Sexy Partner

Sexy Partner
15. Return home.


__ADS_3

               


               Cassandra membisu sepanjang jalan. Toh Danil juga diam sejak tadi. Apa aku harus mengobrol tentang Paris Fashion Week dengan dia. Huh! Tak ada yang perlu di obrolkan. Cassandra yang berkali kali ingin mengajak Danil berbicara. Akhirnya tertahan oleh egonya. Malas, menghadapi laki laki seperti dia. Itu bisikan ego Cassandra.


               “ Aku minta maaf, “ celetuk Danil tanpa angin tanpa ojek payung.


               “ Hah ?! “ Cassandra malah kaget sendiri. Yang harusnya merasa bersalah harusnya dia, karena dia yang menumpang dan membuat Danil kesal. Sekarang, sudah jaman dunia terbalik mungkin.


               “ Apa ?! “ tanya Danil dengan setengah membentak. Ia bingung kenapa perempuan yang mengaku bernama Alana itu tiba tiba berteriak kebingungan.


               “ Kamu barusan yang mengajakku mengobrol dulu dan memi- “ ucapan Cassandra terpotong. Ia menyadari kalau Danil sedang menggunakan earpeace di telinga kirinya sejak tadi. Ia pasti sedang berbicara dengan orang di sebrang sana.


               “ Iya apa! Kamu mengganggu orang saja. “ Danil mendengus sebal. Orang di sebrang sana dan orang yang di sebelahnya. Sama sama menyebalkan. Hanya mengomelinya.


               “ Sudahlah! Lupakan …” ucap Cassandra sembari memalingkan wajah ke luar jendela. ******! Aku yang keliru. Mau di taruh di mana mukaku ini! Di buang saja tidak cukup! Mana mungkin laki laki dungu ini mau meminta maaf secara tiba tiba. Dia pasti tipikal yang memaksaku meminta maaf.


               Dasar! Benar benar wanita gila! Batin Danil. Kini ia kembali dengan panggilan yang sedang ia dengarkan. Sama sama wanita. Tapi yang ini cerewetnya bukan main. Membuat telinga bisa tuli dalam sekejap. Hup! Sekarangpun Danil menjadi tuli.


               *** Danil! Ini semua gara gara kamu. Gara gara kamu sering bertengkar dengan Alex, gara gara kamu sering menyulut emosinya. Juga gara gara kamu telat ke meeting pagi tadi! Semu gara gara kamu ***


               Semua teriakan marah adiknya yang sejak tadi di dengarnya. Satu maaf tak cukup untuk Alexa yang sedang kesal. Harus beribu ribu maaf, di sertai Danil sujud meminta ampun. Karena sejak tadi Alexa tetap memarahinya. Membicarakan Alex yang tiba tiba marah marah pada buissnes partner mereka. Melempar map ke lantai, mengomeli kinerja sopir ( kalau di pikir pikir tidak penting ) dan sekarang, meminta Alexa. Yang berpangkat sekretaris, membeli puluhan kopi!


               *** Gara gara kamu aku harus mengantri dengan berdiri hampir setengah jam menggunakan heels!! *** Alexa menjerit di sana. Ia sangat marah juga tak bisa apa apa di saat yang bersamaan. Ia menelfon Danil hanya untuk melampiaskan amarahnya. Kalau di lampiaskan kepada Alex secara langsung. Ini sama saja mustahil. Ia yang akan di semprot balik.


               *** Hei! Danil! Apa kamu tidak mendengarkanku …? *** Alexa mulai merasa kalau Danil sengaja mengangkat panggilannya untuk di biarkan dan tidak di dengar.


               *** Dasar! Kalian berdua sama saja! Menyebalkan. Bertengkar saja sana sampai kalian berdua menjadi arwah!!! *** Alexa mematikan telfon itu dengan masih mengumpat. Danil malah tersenyum lega.

__ADS_1


               “ Akhirnya, aku tidak jadi tuli … “ ucap Danil seraya menarik nafas lega. Ia melepaskan ear peace yang ssedang ia pakai. Melemparnya dengan asal. Kemudian menatap Cassandra yang memalingkan wajahnya entah dari kapan.


               “ Eish! Sial sekali aku hari ini, “ celetuk Danil tanpa di gubris oleh Cassandra. Cassandra diam saja, ia takut kalau Danil sedang berbicara dengan orang lain lagi. Malu. Bukan main lagi. Kalau laki laki dungu itu tau, ia akan di tertawakan sampai mulut Danil robek mungkin.


               “ Hei! Perempuan gila, apa kamu tidak dengar ….? “ Danil sejak tadi memanggil Cassandra dan di abaikan. Wah wah wah. Menyesakan dada sekali wanita itu, ingin ku cubit paru parunya. Danil mulai berniat jahat.


               “ Al-a-na !!! “ teriakan Danil itu membuat Cassandra kaget dan terlonjak. Ia sedang memperhatikan jalanan sampai tak mendengar panggilan itu hingga Danil meneriakan nama samarannya.


               “ Aku tidak tuli! “ pekik Cassandra dengan jantung berdebar karena kaget.


               “ Kamu tuli, dan itu benar. Aku sudah memanggilmu tiga kali dan kau tidak mendengar apalagi menjawab. “


               Danil mempercepat laju mobilnya, karena tujuan mereka sudah hampir dekat. Danil malah heran kenapa Cassandra memperhatikan kedua telinganya.


               “ Apa yang kamu lihat! “ Danil mulai merasa risih.


               “ Bukan urusanmu. “ ketus Cassandra.


               “ Kamu gila?! “ pekik Cassandra dengan kaget.


               “ Tidak, kamu sendiri yang gila, “ Danil malah dengan santainya membuka jendela dan menunjuk ke luar sana, “ Lihat, tujuanmu sudah di depan mata. Sekarang keluar dari mobilku. “ perintah Danil tanpa perasaan.


               “ Tapi aku harus berjalan kaki untuk sampai rumah. “ Cassandra geram. Mana mungkin ia jalan kaki seperti ini.


               “ Tidak bisa, kamu harus turun. “ Danil tak kalah tegas.


               “ Aku tidak akan turun sebelum kamu menurunkanku di depan rumahku. “ Cassandra kekeh dan mematung. Ia tak mau turun. Kakinya sangat sakit karena bergesekan saat memanjat tembok. Mungkin sekarang terasa lebih sakit karena ia baru menyadari, kalau jari kakinya lecet lecet.

__ADS_1


               “ Lagi pula, kamu berjanji mengantarku sampai rumah, bukan di sini. Mana yang kamu bilang sebagai laki laki yang bertanggung jawab. “ Cassandra memonyongkan bibir. Menyindir Danil yang membanggakan dirinya sebagai laki laki bertanggung jawab.


               Danil mendengus kesal, tapi juga tidak bisa memaksa Cassandra untuk keluar dengan paksa, “ Baik, mana rumahmu. Tunjukan sekarang … “ Danil mengalah. Sabar. Danil, aku harus bersabar.


               “ Lurus lagi sekitar empat puluh meter dan rumahku akan terlihat dari pertigaan sana. “ Cassandra menunjuk ke arah jalan yang bercabang tiga yang terlihat dari tempat mobil itu terhenti.


               “ Lalu rumahmu yang mana …? “


               “ Nanti akan ku tunjukan. “ celetuk Cassandra. Ia benar benar ingin pulang dan menemui ayahnya.


               “ Oke. “ Danil segera melajukan mobilnya lagi, kini mengikuti arahan Cassandra. Garden ressidence benar benar kawasan perumahan yang mewah. Dan rumah Cassandra adalah yang paling mewah di sana. Hampir, kalau saja ia tak tau ayahanya sedang menuju bangkrut.


               Mobil itu berbelok ke kiri sesuai arahan Cassandra, Danil melajukan semakin cepat saat Cassandra bilang rumahnya sudah terlihat. Dan memang benar, bangunan paling tinggi itu terlihat puncaknya dari kejauhan. Danil sekarang sadar, Cassandra tidak berbohong.


               “ Berhenti, “ perintah Cassandra dengan tenang saat mobilnya sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Ada penjaga yang siaga dan langsung membukakan gerbang saat melihat wajah Cassandra yang terongok di jendela.


               “ Kamu harus masuk, aku akan membayarmu. “ Cassandra melepaskan sabuk pengaman itu dan membukakan pintu.


               “ Tidak perlu, aku tidak membutuhkannya. “ Danil menolak. Cassandra benar benar kaya. Mungkin sebanding dengannya, si penjaga gerbang itu langsung menunduk hormat pada Cassandra yang keluar dari mobil.


               “ Aku sudah merepotkan, aku harus membayar semua ini. “ Cassandra menunjuk ke arah karpet mobil yang kotor.


               “ Tidak perlu, aku pergi dulu .” ujar Danil dengan sikap acuh, “ Aku sibuk. “ celetuknya lagi. Cassandra yang mendengar itu malah langsung tersulut amarah.


               “ Yasudah, terima kasih sudah mau mengantarku pulang. “ Cassandra membanting pintu dan masuk ke pelataran halaman yang luas itu. Ada hal yang sangat Danil bingungkan. Cassandra tidak memakai sandal, sepatu ataupun lainnya. Perempuan itu bertela*njang kaki. Dan cara berjalannya seperti sedang merasa kesakitan.


^^^

__ADS_1


 


    


__ADS_2