
Deru mobil sudah meninggalkan rumah Cassandra. Perempuan itu berbalik dan masuk ke dalam rumah. tapi pikirannya masih tertinggal di laci kerja Alex dengan foto perempuan di sana. Mendengus dengan kesal, Cassandra sangat sebal mendapati kalau ia cemburu.
Cemburu pada wanita yang tak ia ketahui identitasnya, dan sangat ingin ia ketahui identitasnya.
“Kamu kenapa?” tanya Damian yang melihat kalau wajah merengut puterinya sudah merusak pemandangan cantik wajah Cassandra. Cassandra masih saja merengut sebal walaupun Ayahnya sudah menegurnya. Dengan langkah yang sangat manja, Cassandra mendekati Ayahnya.
“Tidak apa apa, mungkin karena harinya semakin dekat....” bisik Cassandra pada Damian. Laki laki itu mengangguk dan mengusap ujung kepala Cassandra. Memberikan pelukan yang menangkan.
“Percayalah, kita bisa.” Bisik Damian dengan senyum.
Cassandra yang semula ingin menceritakan kekhawatirannya akan hubungannya dengan Alex akhirnya runtuh, dan memilih menutupinya dari Ayahnya.
“Ayo masuk....?” tawar Damian, dan Cassandra melangkah masuk bersama Ayahnya. Dengan masih memeluk erat tubuh tua ayahnya.
^^^^
^^^^
^^^^
Pagi hari dengan sambutan meeting yang sangat tidak penting bagi Cassandra. Dia sudah membayangkan akan rapat dengan Alex, tapi perusahaan Alex malah menyuruh Danil sebagai orang yang datang.
Mendengus dengan sebal, heran dan bosan. Rapat tertutup ini terasa semakin menyebalkan ketika Cassandra menyadari, ia sudah candu dengan laki laki menyebalkan bernama Alex itu.
“Kalau kamu bosan, setidaknya jangan tunjukan ekspresi bosanmu terang terangan di depanku.” Ucap Danil sambil terus menerus menggeser Ipadnya dan membuka file meeting.
Cassandra takan pernah salah tentang penilaiannya kalau Danil adalah makhluk menyebalkan.
__ADS_1
“Aku profesional.” Bela Cassandra. Ia bahkan tak mengomentari apapun saat yang membuka pintu adalah Danil. Walau raut kekecewaan Cassandra sudah terbaca oleh Danil sejak awal.
“Aku tau kamu profesional.” Balas Danil dengan nada meremehkan.
Tapi Cassandra memilih fokus dan meraih Ipadnya juga. Menghadap Danil dengan ekspresi siap untuk memulai perang. Dengan seringai tajam dan mata yang was was. Cassandra mengucapka kata katanya.
“Mari, ku tunjukan kecerdasan dan profesionalitasku.”
Dan ini seperti tantangan, Danil tak ambil pusing. Ia langsung membalas Cassandra.
“Mari, ku tunjukan bagaimana meeting ini akan berakhir.”
^^^^
Meeting selesai, dan Danil harus mengakui kalau Cassandra bukan wanita bodoh yang tak mengetahui tak tik ataupun kesempatan. Cassandra benar benar melihat semua peluang dalam menjalin kerja sama dan ********** habis. Membuat Danil sempat berpikir, menghitung hitung keuntungan yang sudah Cassandra prediksi.
Menata barang barangnya dan bersiap pergi. Danil masih sempat melirik ke arah Cassandra.
“Cari pacar sendiri sana! Jangan menggangguku.”
Sentakan suara Casandra yang mengusir itu tak di sadarinya, telah merubah ekspresi Danil tapi Cassandra tak melihatnya. Perubahan yang sangat.... mengherankan.
Menatap ponsel dengan tatapan yang kosong. Tak ada kabar sedikitpun dari Alex. Cassandra merasa kecewa. Padahal, ia ingin mengajak Alex untuk pergi besok. Menemui seseorang yang sangat berharga untuknya. Mengenalkan Alex ke orang itu, kalau Alex juga sekarang menjadi orang yang berharga untuknya.
Tapi sepertinya, Cassandra harus pergi sendirian sekarang. Menyebalkan. Tapi ide bodoh membuat Cassandra tak berhenti berharap. Ia memencet nomor Alexa dan menelfon sahabat sekaligus adik Alex itu.
Suara nada dering, Alexa belum juga mengangkat panggilannya. Tapi Cassandra bersabar. Ia tak ingin kehilangan kesempatan.
“Hallo Cassie?” sapaan Alexa terdengar seperti gulali, sangat maniss.... di telinga Cassandra. Perempuan itu tersenyum dan hendak bertanya pada Alexa.
“Aku mau tau, sebenarnya... Alex kemana?” tanya Cassandra dengan sangat tenang. Alexa di sebrang sana sedang berpikir. Kemana Alex menghilang selama beberapa hari ini, kemudian Alexa teringat kalau atasannya itu tak mengatakan kemana ia akan pergi.
__ADS_1
“Aku tidak tau, kemana Alex perginya.” Jawab Alexa dengan cepat.
“Jangan membohongiku.” Ancam Cassandra yang tak percaya.
Alexa malah sebal sekarang. Sebenarnya, Cassandra dan Alex sama saja. Sama sama posesif tapi tak mau mengakuinya di depan masing masing.
“Aku jujur, oke Cassie. Dengarkan, aku tidak mengetahui kemana perginya Alex. Dia tidak memebreitahuku sama sekali....”
Cassandra merengut. Bahkan selama beberapa hari ini, Alex sangat susah di hubungi. Bukan karena apa. Tapi perbedaan jam, entah di mana sebenarnya Alex ini. Saat Cassandra menelfon laki laki itu, dia akal mendengus sebal dan bilang kalau ia baru tertidur beberapa jam yang lalu.
Dan saat Alex yang menelfon Cassandra, Cassandra bahkan baru hendak tidur.
“Alex pergi ke mars atau pluto.” Ketus Cassandra.
Orang di sebrang sana yang sedang mendengarkan ocehan Cassandra itu nampak sebal.
“Oke, kalau kamu rindu dengan Alex. Jangan merengut ke padaku. Temui saja Alex.”
Cassandra merengut lagi, ia yakin kalau Alexa melihat perengutan wajahnya, Cassandra sudah di gilas habis oleh sahabatnya itu.
“Memangnya aku tau di mana, kamu juga tidak tau di mana Alex kan....” ucap Cassandra dengan putus asa.
“Aku memang tak tau di mana Alex, tapi aku tau kalau Alex akan pulang hari ini. Dah! Sana jemput pacarmu! Atau apalah!”
Alexa menutup panggilannya dengan sebal. Karena yang benar saja! Dua orang itu selalu mengganggunya, baik Alex maupun Cassandra. Bahkan Alexa sempat mengasihani dirinya sendiri. Karena ia jadi tak punya waktu untuk berkencan.... mengenaskan.
Panggilan Alexa di tutup, tapi Cassandra malah berkaca kaca. Akhirnya...!! Alex pulang!! Cassandra sempat berpikir kenapa Alex tidak memberitahunya tentang jadwal kepulangannya. Terbesit kemungkinan kalau Alex akan memberikannya kejutan.
Cassandra meraih tasnya dan tersenyum penuh kemenangan,”Kalau begitu, biar aku dulu yang mengejutkannya....”
__ADS_1