
Cassandra sangat terkejut saat ia melihat penampakan Alex saat mendatanginya. Dengan setelan hitam yang terlihat sangat mengkilat di tubuh kekar Alex, Cassandra bahkan seperti melihat aura lain yang terpancar di wajah Alex.
“Kenapa melamun? Ayo ikut aku.” Ajak Alex sambil meraih tangan Cassandra dan membuat gadis itu langsung berjalan tergopoh gopoh. Cassandra hanya bersama ayahnya, masalah pernikahan ini tidak akan ia sebarkan dengan keluarga besarnya. Damian sudah ada di dalam berjamuan dengan Ayah Alex. Berbincang bincang dengan sangat ramah. Tak seperti bayangan Damian sebelumnya. Apa lagi Stella yang memperlakukan mereka tidak seperti tamu, tapi lebih seperti keluarga.
“Lepaskan aku Alex.” Kilah Cassandra dengan berusaha untuk melepaskan tangan Alex darinya. Tapi tangan Alex tak sedikitpun mengendur. Ia justru semakin mencengkeram Cassandra dan akhirnya saat mendengar ketukan kaki Cassandra yang tak beraturan karena tergopoh gopoh untuk mengimbangi langkahnya yang panjang dan cepat, Alex melambatkan laju langkahnya.
“Aku tidak ingin menikah denganmu Alex, kenapa kamu tidak bilang kalau kami di undang kemari untuk membahas pernikahan!”
Dengan cepat Alex membungkam mulut Cassandra dan membuat wanita itu bisu, kalau saja mulut besar Cassandra barusan di dengar Ayahnya ini berarti berita besar yang buruk! Alex bisa di penggal langsung. Saat melihat situasi aman. Alex melepaskan dekapan tangannya dari mulut Cassandra.
“Bisakah kamu kendalikan mulut besarmu di rumah ini Cassie?”
Cassandra ingin mendebat saat Alex memanggilnya dengan nama panggilan keakrabannya. Tapi ia akhirnya menurut dan diam mendengarkan Alex.
“Aku tidak tau ini masuk akal atau tidak di situasi saat ini, aku tau kamu bahkan masih berkabung atas kepergian kekasihmu yang baru beberapa minggu ini.” Alex berbicara dengan sangat cepat dan nyaris tidak megnambil nafas. Ia menatap Cassandra dengan tenang dan menjurus lurus ke mata perempuan itu.
“Anggap saja ini sebuah kontrak Cassie, kamu melepaskan aku dari tunangan sialan yang di pilihkan Ayahku, dan kamu akan ku bantu mengurus perusahaan ayahmu sampai bangkit dan berjaya tanpa harus membayarku dengan sepuluh triluyun lagi. Bagaimana?”
Cassandra nampak tak terlalu tertarik dengan penawaran Alex, justru ini seperti kiamat untuknya. Kenapa harus berususan dengan Alex lagi? Bukanya seminggu sudah cukup untuk mengenal Alex? Dan itu sudah cukup untuk membuat Cassandra jera.
“Kalaupun kita terjebak sampai ke pernikahan, aku berjanji takan ada cinta dan takan ada tuntutan anak. Kita akan bercerai saatnya, atau bahkan berpisah sebelum sampai di altar. Ini akan-“
“Aku setuju.” Potong Cassandra yang membuat mata Alex membulat dan euforia rasa senang yang ia rasa berlebihan.
“Bagus, pilihan cerdas.” Ucap Alex memuji. Ia tak sadar ia mengusap ujung kepala Cassandra dengan sangat gemas sampai rambut itu berantakan.
“Hentikan itu Alex!”
Dan masih dengan senyum tersungging, Alex mengehentikan gerakan tangannya.
“Ah iya, Ayahku akan menanyakan padamu, alasan kita memutuskan untuk bertunangan.”
Otak cerdas Cassandra langsung merespon cepat apa yang di katakan Alex.
“Lalu apa yang harus aku jawab kalau orang tuamu menanyakan, alasan kita memutuskan untuk menikah...?” tanya Cassandra dengan penuh tanya.
“Jawab kalau kita saling mencintai.”
“Hah!!!!!?” Cassandra sangat terkejut dengan alasan yang paling mustahil itu.
“Cassie!!!” teriakan Alexa yang di iringi gadis itu berlari dengan sangat beringas ke arahnya membuat Cassandra mengurungkan niat protesnya pada Alex. Laki laki itu dengan langkah teratur langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kamu?” tanya Alexa sambil mengumpulkan nafas dengan tersengal sengal.
“Mau menikah dengan Alex?” tanya Alexa dengan rasa keterkejutan yang masih tersisa. Dan Cassandra mengangguk hanya dengan penjelasan itu, membuat Alexa tak percaya. Dua makhluk seperti air dan api itu akan bersatu di dalam rumah tangga.
“Apa kamu yakin Cassie? Allen baru saj-“
“Ada alasan lainnya Alexa, dan yang pasti. Jangan terkejut kalau nanti aku mengatakan kalau aku mencintai Alex, karena itu bohong.”
Alexa makin terkejut dengan kata kata Cassandra barusan. Ia menegakan tubuhnya dan mengusap peluh di dahinya.
“Apapun itu Cassie, aku akan mendukungmu...” ucap Alexa dan ia meraih tangan Cassandra. Menuntun gadis itu ke ruang tamu keluarganya.
Dan benar, Alexa mendengar dua pernyataan yang sangat sama persis. Cassandra dan Alex sama sama mengakui saling jatuh cinta. Dan hanya dua orang di meja makan yang tau kebenarannya. Alexa dengan wajah terkejutnya dan Danil dengan kekehan gelinya. Karena ada drama live action yang bisa ia saksikan secara langsung.
^^^
“Cassie? Apa kamu yakin? Apa kamu tidak terburu buru? Kalian baru saja mengenal, dan itu bukan di situasi yang baik...”
Cassandra merebahkan diri di sofa rumahnya, di ruang tamu tepanya. Mereka baru saja pulang dari kediaman Alex dan Cassandra sangat lelah sekali karena harus beradu akting dengan Alex berpura pura menjadi pasangan yang sedang saling jatuh cinta.
“Apa kamu? Benar benar mengandung anak Alex?” tiba tiba pertanyaan itu terloncat begitu saja dari bibir Damian dan Cassandra langsung bangkit dari sandaran nyaman sofa.
“Ayah! Kenapa ayah sampai berpikir begitu!! Kami bahkan tak melakukan apapun selama aku tinggal seminggu dengan Alex!!”
Damian menarik nafas lega, ia tak bisa membayangkan kejadian itu, karena kalau Cassandra benar benar hamil, dia lah yang menjadi penyebab utama kerusakan puterinya sendiri. Tapi raut itu berubah singkat menjadi wajah panik penuh dengan tanda tanya.
__ADS_1
“Jadi, apa alasan kalian sampai memutuskan menikah?”
“Karena Allen, aku ingin melupakan Allen, dan Allen...” Cassandra menghentikan kalimatnya, ia tiba tiba teringat sosok yang tak bisa lagi ia kunjungi itu.
“Allen, memintaku untuk menikah dengan Alex, entah karena alasan apa itu. aku tidak tau....”
Damian terdiam sejenak, sebagai orang tua. Ia harus membuat keputusan dengan sangat bijak. ia tak bisa mencampuri urusan ini pastinya. Karena Cassandra bisa menolak permintaan Allen sebelum kekasihnya itu meninggal. Tapi Cassandra justru memilih mengikuti permintaan Allen.
“Kalau dengan permintaan terakhir Allen ini sebagai bentuk cintanya, karena ia tak mau kamu berlama lama memikirkan kepergiannya. Ayah akan mendukung kamu, asalkan kamu tidak tersakiti.” Ucap Damian sambil menepuk bahu Cassandra dan berlalu. Casssandra hanya mengangguk dan melepaskan penatnya sekali lagi dengan menyandarkan punggung di sofa.
“Aku bahkan tak tau, maksud Allen meminta itu padaku Ayah....” bisik Cassandra dengan mengusap wajahnya dengan sangat frustasi.
^^^
“Kenapa? Kenapa kamu memutuskan pertuangan ini dengan sepihak Alex!!” jerit Isabella dengan sangat keras di kamarnya. Ia di kurung di rumahnya sendiri oleh orang tuanya. Tujuan ia di tunangkan dengan Alex adalah, untuk urusan bisnis, tapi Ayah Alex menyepakati tujuan bisnis Ayahnya dengan sangat cepat dan meminta untuk membatalkan perjodohan. Tentu ini tidak memberatkan kalau saja Ayahnya tau, kalau Isabella sangat mencintai Alex.
“Alex!!!” jerit Isabella lagi di tengah malam. Dan mirisnya, keluarganya hanya diam tanpa menyahuti atau menenangkan Isabella.
^^^
Pagi itu sangat berkabut, bahkan cahaya sinar matahari tidak bisa menembus uap air yang dingin itu, Alex jadi enggan untuk bangkit dari kasurnya dan berangkat bekerja. Ia justru membalik lagi badannya dan menutupi tubuhnya dengan selimut serapat mungkin. Tapi deringan ponsel yang sangat keras, panggilan yang sangat mengganggu sejak setengah jam yang lalu itu berhasil mengusik rasa malas Alex.
“Ia siapa? Ada apa?” tanya Alex dengan sangat malas pada lawan bicaranya.
“Alex!! Kenapa kamu memutuskan pertunangan kita secara sepihak!!!”
Jeritan Isabella itu sontak membuat Alex langsung menjauhkan telfonya dari telinga. Dengan kernyitan yang sangat tajam, Alex mendekatkan lagi ponsel itu ke bibirnya,”Karena aku tidak mau. Melanjutkan pertunangan denganmu.” Jawab Alex dengan sangat singkat dan ia tak tau kalau di sebrang sana, air mata Isabella sedang berhamburan.
Alex rasanya menemukan alasan lain yang lebih kuat untuk menghempaskan Isabella dari hidupnya,”Karena aku akan menikahi orang yang aku cintai, dan itu bukan kamu.” Jawab Alex dan langsung menutup telfon.
^^^
Cassandra sangat sibuk di kantor sampai ia sangat kelelahan dan tak bisa memikirkan hal lain, dan ini sangat Cassandra butuhkan untuk melupakan Allen. Dan saat Cassandra sangat kelelahan, ia merebahkan punggung di kursinya dan mencoba melemaskan otot ototnya yang sangat tegang arena di gunakan untuk banyak berpikir. Dengan kerutan di dahinya. Cassandra sudah berhasil melupakan sosok Allen, sedikit demi sedikit. Sekarang, justri sosok Alex yang tiba tiba muncul tanpa permisi. Dan sosok yang tinggi dengan mata zamrudnya itu sedang berada di depan Cassandra.
“Cih! Kenapa dia sangat mengganggu sekali sih...” gerutu Cassandra sambil menutup mata. Ia akan melupakan sosok itu dengan tertidur sejenak. Tapi sosok itu terus mengganggu pikirannya. Dan saat Cassandra membuka mata, ia sudah melihat sosok itu mendekat dan duduk di depannya.
Cassandra meloto saat melihat Alex sudah duduk di depannya dengan menyedekapkan tangannya, dan mata zamrud itu sedang mentapnya dengan sangat.. lembut? Apa ini mimpi atau halusinasi? Tolong jelaskan!
“Alex!!” teriak Cassandra dengan sangat keras dan membuat Alex langsung menutupi telinganya.
“Cassandra, sebenarnya apa alasanmu sampai kamu sangat suka berteriak saat bersamaku.”
Cassandra megnamati sosok itu lekat lekat, selain bisa berbicara, sosok ini juga bisa menggerutu. Berarti ini bukan halusinasi.
“Karena kamu selalu muncul tiba tiba, tanpa di undang, dan dengan cara yang menyebalkan!” ketus Cassandra sambil melirik ke Alex dengan tatapan sinis.
Alex membalas tatapan itu dengan tak kalah sini.
Lebih mengganggu mana dengan kamu yang menyabotase mimpiku beberapa hari yang lalu!
“Aku menemui tunanganku, tidak ada yang salah kan?”
Cassandra ingin tertawa geli dengan alasan yang Alex katakan barusan. Tapi tak jadi, karena Alex sedang menatapnya penuh dengan ancaman. Tapi mata dan perpaduan dengan bibir super sensual itu justru membuat Cassandra berpikir, kalau tanpa marah marah, Alex terlihat sedikit.... tampan??
“Aku tidak bertunagnan denganmu.”
Alex menggeleng,”Tentunya cincin di tanganmu adalah bukti kalau kamu adalah tunanganku.” Kilah Alex dengan tenang. Ia bangkit dan merapikan jasanya dengan sangat santai. Melihat arloji beberapa detik dan kemudian tersenyum sangat tipis nyaris seperti seringai kalau Cassandra melihat senyuman itu dengan mata dingin Alex.
“Ayo ikut aku, sebagai tunanganku. Aku punya pekerjaan penting untukmu.”
“Aku tidak mau.” Tolak Cassandra dengan sangat cepat. Harusnya Cassandra belajar, kalau Alex tak menerima penolakan. Ia justru sudah di tarik oleh Alex untuk pergi. Tanpa mendengarkan teriakan protes Cassandra. Alex terus saja menarik Cassandra keluar dari gedung kantor Cassandra. Para pegawai hanya menatap mereka sekilas dan kemudian berbisik bisik entah mengatakan gosip apa tentang keduanya. Tapi sepertinya, Alex menikmati kalau ada gosip yang tersebar di antara dia dan Cassandra.
Bugh!! Cassandra merasakan kalau tulang punggungnya menyentuh kursi mobil dengan sangat keras sampai ia mendengar kalau tulangnya berbunyi.
“Alex!!!” jerit Cassandra dengan suara kesakitannya.
“Ups, maaf...” kilah Alex tanpa melihatkan rasa bersalah sedikitpun. Ia malah tersenyum dan langsung ke kursi pengemudi. Mengambil alih kemudi dan menjalankan mobilnya entah kemana. Cassandra diam karena ia sedang menahan rasa sakitnya. Tapi begitu rasa sakitnya sudah hilang, Cassandra melirik ke arah Alex.
__ADS_1
“Sebenarnya, mau di bawa kemana aku ini?” tanya Cassandra dengan nada ketus.
Alex tersenyum tanpa melirik ke arah Cassandra. Cassandra bahkan sampai heran, kenapa akhir akhir ini Alex sering sekali tersenyum? Aneh bukan??
“Makan siang, makan siang yang sangat romantis.....” bisik Alex tanpa melirik ke arah Cassandra. Itu justru berefek sangat buruk pada Cassandra. Karena ia merasa kalau pipinya sangat merah dan terasa panas.
Sial! Apa yang aku pikirkan sebenarnya??!!
“Kenapa diam?” tanya Alex dengan sangat bingung, karena biasanya Cassandra akan protes. Pasti.
“Aku tidak mau makan siang.”
“Tapi ini kewajiban.”
“Aku tidak punya kewajiban untuk makan siang dengamu.”
“Ini bukan kewajiban untuk makan siang atau tidak. Kamu akan lihat saja nanti, kewajiban apa yang harus kamu penuhi di sini.” Ucap Alex sebagai penutu yang justru membuat Cassandra bertanya tanya. Memangnya ia punya kewajiban apa pada Alex ini...?
^^^
Cassandra sangat menyesal kenapa ia kehilangan kendali akan dirinya. Memerah pipnya hanya karena sematan kata romantis! Sudah gila memang dirinya hanya karena kata kata barusan. Rupanya yang Alex maksud adalah makan siang untuk mengompori mantan tunangan Alex yang selalu saja mengganggu Alex setiap saat.
“Jadi Bella, kenalkan ini Cassandra. Tuanganku ....”Alex mengenalkan Cassandra dengan sangat bangga pada Isabella. Gadis itu menatap Cassandra seperti ingin meremas wajah Cassandra hingga kucel.
Merasakan area semakin memanas, Cassandra tau, perempuan ini adalah perempuan yang sedang cemburu. Jadi ia tarik kesimpulan, Alex mengajaknya kemari untuk memanasi perempuan ini dan tidak lagi mengganggunya. Maka dari itu Casssandra memutuskan untuk memainkan perannya dengan sangat apik.
Dengan uluran tangan yang sangat lembut, Cassandra menyodorkan tangannya pada Isabella.
“Hai Bella, senang bertemu dengamu....” sapa Cassandra dengan sangat ramah dan itu hanya kedok. Isabella tidak menyambut uluran tangan itu. ia hanya terdiam dan menatap Cassandra makin marah.
Bukannya mundur karena uluran tangannya tak di sambut Isabella. Cassandra malah makin tak gentar memperlihatkan taringnya.
“Aku dengar, kamu mantan tunangan Alex. Maaf atas hal buruk yang menimpamu, aku harap kamu menemukan yang lebih baik dari Alex...” ucap Cassandra sambil meraih bahu Alex dan mengusapanya dengan sangat lembut.
“Aku tidak perlu do’a darimu.” Ucap Isabella dengan sangat lembut. Alex menatap puas dengan akting Cassandra yang sangat totalitas itu.
“Iya Bella, aku yakin, kamu akan menemukan tuangan pengganti yang lebih baik.” Seringai itu muncul dengan sangat puas, Alex berharap dengan ini Isabella akan segera pergi dan tidak lagi mengganggu hidupnya.
“Kita bertunangan tanpa cinta....” ujar Alex dengan nada yang sangat di buat buat.
“Tapi Alex aku men-“
“Sejujurnya, Aku dan Cassandra sudah jatuh cinta sejak lama. Bukan begitu Cassie???”
Jangan panggil aku dengan nama itu!! ingin sekali Cassandra meremas mulut Alex itu, tapi ia urungkan.
“Iya sayang, aku senang. Sebentar lagi kita akan menikah ....”
^^^
“Aku akan permisi dulu, kalian lanjutkan saja makan siang kalian tanpaku...” dengan tubuh yang beringsut cepat dan amarah yang tak lagi di tutup tutupi Isabella langsung pergi begitu saja tanpa melihat ekspresi Alex maupun Cassandra yang sangat puas.
“Haha haha haa!!!” tawa Alex begitu pecah saat Isabella sudah meninggalkan restoran itu. ia sangat puas akhirnya bisa lepas dari benalu seperti Isabella itu.
“Jangan tertawa terlalu puas, kamu memang suka menyakiti perempuan.” Hardik Cassandra. Ia mau tak mau harus bersimpati kalau berada di posisi Isabella.
“Bukankah kamu yang membuat Isabella marah dan sakit hati?” balik Alex dengan tawa yang masih tersisa. Ia bahkan harus menghapus air mata di sudut matanya.
Cassandra marah dengan fakta itu, jelas! Dendam Isabella takan di layangkan pada Alex, justru akan di layangkan padanya! Pasti!!
“Terserah kamu Alex! Aku pergi dulu!!”
Cassandra bangkit dan hendak pergi sebelum tangan Alex mencegahnya untuk pergi dulu. Cassandra hendak memarahi Alex karena telah menghalanginya. Tapi tatapan Alex itu menghentikan gerakannya.
“Terima kasih, dan biarkan aku antar kamu pulang.”
Dan saat itu, entah karena kebingungan atau apa. Atau karena ternyata mulut Alex bisa berkata yang baik. Hati dan jantung Cassandra seperti di pacu.
__ADS_1