
Cassandra sedang berada di ruangan Alex, menduduki kursi kerja Alex. Menunggu laki laki itu keluar dari ruangan meeting dan memenuhi janji untuk makan malam sepertinya akan berlansung lama. Cassandra jadi bosan sendiri. Tapi ia tak kurang akal. Kejahilannya terbukti saat Cassandra mengotak atik laci Alex. Seperti berharap menemukan sesuatu di dalamnya. Tapi entah apa. Cassandra sendiri tak tau apa yang akan ia temukan.
Gerakan tangan Cassandra terhenti saat ia menemukan sebuah bingkai foto yang di balik. Rasa penasaran membuat Cassandra nekat untuk mengambil bingkai itu. sebuah foto yang mengekutkan. Seorang perempuan. Cantik. Bahkan kalau dari segi pandangan sesama perempuan, Cassandra kalah saing dengan wanita belia di foto itu.
Cassandra meneguk ludahnya dengan sangat gugup. Wanita cantik yang sangat ia yakini bukan ibu Alex di masa muda. Tersimpan di laci meja kerja Alex. Membuat Cassandra teringat akan satu hal. Teman masa kecil Alex, Danil dan Alexa.
“Siapa wanita ini...” gumam Cassandra tapi tak berlangsung lama karena Alex tiba tiba muncul dan masuk ke dalam. Senyuman Alex menyambut Cassandra. Tapi ada ganjalan di hati Cassandra. Perempuan itu hanya membalas senyuman Alex dengan senyuman simpul.
Alex meringis sambil mengusap perutnya. Cassandra yakin betul Alex sedang kesakitan menahan bekas luka tusukan kala itu.
“Sakit....?” tanya Cassandra dengan langsung berlari ke arah Alex, sejenak ia melupakan rasa penasaran dan kecemburuannya pada perempuan di foto yang baru ia lihat itu.
Alex tak menjawab, tapi gerakan tangannya masih berpusat di perutnya. Cassandra melirik ekspresi ngilu yang Alex tunjukan.
“Duduk dulu...” Cassandra menuntun Alex untuk duduk di sofa yang ada di dekat mereka. Alex hanya menurut, untungnya Cassandra selalu membawa obat cadangan Alex. Memberikan obat itu dengan sangat cepat. Satu kelebihan Alex yang tak bisa Cassandra tiru. Alex bisa menelan pil tanpa minum. Cassandra yakin, kalau ia yang menelan pil itu, itu hanya akan menyangkut di tenggorokannya dan memberikan sesasi rasa sakit juga pahit.
“Lebih baik?” Cassandra bertanya sambil mengamati ekspresi Alex yang tak lagi mengernyit menahan rasa sakit. laki laki itu mengangguk dan tiba tiba mengalungkan kepalanya pada leher Cassandra.
“Sebentar saja...” pinta Alex agar Cassandra tak memberikan penolakan. Dan Cassandra memilih untuk bekerja sama. Ia diam saat Alex menjadikan tubuhnya sebagai sandaran.
__ADS_1
“Sebenarnya wanita gila yang menusukmu itu siapa?”
Alex mendengar nada marah dari pertanyaan Cassandra,”Mantan calon tunangan. Apa kamu tidak tahu? Atau pura pura tidak tahu?”
Cassandra mengerucutkan bibirnya, jujur ia justru lupa. Terlalu sibuk memikirkan kondisi Alex agar cepat pulih sampai melupakan identitas si penyerang.
“Kenapa dia malah menyerang kamu? Bukannya dia tunanganmu? Eh mantan tunangan.” Ralat Cassandra dengan cepat. Alex malah mendongakan kepala seperti baru saja menangkap si biang masalahnya.
“Semuanya gara gara kamu. Siapa lagi memangnya si biang onar di sini.” Tunjuk Alex ke arah Cassandra. Dan nampaknya, Cassandra tak terima di jadikan biang onar oleh Alex.
Cassandra menatap Alex dengan tatapan tak terima karena di jadikan kambing hitam.
Alex menarik kepalanya, dan tak lagi menyandar pada Cassandra.
“Kalau kamu menurut saja dan akhirnya kita punya bayi. Ayahku tidak akan berusaha sangat keras untuk perjodohan perjodohan dengan wanita seperti Isabella itu.”
Pipi Cassandra merona merah karena Alex membahas masalah itu. tapi kemudian Alex mengusap pipi Cassandra.
“Kalau saja kamu main setuju saja dan tidak keras kepala, pasti sekarang....” Alex mendekatkan bibirnya ke telinga Cassandra. Hendak mengatakan sesuatu.
__ADS_1
“Alex...!!” seruan panggilan Alexa menghentikan niatan Cassandra. Tapi Cassandra sudah tau pelengkap kalimat Alex itu. iya, pasti anak!!
Alexa menatap dua orang itu seperti tertangkap basah melakukan sesuatu. Terbitlah senyuman sinis Alexa di depan kakak dan sahabatnya yang juga akan merangkak jadi kakak iparnya!! Mati sudah kehidupan damai Alexa. Karena keduanya sangat hobi marah marah.
“Apa.” Tanya Alex dengan nada dingin tak terbantahkan. Alexa mengedikan tangan, dengan langkah yang sangat tenang sambil memasang wajah tak acuh.
“Hanya menghentikan kalian, kalau saja tak di hentikan. Kalian akan membuat bayi....” kekehan Alexa saat meninggalkan ruangan Alex membuat laki laki itu marah.
“Dasar, adik yang tidak tau aturan.” Umpat Alex sambil menahan kepalan di tangannya, tapi di tahan oleh Cassandra.
“Hentikan sifat sering mengomelmu.” Penging Cassandra dan Alex hanya menatap kekasihnya itu dengan mata kosong.
“Apa yang ku bilang, kalau kamu setuju waktu itt—“ mulut Alex di bungkam Cassandra dengan sangat kencang.
“Hen! TI! Kan!!!” pekik Cassandra yang sudah merona merah. Di dalam kurungan tangan Cassandra bibir Alex melengkungkan senyuman. Dan tanpa sadar, melayangkan kecupan di telapak tangan Cassandra. Membuat wanita itu kaget dan langsung berjingkrak ke belakang.
“Alex...!!” seru Cassandra marah karena Alex bermain curang.
Alex hanya tersenyum penuh kemenannga,”Hadiah kecupan di tangan. Itu bukan masalah besar.” Ucapnya sambil berlalu.
__ADS_1
Di belakang Alex, Cassandra sudah mengomel dengan bibir yang di monyongkan tanpa suara. Saat Alex pergi dan benar benar menghilang, Cassandra kembali teringat... gadis di dalam foto. Yang, entah mengapa. Mengganggu pikirannya. Sangat.