Sexy Partner

Sexy Partner
43. We starting again.


__ADS_3

               Cassandra datang dengan sekotak P3K yang sangat lengkap. Entah mengapa ia merasa kalau ia harus bersimpati pada dua orang yang baru bertengkar itu. dengan langkah yang sedikit ragu, Cassandra masuk ke dalam kamar Alex. Dia memang pernah masuk kamar Alex, tapi bukan kamar yang ini.


               Dengan sangat hati hati, ia mengetuk pintu terlebih dahulu tapi tidak mendapatkan respon. Cassandra kira itu karena Alex masih kesakitan karena babak belur adu pukul. Jadi dia masuk dengan tenang dan menajamkan mata. Karena nuansa kamar yang sangat gelap, Cassandra sampai tak bisa melihat apapun di belakangnya. Ia justru menabrak sesuatu. Itu sudah pasti tubuh kekar Alex siapa lagi.


               “Aw!” gerutu Cassandra karena membentur dada Alex yang sangat keras. Entah otot apa yang tumbuh di dada itu. dadanya sekeras beton.


               “Kenapa kamu menyelinap masuk Cassandra.” Gumam Alex dengan nada dingin dan penuh tanda tanya.


               “Sebelum kamu mengancamku di kegelapan, bisakah kamu menyalakan lampunya terlebih dahulu Alex? Ini menyeramkan, maksudku suaramu di kegelapan....”


               Dan nyatanya permintaan Cassandra di dengar oleh Alex, laki laki itu beringsut. Walaupun tak tinggal di kamar ini lagi untuk waktu yang lama. Kebiasaan tetaplah kebiasaan. Ia tau betul setiap jengkal di sudut ruangan yang ia namai kamar itu.


               Dalam hitungan detik, indera penglihatan Cassandra sudah bisa melihat cahaya. Wah, sangat melegakan tentunya.


               “Kenapa kamu masuk ke kamar ini? Kenapa??” cecar Alex tanpa melihat sudur bibirnya dahulu sebelum berbicara.


               “Seharusnya kamu diam karena bibirmu bisa saja sobek saking cerewetnya...” Cassandra tak menghiraukan cecaran Alex barusan dia justru mendekati Alex yang ada di sebelah tembok karena baru menyalakan lampu. Dengan langkah tenang, Cassandra menunjukan tentengan di tangan kanannya.


               “Aku membawa obat, untuk mengobatimu.” Ucap Cassandra dengan senyum tersungging penuh keceriaan. Ternyata, senyuman itu cukup untuk membuat Alex terkesiap dan lupa diri barang sedetik.


               “Aku tidak perlu bantuanmu.” Tolak Alex dan lain di lidah lain di hati memang. Tapi tampang dingin Alex tak mematahkan niatan Cassandra untuk mengobati Alex yang babak belur. Cassandra justru menarik tubuh Alex dan mendekatkan tangannya ke luka luka Alex seperti sedang menghitung.


               “Sepuluh, sebelas, dua belas....” Cassandra menghitung luka luka yang perlu di tutupi dengan kain kasa atau plester nantinya.


               “Wah...” Cassandra membuka mulutnya dengan sangat kaget,”Kamu akan menjad mumidengan luka sebanyak ini Alex...”


               Dan mendengar pernyataan ini, Alex tak bisa menahan rasa gelinya untuk tertawa. Ia tertawa lepas dengan begitu saja dan membuat Cassandra kaget. Karena Alex bisa tertawa lepas, bukan geraman atau tawa hambar yang lebih menyeramkan dari pada geraman singa.


               “Kalau begitu, jangan obati.”


               Tapi Cassandra yang kepala batu itu justru sudah bersiap dengan membuka kotak itu dan mengeluarkan segala isinya dengan sangat bersemangat. Alex sampai heran, kenapa Cassandra mau membantunya.


               “Kenapa Cassie?” tanya Alex dengan mata yang menerawang. Bertahun tahun saat ia terluka, Alex akan membiarkan luka itu diam saja. Hingga kering, atau sampai Alex sendiri lupa kalau ia memiliki luka. Tapi kali ini ada seseorang yang dengan tenangnya mengobati lukanya.


               “Kenapa apanya?” tanya Cassandra dengan masih sibuk mengobati luka di telapak tangan Alex.


               Wah aku takan membuat Alex marah dengan melihat ini saja, aku bisa membayangkan seberapa keras pukulan tangan Alex.... tanpa sadar Cassandra geleng geleng.


               “Kenapa kamu mau mengobatiku.”


               “Karena semua orang butuh di obati saat terluka...” pungkas Cassandra tanpa berpikir banyak. Ia malah mencari cari dengan semangat, siapa tau hitungan lukanya salah. Dan jawaban Cassandra barusan benar benar membuat Alex terharu.


               Setiap orang yang punya luka harus di obati. Luka di hati, luka di jari. Bukankah itu tugas setiap manusia untuk saling peduli?


               “Dulu saat ibuku sakit dan akhirnya meninggal. Tidak ada yang peduli dengan luka dan rasa sakitnya...” cerita Cassandra itu membuat Alex menajamkan telingnya. Ia akan mendengar cerita Cassandra.


               “Dulu saat aku sakit, aku tutupi lukaku dan pergi meninggalkan tempat beranjau darat yang sudah membuat lukaku menganga...”  Alex ikut menyahuti. Cassandra yang hendak mendebat itu justru berakhir dengan saling tatap dengan mata Alex.


               “Bukan begitu caranya kalau ingin sembuh dari luka, bukannya pergi.” Jawab Cassandra dengan masih telaten membersihkan luka di setiap jengkal tubuh Alex.


               “Saudara tidak bertengkar Alex, aku berkata begini bukan karena aku tak memiliki saudara jadi sok tau bagaimana rasanya. Tapi, kamu harus membayangkan ini Alex, aku hidup hanya dengan Ayahku dan itu akan lebih nelangsa.”


               Cassandra memotong beberapa kain kasa dan menumpuknya jadi satu, memberikan beberapa tetes obat merah dan menempelkannya pada dahi Alex dengan sangat hati hati.


               “Dulu, Alexa sering mengajakku nonton film bersama. Dia bilang, dulu dia dengan saudara laki lakinya sering sekali menonton film di akhir pekan. Tapi dia merasa tak punya saudara lagi, jadi dia tak bisa menonton bersama sama. Aku kira, menyenangkan rasanya duduk di antara kamu dan Danil, menonton film bersama sama.”


               Alex terdiam dengan mulut yang terkatup rapat. Ia tak bisa berkata apa apa. Cerita Cassandra barusan membuatnya merasa menjadi kakak yang sangat payah sedunia. Tak bisa menyenangkan adiknya sendiri walaupun itu hanya hal kecil di dunia, melewatkan dua jam untuk menonton film bersama sama.


               “Aku yang mendengar itu jadi iri, kami jadi sering menonton film bersama.”

__ADS_1


               Cassandra selesai dengan semua luka di tubuh Alex, tak ia sangka ternyata ia hanya butuh waktu singkat untuk membersihkan luka luka Alex dan mengobatinya. Tidak seperti luka luka di tubuh Danil.


               “Kamu tau Cassandra?” tanya Alex sambil menyunggingkan senyum paling tulus yang pernah ia berikan pada wanita lain selain ibu dan adiknya.


               “Kalau saja kita tidak bertemu dengan situasi yang sangat aneh pada awalnya. Aku yakin, kita akan menjadi teman ngobrol yang menyenangkan....”


               Cassandra terkekeh. Benar memang kata orang, kesan pertama benar benar sangat berpengaruh pada hubungan itu selanjutnya. Dan kesan buruk masing masing, baik Alex maupun Cassandra membuat keduanya memiliki hubungan yang tidak baik, membuat mereka tidak menyukai satu sama lain.


               Cassandra tertawa dengan sangat renyah. Benar benar renyah, bukan tawa canggung yang sering ia berikan pada Alex karena saking sebalnya pada laki laki itu.


               “Aku tau, memang kamu sangat menyebalkan di awal...”


               Suara tawa mereka berdua terdengar sampai di depan kamar, Airlangga yang tak sengaja lewat itu mengintip di balik pintu dan mendapi Alex dan Cassandra sedang tertawa lepas dengan luka luka Alex yang sudah di perban oleh Cassandra.


               “Sepertinya mereka benar benar saling menyukai...” gumam Airlangga sambil berlalu dan menyimpulkan senyum. Ia berjalan meninggalkan mereka berdua.


               “Kamu tau Alex, kamu memukul Danil lebih banyak dari dugaanku...” ucap Cassandra sambil membereskan kotak P3K-nya dan hendak pergi. Tangan Cassandra yang bergerak sangat gesit itu membuat Alex mengernyit.


               “Dari mana kamu tau luka yang aku dapatkan lebih sedikit dari luka Danil....”


 Tangan Alex menghentikan gerakan beres beres Cassandra.


               “Tentu saja, aku kan baru saja mengobati luka Danil lebih dulu ...” protes Cassandra karena Alex mencengkeram tangannya dengan sangat erat sampai seperti cengkeraman maut.


               “Jadi kamu datang padaku setelah mengobati Danil dulu...?!!”tanya Alex, tanpa sadar suaranya meninggi. Dan dengan polosnya Cassandra menyahuti dengan enteng dengan anggukan kepala.


               “Keluar Cassie.” Usir Alex dengan nada suara yang sebal, Cassandra mau tak mau mengangkat sebelah alisnya.


               “Sepertinya kesan pertamaku tentangmu benar Alex, kamu sangat pemarah dan menyebalkan ....”


               Alex sendiri terdiam tak tau harus berkata apa. Jadi, kenapa alasannya? Apa yang membuat ia marah marah secara tiba tiba barusan? Apa penyebabnya???


^^^


               “Kenapa tidak masuk?” suara gagah yang tak lekang usia itu membuat Cassandra terkejut. Ia tak menyangka sudah di perhatikan Ayah Alexa sejak tadi. Dengan raut yang gugup, Cassandra menarik tubuhnya untuk menjauh.


               “Saya takut mengganggu...” jawab Cassandra dengan jujur, dan Airlangga tersenyum dengan sangat ramah.


               “Kita akan menjadi keluarga, anggap saja rumah sendiri...” dan tubuh Airlangga itu berlenggang masuk dan menyelimuti tubuh Alexa yang tidak bergerak sejak ia pingsan, selang infus sudah di pasangkan saat dokter pribadi keluarga mereka datang.


               “Kalau mau bersama Alexa, masuk saja...” ajak Airlangga sambil mendekati Cassandra. Ia menepuk bahu gadis itu dan beranjak memberikan ruang pada Cassandra untuk bersama Alexa, melihat kondisi anak bungsunya itu.


^^^


               Danil berjalan dengan langkah yang gontai tanpa tujuan mulanya, tapi entah kenapa ia melangkahkan kakinya ke arah kamar Alexa, dan memang, ia sudah sampai di depan kamar adik perempuannya itu.


               Kepala yang nyut nyutan, dan rasa pening di kepalanya tak bisa mengendalikan Danil. Ia tau pasti apa yang sedang ia lihat sekarang, Cassandra yang sedang memijat tangan Alexa dan wajah yang menampilkan ekspresi sangat sedih.


               “Kamu sesedih itu...? Melihat kondisi si cerewet satu ini?”


               Suara Danil itu membuat Cassandra memalingkan tubuhnya dan melihat siapa yang datang, Danil dengan perban yang sudah di lepaskan.


               “Apa kamu alergi dengan sentuhan tanganku Danil?” tanya Cassandra dengan rasa tak terima karena bantuannya sia sia.


               Danil melihat ke arah atap dan memutar bola matanya,”Itu kan hakku, mau tetap memakai banyak sekali plester di wajahku atau tidak. Lagi pula, kalau wajahku banyak plester, aku tidak akan terlihat tampan...”


               Cassandra memilih untuk tidak mendengar bualan Danil tentang ketampanannya itu, ia memilih buang muka dan melihat wajah Alexa yang sudah mulai beraura. Tak lagi sepucat sebelumnya. Cassandra sangat lega melihat ini.


               “Terserah kamu Danil, karena nyatanya kamu tidak setampan yang kamu kira.”

__ADS_1


               Danil tersenyum kecut dan mendekati tepi ranjang. Dengan gerakan cepat, ia sudah ada di samping Cassandra.


               “Sejak kapan kalian menjadi sahabat?”


               Awalnya Cassandra tak ada niatan untuk menjawab pertanyaan Danil itu. tapi akhirnya ia buka mulut.   


               “Sejak aku melihat gadis bodoh yang menangis di tepi jalan saat ia baru saja menefon kakaknya untuk menjemputnya dan dia tidak datang.”


               Mata Danil langsung membulat seketika. Ia tak tau kalau ia telah menjadi kaka yang sangat buruk. Alexa takan menelfon Alex untuk meminta bantuan seperti itu, karena Alex ada di Meksiko. Pasti itu dia! Tidak salah lagi!!


               Meneguk ludahnya dengan sangat gugup,”Apa aku seburuk itu sebagai Kakak?” tanya Danil dengan mengantisipasi makian dari Cassandra. Dan perempuan itu malah memelototinya dengan tampang merendahkan.


               “Kamu nilai saja dirimu sendiri, tidak ada baiknya sama sekali.” Ketus Cassandra dan ia langsung bangkit dari ranjang Alexa, berjalan dengan sangat cepat ke arah pintu dan pergi begitu saja. Sebenarnya, Cassandra sedang memberikan waktu pada Danil untuk merawat Alexa.


               Cassandra dengan sangat tenang berjalan ke arah tangga hendak ke pintu, ia ingin pulang dan beristirahat. Esok adalah senin, berarti kesibukannya akan di mulai kembali. Kalau saja sebelumnya Alexa tak menelfonnya untuk datang dan ia tak mendengar kabar buruk kalau Alexa sakit. Cassandra memilih untuk tidur seharian dari pada di sini melihat dua laki laki dewasa yang notabennya kakak beradik, bertengkar.


               “Kamu mau kemana?” suara yang berasal dari tangga yang Cassandra tapaki sebelumnya itu membuat gadis itu berbalik.


               “Mau pulang, kemana lagi memangnya...” ucap Cassandra dengan sangat ketus. Keramahan yang baru saja ia lampirkan sebelumnya hilang. Percuma, Alex akan marah marah tanpa alasan.


               Dengan gerakan cepat, Alex mendekati Cassandra dan mengunci pergerakan gadis itu,”Biar aku antar.” Tawar Alexa dengan tubuh yang super duper dekat dengan Cassandra. Sampai aroma nafas Alex yang baru Cassandra sadari beraroma mint itu menyeruak ke hidungnya.


               “Ap-a! Apaa ini!” Cassandra berontak dan hendak mendorong tubuh Alex, tapi laki laki itu sangat kuat.


               “Aku bisa pulang sendiri, jadi lepaskan pelukanmu ini... “


               “Tidak mau.” Jawab Alex dengan sangat singkat dan menyebalkan.


               “Hei! Apa maumu sebenarnya!!”


               “Mengantarmu pulang, memang apa?!”


               Cassandra memelototi Alex,”Aku kan sudah bilang, tidak mau.” Jawab Cassandra dengan tak kalah ketus dari sebelumnya.


               “Tapi aku memaksa. Jadi ayo, cepat. Besok aku akan ke rumahmu dengan mobil itu.”


               Dan Alex sudah menarik Cassandra untuk mengikutinya. Dan Cassandra tak bisa memberontak. Ia terlalu lelah untuk bertengkar dengan Alex tanpa tau, apa yang mereka ributkan. Selalu saja begitu kalau bertemu dengan Alex.


               “Masuk Cassandra...” perintah Alex, tanpa di mintapun Alex sudah membukakan pintu untuk Cassandra. Dan gadis itu dengan ogah ogahan harus masuk ke dalam mobil Alex.


               Alex tersenyum singkat dan masuk ke dalam mobilnya, memegang kemudi dan mulai menjalankan mobilnya dengan sangat tenang.


^^^


               “Maafkan aku Alexa....” ucap Danil dengan sangat lirih dan tangannya sudah menggenggam erat tangan dan jemari Alexa. Dengan satu gerakan cepat, Danil mengusap air matanya. Entah sejak kapan ia menjadi cengeng seperti ini.


               “Maaf sudah menjadi kaka yang buruk untukmu, aku berjanji kalau kamu sudah lebih sehat, aku akan memperbaiki sikap burukku padamu...” ucap Danil dengan penuh perasaan. Ia menundukan kepalanya tak bisa mengangkatnya tinggi tinggi. Ia takut, air matanya akan jebol seketika.


               “Benarkah Danil? Telingaku sudah tidak beres bukan...?”


               Suara gadis dengan sangat cempreng itu membuat Danil terpekik. Alexa sudah sadar.


               “Sejak kapan kamu sadar...?” tanya Danil dengan berapi api. Ia takut kalau Alexa sudah mendengar semua kata katanya yang sangat melo itu.


               “Sejak Cassandra masuk ke kamarku...” kekeh Alexa dengan sangat puas. Ia pura pura memejamkan matanya, berpura pura belum sadar saat mendengar suara Danil memasuki kamarnya. Dan Alexa sangat puas sudah mendengarkan kata kata penyesalan Danil lebih dari lima belas menit.


               “Aku berbohong, jangan dengarkan omonganku barusan. Aku sedang tidak waras karena di pukuli Alex...” kilah Danil dengan gugup ia mengusap air matanya yang menjadi bukti kalau itu adalah kebohongan.


               “Bohong.” Desis Alexa dengan senyum yang terbit di bibirnya.

__ADS_1


               “Kamu tidak pandai berbohong. Karena kamu tidak mau berbohong saat aku bertanya hari itu, kamu lebih memilih pergi dan menghindari cercaan pertanyaanku.” Dan Alexa tersenyum puas karena tubuh Danil mematung.


               “Jadi, kakak, bagaimana kalau kita mulai menjadi saudara yang baik?” tanya Alexa dengan alis yang terangkat.


__ADS_2