Sexy Partner

Sexy Partner
36. Miracle.


__ADS_3

               Alex mendapatkan panggilan dari bawahannya. Dengan kesal Alex mengambil ponselnya, karena ponsel itu terus berdering dengan sangat mengganggu.


               “Ada apa!!” kalau saja ini bukan telfon penting, Alex sudah berniat untuk mengakhiri hidup si penelfon ini. Dengan rahang yang mengeras karena menahan amarah, wajar saja! Alex baru saja kehilangan kesempatan bersenang senang mengganggu Cassandra. Karena permpuan itu kabur!


               “Tuan Alex! Ada masalah!”


               “Jelaskan dengan cepat, dan jelas.” Perintah Alex dengan nada dingin. Dan ia mendengarkan apa yang di ceritakan oleh bawahannya itu dengan tenang. Alex mengerutkan kening saat mendengar detailnya. Ia langsung mengambil keputusan saat itu juga.


               “Baiklah, aku akan ke sana. Jaga orang itu, jangan sampai apa apa terjadi padanya."


               Panggilan di putus dan Alex langsung menuju mobilnya, ia sejenak melupakan kekesalannya dengan Cassandra. Padahal saat sampai di rumah. Alex sudah berniat untuk memberikan bogeman mentah pada Danil karena telah membawa Cassandra pergi darinya.


               “Ah! Aku baru ingat....” ucap Alex dengan spontan, ia tak heran kenapa Danil ada di sini, ia pdrnah dengar kalau Danil punya mantan kekasih bernama Dominica. Rupanya, karena alasan itu Danil ada di sini.


               Pikiran Alex langsung tujuannya. Secepat kilat ia menuju rumah sakit yang ia suruh bawahannya untuk di jaga. Ruangan dengan cat biru dan beberapa wallpaper klasik, membuat Alex tertahan.


               “Sejak kapan dia seperti itu?” tanya Alex. Dan laki laki penanggung jawab, juga sebagai dokter yang bekerja pada Alex itu menjawab dengan sangat sopan dan penuh dengan rasa hormat.


               “Tuan, setelah saya periksa, dia sudah mengalami ini cukup lama.” Tunjuk Anthoni pada tubuh yang terkapar pada kasur dan sedang tak sadarkan diri itu. alex mendengus dengan frustasi.


               “Jaga dia Anthoni, rawat dia dengan baik.” Ucap Alex sambil berlalu dan pergi meninggalkan Anthoni. Dokter itu kembali dengan tugasnya, memeriksa dengan sangat seksama.


               Alex duduk dengan lemas, ia menyesap minumannya dengan malas. Pikirannya sedang buntu sekarang ini setelah insiden hari ini. Kembali, Alex menyesap winumannya.


^^^


               “Kamu dari mana saja semalam Allen?” kulik Cassandra, ia baru saja masuk ke ruangan Allen tanpa berbasa basi. Ia sangat kesal, bukan karena Allen. Tapi karena ia harus berdebat sepanjang jalan dengan Danil. Laki laki menyebalkan dan sangat membosankan untuk adu mulut dengan Cassandra.


               “Aku pergi dulu Cassie, tapi aku sudah meminta orang untuk menjemputmu. Semalam kamu pulang dengan siapa?”


               Mendengar pertanyaan balik Allen padanya, Cassandra hanya bisa diam dan terpaku. Tidak mungkin kan? Ia mengatakan kalau ia pulang dengan Danil?? Cassandra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.               


               “Aku pulang dengan seseorang yang aku kenal Allen, jangan khawatir. Dia orang baik, buktinya aku pulang dengan selamat.” Ucap Cassandra dengan sangat enteng. Rasanya, ia ingin cepat cepat membilas lidahnya karena telah menyebut Danil sebagai pria baik. Pria baik macam apa yang mengancam akan menurunkannya sewaktu waktu di tengah jalan??


               Allen memijit kepalanya saat melihat senyuman Cassandra,”Baiklah, ucapkan salam terimakasihku pada temanmu, karena sudah mengantarmu dengan selamat Cassie.”


               Cassandra tersenyum dengan tenang dan sumringah,”Tentu saja Allen....”


               Tentu saja tidak! Nanti Danil akan besar kepala!!

__ADS_1


               Allen menatap Cassandra lagi dan tersenyum,”Mau makan siang denganku Cassie?” tanya Allen sambil beranjak dari kursi kerjanya. Cassandra langsung lega dan senang karena topik ini tak di bahas sangat lama, di luar perkiraanya ternyata.


               “Ayo! Allen....!! Aku lapar!!”


               “Dasar rakus!!” hardik Allen dan Cassandra hanya bisa tersenyum dengan manja. Merasa beruntung karena kekasih pertamanya adalah laki laki seperti tipe prince charming yang sangat di impikan banyak wanita.


               “Allen, aku mau bersamamu selamanya.” Tukas Cassandra dengan sangat bertekad. Allen hanya diam, sedikit mengerutkan keningnya dan kemudian ia tersenyum.


               “Semoga Tuhan mendengar kata katamu barusan Cassie...”


               Dan mereka pergi menaiki mobil Allen, pergi mencari makan siang. Cassandra di sibukan dengan banyak urusan perusahaan, Ayahnya tak ia perbolehkan untuk mengurus perusahaan sendirian. Jadi, sekarang Cassandra resmi menjadi General Manager di perusahaan Ayahnya. Menjadi seorang yang sangat berpengaruh dalam mengambil keputusan penting perusahaan.


               “Kamu mau makan apa?”


               Cassandra masih sibuk membolak balikan menu makanan yang ada di tanganya, wajahnya sangat lucu saat kebingungan mencari makanan.


               “Kamu bisa memilih steik daging sirloin, di sini memang terkenal karena steiknya yang enak.” Suara bariton yang dingin itu membuat bulu kuduk Cassandra meringing. Ia tau, ia tak seharusnya berbalik melihat siapa pemilik suaranya, tapi refleks, Cassandra malah melihat wajah Alex tepat di depan matanya.


               “Kamu!” refleks Cassandra berteriak membuat telinga Alex berdengung dengan sangat keras. Laki laki itu mengudek telinganya berusaha menghilangkan sensai rasa sakit karena suara Cassandra.


               “Kenapa kamu seperti itu! turunkan volume suaramu!”


               “Apa kamu pikir aku setidak sibuk itu? muncul di depanmu dengan tiba tiba hanya untuk mengagetimu dan membuatmu marah?!”


               “Lalu apa lagi! Kamu kan memang pengangguran!”


               “Cassie!”


               “Jangan panggil aku Cassie! Kita tidak dekat!”


               Allen menatap pertikaian keduanya dengan sangat geli, ia juga merasakan sedikit ngilu di hatinya, Cassandra takan berbicara banyak dengan orang yang tak cukup dekat dengannya. Nyatanya, itu membuat Allen sedikit kecewa. Cassandra berbicara banyak dengan Alex, walaupun Cassandra menyangkal kalau mereka cukup dekat sampai Alex tau nama panggilan kesayangan Cassandra, Cassie.


               “Cassandra, jangan mendebat Alex. Lebih baik kita makan sekarang, bertiga.” Putus Allen menghentikan gerakan mulut Cassandra. Ia tadinya ingin mengumpati Alex agar cepat pergi. Tapi Allen? Ia malah mengajak laki laki itu untuk makan siang bersama?! Mulut Cassandra kaku seketika!


               “Allen? Kamu tidak becanda kan?” tanya Cassandra memastikan.


               “Makan siang bukan suatu tindakan kejahatan Cassie,” pungkas Allen dan membuat senyum di bibir Alex merekah dengan puas.


               “Kalau begitu, biar aku yang membayar makan siang kali ini.” Putus Alex, ia bahkan sudah tak membutuhkan pendapat Cassandra atau Allen, Alex sudah memesan banyak steik. Yang Cassandra yakin, itu semua adalah makanan kesukaan Alex! Ia sangat yakin itu, ketika melihat bagaimana Alex memakan makanan itu dengan lahapnya.

__ADS_1


^^^


               “Aku mau ke belakang dulu Allen...” pamit Cassandra sambil bangkit, ia ingin mencuci tangan, dan mungkin merapikan dandanannya. Rasanya, make up Cassandra sudah tak tersisa.


               “Aku akan pergi ke ruangan merokok dulu kalau begitu.” Ujar Allen sambil bangkit. Cassandra menaikan alisnya, Allen hanya merokok ketika ia sedang sangat stress.


               “Kamu baik baik saja kan?” tanya Cassandra memastikan. Allen hanya mengangguk dengan yakin.


               “Kamu tau kan? Kalau kebiasaan lama sulit di hilangkan.” Pungkas Allen dengan mengedikan bahunya. Maksudnya, kebiasaan Allen kalau sedang banyak pikiran, tiba tiba merokok. Cassandra mencoba memahami, mungkin karena banyak pekerjaan. Jadi Allen stress.


               “Kalau begitu jang-“ sebelum kata kata Cassandra selesai, Alex sudah bangkit. Ia, entah kenapa tak suka saat Cassandra banyak mengobrol dengan Allen. Padahal, mereka adalah pasangan kekasih. Berarti sudah sewajarnya bukan?


               “Aku ikut, merokok bersamamu. Ayo pergi sekarang....” Alex menepuk bahu Allen dan mengarahkan laki laki itu pergi tanpa harus menunggu Cassandra melanjutkan kata katanya.


^^^


               Asap putih itu membuat ruangan menjadi pengap, bau tak enak dan panas. Tapi kedua laki laki itu malah makin gigih menyesap lintingan tembakau itu dengan bibirnya. Alex menghembuskan asap rokoknya dan membuat kepulan asap itu melayang ke atap ruangan.


               “Terima kasih, sudah membantu saya semalam.” Ucap Allen dengan sangat tulus. Alex justru tak bergeming dengan ucapan terimakasih Allen itu. ia justru lebih tertarik untuk mengajukan pertanyaan pada Allen.


               “Sejak kapan?” tanya Alex tanpa basa basi, Allen tak menggubris, ia menyesap kembali rokoknya.


               “Sejak kapan kamu di diagnosis kanker otak?” tanya Alex dengan tenang, tapi hatinya sebenarnya sangat ngeri saat membayangkan pasien kanker otak, justru sedang merokok bersamanya. Satu ruangan pula!


               Dan Allen menghembuskan asap rokoknya,”Kebiasaan lama, kalau saya stress. Saya akan merokok, rupanya, mungkin karena kebiasaan ini yang mungkin menjadi penyebab penyakit saya.” Tutur Allen dengan tenang. Sekarang, entah ia merokok atau tidak. Nyawanya hanya tinggal menunggu sisanya habis.


               “Setengah tahun yang lalu, dan saat baru di ketahui, sudah masuk stadium akhir.” Pungkas Allen, akhirnya ia menjawab pertanyaan Alex yang di tujukan padanya.


               Alex bahkan sampai tak bisa berkata kata saat Anthoni mengatkan kalau Allen terkena kanker otak setelah laki laki itu tak sadarkan diri di mobil Alex saat di antarkan pulang, dengan darah segar yang mengucur di hidung laki laki itu. Alex masih tak percaya!


               “Tolong, jaga Cassandra saat saya sudah mati.” Bisik Allen dengan gamang. Baru kali ini, ia mengatakan hal konyol seperti, kematian sudah ada di depan matanya.


               “Saya rasa, Cassandra tidak pernah bersikap manja pada anda, dia terlihat sangat mandiri saat berhadapan dengan anda. Saat berhadapan dengan saya, Cassandra akan berubah menjadi sosok yang sangat manja dan selalu menuntut untuk di perhatikan. Tapi saya akui, itulah yang membuat saya mencintai Cassandra. Membuat saya merasakan, kalau saya sebenarnya di butuhkan.”


               


 


 

__ADS_1


__ADS_2