Sexy Partner

Sexy Partner
33. What's wrong with him?


__ADS_3

               Alex mendekati Bella dan memberikan wine pada gadis itu. Bella menerimanya dengan senyuman manis. Ia sangat senang.


               “Alex, kenalkan. Ini temanku, namanya Dominica. Ia yang berulang tahun hari ini...”


               Alex tersenyum formal pada gadis dengan garus keturunan luar, rambutnya pirang dan tampak sangat kontras dengan Bella yang asli pribumi. Entah dengan cara apa mereka bisa sangat lengket. Alex tak ingin tau.


               Alex menjabat tangan Dominica dengan anggukan pelan,”Alex Dirgantara.” Ucapnya.


               “Dominica Swan.” Jawab Dominica,”Kamu benar benar, ehm.... “ Dominica nampak tak bisa melanjutkan kata katanya. Bella nampak sebal karena Alex tak memberikan klarifikasi yang di minta Dominica.


               “Ya begitulah...” jawaban yang tak di harapkan. Bella tidak menginginkan itu! ia ingin sebuah pengakuan. Kalau cincin yang melekat di jari manisnya, itu di sematkan Alex sendiri di tangannya!


               “Kami baru bertunangan kemarin malam Dominica! Jangan membuat kami merasa risih satu sama lain!” hardik Bella, ia mencoba menyumpal rasa malunya itu.


               “Tapi bukannnya kam-“ ucapan Dominica terpotong jeritan kesal Bella.


               “Dominica!”


               Alex tersenyum. Ia juga takan membuat Bella berasa di atas awan karena pengakuannya tentang pertunangan semalam. Tidak akan.


               “Maaf kalau begitu, aku tidak pernah bertemu Alex sebelumnya.” Dalih Dominica. Ia tersenyum. Baru kali ini melihat pahatan patung yang begitu sempurna dalam bentuk manusia. Benar benar, ketampanan Alex itu nyata! Kalau tampan akan menjadi dosa, Alex akan menjadi laki laki paling berdosa di muka bumi hanya karena ketampanannya.

__ADS_1


               “Maaf, aku sebenarnya baru pulang dari Mexico. Aku belum terbiasa berbaur dengan orang orang di kota ini. Aku besar dan tumbuh di sana.”


               Dominica kembali tersenyum. Ia memang bisa melihat raut wajah yang sedikit menjorok ke darah latin. Apa lagi warna kulit Alex yang cokelat eksotis, tidak seperti kulitnya yang pucat seperti susu karena ia keturunan british.


               “Di sini memang sedikit tidak menyenangkan, maksudku budayanya dalam melihat seseorang. Bukan karena keramahanya. Orang orang di sini, sungguh luar biasa ramah di mataku.”


               Alex tersenyum dengan bibir yang tersungging sebelah,”Memang, apa lagi dalam memperlakukan orang. Memaksa menikah misalnya....”


               Bella nampak terkejut. Dari siang, Alex selalu menurut padanya. Tapi di pesta ini sepertinya, Alex sedang berusaha membuat ia kesal.


               “Al-“


               Dan Alex meninggalkan Bella dengan bersungut sungut. Alex justru terlihat puas karena melihat wajah kesal Bella. Lain kali, sebelum mereka terpenjara dalam sebuah ikatan pernikahan. Alex harus sering membuat Bella marah marah! Harus!!


               Tubuh Alex tak mendekati siapapun, atau sekelebat orang yang ia kenal seperti alasanya untuk meninggalkan Bella tadi. Ia justru duduk kembali di meja bar dan meminta cooktail. Dengan mata yang masih menghunus tajam, seperti busur yang akan berjalan lurus ke arah yang di tuju. Mata Alex pun demikian, ia tak beralih sedikitpun dari Cassandra yang selalu tertawa bahagia di selangi pelukan ke laki laki yang ia tau namanya Allen.


               Alex mengernyit, ada yang aneh dari Allen. Laki laki itu hanya meminum cola dan tak menyentuh minuman beralkohol apapun.


               “Lemah.” Komentar Alex dan ia meneguk sisa cooktailnya, ia meminta red wine 1988. Kurang kuat apa lagi Alex ini? Wine berwarna pekat dan pasti berharga mahal itu ia teguk dengan perlahan, merasakan sensai Wine yang merayap di setiap sisi lidahnya. Menyecap indera perasanya dengan rasa manis, asam dan juga sesuatu yang membuat candu. Serta hidung Alex hanya bisa mencium aroma wangi dari wine pekat ini.


               Saat mata Alex melihat ke arah Allen yang beranjak. Langkah kaki Alex tak bisa di hentikan, ia juga berjalan ke arah yang sama yang di tuju Allen. Ke kamar mandi. Mungkin ini akan lucu, karena harusnya yang Alex kuntit adalah Cassandra, tapi ia justru menguntit seorang laki laki.

__ADS_1


               Cukup lama Alex tak melihat Allen keluar, ia masih di dalam kamar mandi. Sedangkan Alex berada di bilik wastafel untuk berpura pura menyuci tangannya.


               Dengan terhuyung huyung, Allen mencari cari sandaran dan ia memilih tembok di sebrang Alex untuk menahan tubuhnya.


               “Kau kenapa?” tanya Alex dengan heran karena Allen masuk dengan baik baik saja, tapi keluar seperti sudah kehilangan kendali.


               “Sakit.” erang Allen memberikan jawaban. Matanya masih buyar tak bisa melihat siapa yang ada di depannya. Alex makin tak paham. Allen terlihat sangat kesakitan.


               “Aku akan menyuruh orangku untuk mengantarkanmu pulang.”


               Alex kini paham, Allen tidak menyentuh wine atau apapun karena sedang tidak dalam kondisi yang baik. Jadi ia takan bersaing dengan orang yang tak sebanding dengannya. Tungggu, tunggu! Bersaing untuk apa memangnya? Alex jadi ingin menampar dirinya sendiri karena pemikiran aneh ini.


               “Tunggu, kekasihku...” pekik Allen dengan sangat panik. Ia teringat, ia datang ke sini untuk menemani Cassandra. Menjadi partner pesta dansanya.


               “Akan aku urus kekasihmu itu.” pungkas Alex, rasanya ia sedikit sebal saat sakit seperti ini Allen masih mengingat Cassandra. Enak saja!!


               Alex menyuruh salah satu bawahannya untuk mengantarkan Allen pulang. Dan benar, hanya dalam hitungan beberapa menit, orang orangnya datang dan Allen sudah terlalu lemah untuk memberikan penolakan.


               Seringai tajam Alex muncul begitu saja,”Akhirnya, akan ada kejutan untukmu Cassandra.”


               Dan Alex melangkahkan kakinya memasuki lagi rumah yang mengadakan pesta. Ia tak sabar untuk menemui Cassandra dan mengejutkan gadis itu, bagaimanapun reaksinya, itu pasti akan membuat Alex terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2