Sexy Partner

Sexy Partner
53. III


__ADS_3

               Berkali kali Alex mencoba menghubungi Cassandra. Tapi panggilannya di alihkan.


               Alex mulai berpikir kalau Cassandra masih marah padanya karena pergi tanpa kabar ataupun alasan. Alex yakin itu.  tapi aneh, Alex merasa ada yang aneh yang sedang Cassandra sembunyikan darinya.


               Semenjak semalam, pesannya masih juga di abaikan, sekarang juga panggilan. Biasanya, Cassandra tak merajuk seperti ini. Ini seperti... bukan Cassandra.


               Alex sekarang sudah di depan rumah Cassandra, dan sekali lagi. Ada kekecewaan yang Alex dapatkan. Cassandra tidak ada di rumah, baik wanita itu ataupun ayahnya. Menghilangnya Cassandra benar benar membuat Alex kecewa. Padahal, Alex ingin memberikan sesuatu pada perempuan itu.


^^^^


               “Sial.” Umpat Alex sambil melemparkan ponselnya dengan wajah yang di tekuk. Melihat Kakaknya yang seperti orang gila. Alexa akhirnya bermurah hati ingin mendengar keluh kesah laki laki pemarah itu.


               “Ada apa memangnya?”tanya Alexa tanpa basa basi. Sejenak, Alexa bisa melihat kalau Alex tak ingin menceritakan alasannya marah marah. Tapi laki laki itu akhirnya menyerah.


               “Casandra, marah atau memang sengaja menghindariku.”


               “Kenapa dia masih marah?” tanya Alexa lagi, bukannya seharusnya. Mereka bertemu di bandara saat Alexa bilang, kalau kakaknya ini akan pulang. Cassandra langsung pergi ke bandara bukan? Juga mengajaknya mengobrol sembari menunggu Alex.


               “Aku tidak tau, tapi semenjak aku menelfonnya dia terdengar sangat tidak senang mendengar suaraku....”


               Mendengar penjelasan Alex, membuat Alexa menyimpulkan sesuatu.


               “Tunggu.... tunggu dulu....!” Alexa panik sendiri,”Jadi kalian tidak bertemu di bandara??”tayan Cassandra dengan raut wajah yang panik. Alex nampak tak mengerti. Tapi Alexa langsung melanjutkan.


               “Iya, kalian tidak bertemu di bandara?” tanya Alexa lagi, dan kali ini wajah kaget juga terbit di wajah Alex.


               “Apa itu berarti Cassandra menjemputku di bandara?” wajah Alex langsung sepucat kertas saat Alexa mengangguk, mengiyakan pertanyaanya. Bodoh!! Alex sadar telah membuat Cassandra salah paham dengan kedatangannya.... bersama wanita itu. benar! Alex memang bersalah, wajib di hukum dan di beri sanksi paling berat!


               “Memangnya kenapa kalian sampai tidak bertemu?”


               “Bukan itu topik permasalahannya.”dalih Alex, ia sebenarnya sudah sangat takut sekarang, karena Cassandra sudah pergi begitu saja tanpa kabar.


               Alex menatap Alexa dengan wajah yang sangat lesu,”Kemarin aku pulang bersama ....” Alex nampak ragu, ia sepertinya tak mau menungkap jati diri wanita itu. Tapi karena Alex tak mengungkap jati diri wanita itu dan tidak jujur sama sekali. Ini lah yang terjadi. Cassandra marah dengannya karena kesalah pahaman yang ia buat.


               “Dengan siapa kamu kemarin di bandara!” hardik Alexa dengan sangat tak sabaran.


               “Dengn Viona.” Jawab Alex dengan cepat. Bibir Alexa yang tadinya ingin mengumpati kakak laki lakinya ini jadi membeku seketika.


               “Di mana kamu menemukan wanita itu Alex....” tanya Alexa, nyaris seperti desisan. Alex menggelengkan kepalanya. Rumit untuk di jelaskan.


               “Aku sudah lama mencari Viona.” Jawab Alex dengan lugasnya. Alexa makin tercengang saat mendengar jawaban lugu Alex itu. tak mungkin!!


               “Jangan jangan....” Alexa mulai menerka nerka. Ia tak ingin salah kaprah dalam mengartikan keadaan. Tapi memang sekarang, semuanya terlihat jelas dan sangat gamblang.


               “Aku ke Meksiko karena mencari Viona.” Jelas Alex, ia tak ingin berbohong lagi pada siapapun. Alasan ia tetap sendiri di akhir usia dua puluhannya, alasan ia mengasingkan diri dari wanita wanita yang mendekatinya. Alasannya adalah rasa bersalahnya pada wanita bernama Viona.


               “Pantas saja Cassandra bertanya, siapa wanita di dalam album foto kita...”


               Alex nampak terkejut,”Jadi Cassandra sudah tau Viona?”tanya Alex dengan nada yang meninggi. Tapi Alexa menggeleng.


               “Tidak, semuanya. Aku hanya bilang agar Cassandra tidak salah paham. Karena kalian dulu... um... kalian dulu lumayan dekat...” Alexa memutar bola matanya, tak ingin bertatapan secara langsung dengan Alex. Ia takut, ia juga ikut andil dalam kerumitan hubungan Alex dengan Cassandra sekarang ini.


               “Aku hanya mengatakan itu, tidak lebih.” Jelas Alexa lagi, ia masih ingin Alex tak memarahinya. Tapi yang di lakukan Alex di luar ekspektasinya.


               “Ini salah paham yang besar.” Alex seperti sedang membantah sesuatu. Alexa mengernyit, apa yang tidak benar memangnya? Kesalah pahaman apa yang di maksud Alex barusan.


               “Kami tidak saling mencintai dulu ataupun sekarang.” Jelas Alex seperti mengoreksi sejarah yang sudah salah. Lantas, mata Alexa membulat. Jadi...? selama ini, ia salah menangkap. Ia salah mengira, tentang kedekatan hubungan Alex dengan Viona. Tapi kenapa Alex jauh jauh membawa Viona dari Meksiko..? untuk apa?


               “Yang mencintai Viona bukan aku. Tapi Danil.”

__ADS_1


               Dan ya, satu keterkejutan penuh kejutan. Alexa sampai harus menutup mulutnya dengan tangan karena masih tak percaya kebenaran yang baru di ucapkan Alex padanya.


               “Jadi...? itu alasan kalian ehm...” Alexa nampak bingung memilih kata selanjutnya.


               “Itu alasan kenapa Danil selalu memusuhiku, dan itu juga alasan kenapa aku menjauhi Dani. Ia telah salah sangka, kalau aku menjalin hubungan dengan Viona.”


               “Jadi, dimana Viona sekarang?”


               “Bersama orang yang tepat tentunya.” Jawab Alex tanpa pikir panjang. Alex sudah mempertemukan dua orang yang harusnya bersama sejak dulu. Tapi terhalang oleh kesalah pahaman. Sekarang, kesalah pahaman yang Alex buat, juga harus memiliki kejelasan.


               Ia tak bisa melepaskan Cassandra begitu saja. Tidak bisa.


               Cassandra terduduk di tanah, ia sudah di tinggalkan Ayahnya. Alasannya, ia hanya sedang ingin berbicara berdua. Dan Damian memaklumi permintaan puterinya itu.  Dengan tenang. Damian meninggalkan Cassandra yang sepertinya, punya masalah lain yang ingin ia bicarakan. Bersama ibunya.


^^^^


               “Ini hari kematian Ibunya, pasti Cassandra pergi ke pemakan Ibunya.”


               Alex tak bisa berkata kata. Kenyataan kalau hari ini adalh hari yang menyedihkan untuk Cassandra, membuat Alex tak bisa berkutik. Membuat Cassandra sedih di hari ini, seperti memberikan rasa sakit yang lain.


               “Di mana Ibunya di makamkan....?”


               Dan saat Alexa mengatakan di mana seharusnya Cassandra sekarang, Alex langsung meluncur ke tempat itu sekarang juga. Dan baru kali ini Alex menyadari kalau tempat yang Cassandra tuju, melewati apartemen Danil. Alex hanya berdo’a. Berharap setinggi mungkin, semoga saja... Cassandra tak melihatnya, atau apapun itu saat melewati apartemen Danil.


               Dengan deru mobil yang semakin cepat, keringat yang mengucur, kegugupan juga terlihat jelas di wajah dengan mata zamrud yang memukau itu. Tak pernah terlihat, kalau laki laki super tampan itu akan keluar dengan sangat panik untuk menemui Cassandra. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sepasang yang saling memusuhi itu sekarang bisa saling jatuh cinta. Dan merasakan sakit satu sama lainnya.


               “Cassie....” bisik Alex dengan sangat tak sabaran. Ia ingin cepat sampai di tempat itu juga, dan memeluk Cassandranya. Segera dan secepatnya.


               Hantaman keras di hati Alex membuat laki laki itu mengusap peluhnya. Segera sampai. Batin Alex sembari menatap sebuah rumah di keheningan pedesaan dengan cat berwarna putih dan bergaya victoria masa lampau.


               Alex keluar dengan tergesa gesa dan akhirnya tersungkur terjatuh di tanah.


               “Kamu tidak apa apa?” tanya Damian tanpa menghilangkan nada khawatir. Awalnya, Damian tak suka. Kenapa Cassandra dan Alex harus saling jatuh cinta. Tapi melihat bagaimana cara Alex melindungi Cassandra. Mengingatkan Damian, seperti apa ia dulu saat mati matian melindungi istrinya, walaupun berakhir dengan tidak bahagia.


               


               “Dimana Cassandra...?” tanya Alex dengan nada memelas, baru kali ini ia merasa, harga diri sdi situasi seperti ini tidaklah ada artinya. Kediaman Damian semakin membuat Alex ketakutan.


               “Tolong, jangan jauhkan saya dari Cassandra....” pinta Alex, nyaris memohon dengan sangat. Ia taku kalau Damian akah menjauhkan Cassandra darinya karena kesalah pahaman ini. Damian masih diam saja, tapi Alex tidak. Tangannya sudah bergerak dan menggenggam tangan Damian. Memohon dengan mata yang hampir berburai air mata. Nyaris saja Alex menunjukan sisi terlemahnya kalau saja Damian tidak menepuk bahunya.


               “Cassandra ada di taman belakang, lihatlah dan tenanglah....” pesan terakhir Damian setelah ia melepaskan usapan tanganya. Damian melangkah masuk kembali ke rumah mungil itu. mengusap air mata yang belum sepenuhnya membanjir, Alex langsung berlari ke arah belakang rumah.


               Sebuah halaman belakang yang sangat luas dengan banyak sekali bunga, dan rerumputan hijai. Alex tak perlu kesulitan untuk mencari di mana Cassandra sebenarnya. Ia sudah melihatnya. Wanita dengan gaun selutu berwanta merah.


               Ada seringai kepuasan saat Alex menyadari, kalau gaun itu tak terlalu terbuka ataupun vulgar. Setidaknya, Cassandra pasti ingat pesan rewelnya. Dengan langkah tenang menghampiri Cassandra yang masih terduduk di tanah dengan wajah yang di tundukan.


               Terdengar isakan tangis, Alex tak bisa menghentikan itu. ia hanya bisam endengarkan. Tapi Cassandra tak bisa di hentikan. Sebagai jawabannya. Alex hanya bisa mendengarkan.


               “Ibu... harusnya hari ini aku darang membawa seorang laki laki yang sangat baik....”


               Alex bisa mendengar kalau Cassandra terisak di tengah tengah pembicaraan itu. ia mengusap tangannya ke wajahnya.


               “Dia bukan Allen, aku yakin ibu sudah bertemu Allen di sana. Di abaik kan?” tanya Cassandra lagi.


               “Tapi laki laki ini bernama Alex, Alex Dirgantara. Dia sangat sombong, pemarah, menyebalkan, dan suka mengatur atur ara berpakaianku bu...”


 


               Alex nyaris meloloskan tawanya saat Cassandra menyebutkan bagian mengatur pakaian. Itu memang benar. Dan Alex mengakuinya.

__ADS_1


               “Tapi....” Cassandra terisak dengan sangat gemetar kali ini. Isakan yang membuat Alex sadar, ini adalah titik kekecwaan Cassandra.


               “Dia sudah bertemu wanita yang dia tunggu tunggu...”


               Tangisan benar benar lolos dari mata Cassandra. Terdiam dengan hanya ada bunyi isakan, Alex ingin sekali langsung merengkuh tubuh Cassandra. Tapi wanita itu sepertinya masih ingin melanjutkan pembicaraan.


               “Kamu salah paham....”


               Alex akhirnya buka suara. Dan saat mendengar suara lain itu Cassandra langsung berbalik badan. Kaget menanggapi kenapa ada Alex di sini. Kehadiran yang tak lagi ia harapkan. Sebersit pemikiran buruk lagi.


               Bukannya, harusnya... dia bersama wanita itu? pertanyaan yang masih saja terulang di otak Cassandra. Tapi terhenti begitu saja saat Alex meleatakan tubunya di tanah, bersejajaran dengan Cassandra.


               “Kamu salah paham.” Ujar Alex lagi dengan suara yang sudah sangat di lembutkan. Ajaib memang, kalau laki laki yang suka marah marah ini tiba tiba menjadi lembut.


               “Aku melihat semuanya.” Bela Cassandra. Tapi Alex malah mengusap pusara ibunya yang sudah di taburi bunga bunga cantik oleh Cassandra itu.


               “Iya, kamu memang salah paham karena hanya melihat semuanya. Dan pertama, jangan ganggu dulu. Aku ingin bicara dengan ibumu.”


                              Cassandra merasa marah dan jengkel di saat yang bersamaan. Alex justru mengabaikannya dengan sepenuhnya menatap ke arah pusara ibunya.


               “Nyonya, saya tau. Walaupun anda tidak ada di sini. Tapi anda bisa melihat kebenarannya. Dan saya yakin, barusan anda mengomeli Cassandra karena dia sudah berpikiran sempit.”


               Baru kalimat pembuka dan Cassandra sudah hampir meledak karena Alex menjelek jelekan namanya di depan ibunya.


               “Nyonya, biar saya jelaskan. Kalau saya hanya mencintai Cassandra....”


               Saat itu juga, Cassandra bisa yakin seratus persen kalau pipinya memerah seperti tomat, cerry, atau buah naga. Ini semua gara gara Alex!!


               “Nyonya, perempuan itu. bukanlah siapa siapa saya. Saya hanya melakukan sesuatu yang baik dan tujuan yang mulia. Mempertemukan wanita itu dengan orang yang di cintainya.”


               “Iya, mempertemukan dia dengan dirimu sendiri.” Sindir Cassandra dengan marah. Roba merah wajahnya yang sempat malu itu pudar begitu saja saat topik wanita di bandara di ungkit oleh Alex. Alex berbalik badan dan berhadapan langsung dengan Cassandra. Mengunci pandangan Cassandra dan membuatnya hanya menatapnya.


               “Dia orang yang saling mencintai dengan Danil. Bukan aku.”


               Ada keraguan dan ada juga sisi yang ingin Cassandra percaya. Tapi Alex sudah berbicara lagi.


               “Aku tidak berbohong, aku mengantarkannya pada Danil hari ini. Sekarang dia ada di apartemen Danil. Bukan di apartemenku.”


               Cassandra menguk ludahnya, ia seperti mulai meraba raba kebenaran yang tertutupi karena kecemburuannya.


               “Nyonya, aku sangat... bodoh.” Gumam Alex dan Cassandra menyetujui pengakuan kebodohan Alex itu.


               “Bodoh karena sudah jatuh cinta dengan anak anda yang sangat pencemburu itu.”


               Cassandra ingin sekali menampar Alex tapi juga memeluk laki laki itu bersamaan.


               “Tapi aku mohon, berikan saya izin untuk menikahi wanita bodoh dan keras kepala di samping saya ini....”


               Alex meraih tangan Cassandra, tubuh yang membeku itu hanya membiarkan Alex membimbing tanganya dan sekarang, menyeliplah sebuah cincin perak dengan ukiran yang sangat manis, bunga mawar kecil dan ada sebuah nama yang takan Cassandra lupa cara membacanya.


               Cassie.


               “Mau-“


               “Iya, aku mau...!!!” tanpa harus menunggu lagi, ini bukan lagi kesalah pahaman. Cassandra benar benar ingin menikah dengan Alex. Dan dia benar benar yakin. Kalau mereka saling mencintai.


               Dan pasangan yang tengah berpelukan itu juga mencimpratkan kebahagiaan kecil pada Damian. Ia menutup tirai rumahnya, ikut berbahagia dengan kebahagiaan puteri satu satunya itu.


               Laki laki bermata zamrud itu takan menyadari, kalau ia sebenarnya sudah jatuh cinta pada perempuan berambut broze itu, sejak kali pertama. Sejak otak gilanya, mencetuskan bahwa ia ingin memiliknya, dengan cara kontrak yang gila.

__ADS_1


__ADS_2