Cassandra pada sekretaris di sampingnya yang juga sedang kebingungan.


           “ Sepertinya, memang perusahaan ini di jalankan untuk berlari walau sebenarnya hanya bisa merangkak. “


           Cassandra tersenyum kecut. Benar juga. Ayahnya selalu di tuntut menjalankan perusahaan sebaik baiknya. Tapi namanya bukan passion. Pasti tak sesempurna mereka yang punya ambisis di bidang bisnis.


           “ Berikan aku laporan penarikan Deviden. “ perintah Cassandra dengan ogah ogahan. Rasanya, ia tak bisa menemukan sedikitpun masalah. Rasanya semua masalah ini karena Ayahnya yang memegang perusahaan ini.


           Cassandra hanya menganggguk dan sekretaris itu pergi. Drak! Drak!! Cassandra menjedot jedotkan kepala ke meja. Rasanya ingin amnesia. Atau ada saran yang lebih menarik? Asalkan jangan bunuh diri saja.


***


           Danil sedang berdiri di sana. Ayahnya tiba tiba memanggil ketiga anaknya itu untuk berkumpul ke rumah. Entah apa, tapi rasanya ini pertanda buruk.


           “ Kenapa? “ tanya Alexa dengan bingung, Alex sudah sepaket dengannya. Boss dan sekretaris yang notabenya kaka adik.


           “ Kenapa apanya? Sudah pasti ada yang aneh, kenapa Ayah kita tiba tiba memanggil. “ semprot Alex sebal. Sudah pasti ini masalah keturunan yang tak ada habisnya. God! Alex yang akan di sudutkan di sini.


           Laki laki itu masuk meninggalkan dua adiknya yang saling bersitatap itu. Danil melayangkan tatapan bingun ke Alexa, begitu juga dengan Alexa.


           “ Dia memang aneh begitu. “ jawab Alexa sambil ikut masuk ke dalam rumah.


           “ Memangnya sejak kapan kamu dan Alex itu normal. “ ujar Danil sambil ikut berlalu. Mereka masuk ke ruang keluarga yang nuansanya hitam, gelap dan tak beraura kekeluargaan sama sekali. Dan pandangan di ujung sana itu membuat ketiga putra putri itu merinding.


           “ Cepat duduk. “ perintah Airlangga dengan tak sabaran. Ibu mereka bertiga, Stella. Sudah melihat dengan cemas ke arah putra puterinya. Semalam. Mereka berdebat sangat panjang. Hanya membahas keturunan. Mau bagai mana lagi, anak sulung mereka sudah mencapai usia maksimal untuk di sebut bujangan. Sebentar lagi, benar kata Danil. Alex akan berubah, dari laki laki idaman wanita, jadi bujang lapuk lanjut usia.


           “ Cepat duduk. “ bentak Airlangga lagi saat ketiga anaknya masih terdiam. Buru buru, Alexa yang paling penurut itu duduk. Ia sudah yakin. Bukan ia sasaran amarah Ayahnya. Jadi dia duduk dengan hari tenang. Berbeda dengan Alex. Ia pasti yang jadi sasaran. Tanpa sadar Alex melirikan padangan tak suka pada Danil.


           Aku yang jadi sasaran dan nanti Danil yang akan mendapatkan keuntungan.


           “ Apa kalian ingin membuat salah satu dari kami mati dalam waktu dekat ini? “ Airlangga sudah membahas topik umur yang berarti akan menyangkut cucu dan keturuanan. Alexa jadi ikut panas dingin. Jangan jangan kalau Danil dan Alex memutuskan untuk membujang. Ia yang akan di paksa menikah!! Oh tidak!! Tidak bisa, selama ini ia selalu menjomblo.

__ADS_1


           “ Ayah, umur untuk berumah tangga itu tidak pasti. Reyno barack baru menikahi Syahrini akhir akhir ini, usianya Syahrini tiga puluh enam tahun. Aku masih punya waktu sepuluh tahun untuk bersen- “


           “ Diam Danill!!! “ bentakan amarah Airlanga itu sukses membungkam mulut comel Danil. Ia terdiam. Alex melotot ke arah Danil. Gara gara membahas pasangan itu, pasti Ayahnya akan semakin marah.


           “ Alex, menikah dengan siapapun minggu ini! Siapapun! “ perintah itu di ucapkan Airlangga seolah memerintahkan anaknya untuk bercocok tanam di kebun belakang.


           “ Jangan potong ucapan Ayahmu! “ bentak Airlangga lagi saat anaknya hendak memprotes.


           “ Kalian berdua siapkan pernikahan untuk Kaka kalian ini. “


            Dan hanya itu, perintah untuk menikahi ‘Siapa saja’ itu mengakhiri pertemuan keluarga yang tidak kekeluargaan itu. Airlangga meninggalkan anak anaknya dan Stella hanya terdiam. Mata zamrudnya terpaku sama dengan Alex.


           “ Alex, Ibu sudah berdebat cukup lama masalah ini. Sangat yakin kalian akan sangat keras kepala. “ Stella memijit mijit pelipisnya. Ia lelah berdebat sepanjang malam. Rupanya, perbedaan budaya adalah hal terberat saat menikah dengan pasangan berbeda kewarga negaraan. Stella yang tak keberatan kalau Alex menikah di usia tiga puluhan. Menikmati masa muda kilah Stella. Berbeda lagi dengan Airlangga, masa muda Alex akan terbuang sia sia kalau ia memiliki anak di usia empat puluh dan tak bisa mengemong anaknya sendiri.


           “ Kaka, apa aku harus membantumu mencarikan Kaka ipar? “ ide Alexa itu membuat Alex melotot dengan geram. Memangnya semenyedihkan ini.


           “ Diam Alexa, aku sedang tidak ingin marah marah. “ Alex berdiri dan lagi lagi pergi. Sama seperti Airlagga, Alex pergi dengan memijit mijit pelipisnya. Ash!! Marah dan emosi!


           “ Aku benar benar berniat untuk mencarikan dia pasangan. “ ucap Alexa dengan sebal. Ia mengerucutkan bibirnya, merasa kalau niat baiknya di tolak mentah mentah Alex karena di kira hanya candaan.


           “ Harusnya kamu pikirkan dirimu sendiri, sebelum memikirkan jodoh orang lain. “ tunjuk Danil dengan telunjuknya ke jidat Alexa. Menonyor kepala adiknya sampai sedikit terjengkang.


           “ Hei!!!! Memangnya kamu sudah laku!! Ish!! Kalian berdua memang cocok jadi bujang lapukk!! “ umpat Alexa untuk kedua kakanya itu. Kesal memang punya dua Kaka yang menguras emosi dan kewarasan. Satunya memang terlahir sudah tidak waras, si Danil. Satunya hobi marah marah seperti orang tak waras.


           Alex menggenggam tangannya seperti hendak menonjok udara. Apa semudah itu menikah. Lagi lagi menikahi siapapun, asalkan dapat keturunan. Wah wah!! Sekali kali harus mencoba menghamili sapi. Siapa tau Ayahnya akan menerima hasil tebar benihnya itu.


           “ Aku akan menunggu undangan hari spesialmu itu. “ tepukan di bahu Alex membuat ia ingin menonjok Daniil. Saudaranya itu benar benar. Bisa membuat ia lupa kaldarh lebih kental dari air.


           “ Minggir dan jangan banyak mengurusi hal yang bukan urusanmu. “ bentak Alex. Danil malah merasa marah karena ucapan baik baiknya itu di sambut dengan amarah oleh Alex.


           “ Hei Alex! Aku tau aku salah di masa lalu, tapi bukan berarti pintu maaf itu tidak bisa ku dapatkan. “ seru Danil dengan menahan amarah. Ia tau, pintu maaf Alex untuk kesalahanya sulit untuk di dapatkan.


           “ Aku tidak tau kalau dia ada- “


           Bug!! Tinju itu akhirnya di layangkan Alex pada Danil.


           “ Sudah ku bilang, hentikan omong kosongmu dan jangan ganggu hidupku! “


           Bug!! Bogeman mentah itu di layangkan kembali. Semburat memori yang menyakitkan hati terngiang di otak Alex. Ia merasakan sakitnya sampai sekarang.


           “ Ak- “ Danil hendak berkata lagi. Hanya dua bogeman saja, sudut bibirnya sudah berdarah. Apa lagi kalau Alexa tak datang melerai.


           “ Kenapa kalian bertarung!! Aku tidak sedang adu ikan ******!! “ tangan Alexa sudah meraih tangan Alex, menghalangi Alex untuk memukul Danil untuk yang ketiga kalinya. Alex melepaskan kepalan tangannya.  Ia bangkit dan merapikan jasnya.


           “ Aku lebih memilih jadi ikan ******, agar bisa meninjunya sebanyak mungkin. “ dan selesai mengatakan itu. Alex pergi tanpa sepatah katapun. Danil yang biasanya gatal berkomentar, hanya diam.


           “ Sebenarnya kesalahan apa yang membuat kamu sangat di benci Alex? “ tanya Alexa sambil mengusap darah di bibir Danil. Kaka keduanya itu hanya meringis.


           “ Dulu aku mencuri kelereng Alex. “ kekeh Danil.


           Bohong!! Batin Alexa. Kesalahan apa yang membuat kalian bersiteru? Sejak kapan? Apa alasannya? Alexa hanya bisa bertanya tanya dan menerka.

__ADS_1


__ADS_2