
Alex mendapatkan pesan terbaru. Ada foto yang dikirimkan juga. Tapi tetap saja, Alex ingin melihat foto laki laki yang sudah membawa Cassandra bersamanya sejak tadi, bukan foto Cassandra yang sedang berjalan menuju rumahnya.
*** Perempuan yang anda minta untuk saya temukan ternyata pulang ke rumahnya ***
Alex menutup pesan itu dan melihat foto yang dikirimkan padanya. Ia mleihat Cassandra yang bertelanjang kaki dengan. Tidak menggunakan alas sama sekali.
“ Dia sudah berniat untuk kabur apapun kondisinya, “ celetuk Alex dengan apa yang di lihatnya di layar handphonenya itu. Tapi ia juga sediti, sedikit kagum dengan kenekatan Cassandra yang benar benar ingin lari darinya.
“ Melihat kamu yang begini, membuatku marah dan ingin melihat bagaimana kamu kabur barusan. “ seringai geli muncul di bibir Alex. Ia ingin menemui gadis itu dan melihat bagaimana reaksinya. Bertemu dengan orang yang ingin ia jauhi sejauh jauhnya.
“ Oke, aku memang harus bertemu Cassandra. Tapi nanti, “ celetuk Alex dengan puas. Entah kenapa ood marah marahnya menghilang saat sudah tau di mana Cassandra sebenarnya. Sekarang Alex baru teringat adik perempuannya yang terkena dampak hobi marah marahnya.
Panggilan itu belum terhubung, tapi tak lama kemudian Alexa mengangkatnya dengan cepat.
“ Apa lagi! Kenapa kaka senang sekali marah marah. Cepat katakan. “ Alexa sedang sibuk menyetir mobil yang penuh dengan gelas kopi di belakangnya. Minuman minuman itu hendak di apakan .. ?
“ Aku tidak jadi minum kopi, cepat ke kantor sekarang juga. “ Alex berbicara asal saja. Ia tak tau apa yang sudah ia perbuat.
“ Apa kaka mau marah marah dengan hal lain? Menyuruhku terjun dari gedung sekalian …? “ Alexa mengerutkan alisnya. Ia kesal tapi juga takut. Alex marah apa lagi sekarang. Batin Alexa.
__ADS_1
“ Marah marah? Siapa yang marah marah, aku sedang tidak marah marah. Sekarang pulang ke kantorku sekarang. “ dengan tanpa dosa sodara sodara. Rasanya Alexa ingin memutus tali persaudaraanya dengan Alex yang berbicara tanpa dosa. Tidak sedang marah marah, lalu tadi apa?!! Oke sekarang Alexa yang mulai marah.
“ Kaka, kamu barusan menyuruhku untuk membeli kopi. Baru saja … “ ujar Alexa menahan geraman marah tapi tetap berbicara dengan nada ramah yang di paksakan.
“ Oh masalah kopi, aku sudah tak ingin minum kopi. Kamu minum saja sendiri. “ tuuttt!! Panggilan itu di putus oleh Alex secara sepihak. Rasanya pada saat itu Alexa ingin sekali meledak. Marah marah.
“ Alex! Apa kamu tidak bisa menghitung dan mengingat? Apa kamu tidak ingat, menyuruhku membeli dua puluh kopi. Dan sekarang kamu memintaku untuk meminum semuanya? “
“ Huaa!!!!!!!!! “ Alexa menjerit frustasi, tapi lagu di mobilnya juga di setel sangat keras jadilah teriakan frustasinya bercampur dengan iringan lagu pop rock. Jadilah amarah Alexa berbaur dengan seni suara.
Saat Alexa masuk ruangan. Ia sudah melihat Alex yang menandatangani tumpuka map menggunung itu dengan penuh senyum dia gila! Komentar Alexa saat melihat seringai Alex yang nampak bahagia. Atau jangan jangan, dia menggunakan narkoba. Makanya, emosinya naik turun kalau belum menghisap sabu. Sekarang pikiran demi pikiran buruk tentang kakanya, tersemat di benak Alexa.
Tangannya sudah kosong, jangan tanya kemana dua puluh cup kopi itu. Bukan menghilang, Alexa memberikannya pada karyawan secara asal saat ia memasuki lobi. Biarkan mereka minum kafein itu.
“ Pikirkan saja sendiri. Dasar tak berperasaan. “ Alexa pergi ke ruangan sekretarisnya. Alex akan sibuk untuk menandatangani dokumen dokumen itu dan tak ada waktu untuk memikirkan, alasan adiknya semberut.
“ Kalau begitu, ya sudah. “ Alex masih sibuk menatap map yang di tandatangani.
Alexa berdiri dengan sebal, sampai kursi itu terhentak ke belakang. Dan anehnya, atau sudah sewajarnya ?Alex hanya diam saja. Benar benar.
__ADS_1
Sampai di ujung pintu, tiba tiba merasakan getaran di ponselnya. Ada panggilan masuk. Dari nomor yang menghilang beberapa hari yang lalu. Pemiliknya di telan bumi dan sekarang baru mendapatkan jaringan dari porider-nya mungkin.
“ Alexa! “ itu teriakan Cassandra saat panggilan itu di jawab.
“ Cassie, aku pikir kamu mati. “ komentar Alexa dengan sebal. Temannya beberapa hari yang lalu menghilang setelah acara berbelanja bersama.
“ Aku untungnya selamat, “ Cassandra malah terkekeh geli. Ia rindu temannya Alexa dan juga Allen kekasihnya. Juga ayahnya.
Alexa tak jadi keluar dari ruangan kakanya itu. Ia mengurungkan diri, ia berjalan mundur dan duduk di sofa cokelat dari kulit di ujung ruangan. Melihat adiknya sedang berbicara dengan sangat akrab di telfonnya itu membuat Alex sedikitnya, penasaran.
“ Kemana saja kamu beberapa hari ini? Menghilang di telan bumi, “ Alexa menatap pemandangan di luar. Benar benar hari yang menyebalkan tanpa celotehan Cassandra.
“ Aku di culik, “ jawab Cassandra dengan cepat dan keras.
“ Kamu bukan bocah yang di iming imingi permen lalu di minta untuk masuk ke mobil orang asing. “ Alexa tak percaya alasan bualan Cassandra itu. Intinya, ia marah dengan sahabatnya itu.
“ Aish! Percuma saja, kamu takan percaya. Ngomong ngomong, apakah Allen mencariku akhir akhir ini? Ponselku mati dan baru ku gunakan hari ini … “
Cassandra menemukan ponselnya tergeletak di bawah sofa saat ia menaruh belanjaanya dengan asal malam itu. Dan terjatuh di kolong sofa. Untung saja Alex tak menemukan itu dan merusaknya.
__ADS_1
“ Allen …? Dia selingkuh. “ jawab Alexa dengan tenang.
Tapi hati Cassandra langsung porak poranda.