Sexy Partner

Sexy Partner
20. I hate you.


__ADS_3

               Alex menatap Cassandra dengan penuh antusias.


               Dia bukan hanya pembangkang, tapi juga berani bertaruh.


               “ Oke, “ ujar Alex. Ia tiba tiba bangkit dan mendekatkan diri pada Cassandra. Ia mengabaikan wajah Cassandra yang ketakutan karena di dekati Alex.


               Mau apa dia, mendekatiku dengan senyum mesum seperti itu! Casandara sudah mengepalkan tangannya. Bersiap siap untuk memukul Alex kapan saja kalau laki laki itu bersikap kurang pantas padanya.


               Alex semakin geli melihat wajah Cassandra yang panik itu.


               Lihat saja, wajahnya saja sudah tidak santai! Mau menentangku pula!


               Alex mendekatkan wajahnya, hanya menyisapan jarak lima senti di depan wajah Cassandra.


               Jangan! Jangan lakukan hal hal yang—


               Ehm?! Cassandra membuka matanya yagn tertutup. Tanpa ia sadari, cengiran jahil Alex semakin membuatnya emosi.


               “ Apa yang kamu pikirkan hah? “


               “ Apa! Tentu saja tidak ada! “ bela Cassandra dengan tatapan bingung.


               “ Kalau begitu ayo- “ ujar Aelx, Ia tau apa yang Cassandra pikirkan. Tapi tidak, ia tak akan mencium wanita itu. Sebagai gantinya, tangannya sudah terulur ke depan dengan angkuhnya.


               “ Kita buat perjanjian. “


               “ Ayo!! “ Cassandra menerima uluran tangan itu dengan semangat.


^^^


               Di sisi lain, Damian melihat sorot wajah itu. Wajah Alex dan Cassandra yang sama sama ganas. Satunya ingin menerkam, satunya ingin mencakar.


               “ Tu- Tuan. “ panggil Damian dengan tergogoph gopoh. Apa yang sebenarnya di rundingkan keduanya di dalam sana?


               “ Aku akan pergi, ikut aku sekarang. “


               Cassandra yang berniat menenangkan Ayahnya agar tidak panik itu langsung mendecit.


               Pengatur, arogan, dan impoten!


               “ Ayah jangan khawatir, aku akan berunding. Setelah itu, aku akan pulang. “ ujar Cassandra menenangkan Ayahnya yang sudah bermandikan peluh. Punggung Alex sedikit berguncang.


               “ Kamu? “


               “ Ayah, percayalah pada puterimu ini. “ Cassandra mengangguk dan berlalu, mengikuti langkah Alex dan pergi meninggalkan rumahnya. Untung saja, ia sempat menyelundupkan ponselnya di tasnya. Kalau berani macam macam, Cassandra sudah berniat memukul Alex dengan ponselnya.


               Mereka pergi. Mobil berlalu, dan Damian masih juga khawatir.


               “ Semoga tidak terjadi apa apa. “ batin Damian. Tapi sepertinya salah, memang sudah terjadi apa apa di antara Alex dan Cassandra. Namanya? Permusuhan. Dan musuh tidak pernah akur, atau mereka saling—


 


               Cassandra entah di bawa kemana, sejak tadi Alex hanya diam. Dan ia? Berhenti berharap kalau Cassandra akan memulai obrolan terlebih dahulu. Mimpi!


               “ Kita akan ke tempat pengacaraku. “ akhirnya Alex bersuara.


               “ Ehm. “ jawab Cassandra seperti tak tertarik dengan obrolan Alex.


               “ Kita akan membuat kontrak itu sekarang juga. “ lanjut Alex lagi.


               “ Ehm. “ lagi lagi Cassandra hanya menjawab dengan ehm.


               “ Selama kontrak, kau harus selalu di awasi oleh orang orangku. “


               “ Ehm. “


               Jawaban Cassandra tetap konsisten. Bagaimanapun pernyataan Alex. Jawabannya tetap. Ehm.


               “ Kau akan kalah dalam kontrak ini. “


               “ Ehm-!!! Tidak! “ Cassandra berbalik badan dan menatap Alex yang sedang terkiki mencemoohnya.


               Selucu ini mengganggu Landak betina rupanya.


               Alex masih tertawa dengan melihat ekspresi Cassandra. Benar benar lucu, mata membulat dengan bibir yang mengerucut. Cassandra ingin berontak tapi ia tak mau memperpanjang masalah.


               Memasuki ruangan dengan sangat santai, kaki Alex melaju ke ruangan orang yang paling ia kenal. Ruangan pengacaranya.


               “  Smith. “ panggil Alex tanpa permisi. Laki laki berjas hitam dengan kemeja tak berdasi itu langsung berbalik. Tanpa ketukan pintu, tapi panggilan Alex pasti sudah di hafal Smith di luar kepala.


               “ Ale- tunggu! Siapa dia? “ Smith sangat terkejut saat tubuh Cassandra muncul di balik punggung Alex.


               “ Aku ke sini karena ingin membuat surat perjanjian. “ Alex duduk dengan satainya. Ia menatap Cassandra yang bahkan tak mau menatapnya.


               “ Duduk, mau jadi berhala di sana? “


               Aish!! Laki laki ini menyebalkan. Aku inging menyabotase ginjalnya!!!  Dengan kesal dan sedikit ogah ogahan, Cassandra duduk di samping Alex dan menghadap Smith.

__ADS_1


               “ Perjanjian apa? “


               Smith memandang Cassandra sesaat. Perempuan itu tak pernah ia kenal sebelumnya. Bahkan Alex? Smith masih mengira kalau Alex penyuka sesama jenis.


               “ Perjanjin budak dan penguasa. “ jawab Alex dengan terkekeh.


               Cassandra hanya terdiam sambil menahan emosi, belum saatnya Cassandra. Sebentar lagi, kamu bisa sleding online kepalanya! Tenang.


               “ Perjanjian bisnis. Utang piutang. “ akhirnya Cassandra bersuara dan membenarkan posisinya. Sebagai orang yang berhutang. Bukan budak.


               Ck, mudah marah. Batin Alex sambil menyelidiki wajah serius Cassandra di sampingnya.


               “ Hutang piutang? Antara kalian? “


               Alex hanya mengangguk dan Cassandra hanya diam mengiyakan. Sesaat Smith hanya terdiam dan menelaah. Hutang apa yang di miliki perempuan yang bahkan belum ia ketaui namanya itu.


               “ Baiklah, akan aku buatkan. Dan silahkan kalian buat perjanjian tertulis tentang kewajiban dan hak masing masing pihak. “


               Smith beralih ke meja kerjanya, memberikan dua lembar kertas dan pena untuk masing masing. Cassandra langsung meraih pena dan kertas itu. Ia ingin mengantisispasi kalau Alex membuat peraturan yang gila. Macem macem.


               Smith memperhatikan interaksi keduanya. Nampak Cassandra dengan semangat membuat berbagai macam peraturan dan Alex hanya menuliskan dua peraturan. Selesai dengan tulis menulis itu. Smith menerima dua lembar kertas itu.


               Banyak hal di luar nalar yang di tulis pasangan ini. Dan Smith hanya bisa geleng geleng kepala.


               “ Baiklah, tunggu sebentar dan aku aku legalkan. Hitam di atas putih. Sebelum kalian menandatanganinya. “


               Smith beranjak kembali ke mejanya. Ia tau, Alex tak suka di beri banyak pertanyaan. Kalau aku beri pekerjaan! Ya kerjakan saja, jangan banyak bertanya!!


               Semprotan Alex yang macam itu yang membuat Smith trauma bertanya. Ia bekerja dengan tenang. Tapi nampaknya, pasangan yang ada di sofa ruang kerjanya tak bisa tenang.


               “ Apa?! “ bentak Cassandra tanpa rasa takut. Sejak tadi ia tau kalau Alex memperhatikan kaki jenjangnya. Dan itu membuat Cassandra risih.


               “ Apa? “ sahut Alex dengan senyum tengil. Ia tau, Cassandra selalu berpikir buruk tentangnya. Jadi? Kenapa tidak di lanjutkan?


               “ Seminggu lagu Cassandra, “ ujar Alex dengan sedikit membubuhkan nada tak sabaran.


               “ Kamar? Dapur? Kamar mandi? Atau- “


               Bug! Bug!! Lemparan bantal itu membungkam mulut Alex seketika. Alex mengusap mulutnya yang terasa perih sekarang.


               “ Matamu kotor, mulutmu kotor, otakmu juga. Sama kotornya. “


               Dengan sedikit ketakutan, Cassandra menjauhkan posisi duduknya hingga di ujung sofa sana.


               Asih! Cassandra meringis merasakan rasa sakit di kakinya.


               Sebenarnya, perempuan apa yang sedang di usili Alex ini!


               Smith beralih lagi ke layar laptopnya dan melanjutkan pekerjaanya.


               Alex keluar dari ruangan Smith dan berjalan ke arah mobilnya. Ke parkiran dan melihat kalau supirnya itu masih setia di sana. Dengan tampang datar, tapi begitu Alex mendekatinya rautnya langsung berubah menjadi sedikit ketakutan.


               “ Mana kotak emergency yang ada di dalam mobil. “ ujar Alex tanpa menilik ekspresi kebingungan sopirnya.


               Tapi anda kan baik baik saja Tuan.


               “ Ada di bagasi, biar saya- “


               “ Tidak perlu. “ jawab Alex dengan dingin ia langsung merebut kunci yang di serahkan sopirnya itu. Membuka bagasi dan mengambil kotak itu dengan cepat. Kemudian langsung berlalu ke ruangan Smith lagi.


               Brak! Pintu di buka dengan tanpa perasaan oleh Alex.


               Smith mengerjap karena ketakutan. Ya Tuhan! Ada apa dengan Alex sebenarnya!


               Smith memperhatikan Alex yang masuk dengan wajah yang amat sangat dingin. Smith takut, ia bekerja terlalu lelet dan membuat Alex tak sabaran.


               “ Cepat! “ bentak Alex. Tapi bukan pada Smith.


               “ Apa! “ tentang Cassandra yang tak tau menahu apa yang Alex inginkan darinya.


               “ Lepaskan sepatumu dan biarkan aku memeriksa kakimu! “


               Hah? Apa barusan? Kakiku? Aku tidak merasa ada yang salah dengan ka-


               Alex tak sabaran, ia langsung menarik kaki Cassandra ke pangkuannya sampai gadis itu kebingungan. Dengan sigap, Alex melempar sepatu heels Cassandra ke lantai.


               “ Hei! “ pekik Cassandra karena tindakan Alex yang semaunya sendiri.


               “ Apa yang kamu lak- “


               “ Huaaa!!! Perih perih perihh!!! “


               Belum selesai teriakan Cassandra, Alex sudah menekankan kapas yang berisi alkohol itu ke luka di kaki Cassandra.


               “ AHHH!!!! Apa yang kam- ahh!!! Sakit sakit!! “ Cassandra tak bisa berkata kata lagi. Kakinya benar benar seperti di beri air lemon. Tapi Alex tetap membersihkan luka di kakinya itu.


               “ Apa kamu itu sebenarnya cicak? Tokek? Memanjat tembok setinggi tiga meter dengan kaki seperti ini? “

__ADS_1


               Alex semakin menekankan tanganya ke luka Cassandra dan gadis itu memekik ketakutan.


               “ AHHHH!! Sakitt!!! “


               Anda saja Cassandra bisa menempeleng kepala Alex, sudah ia lakukan di teriakan pertama. Tapi sayangnya. Tidak bisa. Tangannya sudah di kunci Alex dengan tangan kiri pria itu.


               “ AHHH!! “ teriakan Cassandra saat Alex membersihkan luka baru di kaki kirinya.


               Sepanjang menyiapkan berkas. Smith sesekali melihat tingkah dua orang bodoh di depannya. Berteriak dan satunya memaki. Ck! Smith tak tahan. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaan ini. Agar Alex cepat pergi.


               “ Bisakan kalian tidak berteriak dan satunya lagi memaki? “


               Smith mendengus kesal, akhirnya segala urusan ini akan segera selesai.


               “ Pihak pertama, Alex Dirgantara. Pihak kedua, siapa namamu? “


               Smith menatap Cassandra yang sudah menarik kakinya agar tak di aniaya oleh Alex.


               “ Cassandra, Cassandra Leonidas. “ gumam Cassandra dengan serak. Suaranya hampir habis karena berteriak dengan kesakitan.


               Dengan cepat Smith langsung mencantumkan dua nama pihak terkait itu. Tak lama kemudian, materai sudah tersampir di sana. Dan Cassandra serta Alex hanya tinggal menandatanganinya.


               Peraturan yang di buat Cassandra :


·        Jangan mengganggu Ayahku.


·        Jangan mengurungku.


·        Jangan memukul.


·        Dilarang meracuni satu sama lain.


               Alex tersenyum miring saat membaca peraturan ke empat Cassandra. Lucu memang.


               “ Besok kita bisa membicarakan ini sambil minum kopi, “ tawar Alex saat ia membaca poin peraturan ke empat.


               “ Kopi sianida, “ sambungnya dengan suara sumbang. Cassandra mendengus sebal. Memang prasangkanya terlalu buruk. Tapi melihat Alex yang mengejarnya sampai rumah. Tak menutup kemungkinan, kalau kesabaran Alex habis terhadapnya. Ia akan di kebiri.


               “ Oke, mari kita lanjutkan. Toh ini hanya semingu. “ ujar Alex seperti tak keberatan.


·        Jangan .


·        Jangan.


·        Jangan.


·        Jangan.


               Alex sampai jengah dengan banyak kata ‘ Jangan ‘ yang di selipkan Cassandra di peraturan perjanjian ini. Jangan merokok di depannya, jangan menambahkan bunga dengan sengaja. Alex sampai geli, mungkin Cassandra berpikir kalau Alex bisa saja berlaku curang. Bisa saja, jadi apa salahnya berhati hati?


               “ Sekarang, bacalah. “ Alex menutup lembaran lembaran itu dan menyerahkannya ke pada Cassandra dan gadis itu membaca dua poin yang di buat Alex untuknya.


·        Jangan bermimpi untuk menang, dan jangan mencoba kabur lagi.


·        Selama seminggu sampai hutang di lunasi, pihak kedua akan tinggal di kediaman pihak pertama.


               Cassandra melotot, sudah jelas ada peraturan untung tidak mengurung. Dan ini?


               “ Tinggal dengamu?! “ Cassandra meninggikan suaranya.


               “ Itu bukan mengurung, aku membebaskanmu untuk tinggal di sana. “ kelak Alex dengan senyum ganjil. “ Agar aku bisa memastikan kamu tidak kabur, kabur saat hutangmu lunas, atau kabur kalau hutangmu tak lunas. “


               Alex melihat Cassandra yang sepertinya hendak mendebatnya.


               “ Atau, kamu takut ya? Kalau kamu lebih memilih melunasi hutangmu dengan cara lain, sepert- “


               “ Diam! Aku tidak keberatan. Aku tidak takut dan jangan bermimpi ada cara alternatif lain! “


               Cassandra dengan sebal langsung menandatangani surat kontrak itu. Alex hanya tersenyum puas. Entah apa yang membuatnya sangat senang.


               “ Berikan ini ke notaris untuk di legalkan. “


               Alex memberikan kertas itu pada Smith. Akhirnya aku bisa pulang, batin Smith. Teriakan demi teriakan Cassandra benar benar mengganggu batinnya.


               “ Ayo.” Ajak Alex dengan tangan terulur ke arah Cassandra.


               “ Apa?! “ Cassandra memasang tampang was was.


               “ Pulang, ke rumahku. “ Alex tersenyum, rasanya. Ia masih merasakan getaran itu, tapi entah apa.


               “ Sesuai perjanjian Cassandra. Jangan jangan kamu sudah lupa? Biar aku bacakan peraturan dariku, Jangan bermimpi untuk menang, dan jangan mencoba kabur lagi. Selama seminggu sampai hutang di lunasi, pihak kedua akan tinggal di kediaman pihak pertama. “


               Cassandra hanya mendecak dengan sebal. Ia bangkit dan tak memperdulikan uluran tangan Alex.


               Kakiku?   Cassandra memegangi kakinya yang baru di gunakan untuk memanjat tembok itu. Sudah terasa lebih baik?


               Cassandra bahkan sampai heran.

__ADS_1


__ADS_2