
Setelah kegagalan mencoba baju pengantin bersama sama itu, Cassandra tak punya waktu luang lagi untuk bertemu dengan Allen. Ia sangat sibuk di perusahaan dan Allen juga sibuk akhir akhir ini. Padahal saat Cassandra menelfon laki laki itu di saat malam, ia sedang ingin berlama lama dalam mengobrol di sambungan telfon, tapi Allen mengatakan untuk memutus panggilan telfon lebih cepat dari dugaan Cassandra.
“Hallo!” sapa Cassandra tanpa melihat
siapa nama yang tertulis di layar ponselnya.
“Cassie, bagaimana kalau nanti malam kita pergi berbelanja. Aku yang akan membayar!!”
Suara dan ajakan belanja Alexa yang biasanya membuat Cassandra sangat bergairah dan menggebu gebu itu tak bisa membuat Cassandra bersemangat. Ia justru menarik nafas dengan lesu.
“Entahlah Alexa, aku sedang tidak mood untuk berbelanja...” jawab Cassandra dengan jujur.
Alexa di sebrang sana sangat tidak percaya dengan kata kata Cassandra barusan,”Tidak mungkin! Ayolah Cassie! Bantu aku menghilangkan stress dengan berbelanja! Kamu tidak tau hari hari berat yang sudah kulewati dengan bekerja dengan dua kakaku yang sinting itu!”
Cassandra sendiri sudah menceritakan kejadian tempo hari pada Alexa. Mereka bersahabat, jadi tak ada yang perlu di tutup tutupi.
“Jangan buat masalah kemarin mnjadi momok Cassie, itu memang wajar. Kalian sama sama punya kesibukan sekarang, apalagi aku! Aku super sibuk akhir akhir ini. Jadi jangan salahkan aku Cassie, kalau saat aku butuh hiburan dan kamu tidak mau. Maka aku akan melakukan hal yang sama padamu.”
Ucap Alexa dengan nada mengancam.
Itu membuat Cassandra terkekeh, bagaimanapun mereka bertiga. Alex, Alexa dan juga Danil punya kesamaan satu sama lain. Sama sama suka menggertak.
Cassandra terkekeh sejenak dan menjawab ancaman Alexa barusan,”Oke Alexa, nanti malam. Jemput aku, oke?”
“Baiklah! Akan aku buat kamu mabuk belanja Cassie!”
Dan panggilan di tutup dengan suara Alexa yang sangat riang itu. dan ternyata, beban hidup yagn sangat berat yang sedang Alexa tempa adalah Alex, Danil dan Isabella. Mereka bertiga seperti berkolaborasi untuk membuat satu formula agar Alexa menjadi gila.
“Alexa!! Cepat! Kita akan meeting sebentar lagi!!” teriak Alex dari balik pintu maha besarnya. Alexa sampai harus menggerutu. Bahkan teriakan Alex mampu menembus tebalnya pintu jati ini.
Alexa tak menjawab, sebagai gantinya ia hanya masuk ke ruangan. Tanda kalau ia akan mematuhi perintah Alex barusan.
“Sebenarnya apa yang di buat Danil sampai ia membuat masalah hah?”
Alexa memutar bola matanya, ia siap untuk menjelaskan kronologis kejadian beberapa hari yang lalu di mana Danil saling adu pukul dengan salah satu kliennya.
“Jadi begini Kakaku Alex yang sangat tampan...” Alexa sengaja memuji Alex, berusaha agar amarah laki laki itu menurun. Walau ternyata tidak, tensi darah Alex tetaplah tinggi.
“Cepat, jangan buang buang waktu!”
Alexa menghembuskan nafas dengan berat,”Yang adu bogeman dengan Danil adalah kaka kandung dari mantan pacar Danil yang di campakan Danil setelah tiga jam berpacaran.” Ucap Alexa dengan cepat dan berteriak.
Alex bahkan tak perlu di ulang lagi. Intinya, masalah pukul memukul waktu itu adalah murni dendam.
“Kenapa anak itu selalu membuat masalah,” gerutu Alex.
“Tentu saja Alex, mantan kekasih Danil itu. hah! Bagaimana aku menjelaskannya padamu....”
Alexa mengangkat tangannya dan bergaya seperti seorang guru yang hendak memberikan penjelasan pada siswanya yang tidak paham pelajaran.
“Pertama, Danil hanya memacarinya selama tiga jam! Ini pasti jadi masalah, tidak ada orang yang harga dirinya tidak runtuh setelah di pacari hanya tiga jam!”
“Kenapa itu jadi masalah, one night stand saja hanya terjadi semalam.” Dalih Alex.
__ADS_1
“Tentu saja masalah Kakaku sayang, One night stand saja lebih lama dari tiga jam. Lagi pula perempuan itu sudah mengejar ngejar Danil lebih dari dua tahun! “ Alexa menarik nafas dengan berat.
Tentu saja laki laki takan mengerti kalau perempuan menyukai laki laki lebih dari empat bulan. Berarti perempuan itu punya harapan sangat besar untuk bisa bersama laki laki yang ia impikan itu.
“Lagi pula, Danil memacarinya untuk di jadikan olok olok, selama tiga jam ia berpacaran dengan Danil, selama tiga jam itulah dia di olok olok dan akhirnya meminta putus karena sudah menangis dan sakit hati...”
Tanpa sadar, Alex menganggukan kepalanya tertanda kalau ia mengerti. Rupanya, Danil punya reputasi yang lebih buruk darinya.
“Jadi karena itu, Danil memang pantas untuk di pukul.” Ucap Alexa menamatkan ceritanya. Dan Alex mau tak mau harus setuju dengan pendapat Alexa itu.
“Oke, biarkan masalah ini di urus Danil sendiri kalau begitu.” Ucap Alex dengan angkat tangan. Dan akhirnya Alexa bisa bernafas lega.
“Jadi, hari ini aku bisa pulang lebih awal?” tanya Alexa memastikan.
“Untuk apa?” tanya Alex dengan nada menyelidiki.
“Untuk berbelanja kakaku sayang... dengan Cassandra....” Alexa memasang wajah memelas dan bukan karena wajah memelas itu yang berpengaruh pada Alex, tapi karena ia menyertakan nama Cassandra di dalamnya.
“Temanmu itu, aku bertemu dia saat di butik beberapa hari yang lalu ...”
Alexa mengangguk dengan paham, seolah dia langsung menangkap waktu dan tempat, sekaligus kejadian hari itu dengan jelas. Karena Cassandra menceritakan langsung padanya di tengah malam saat ia sedang ngantuk ngantuknya.
“Oh hari itu ...” ucap Alexa dengan gamang,”Hari itu Allen tiba tiba tidak bisa datang dan Cassandra hanya memakai dressnya.”
Alexa menimang akan mengatakan kelanjutkan certitanya atau tidak, tapi melihat wajah Alex yang sangat penasaran dan sangat tertarik dengan topik ini. Akhirnya Alexa memilih untuk melanjutkan.
“Mereka sudah memutuskan untuk menikah setahun yang lalu, tapi tertunda karena Cassandra belum siap. Tapi sekarang Cassie sudah lebih dewasa dari sebelumnya, jujur. Aku berharap agar pernikahan mereka segera di langsungkan....”
Mata Alexa memelototi Alex dengan heran, bukannya dia tadi melihat sorot mata tanda Alex menyetujui ia untuk melanjutkan ceritanya? Sekarang? Salahnya apa!!
“Alex, sebenarnya salahku itu apa?” tanya Alexa dengan merana dan frustasi.
“Keluar Alexa... sekarang!”
Dan dengan wajah bersungut sungut karena tak tau kesalahannya. Alexa tetap keluar dari ruangan Alex.
Sebenarnya dia kena bipolar atau bagaimana? Apa salahku Tuhan! Sampai punya saudara yang sangat suka marah marah!!
Mobil melaju makin lambat dan akhirnya berhenti tepat di basement sebuah mall yang sering Cassandra dan Alexa datangi.
“Cassie?” panggil Alexa dengan sangat tenang, sedari tadi jalan, wajah Cassandra di tekuk.
“Apa Alexa?”
“Ya sudah lah, lupakan.” Ucap Alexa sambil membuka pintu mobil dan keluar di iringi Cassandra yang juga berjalan dengan sangat lamban dan seperti tidak merasakan kalau Alexa sedang memelototinya dengan geram.
“Cassie!!” jerit Alexa dengan sangat manja pada sahabatnya itu,”Dasar tukang ngelamun!” ucap Alexa sambil mentoyor kepala Cassandra dengan sangat keras. Sampai Cassandra terpekik karena saking kerasnya.
“Aw!! Sakit Alexa!!” keluh Cassandra dengan mengusap jidatnya yang sepertinya merah karena toyoran tadi.
“Jangan melamun, cukup Kedua kakaku dan satu tunangannya yang membuatku gila.” Ucap Alexa dengan memohon penuh penekanan dan rasa nelangsa.
“Memangnya kenapa dengan dua kakakmu dan satu tunangannya itu?”
__ADS_1
Cassandra tak bisa menahan rasa ingin tahunya karena yang ia tau, sahabatnya ini sangatlah jarang. Mungkin ia butuh makan pakan lele yang anti stress. Karena Alexa memang tak pernah berpikir yang berat berat.
“Ya ampun! Cassandra...” jerit Alexa sambil berjalan meninggalkan basement menuju lantai satu.
“Asalkan kau tau saja, pertama Alex sekarang ini sangat hobi marah marah, kedua, Danil baru saja membuat masalah. Bayangkan saja! Dia adu jotos, jual beli bogeman mentah dengan klien potensial sampai perusahaan menjadi rugi bandar karenanya!” Alexa bercerita dengan nada yang berapi api membuat Cassandra yang mendengarnya menjadi geli sendiri di buatnya. Karena cara berceita Alexa yang terkesan melebih lebihkan.
“Satu lagi! Tunanganya! Namanya Isabella, menyebalkan sekali kalau sampai benar dia yang jadi istri Alex nanti!”
Keluhan terakhir Alexa ini yang berhasil membuat Cassandra menjadi makin tertarik, karena ia melihat gadis itu sekali, sekilas memang di saat mereka sama sama fitting dress pengantin. Yah! Memori ini membuat Cassandra menjadi mengingat sikap Allen yang tiba tiba berubah.
“Dia juga sama halnya dengan Danil, merusak meeting! Pernah sekali dia memaksa untuk menerobos ruang meeting! Padahal sudah di peringatkan kalau Alex sedang pergi makan siang! Dan akhir akhir ini, dia sering mengganggu pemandangan dengan datang ke kantor.”
Cassandra menepuk bahu sahabatnya itu dan mengusap lembut bahu Alexa agar lebih rileks,”Kamu ingat Alexa? Orang orang di negara santuy ini menyelesaikan masalah dengan kekerasaan, tidak dengan cara kekeluargaan. Jadi, yang di lakukan Danil, aku mengakui, kalau aku mendukungnya.” Cassandra menarik nafas dalam dan tenang. Ia menatap Alexa dengan cengiran yang puas.
“Kalau masalah tunangan kakakmu itu, aku percaya. Kalau dia adalah perempuan bar bar yang di kirim Tuhan. Khusus untuk menguji kesabaranmu, bukan Alex...” kekehan Cassandra itu mengundang kemarahan Alexa.
“Cassie.....!!!” jerit Alexa menahan marah sekaligus gemas. Mereka beruda akhirnya tertawa lepas dan sejenak, Cassandra melupakan masalahnya dengan Allen. Rupanya benar kata Alexa, berbelanja dapat menghilangkan stress... sedikit tapi tidak apa apa. Ini lebih baik.
Wajah Alexa menjadi sangat dingin sekarang ini, gelas wine yang ia tengguk beberapa kali tak bisa memberikan efek menangkan karena kesadarannya masih saja terjaga. Dengan jemari yang terulur dengan sangat panjang itu, Alex menyentuh sebuah foto yang sering ia mimpikan sosoknya.
“Kamu terlambat datang untuk pulang, jangan salahkan aku kalau aku sudah bersama orang lain saat kamu bertemu denganku...” kata kata Alex yang di ucapkan dengan nada merana itu mengakhiri sesi kesedihan Alexa hari ini. Dengan sekali tenggakan, sisa wine yang ada di gelasnya itu berhasil ia habiskan dan Alex rasa, wine akan membuat tidurnya lumayan nyenyak hari ini.
Bermimpi dan menenggelamkan diri dalam ilusi adalah yang Alex lakukan selama ini. Sampai titik usia dua puluh sembilan tahun, Alex bahkan masih membayangkan sosok yang sama. Sosok yang ia nanti selama ini dan tak kunjung datang.
“Percuma saja...” gumam Alex, kesadarannya sudah di ambil alih oleh alkohol.
“Yang kunanti selama ini, hanyalah kesia siaan....”
Dan kata terakhir itu, keluar. Tak lama, Alex benar benar tak sadarkan diri dengan tidur panjang yang melelahkan. Hari ini ia akan bermimpi yang sama, menemui perempuan itu lagi. Hari ini, malam ini, dan malam malam selanjutnya dan sebelumnya. Ia hanya memimpikan hal yang sama.... andai saja ada yang bisa berubah, misalkan orang yang ia mimpikan misalnya .... Alex berharap, mimpinya bisa di setting seperti itu. Alex sangat berharap.
“Aku sangat tak suka denganmu!”
“Aku juga tak suka denganmu, jadi kenapa kamu kemari!”
“ Tapi kamu yang memanggilku untuk datang..”
Alex melipat tanganya dan mengernyit karena bingung.
“Cassie, aku tidak mengundangmu untuk datang. Tidak mungkin!” Dalih Alex dengan jujur.
“Iya, kamu mengundangku untuk datang.” Ucap Cassandra dengan sangat percaya diri kalau ia datang karena kehendak Alex.
“Tidak mungkin, mana mungkin aku mengundang landak betina sepertimu.” Cibir Alex.
“Jangan katakan kata kata itu lagi Alex! Jadi kamu orang yang mengajak landak betina untuk berkembang biak!!
“Tidak! Tapi masalahnya kenapa kamu ada di sini!”
“Mana aku tau, ini kan mimpimu!!”
Dan Alex terbangun dengan keringat yang bercucuran. Ia mengusap rambutnya yang basah karena keringat itu. dengan gerakan yang terlihat sangat sensual dan seduktif, Alex seperti sedang mempertontonkan oto tubuhnya.
“Sial, kenapa aku malah memimpikan gadis itu!” umpat Alex dan langsung berlalu ke kamar mandi untuk mengembalikan kesadarannya.
__ADS_1