
Hubungan Alex dan Cassandra kian membaik dalam artian tidak saling bertengkar tapi Cassandra selalu saja membuat Alex frustasi.
“Sebenarnya apa yang membuat aku menyukainya?” gerutu Alex sambil membalik balikan koran yang tak ia baca sedikitpun. Ia berbalik dengan gelisah. Sekarang, Isabella tak lagi mengganggunya. Gadis itu bahkan sudah tak terlihat sama sekali. Alex bisa bernafas lega.
Kini masalahnya, Cassandra sudah membangun perusahaanya menjadi lebih maju. Cepat atau lambat, gadis itu akan meminta ia untuk memutuskan pertunangan. Tapi Alex takan bisa! Karena ia sudah terlanjur menyukai gadis itu, jatuh cinta tepatnya.
Dengan resah, Alex memencet nomor telpon Cassandra. Tapi keraguan menghentikan niat Alex untuk memencet tomnol dial. Ia mengusap wajahnya dengan bingung.
“Dia sekarang banyak sekali alasan, sekarang juga perusahaanya sedang mengalami kenaikan harga saham. Dari pada aku menelfonya untuk kesia siaan, kenapa aku tidak menghampirinya langsung...?”
Sesaat ide Alex terdengar berlian sehingga ia langsung bangkit dari kursi kantornya dan hendak pergi menemui Cassandra.
“Kamu mau kemana Kakaku yang super sibuk..?” sindir Alexa yang baru masuk dan membuat langkah Alex terhenti sejenak. Dengan gamblang dan sangat tenangnya, Alex menjawab.
“Menemui Cassandra....” jawab Alex dengan sangat polos wajahnya, nyaris tanpa dosa. Kalau saja Alexa sedang tak sabaran. Ia akan menarik Alex lagi ke kursinya dan menrundingkan banyak hal. Tapi sia sia, Alex sudah menghilang di balik lorong. Sepertinya, menemui Cassandra adalah prioritasnya di bandingkan dengan kebangkrutan perusahaan.
^^^
Lalu lalang jalanan yang sangat padat tak menyurutkan semangat Alex, ia terus mengemudi tanpa henti dan terus saja melihat ke jalanan, berharap itu bisa memangkas jarak dan ia akan cepat samapi.
Dan setelah tiga puluh menit yang terasa sangat panjang. Alex sampai di gedung perusahaan yang semakin pesat saja setelah Damian berhenti menjabat dan di pegang kendalinya oleh Cassandra. Dengan cepat Alex mendekati resepsionis. Ini sebenarnya tak di perlukan, tapi Alex takut Cassandra sedang tak ada di ruangannya. Ia ingin menghampiri Cassandra langsung di tempatnya berada sekarang.
“Di mana Nona Cassandra ....?” tanya Alex pada resepsionis yang sudah sangat hapal dengan wajahnya. Wajah tampannya adalah KTP yang di miliki Alex. Resepsionois itu langsung mencari jadwal di jam yang bersangkutan di tablet perusahaan. Dengan gerakan cepat, matanya memindai informasi yang ia terima.
“Nona Cassandra sedang melakukan sesi pemotretan untuk majalah bisnis nasional di lantai delapan belas ...”
Dengan anggukan cepat dan sambil berlalu, Alex berjalan ke dalam lift dan langsung memencet tombol lantai yang akan ia tuju. Lantai delapan belas. Dengan jari yang ia ketuk ketukan di lengannya dengan tak sabaran menunggu ia sampai di lantai yang di maksud resepsionis tadi. Pasti ruangan yang di jadikan studio adalah ruangan penuh penghargaan yang di raih Cassandra selama beberapa bulan menjadi petinggi perusahaan. Mau tak mau Alex harus menyeringai dengan puas, tak di elakan. Dia suka sekali cara Cassandra menyombongkan pencapaiannya itu.
Dan, ting!!! Ia sampai di lantai yang di tuju. Sepertinya Alex sudah sangat familiar dengan gedung perusahaan Cassandra di bandingkan dengan gedung perusahaanya sendiri. Langkahnya sudah tertuju ke lorong yang menuju ruangan dengan pintu besi yang berwarna abu. Dengan gerakan cepat, Alex membuka pintu berat itu dengan tangan kekarnya yang sangat berotot.
Pandangan mata Alex langsung tersapu pada Cassandra yang sedang di foto oleh juru kamera. Dengan senyuman manis yang di layangkan langsung ke lensa kamera, Alex menikmati senyuman itu. tapi begitu ia melihat pakaian yang Cassandra kenakan secara keseluruhan, Alex langsung memanas dan sepertinya hampir meledak.
“Hentikan.” Perintah Alex dengan nada dingin, membuat Cassandra berbalik karena menyadari kedatangan Alex. Wajah cemasnya berubah menjadi ketakutan saat Alex mendekatinya dengan beringas karena marah. Piala yang sejak tadi ia gunakan sebagai simbol pencapaianya itu di letakan di meja dengan sangat buru buru. Dan bukan hanya Cassandra yang takut dengan wajah mengerikan Alex, si fotografer itu juga beringsut menjauh.
“Kenapa...?” tanya Alex dengan ngos ngosan, Cassandra bahkan tak tau apa yang di permasalahkan. Memangnya apa?
“Apa kamu tidak punya pakaian lain yang lebih baik dari ini...?” sungut Alex sambil melepaskan jas yang ia pakai untuk menutupi sebagian paha Cassandra yang terbuka dan sudah berapa kali di jepret kamera.
Cassandra melongo bingung dengan apa yang di lakukan Alex barusan.
“Berapa kali dia memotretmu...?” tanya Alex sambil menunjuk ke arah si tukang foto yang masih ketakutan. Cassandra bahkan merasa ini sedikit konyol.
“Dan memangnya foto seperti apa yang ingin kamu tunjukan pada seluruh orang di negara ini Cassie...?” sentak Alex sambil menarik Cassandra pergi.
“Hei! Kita mau kemana! Kamu mau mengajakku kemana!!” teriak Cassandra, Alex sudah mengikatkan jas super besar karena dada dan bahunya yang lebar itu. jadi jas itu bisa menutupi seluruh paha Cassandra yang terekspos.
“Mencari pakaian yang layak untukmu, mau apa lagi?”
__ADS_1
“Tapi aku sudah memilih pakaian ini berhari hari hanya untuk sesi pemotretan ini!!” geram Cassandra dengan sangat marah. Ia sangat kesal. Kadang laki laki memang tak punya selera fashion! Mereka takan mengerti!
“Kenapa kamu pusing memilih pakaian yang tidak pantas di sebut pakaian! Itu namanya mempertotonkan tubuhmu Cassandra...!” dalih Alex lagi, kini mereka sudah sampai di mobil Alex dan Cassandra tidak bisa melawan. Ia terpaksa duduk di kursi di samping kursi pengemudi.
“Kamu tau, ini tubuhku. Jadi kenapa kamu yang sibuk memilihkan apa yang bagus dan apa yang tidak!!” Cassandra masih dalam mode protes, tapi Alex malah mendekatinya yang sedang marah marah ini. Sontak, Cassandra kaget, ia tak tau apa yang akan Alex lakukan bukan?
Tapi ternyata, Alex hanya memasangkan sabuk pengaman dan ia menatap Cassandra dengan sangat intens. Cassandra bahkan tak pernah di tatap seperti itu sebelumnya oleh Allen. Dan itu sukses membuat jantung Cassandra melonjak lonjak.
“Karena aku tidak mau, banyak orang yang melihat kecantikanmu.” Pungkas Alex dan dia langsung mengemudikan mobilnya menuju butik yang ia sering datangi. Cassandra memalingkan wajahnya ke luar jendela. Lagi lagi pipinya memanas. Selama berbulan bulan ini, ia berusaha meyakinkan dirinya. Kalau ia takan jatuh cinta pada Alex. Karena itu memang takan pernah terjadi. Tapi akhir akhir ini, sejak Alex sering berbubah sikapnya. Cassandra jadi melunak untuk hal yang tak ia ketahui alasannya.
Dan benar, Alex sudah menyuruh Cassandra berpakaian tertutup dengan memilihkan banyak sekali rok yang panjangnya di bawah lutut Cassandra. Dan gadis itu berulang ulang kali harus ganti baju karena Alex merasa tak cocok.
“Masih terlalu terbuka!”
“Terlalu pendek!”
“Masih terlalu ketat!!”
Dan akhirnya Cassandra menyerah, ia memilih blouse lengan panjang dan lumayan oversize. “Ish! Kenapa aku menurut saja pada si Alex sialan itu! kenapa!!!” decak Cassandra di ruang ganti. Saat selesai, ia melihat pantulan dirinya dengan blouse peach yang ternyata sangat bagus setelah di kenakan. Tanpa sadar, Cassandra tersenyum puas.
“Ya, mungkin ini lebih baik dari pakaianku yang sebelumnya...” ujarnya sambil tersenyum puas dan hendak menghajar Alex karena sudah membuat sesi fotonya berantakan karena ulah Alex ini. Dengan langkah yang sangat pelan, Cassandra mendekati ruangan yang di tempati Alex sebelumnya untuk menunggunya setelah selesai berganti pakaian.
Cassandra tersentak saat melihat Alex sedang meraih tangan seorang perempuan, persis sekali! Sama persis saat Alex sedang memaksanya untuk jangan pergi dulu. Dan entah kenapa, nafas Cassandra tersengal saat Alex mengejar gadis itu dan tak kembali dalam beberapa menit lamanya.
Kebodohan apa yang membuat Cassandra terduduk di sofa sambil menunggu Alex dengan menahan air mata. Dan hampir dua puluh menit, Alex tak kunjung kembali. Membuat Cassandra terasa seperti baru saja di campakan.
^^^
“Harusnya aku senang bukan...?” tanya Cassandra pada dirinya sendiri yang sedang terbaring di atas ranjang sambil melirik ponselnya yang sepi dari notifikasi. Dan Cassandra tertidur untuk waktu yang lama. Ia takan menunggu lagi, takan membalas ataupun menggubris Alex. Dan dengan ini, Cassandra sudah memutuskan kalau sudah saatnya pertunangan yang ia lakukan dengan Alex ini. Di batalkan.
Entah kenapa, semua hubungan yang Alex dan Cassandra lakukan selalu di lakukan hanya untuk sebuah tujuan tertentu. Hubungan mereka takan di bangun dengan perasaan bukan? Benarkan?
^^^
Dan setelah hampir satu minggu, Alex kembali menghubungi Cassandra dengan rutinitas yang sama. Mengganggu Cassandra dengan banyak hal. Pesan dan panggilan terlfon di saat yang bersamaan. Tapi Cassandra mengabaikannya.
Tapi saat itu, rasa penasaran yang Cassandra tahan akhirnya membludak. Ia tak bisa terus menerus mendiamkan Alex.
“Aku harus mengangkatnya dan mengatakan kalau aku akan mengakhiri pertunangan yang bahkan lebih konyol dari janji bocah SD yang akan saling menikah saat mereka dewasa!”
Dengan gerakan cepat, Cassandra mengangkat telfon Alex.
“Hallo Alex...” sapa Cassandra lebih dulu. Terdengar sahutan yang berasal dari Alex di sebrang sana.
“Ada yang ingin aku bicarakan, aku ingin membatalkan pertunangannya. Ini sudah saatnya kita tak terikata satu sama lain.”
Dan kediaman di sana membuat Cassandra bertanya tanya, apa sebenarnya yang sedang di pikirkan Alex, menghubunginya untuk diam saja begitu?
“Cassandra, aku sudah berkali kali bilang padamu kan? Kalau aku akan membuatmu menyukaiku, bahkan mencintaiku.”
__ADS_1
Cassandra terdiam. Buktinya saja Alex pergi meninggalkannya hanya untuk seorang perempyan yang baru pertama kali ia lihat. Siapa perempuan itu memangnya? Seberapa pentingnya wanita itu sampai Alex menghilang selam seminggu setelah bertemu dengan wanita itu.
“Nyatanya kamu gagal.” Ucap Cassandra dengan tenang. Untung saja ini lewat telfon, jadi ia tak perlu berpura pura juga. Hanya tinggal berbicara dengan nada yagn tegas dan tegar.
“Aku belum punya batas waktunya.”
“Aku sudah memutuskan batasnya, dan sekaranglah saatnya. Kita putuskan hubungan aneh kita. Dari awal mema-“
“Jangan pergi dulu, aku akan ke rumahmu. Dan menjalaskan semuanya.” Dan hanya itu kata kata terakhir Alex dan selanjutnya, bisa di pastikan kalau panggilan di putuskan.
Cassandra menarik nafas dengan berat, ia melirik ke arah jendela. Berharap kalau yang Alex katakan barusan itu tidak benar.
Menyentuh dadanya yang terasa di himpit dua tembok raksaksa sekaligus, Cassandra merasakan kalau ia tak bisa bertahan seperti ini.
“Apa aku mulai membuka hati...? Tapi kenapa harus Alex laki lakinya!!”
Cassandra melemparkan tubuhnya ke ranjang dan mulai menutup mata. Nyaris berair karena menangis. Nyatanya Alex berbohong. Tak terdengar suara deru mobil dari luar halaman sana. Bahkan tak terdengar suara gerbang di buka. Cassandra yakin, yang barusan Alex katakan hanyalah bualan.
Saat mata Cassandra tertutup dan gadis itu mulai bermimpi. Dengan tarikan nafas yang lembut.
Ada gerakan yang membuat Cassandra merasa terganggu. Ia memalingkan wajahnya dan berbalik badan. Tidur ayam ayamnya kini terganggu. Ia merasa kalau ada sesuatu yang merayapi wajahnya, paling mengganggu adalah. Ada yang mengusap usap pipinya.
“Ish!!!” Cassandra menepikan tangan yang menyentuh pipinya sejak tadi itu. ia membuka mata dengan sangat cepat sampai tersontak karena kaget melihat penampakan Alex di atas ranjangnya.
“Hai, selamat malam...” sapa Alex dengan sangat ceria tanpa memedulikan wajah terkejut Cassandra yang baru bangun tidur. Ia sangat puas saat melihat mata Casandra yang terbelalak di depannya saat ini.
“Ke- kenapa kamu bisa masuk! Kapan kamu sampai di sini! Dan apa yang sedang kamu lakukan di sini!!!!” jeritan pertanyaan Cassandra membuat Alex terkekeh dengan geli dan segera memangkas jarak di antara mereka. Ia meraih rambut Cassandra yang berantakan karena baru bangun tidur, saat itu juga Cassandra membatu karena gugup. Alex! Sedang menguncir rambutnya!!! Ini sepertinya bagian dari mimpi Cassandra, plak!!!
“Sakit...” keluh Cassandra saat merasakan panas di pipi kanannya.
“Bodoh, kenapa kamu menampar pipimu sendiri...” hardik Alex dengan tangan yang masih sibuk menguncir rambut Cassandra.
“Ya, selesai...” ucap Alex dengan melihat puas hasil kerjanya.
“Kenapa kamu ada di sini...?!” tanya Cassandra sambil beringsut menjauh, tapi Alex malah beringsut mendekat.
“Aku kan sudah bilang, aku akan datang ke sini. Mau apa lagi??” tanya Alex pada dirinya sendiri. Ia tersenyum geli saat melihat kegugupan Cassandra.
“Aku kan bilang! Kita sudah tidak bertunangan Alex!!”
“Kita tidak bertunangan, tapi aku masih punya kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku bukan...?”
Bugh!! Lemparan bantal mengenai wajah Alex tapi laki laki itu terkekeh geli melihat kelakuan Cassandra,”Ini nyatanya yang membuat aku sangat menyukaimu Cassie, kamu sangat sulit di tebak. Saat aku mengira kamu akan menggigit seperti landak dengan durinya. Kamu malah melemparku dengan mata yang berurai air mata...”
Cassandra menyadari kebenaran kata kata Alex, dan ia menghapus air matanya. Berani benar laki laki ini membuatnya menangis!! Setelah mengucapkan kata kata seperti ini dan menyentuh hati Cassandra.
“Pergi sana! Dengan wanitamu saat itu!” usir Cassandra dengan sangat judes. Alex justru terkekeh.
__ADS_1
“Justru aku kemari untuk meluruskan semuanya. Cassandra ....”