
Dengan raut wajah yang sangat tidak berniat sama sekali, Alex melangkahkan kakinya ke sebuah butik pakaian pengantin. Dengan tanpa harus membuka suara, para pegawai di sana sudah mengenalinya dengan sekali tatap.
“Tuan, mari ikuti saya ke ruangan yang sudah di siapkan sembari menunggu Nona Isabella.”
Salah seorang pegawai berbicara sopan dengan Alex dan Alex menghargai karena keberaniannya berbicara dengan Alex di moodnya yang sedang tidak baik. Alex memutuskan untuk bekerja sama. Ia tak mau mempersulit pekerjaan wanita yang bekerja keras itu. walaupun Alex bisa melihat ada keringat di tengkuk wanita itu. Pasti ia telah mengumpulan banyak sekali keberanian sebelum akhirnya berbicara dengannya.
“Silahkan Tuan, anda akan bertemu dengan pemilik butik sebentar lagi. Beliau sedang ada pertemuan dengan klien lain.”
“Baik, katakan padanya aku tak suka untuk menunggu lama lama.”
Perempuan itu mengangguk dengan sama sama gugup.
“Akan saya sampaikan.” Ucapnya dengan kegugupan yang semakin membuat keringat di tengkuknya membanjir.
Alex duduk di sofa berwarna peach yang serasi dengan wallpaper tembok bergaya shabby chick berwana hijau dengan polesan corak bunga yang membuat kesan kalau ruangan ini adalah ruangan menyenangkan.
Nyatanya, mood Alex membuat ruangan ini adalah penjara cantik untuk burung gagak. Dengan menyedekapkan tangannya di depan dada Alex menghitung detik di arlojinya yang terus berjalan tanpa di hentikan. Baik sang desainer maupun Isabella, atau salah satunya itu belum juga ada yang mengetok pintu.l
Dengan langkah cepat, Alex menghampiri pintu. Waktu adalah uang, dan waktu Alex bukan lagi uang. Tapi berlian. Ia memutar knop pintu dengan gemas karena sudah menunggu sebanyak tiga puluh menit! Alex tak menghitungnya dalam menit. Karena setiap detiknya, berharga.
“Apa ini terlihat bagus untukku?” suara seorang perempuan dengan pantulan aun putih mengembang di bagian bawahnya, rambut tergerai berantakan yang di biarkan tak di gubris.
Seorang perempuan dengan gaya nyentrik ala ala desainer kebanyakan sedang melihat pantulan wanita itu di cermin sambil membusungkan dada karena sangat bangga, kalau gaun mewah dan indahnya di kenakan oleh perempuan berparas sangat cantik di sampingnya.
“Tentu saja Cassie, ini akan jadi gaun pengantin paling cantik untukmu...” seru wanita itu, Alex masih menatap lekat lekat. Pandangannya terpaku pada Cassandra yang sedang memantaskan diri dengan gaun putih itu.
Tapi tunggu! Gaun pengantin....? Alex mengerutkan keninggnya mencoba meluruskan benang kusut ini. Berarti, Cassandra akan menikah?!
Pasti ia akan menikah. Dasar bodoh! Apa mungkin orang orang akan membuang dan menghamburkan uang untuk membeli gaun pengantin yang mahal, untuk menghadiri acara pesta hallowen!!!
Alex mencoba memaki dirinya sendiri untuk menyadarkan nalarnya.
“Tuan Alex...!” seru wanita itu dengan sangat kaget karena Alex sudah ada di dekat mereka tanpa ia lihat di cermin, terhalang oleh bayangan Cassandra. Dengan kening yang berkerut, Cassandra membalik badannya. Dan benar! Ini Alex yang sama! Orang yang Cassandra harap, hanya halusinasinya.
“Maaf telah membuat anda menunggu terlalu lama, apakah anda dan pengantin anda sudah-“
“Lanjutkan saja, tunanganku belum sampai.” Ucap Alex sambil berlalu seolah tak peduli, padahal ekor matanya kembali memotret sosok Cassandra yang sangat cantik dengan pantulan gaun di cermin itu.
Alex mencoba untuk bersikap tidak. peduli, dengan gelagat yang angkuh ia duduk di sofa yang bersebrangan dengan tempat berdirinya Cassandra.
“Lanjutkan saja, aku akan duduk di sini sambil menunggu tunanganku.” Ucap Alex dengan melemparkan pandangan ke arah pintu keluar.
“Benar Hera, lanjutkan. Mungkin tunangannya tak mau melanjutkan rencana pernikahanya.” Ucap Cassandra dengan seringai jahi untuk memancing amarah Alex, lalu Cassandra berbalik badan.
Nyatanya, Alex tak bisa berbohong, ia memang sangat berharap kalau Isabellla akan membatalkan pertunangan mereka. Semoga saja, jadi Alex tak bisa marah dengan do’a jelek Cassandra yang ia anggap do’a baik.
“Kenapa Allen belum juga datang ya...?” tanya Cassandra pada Hera yang sedang sibuk memastikan ukuran gaun Cassandra agar terlihat pas di tubuh mungil tapi tinggi semampai itu.
“Mungkin kekasihmu hanya becanda saat mengajakmu untuk menikah, tapi kamu menanggapinya dengan serius.” Ucap Alex, mengembalikan kembali kata kata Cassandra padanya. Mungkin do’a buruk ini berarti buruk juga untuk Cassandra karena gadis itu langsung merengut.
“Urus urusanmu sendiri Alex!” bentak Cassandra tanpa harus membalikan badannya untuk menatap Alex.
Alex justru terkekeh. Kalau do’a jelek Cassandra justru bagus untuknya, mungkin do’a buruk Alex barusan sama seperti kiamat untuk Cassandra.
Dengan pandangan yang mengamati Cassandra dengan lekat lekat. Tiba tiba pemikiran buruk itu muncul di kepala Alex.
Bagaimana kalau pernikahan kita berdua sama sama di batalkan di saat yang bersamaan, apakah kita mendo’akan jelek satu sama lain, karena kita-
Dan pikiran Alex yang sudah merambat terlalu jauh itu membuat Alex harus memukul kepalanya untuk menyadarkan kesadaranya yang sudah mengembara terlalu jauh itu.
__ADS_1
Bagaimana mungkin aku membayangkan menikahi landak berduri jarum ini!!
Aelx menjadi diam tanpa suara, ia teringat fakta apa yang ia temui beberapa hari yang lalu.
“Apa kamu seyakin itu akan menikah dengan Allen, Cassie....?” tanya Alex memastikan.
Hera sudah selesai dan ia pergi untuk mengambil pakaian Allen agar saat laki laki itu sampai, ia hanya tinggal berganti pakaian.
“Ck! Alex! Bukankah aku sudah mengatakan padamu, jangan ganggu hidupku! Tentu saja aku akan menikah dengan Allen! Kami bahkan sudah berpacaran hampir tujuh tahun!! Tidak seperti kamu!!”
Alex membuat ucapan Cassandra barusan masuk kuping kanan dan keluar dari kuping kiri. Dengan kata kata Cassandra barusan, membuat Alex menarik satu kesimpulan, kalau gadis di depannya itu belum tau fakta tersembunyi dari Allen. Lucu memang, ia yang bukan siapa siapa justru tau masalah kesehatan Allen dari pada Cassandra yang sudah berkencan dengannya selama tujuh tahun.
Ternyata, meninggalkan orang yang kita cintai sesulit itu rupanya. Sampai Allen memutuskan untuk menyembunyikannya.
“Aku berharap, kamu tidak menjadi janda dalam waktu yang singkat.” Ucap Alex penuh penekanan pada kata janda.
Mata Cassandra langsung membulat karena marah,”Hei! Aku tidak akan pernah bercerai dengan Allen!”
Alex terkekeh. Bukan itu maksudku gadis bodoh! Dia mungkin saja bisa mati sebelum atau sesudah pernikahan kalian.
Alex ingin mengatakan isi hatinya yang terlintas barusan, tapi ia memilih diam dan bangkit.
“Well, Cassie. Aku harap, kamu. Ah sudahlah. Kamu takan mengerti.” Ucap Alex. Tanpa di sangka ia mengusap ujung kepala Cassandra mengusap rambut bronze yang tak pernah Alex sangka akan selembut itu. Cassandra bahkan tak bisa berkedip dengan tingkah polah Alex barusan.
“Ja- jangan panggil aku Cassie karena kita tidak dekat!!”
Alex menarik uluran tangannya dan menggenggam erat jari jarinya itu, tersenyum dengan kaku dan kemudian meringis.
“Aku akan membuatmu jengkel dengan memanggilmu Cassie, salam untuk Ayahmu Cassie...”
Alex melenggang ke arah ruanganya. Ia memutuskan untuk menunggu Isabella di ruangannya yang semula.
Alex mengumpat di dalam otaknya saat sel sel otaknya hanya bisa mengingat tubuh Cassandra yang sangat cantik di balutan gaun itu. ia sangat frustasi barusan, karena penolakan Cassandra yang terus menerus padanya.
“Aku mulai memikirkan gadis itu, hebat! Landak itu punya daya tarik tersendiri rupanya ...!!”
Dan pintu itu terbuka, menampilkan ssosok Isabllea yang tersenyum sangat tulus pada Alex tapi Alex abaikan.
“Maaf atas keterlambatanku Alex, kamu pasti sudah menunggu lebih dari setengah jam ....”
Senyuman manis Isabella itu tak di gubris Alex, laki laki itu bangkit dari sofa peach itu dan mendekati Isabella dengan langkah yang tak bisa di bilang tenang.
“Kita selesaikan siksaan ini Isabella, walaupun aku tau. Ini bukan siksaan untumu, hanya pihakku yang tersiksa dengan ini.”
Isabella merengut dengan respons Alex yang sangat dingin dan anti akan dirinya. Bagaimana bisa? Bukankan bertunangan, berarti ia memiliki sedikit hak, untuk bersama Alex?
“Ayo Alex!” Isabella memilih untuk tidak menghiraukan, ia memilih untuk menutup mata akan penolakan Alex padanya. Dengan genggaman yang sangat erat pada lengan kemeja Alex. Isabella menuju ruangan Hera yang sudah ia temui terlebih dahulu.
Genggaman erat itu makin membuat Alex yakin, kalau Isabella suka sekali menyiksanya.
Langkah pasangan itu tak bisa di tolak oleh Cassandra. Dengan pupil mata yang menajam, ia memperhatikan bagaimana tingkah Isabella pada Alex dan ekspresi ketidak senangan Alex juga tak luput dari perhatian Cassandra.
“Hallo Cassie....?” panggil Allen yang merasa kalau panggilannya tak mendapatkan respon dari Cassandra.
“Hallo Cassie....?” sapa Allen lagi dengan suara yang di keraskan.
“Ah! Hallo Allen, maaf aku baru saja melamun, aku sangat iri...” ucap Cassandra dengan jujur.
“Iri kenapa?”
__ADS_1
“Karena di depanku baru saja ada pasangan yang hendak memilih pakaian pengantin mereka.” Ucap Cassandra dengan jujur, ia memang sangat iri karena Alex bisa memilih pakaian pengantinya dengan calon istarinya.
Allen sedang menelfonya karena meminta maaf, tak bisa menemui Cassandra padahal mereka sudah membuat janji temu ini bersama sama. Dengan mengetukan jari jarinya pada sandaran kursi, Cassandra menunggu jawaban dari Allen.
“Maafkan aku Cassie, ini sangat mendadak. Aku janji, selanjutnya aku akan menemani setiap pemiihan pesta pernikahan kita.”
Ulasan senyum itu membuat Casandra selesai dari rajukannya. Ia kembali menjadi Cassandra yang ceria dan sangat manja pada Allen.
“Jangan ada alasan lagi Allen!”
“Baiklah Cassie ...”
“Allen, i love you, much.”
“Much more, Cassie. You wouldn’t love how my love to you.”
“Yes i am. Your love is something that i never expected.”
Dan panggilan itu di putus. Cassandra merasa kalau panggilan Allen barusan telah membuat moodnya membaik. Ia memasukan ponselnya ke dalam tas jinjing yang ia bawa setelah dari kantor.
Di perusahaan Ayahnya, Cassandra masih sibuk mengawasi kinerja perusahaan sampai ia tak bisa memikirkan waktu luang. Hari ini, ia benar benar melewatkan satu meeting untuk bisa fiting baju pengantin dengan Allen. Tapi berujung pada kesia siaan.
Di sisi lain, Allen membaringkan tubuhnya di atas dipan rumah sakit dengan kaki yang bergetar hebat. Hidungnya sudah memerah karena baru saja mimisan tidak henti hentinya saat berada di jalan menuju butik tempat Cassandra menunggunya.
click
Allen memutuskan untuk berbohong. Berpura pura sibuk dan tak menemui Cassandra. Padahal ia sedang ingin memperjuangkan tiap hembusan nafasnya.
“Apa tidak apa apa?” tanya dokter yang selalu menangani Allen sejak setengah tahun yang lalu itu.
“Tidak apa apa, kalau sudah waktunya. Aku akan mengatakanny langsung pada Cassandra.”
Allen membaringkan tubuhnya dengan tenang,”Semoga saja hari penjelasan itu masih ada. Atau Tuhan akan mengutus orang lain untu menyampaikan salamku pada Cassandra.”
Alex memantaskan diri dengan setelan jas hitam yang rupanya sudah di pesan Ayahnya jauh jauh hari, pantas saja Alex merasa kalau ia pernah mendengar Ayahnya bertelfonan dengna seseorang membahas ukuran jas untuknya.
Alex dan Isabella keluar dengan setelan jas dan gaun untuk after party. Senyum tersungging di bibir Isabella tanpa bisa di bendung. Dengan gandengan yang sangat erat di lengah Alex, mereka berjalan keluar dan menuju ke cermin yang di gunakan Cassadnra sebelumnya itu.
Berdiri di depannya bersamaan dan Hera yang mencoba merapikan dan mebetulkan hitungan yang salah karena sepertinya, tubuh Isabella juga mengecil seperti Cassandra. Menikah sepertinya adalah momok lain bagi kaum wanita tentang berat badan. Karena Cassandra dan Isabella sama sama diet ketat tak ingin terlihat gendut.
“Sebentar, apa kalian sudah memutuskan konsep pernikahanya? Kenapa aku merasa, sepertinya ini kurang cocok dengan konsep pernikahan kalian?” tanya Hera dengan kening yang berkerut sembari tangna yang sibuk membenarkan gaun Isabella.
“Ini pernikahan tertutup jadi apapun yang kamu buat, itulah yang akan ku kenakan Hera.”
Alex yang menjawab pertanyaan Hera itu, karena ia yakin, kalau Isabella yang menjawab pertanyaan barusan, itu akan berujung pada keruwetan.
“Entah kenapa Alex, hanya saja aku merasa gaun yang ini tidak cocok untuk peribadian Isabella.” Ujar Hera dengan jujur, karena ia membuat sepasang pakaian ini tanpa tau gambaran calon istri Alex sebelumnya.
“Tidak apa apa Hera, aku tidak akan menuntut ganti rugi darimu.” Jawaban Alex itu tentu di sambut dengan keberatan oleh Isabellla.
Tentu saja ia ingin terlihat sangat serasi dengan Alex hingga wanita dan teman temannya iri melihat mereka di altar. Tapi kecuekan Alex membuat Isabella sebal.
“Apa kau ingin aku membuat gaun dengan konsep yang sama dengan Cassandra, Alex?” tanya Hera tanpa maksud apapun. Ia menunjuk gaun yang di pesan Cassandra tiga bulan yang lalu itu dan sekarang sudah jadi.
Isabella juga melihat telunjuk Hera yang mengacung pada gaun dengan nuansa putih dan perak yang terlihat seperti belitan benang perak.
Mata Alex justru jatuh pada Cassandra yang duduk sembari menundukan kepalanya karena terlihat sangat sedih.
Dia kenapa? Kenapa dia sendirian? Mana Allen?
__ADS_1