Sexy Partner

Sexy Partner
46. Know well.


__ADS_3

               Cassandra di bawa ke sebuah restoran dengan piyama yang masih ia kenakan. Alex tidak menghizinkannya berganti pakaian. Alhasil, mereka masih menjadi sorotan orang orang karena terlihat sangat konyol. Pasangan aneh jaman sekarang.


               Alex yang masih menggunakan jas dan setelan kemaja dan Cassandra yang sangat sangat santai dengan piyama yang sudah lucek karena sudah tidur sebelumnya. Dengan raut wajah sebal, Cassandra terus memandangi Alex yang malah terlihat sibuk memilih berbagai makanan yang tak perlu bertanya apa yang Cassandra inginkan, Alex yang menentukannya.


               “Kita ke sini untuk berbicara, bukan untuk perjamuan makan malam satu kelurga.” Sindir Cassandra saat makanan tak henti hentinya datang ke meja dan akhirnya memenuhi meja mereka dengan makanan. Dan Alex terkekeh, sejak kapan laki laki bermata hijau zamrud itu jadi suka sekali genre humor?? Cassandra sampai bingung sendiri.


               “Alexa bilang, kalau kamu sedang marah marah, kamu sangat suka makan banyak banyak...” kekeh Alex dan ia akhirnya menerima sebuah es krim super jumbo yang di taruh di sebelah Cassandra, dan gadis itu pasti kaget melihat es krim vanilla favoritnya dengan ukuran yang sangat gila.


               “Dan juga, suka dengan es krim...” tukas Alex mengakhiri literasinya mengenai apa yang ia ketahui tentang Cassandra.


               “Aku tidak mudah di sogok.” Ucap Cassandra dengan sangat ketus. Dan Alex hanya mengangguk.


               “Aku sedang tidak menyogok, aku sedang memanfaatkan kesempatan ini, selagi kamu makan dan aku menjelaskan? Ini namanya win win solution...”


               “Ini namanya tetap menyogok, kamu memesan banyak makanan karena yang akan kamu jelaskan akan sangat panjang kan Alex...?”


               Alex mengangkat bahunya sambil tertawa pasrah, sangat sulit untuk berbicara dengan seorang wanita super cerdas seperti Cassandra.


               “Baiklah, anggaplah ini bentuk suapan. Agar kamu mau mendengarkan penjelasanku hari itu...”


               “Hari yang mana? Semua hari sama saja, kamu menggangguku.” Ucap Cassandra dengan marah. Dan ia tak bisa menghentikan gerakan tangan laknatnya yang mulai menyendoki es krim itu. sialan!! Cassandra mengumpati dirinya yang tak bisa menahan godaan es krim dingin itu.


               Alex tertawa terkekeh, ia mulai memotong kecil kecil steik yang ada di piringnya dan mulai memindahkannya ke piring Cassndra. Lagi lagi perlakuan Alex ini membuat Cassandra terpukau.


               “Alexa bilang, kamu sangat tidak suka makan steik karena harus memotongnya dulu. Jadi aku potongkan mulai dari sekarang, kamu sudah bisa suka makan steik, karena aku suka steik...”


               Cassandra meneguk es krimnya dengan sangat alot. Banyak sekali informasi yang di bocorka Alexa pada Alex mentang mentang mereka saudara kandung!! Lain kali kalau Cassandra punya waktu, ia berjanji akan memukuli Alexa.


               “Aku takan bisa melakukan ini, karena kalau aku bertanya langsung, kamu takan menjawabnya...”


               Suara bariton itu menusuk gendang telinga Cassandra. Sepertinya, di sini, ia yang menjadi pemeran terjahatnya. Wah wah wah! Bukannya harusnya terbalik?


               “Cassandra, apa kamu belum bisa mencintaiku karena masih memikirkan Allen....?”


               Sesaat, yang Cassandra lihat hanya kesenduan di mata Alex dan laki laki itu memutuskan untuk berpaling ke piring steiknya sendiri. Memakannya dengan lahap. Wah! Saat Alex mengatakan kalau dia menyukai steik, ini pastilah bukan kebohongan.


               Cassandra terdiam, sejujurnya, ia sudah merelakan kepergian Allen. Mungkin kata kata Allen benar. Orang yang ia cintai saat itu, yaitu Allen. Bukanlah jodohnya. Tapi mungkin orang yang tak ia cintai sama sekali saat itu, bisa jadi orang yang sangat ia cintai sekarang.


               “Aku bertemu dengan perempuan itu seminggu yang lalu, namanya Alleta. Perempuan yang menjadi perusak hubunganku dengan Danil...”


               Cassandra menghentikan aktifivitasnya. Ia tak lagi menyendok es krim vanilla itu lagi. Ia sibuk mendengarkan penjelasan Alex. Jadi terungkap sudah. Perempuan yang itu, bukanlah perempuan yang Alex kejar kejar. Tapi kenapa butuh waktu seminggu hanya untuk meluruskan kesalah pahaman ini??              


               “Dulu, Alleta sempat hamil, dan bukan anak Danil...” sambung Alex lagi. Alex menatap Cassandra meminta untuk di dukung secara tidak langsung, dan Alex melanjutkan ceritanya.


               “Dan aku takut, Danil akan marah pada Alleta, karena Danil sangat mencintai gadis itu, jadi aku bilang, kalau anak itu anakku. Aku takut, Danil menyuruh Alleta untuk menggugurkan anak tak bersalah itu.”


               Dan rasa sakit di dada Cassandar menyeruak begitu saja,”Dan akhirnya, hubungan kalian menjadi tidak akur lagi? Kalian bertiga, kamu, Danil dan Alexa...?”


               Dan jawaban Alex hanyalah anggukan singkat yang membuat Cassandra semakin merasa kasihan melihatnya.


               “Dan saat itu, aku pergi. Beberapa tahun yang lalu, aku baru sadar, kalau Alleta berbohong. Ia berbohong karena hubungannya tak di restui Ayahku. Maka itu, aku tidak percaya pernikahan Cassandra. Ternyata Ayahku memang takan pernah mengizinkan anaknya menikah kalau bukan atas pilihanya. Dan Danil, belum mengetahui kalau dia punya anak. Karena Alleta menghilang begitu saja. Sampai aku bertemu dengan dia lagi, seminggu yang lalu...”


               Alex berhenti dari ceritanya. Ia meminum wine untuk mencoba menenangkan dirinya. Rasanya, di musuhi Danil bertahun tahun tidaklah cukup. Rasanya, hubungan keluarganya sangatlah rumit.


               “Aku tidak akan memaksa, tapi bisakah aku bilang sesutu Cassandra...?”


               Mata mereka saling bertaut, dan Cassandra yakin dengan ini. Pasti yang akan Alex katakan padanya adalah sebuah pernyataan, cinta.


               “Apa kamu belum bisa mencintaiku..?”

__ADS_1


               “Aku belum yakin.” Jawab Cassandra dengan cepat seperti prediksinya sebelumnya. Nampak wajah Alex yang sangat kecewa.


               “Ya aku rasa ini terlalu, cepat.” Alex menaruh sedikit roti di piring Cassandra karena steik di sana sudah habis,”Aku takan memaksamu. Mungkin posisi Allen, masih sangat tinggi di hatimu. Butuh waktu lama untuku mendaki bukit hatimu itu.”


                Bukan! Bukan seperti itu! karena aku tidak yakin dengan perasaanku saja, tapi bagaimana cara meyakinkannya??!!


               Mata Alex sebenarnya sudah menangkap kehadiran wanita itu sejak lama. Bahkan, Alex sadar, ia tak bisa berlama lama berduaan dengan Cassandra saat perempuan itu mengawasi mereka berdua. Dan rasanya, Alex merasa kalau Cassandra harus segera pulang.


               “Ayo pulang Cassie.” Ajak Alex sambil meraih tangan Cassandra. Wajah Cassandra terlihat sangat bingung. Karena ajakan yang tiba tiba itu.


               “Tapi...” tak bisa di selesaikan. Kalimat penolakan Cassandra berakhir dengan Alex yang merengkuhnya secara tiba tiba dan Cassandra merasakan kalau ada aliran yang membasahi tubuhnya dan tubuh Alex.


               “Alex!!” jerit Cassandra dengan sangat keras saat merasa kalau cairan itu adalah darah segar.


               Di belakangnya berdirilah Isabella dengan wajah yagn seputih kertas, ia tak menyangka kalau yang akan ia tusuk adalah Alex sendiri. Padahal, Isabella menargetkan Cassandra sebagai mangsanya. Dengan tangan yang bergetar hebat, Isabella menjatuhkan pisai yang ia gunakan untuk menusuk Alex.


               “Alex!! Sadar!!” jerit Cassandra sambil menepuk wajah Alex yang semakin pucat. Orang orang di restoran mulai mengerubungi mereka dan Isabella tak bisa tertangkap, ia kabur secepatnya begitu mengetahui kalau yang ia tusuk adalah Alex, bukan Cassandra.


^^^


               Suara sirine ambulan benar benar nyaring di jalanan, sepanjang jalan, Cassandra hanya mampu menggenggam tangan Alex yang lemas, tapi tak kunjung sadar. Perjalanan menuju rumah sakit terasa beribu ribu kali lebih panjang.


               Helaan nafas dan isakan tangis Cassandra berbaur dengan suara sirine yang kian meredup. Mereka akhirnya sampai. Dengan cepat dan lugas, kegesitan para petugas medis itu langsung beraksi memindahkan Alex dari ambulan ke ruangan operasi yang sudah di siapkan.


               Kaki Cassandra tergopoh gopoh untuk mengikuti kemana tubuh Alex di bawa.


               “Jangan sampai kamu kenapa napa...” bisik Cassandra dengan sangat putus asa. Tubuh Alex sudah masuk ke dala ruangan operasi. Pintunya sudah tertutup rapat dan tak bisa di di masuki siapapun. Cassandra duduk dan menyandarkan bahunya ke dinding. Ia merasa sangat bersalah karena Alex telah melindunginya.


               “Cassie, bagaimana Alex...?” sapaan Alexa dengan wajah yang tak kalah khawatir itu membuat Cassandra menghamburkan pelukan ke arah gadis itu. dengan tangisan yang sangat pilu, Cassandra memeluk erat sahabatnya itu.


               “Dia tertusuk....” isak Cassandra dengan sangat tersiksa. Alexa hanya mengangguk.


               “Bagaimana kalau Alex kenapa napa?” tanya Cassandra dengan sangat panik dan masih berlinang air mata.


               “Tidak akan ada apa apa, percayalah. Alex bisa....” ucap Alexa lagi dengan penuh ketegaran. Padahal, ia juga sangat khawatir kalau akan terjadi sesuatu pada Alex.


               Tiga puluh menit, dan masih belum ada kabar yang di dengar. Cassandra makin panik, takut dan semuanya bercampur jadi satu. Ia bahkan sangat gugup sampai meremas pakaiannya. Membuatnya semakin kusut. Mata Cassandra bengkak, tapi tak menghentikan ia untuk tetap menangis.


               Pintu terbuka dengan sangat cepat dengan di iringi dua orang yang keluar dengan sangat terburu buru.


               “Pasien kehilangan banyak darah, stok darah sudah habis. Ada yang memiliki golongan darah yang sama...?” tanya seorang petugas medis yang masih memakai masker. Wajah Cassandra bersitatap dengan Alexa. Tapi gadis itu hanya bungkam dan tak bersuara. Dengan putus asa, Alexa akhirnya buka suara. Cassandra hendak menawarkan diri sebelum ia tau, kalau darahnya takan berguna.


               “Golongan darahku tidak sama dengan Alex... yang punya golongan darah yang sama dengan Alex, hanyalah....”


               “Aku, biar aku yang mendonorkan darah untuknya.” Suara Danil itu membuat wajah Alexa menjadi sedikit cerah. Di keluarga mereka, golongan darah laki laki sama semua. Baik ayahnya, Alex dan juga Danil.


               Dengan langkah yang sangat tergesa gesa, Danil mengikuti petugas medis untuk langsung masuk ke dalam ruang operasi, tak ada banyak waktu. Dan pintu itu kembali di tutup. Cassandra dan Alexa kembali di siksa dengan harus menunggu kabar dari dalam sana. Dan mereka bisa sedikit lega karena Danil datang di waktu yang tepat.


               Satu jam kemudian, Danil sudah pergi dari setengah jam yang lalu, tapi tubuhnya sangat pucat, dokter bilang kalau mereka mengambil hampir tiga kantong darah yang berarti hampir sebagian besar darah di tubuh laki laki itu. nyatanya, Danil bahkan keluar dan hampir terjungkang karena tak bisa berjalan dengan lurus.


               Tanpa bisa berkata kata, baik Cassandra ataupun Alexa. Mereka berdua diam saat tubuh Alex di bawa keluar setelah operasi selesai. Dengan kantong darah yang masih menancap di tangan kananya, dan mata yang masih tertutup. Alex di bawa ke ruangan yang lebih tenang.


^^^


               “Masa kritisnya sudah selesai, kantong empedunya pecah dan kalau sampai terlambat sedikit saja, racun di dalam empedu itu sudah mengalir di darahnya dan meracuni tubuhnya sekaligus. Tapi untunglah, bisa di netralkan dengan cepat selama operasi. Sekarang, hanya tinggal menunggu pasien sadar.”


               Itu kata kata yang membuat Cassandra lega. Tapi nyatanya, hampir tiga hari, Alex belum sadarkan diri juga. Bahkan masih setia terlelap. Dengan mata yang tertutup dan bibir yang mengatup. Cassandra memegang erat tangan Alex dengan menangkupkan kedua tangannya di sana.


               “Sadar, tolonglah ...” pinta Cassandra dengan sangat lirih. Ia tak bisa menahan isakan tangisnya.

__ADS_1


               “Jangan tidur seperti ini terus...” pinta Cassandra lagi, ia kembali mengusap air matanya yang menetes secara perlahan. Tapi sangat memuakan karena Alex tak kunjung membalas obrolannya.


               “Ada yang ingin aku katakan padamu, kamu itu sangat menyebalkan! Saat aku sedang tak ingin berbicara denganmu, kamu selalu berbicara dan mengganggu. Saat aku sedang ingin berbicara, kamu malah membisu...”


               Cassandra mengusap usap rambut Alex itu. ia merasa, kalau ada hal yang harus ia katakan sekarang juga. Pernyataan yang tak pernah ia kira akan berlangsung di momen seperti ini.


               “Alex, aku sudah mengikhlaskan Allen...” bisik Cassandra. Ia menatap mata Alex yang terpejam. Mata sehijau zamrud itu membuat Cassandra rindu.


               “Kapan kamu membuka mata....?” ujar Cassandra sambil mengusap rahang Alex yang sangat tajam. Ia mengusap hidung menjulang Alex yang bernafas sangat pelan dan lembut. Membuat Cassandra semakin ragu, kalau Alex sadar dan mendengarkan pernyataanya ini.


               “Aku sudah menyukai laki laki lain, laki laki super menyebalkan dan selalu membawaku ke perdebatan menyebalkan.” Celoteh Cassandra dengan seringai senyuman yang sangat tipis.


               “Matanya hijau, sehijau batu zamrud. Sangat apik dengan bingkaian alisnya yang tegas...”


               Cassandra mengusap mata Alex dengan sangat lembut,”Aku pertama kali bertemu denganya dengan settingan waktu dan tempat yang konyol. Dia datang dang langsung berbicara melantur, aku bahkan masih ingat apa yang ia katakan padaku pertama kali. Dia bilang, dia sudah membeliku.” Dan Cassandra terhenti di sana dengan kekehan dan juga tangisa.


               “Yang aku sukai sekarang ini itu...” isak Cassandra tak bisa melanjutkan kata katanya.


               “Sekarang kamu sudah mencintaiku...?”


               Suara itu membuat mata Cassandra membulat tak percaya. Ia melihat mata hijau itu sudah terbuka dan sedang menatanya dengan sangat intens. Dengan cepat, Cassandra menghapus air matanya.


               “Kata siapa aku menyukaimu! Jangan mimpi!!” kelak Cassandra dengan sangat cepat.


               “Aku mengetahuinya karena aku mendengarnya secara langsung.” Protes Alex karena Cassandra takan mengakui perasaanya lagi saat ia tersadar seperti sekarang.


               “Tidak, aku tidak bilang apa apa barusan.” Kilah Cassandra lagi dengan masih kekeh untuk menutupi rasa malunya, karena menyatakan cinta pada Alex, seperti laki laki itu hendak mati saja.


               “Tidak, aku mendengar semuanya....” kilah Alex tak mau kalah.


               “Kamu mengatakan kalau aku itu sangat apik dengan mata hijauku, dan juga di bingkai dengan alis yang tegas....”


               “Hentikan Alex!! Kenapa kamu selalu membuatku ingin berdebat denganmu...”


               “Dan satu lagi Cassie, kamu bilang laki laki yang kamu sukai selalu membuatmu ingin berdebat. Seperti sekarang ini...?”


               Cassandra terdiam dan tak bisa berkata kata. Percuma juga ia terus mengelak. Ternyata Alex mendengar semuanya. Semuanya.


               “Jadi ....?” tanya Alex dengan sangat pelan. Ia menaikan alisnya yang menjadi bingkai mata hijaunya.


               “Kamu melupakan sesuatu, sekarang kamu berhutang nyawa padaku Cassie....”


               Alex membuka baju rumah sakitnya dan menunjukan luka yang menjadi pusat rasa neyirnya itu. menunjuk bekas jahitan yang masih di tutupi kain kasa.


               “Kamu tidak akan bisa melihat laki laki tampan dan seksi dengan luka ini di seluruh belahan dunia manapun.”


               Cassandra terkekeh dengan humor Alex yang sangat aneh di telinganya itu.


               “Im Your parntner now Cassandra Leonidas...” ucap Alex dengan sangat lirih dan penuh makna.


               “Do You love me...?” tanya Alex lagi.


               Cassandra mengangguk dengan sangat cepat, dan Alex bisa tersenyum lega melihat jawaban itu.


               “I love you, and you’re my sexy partner!”


               


               

__ADS_1


__ADS_2