
Cassandra meneguk ludahnya dengan gugup. Berkali kali ia mengutuk dirinya sendiri.
“ Apa dia itu temanmu yang sering bermain dengamu? “ Alex menarik kursinya dengan sengaja membuat suara berdecit di lantai. Mengintimidasi Cassandra tentunya.
“ Kami berteman sejak lama, sejak kuliah. Dia itu murid paling cerdas di angkatan kami. Cassie bahkan umurnya setahun lebih muda dariku. “ penjelasan Alexa tak membuat kemarahan Alex mereda seketika.
“ Oh? Benarkan? Dia secerdas itu sampai bisa lulus kuliah dengan nilai sempurna itu? “
Alex menangkupkan tanganya ke wajahnya, memandangi wajah Cassandra yang sejak tadi kaku karena gugup.
Kenapa laki laki ini memandangku dengan tatapan aneh? Apa dia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menyalurkan kejengkelannya itu?
“ Kalian sudah selesai dengan meeting ini? Di kantor ada rapat dadakan. Boeing yang kita beli bulan lalu ada kendala di bahan bakar. Penerbangan reguler di batalkan. Kita rugi besar. “
Danil berkata seolah ini adalah saatnya ia di anggap ada. Alex menatap Danil dengan sebal karena mengganggu acaranya untuk mencibir Cassandra.
“ Cassie, sepertinya aku harus ke kantor dulu. Ayo Ka Alex, kita langsung survei lapangan kalau begitu. “
Alexa langsung bangkit dan Cassandra bernafas lega. Tak tau harus bersyukur untuk musibah ini atau tidak.
Alex bangkit dengan sebal karena tak bisa memuaskan bibirnya yang lemes itu. Ia berdiri dan merapikan jasnya, mengancingkan jas dan seketika terlihat rapi.
“ Oh iya, ingat. Jangan buat Allen khawatir. “ itu pesaan terakhir Alexa dan Cassandra mendapatkan pelototan dari Alex.
Apa? Kenapa kamu memelototiku?
Siapa dia? Yang di sebut sebut barusan.
Sepertinya, tatapan mereka berdua bisa menjadi alternatif komunikasi yang lain.
Alex pura pura tak peduli, ia berjalan dan meniggalkan Cassandra dengan Danil di sana. Danil duduk dan menyeruput kopi di gelasnya yang belum habis itu.
Kurang ajaaaaaarrrr. Dia yang membawaku ke mari dan dia meninggalkanku. Maksudnya apa?!! Aku harus ke kantor bagaimana?!
“ Kamu kenal dengan Alex? Wah wah wah. “
Wah wah wah! Logatnya saja sama. Pantas saja mereka kakak beradik beda rupa. Cassandra mencibir cara berbicara Danil yang mirip Alex pagi tadi di tangga.
“ Apa relasiku ini memberatkan hidupmu? “
Cassandra meminum kopinya dan segera bangkit. Belum sepenuhnya ia berdiri. Ada rasa pusing di kepalnya yang membuatnya sangat kesaktian dan entah apa itu, tubuhnya dingin dan menggigil.
“ Kamu kenapa? “ Danil bertanya dengan serius. Ia melihat tubuh Cassandra lunglai barusan dan gadis itu buru buru bersikap biasa saja. Cassandra mencoba menegakan tubuhnya agar berjalan normal. Kepalanya pusing untuk alasan yang tak ia ketahui.
“ Tidak apa apa. “ jawab Cassandra dengan singkat dan tubuhnya langsung lunglai setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Tidak apa apa yang berujung apa apa. Cassandra pingsan dan Danil buru buru meraih tubuh gadis itu.
Brukk!! Tubuh itu sedikit menghantam kursi dan keributan itu mencuri perhatian Alex. Ekor matanya melihat Danil dengan posisi memeluk Cassandra dengan kedua tangannya.
“ Cassandra! “ bentak Alex dan ia tak jadi menaiki mobil. Ia malah berjalan cepat mendekati Cassandra yang ada di dalam pelukan Danil. Wajah Alex? Entahlah. Tak bisa di jelaskan. Ada kekhawatiran, ada kemarahan juga. Jadi sebenarnya? Apa yang Alex rasakan!
Danil menyadarkan Cassandra dan mata itu tetap tertutup.
“ Dia kenapa? “ tanya Alex dengan terburu buru. Ia melihat wajah Cassandra yang pucat.
“ Pingsan, sudahlah. Aku akan mengantarnya pulang. “ Danil sudah bersiap membopong Cassandra ke dalam mobilnya dan untuk ke dua kalinya, ia akan mengantarkan Cassandra pulang.
“ Tunggu! “ tangan Alex menghalangi gerakan Danil. Ia tak suka kalau Danil bersama Cassandra.
“ Aku tau rumahnya! “ Danil menepis tangan Alex dengan kesal, “ Aku sudah pernah ke rumah Cassandra. Jadi tolong urus urusanmu sendiri Alex, dia hanya relasimu. Kamu bahkan tak tau alamatnya. Hentikan sikap membencimu padaku. “
Alex tak bisa menjawab. Ia hanya bisa diam dan menatap Danil membawa Cassandra dengan buru buru. Tapi ini bukan masalah karena aku tak suka denganmu. Aku tak suka dia di peluk-
Alex mengepalkan tangannya ke udara. Baru kali ini ia tak bisa berkutik. Dan untuk alasan yang entah apa, ia menjadi kesal. Jadi apa?
***
__ADS_1
Alexa menatap Alex dengan heran.
“ Jadi kenapa Kaka sangat marah kalau Danil yang membawa Cassandra. Aku yang temannya saja biasa saja. “ komentar Alexa sambil menutup pintu mobil. Alex menatap Alexa, baru kali ini ia ingin menyumpal mulut nyinyir adik perempuannya itu.
“ Jalan, ke kantor. Sekarang. “
Perintah Alex di laksanan dengan cepat dan mobil melaju sangat kencang. Urusan penting ini harus segera di selesaikan. Batin Alex. Ia menerawang ke luar jendela. Entah apa yang sedang di pikirkan. Alexa bahkan sampai bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada emosi Kakanya ini.
***
“ Kenapa sampai ada masalah penerbangan, padahal pesawat masih baru?! “
Lapangan pacu untuk lepas landas itu terlihat lengang. Penerbangan reguler mereka di batalkan semua karena pesawat pesawat itu entah kenapa mogok. Sudah bisa di bayangkan kerugian mereka untuk sehari saja, jumlah penerbangan. Bahkan jumlah penumpang di kalikan harga tiket. Keuangan Alex akan meradang.
“ Ini kendala teknis, belum bisa di ketahui penyebab pastinya. “ jawab seorang teknisi yang sejak tadi berusaha untuk mengejek mesin mesin pesawat itu. Alex mendengus kesal. Ia datang untuk hal yang sia sia.
“ Kerjakan dengan benar. Atau kamu dan timmu tidak bisa membayangkan hal paling buruk sekalipun. “ todongan tangan Alex itu membuat para teknisi di belakang sana meremang. Mereka, belum pernah melihat Alex. Sosok pemarah dan suka mengancam itu.
“ Ke kantor, cepat Alexa. “
Alex berjalan dengan langkah yang cepat. Entah kenapa ia memikirkan banyak hal tapi tentang satu hal. Cassandra sudah sampai. Atau dia sudah sadar. Atau sedang beristirahat. Atau kenapa ia sampai pingsan.
Tiba tiba Alexa melihat punggun Alex yang berhenti bergerak. Kakanya tiba tiba berhenti.
“ Jadi itu Danil?! “ Alex nampak terkejut dengan hal yang baru ia ketahui.
Aku sudah punya kekasih!
Dia bersama seseorang di dalam mobil.
Sepertinya mereka makan bersama.
Aku tau rumah Cassandra!
“ Hah? Jadi laki laki itu, Danil. “
Setelah mengucapkan itu, Alex melajukan langkahnya dengan sangat cepat. Ingin cepat cepat ke kantor.
Alexa menggeleng geleng dan langsung berlari dengan sangat cepat untuk mengimbangi kecepatan Alex. Mobil sudah menunggu mereka di depan sana. Alex langsung masuk tanpa menunggu Alexa yang kehabisan nafas di belakangnya.
Aku cabut kata kataku! Menjadi sekretaris keluarga sendiri, ternyata lebih berat dari pada menjadi pembantu!
Alexa masuk dan mengambil nafas seolah di hidupnya ia tak mengenal udara. Dan Alex malah hanya menatap lurus ke depan.
***
Mata itu terbuka dan melihat sekeliling ruangan. Bukan kamarnya. Cassandra mencoba bangkit dari kasur empuk itu. Ia meregangkan tangannya seolah baru bangun dari tidur panjang.
“ Ha!! “ teriak Cassandra saat melihat sosok hitam mendekatinya. Pandangannya yang belum jelas itu akhirnya bisa terfokus.
“ Jangan berteriak! “ bentak Alex dengan menahan kesal, sesekali ia mengusap telinga. Memastikan kalau gendang telinganya masih di tempatnya.
Cassandra nampak bingung dengan tampilan Alex. Ini laki laki itu sedang memegang nampan dengan mangkuk dan susu di atasnya.
“ Makan ini. “ sodor Alex dengan ogah ogahan pada Cassandra.
“ Tunggu, aku ini di rumahmu? “ Cassandra baru menyadari sesuatu. Ia pingsan di depan Danil. Tapi ia sadar di depan Alex?
“ Mana Danil? “ tanya Cassandra sambil melongokan kepalanya ke balakang tubuh Alex dengan tampang mencari cari yang kentara. Itu justru membuat Alex ingin mencolok mata Cassandra dan bilang, untuk apa kamu mencarinya!
“ Aku menyuruhmu makan. Bukan mencari Danil. “
Cassandra panik saat menyadari sesuatu. Ia langsung bangkit dan berlari menjauhi tempat tidur. Alex malah kebingungan, apa yang membuat Cassandra kalang kabut.
“ Kenapa kamu berlarian! “
“ Aku harus ke kantor! Ada banyak pekerjaan! “
Cassandra sibuk mencari cari sepatunya, entah di kolong kasur ataupun meja,
__ADS_1
Aku harus bekerja. Kalau hari ini tak ada hasil! Sia sia satu hariku dalam seminggu ini! Sia sia!!!
Cassandra sedikit mengumpat, ia tak menemukan heelsnya itu. Dan tak ada memang. Ia malah curiga kalau Alex yang menyembunyikannya.
“ Di mana. “ todong Cassandra. Alex malah membalas todongan itu dengan senyuman.
“Apa yang apa? “ Alex masih melihat Cassandra dari atas sampai bawah.
“ Sepatuku, kamu pasti menyembunyikannya. “ Cassandra sudah paham senyuman itu. Tapi tiba tiba Alex malah bangkit dan mendekatkan diri ke arah Cassandra. Gadis itu sontak mundru teratur. Takut. Alex mendekat dan semakin mendekat. Dan bug! Tubuh Cassandra membentur tembok.
“ Cassie. “ panggil Alex dengan setengah berbisik ke telinga Cassandra.
“ Jangan panggil aku dengan panggilan sok akrab!! “ hanya orang orang dekat yang memanggilnya begitu. Alexa dan Ayahnya contohnya. Dan makhluk terlaknat seperti Alex tidak di kenankan memanggilnya Cassie.
“ Hehe. Baiklah. “ Alex menahan kekehannya. Cassie, panggilan yang imut. Batin Alex memuji nama itu.
“ Katakan, sekarang jam berapa sampai kamu mau ke kantor. “
Cassandra malah gelagapan karena tubuh Alex yang kian dekat denganya. “ Jam berapapun sekarang, menjauhlah!! “
Cassandra mendorong tubuh Alex. Pria itu terkekeh dengan perlawanan Cassandra yang tak pernah surut.
“ Oke, jadi karena kamu tidak ingin mengatakan jam berapa. Biar aku katakan padamu. Sekarang, jam sepuluh malam. “ Alex melihat ke arah arlojinya. Ia menunjukan jarum pendek itu ke arah Cassandra.
“ Dan biar aku ingatkan, tidak ada makhluk bumi yang bernama manusia. Yang berangkat ke kantor pukul sepuluh malam. Kecuali kamu itu penjaga keamanan. “
Wajah Cassandra langsung memerah, ia di cemooh oleh Alex. Dan juga ia marah! Kenapa sampai ia tertidur, sepanjang hari!!
“ Jadi, sekarang Cassandra. Lebih baik kamu makan, lalu istirahat. Dokter bilang, kamu perlu istirahat dan memberikanmu obat tidur. “ cengiran Alex itu mengundang keganjilan.
“ Kamu sengaja! “
“ Apa? “
“ Sengaja memberikanku obat tidur. Supaya waktuku berkurang dengan sia sia. “
“ Tidak. “ jawab Alex dengan singkat. Ia tersenyum karena memang itu idenya, membuat Cassandra tertidur seharian. Licik memang. Tapi tak apa, toh lucu juga mengganggu Cassandra sampai marah marah begini.
“ Kamu benar benar licik. “ umpat Cassandra. Sekarang, waktunya berkurang sehari untuk hal yang sia sia.
Cassandra sudah mendekati Alex, ia ingin memukul, atau kalau bisa menganiaya Alex sampai laki laki itu menyesal.
“ Apaa apaan ini? “ Alex menatap tangan Cassandra yang sudah mencengkeram kemejanya dengan erat.
“ Menghajar kamu, apa lagi! “ tangan Cassandra mencengkeram kerah itu begitu kuat. Tekatnya sudah bulat. Dan ia ingin memberi pelajaran pada Alex.
Tanpa di kira, Alex hanya diam saja. Dan Cassandra dengan sekuat tenaga sudah mengamuki Alex. Memukul dada itu dan Cassandra bahkan hampir saja menendang asetnya. Tapi Alex langsung mengelak sampai tubuh Cassandra ikut terbawa. Mereka terlentang di kasur dan dalam posisi yang tidak menyenangkan.
“ Katakan, siapa yang paling tampan. Aku atau kekasihmu? “
Alex menatap Cassandra yang ada di bawah tindihannya. Ia tak mau menyebutkan nama Danil, haram bagi lidahnya untuk mengumandangkan nama Danil.
“ Apa?! “ teriak Cassandra dengan panik. Allen? Dengan Alex?!
“ Kamu pasti akan memilihku, kalau aku menunjukan pesonaku. “ cengir Alex dengan puas. Ia ingin sekali menggoda Cassandra. Sampai titik mana, gadis itu tetap membangkang.
“ Sebesar ini. “ tunjuk Cassandra pada Alex. Ia malah mengacungkan jari tengahnya pada Alex.
“ You! “ teriak Alex dengan marah, karena Cassandra secara tak langsung sedang mengumpatinya.
Dan tanpa bisa di hindari, tendangan di aset Alex meluncur. Laki laki itu langsung berguling dengan teriakan kesakitan. Ia merasakan ngilu di selangkangannya. Rasanya? Perlu di jelaskan atau di praktekan. Bayangkan saja Alex di patahkan tulang tulangnya. Tapi sakitnya tidak bisa hilang untuk tiga puluh menit dan semakin sakit tiap detiknya.
“ Kamu- ah!! “ Alex merasakan rasa sakinya menjadi lebih parah. Ia berguling guling lagi.
“ Kam- “ Cassandra ingin bertanya, apakah ia benar benar sudah melukai masa depan Alex. Jangan jangan, Alex harus melakukan operasi kelamin gara gara sabitan kakinya.
“ Tidak apa apa kan? Alex? “ Cassandra beringsut mendekati Alex yang memunggunginya di kasur. Masih dengan tangan dan rintihan.
“ Jangan banyak tanya dan makan atau aku yang akan memakanmu untuk perbuatanmu barusan!! “
__ADS_1