Sexy Partner

Sexy Partner
52. III


__ADS_3

               Bukannya Cassandra yang mengejutkan Alex, tapi justru Cassandra yang di kejutkan Alex. Usai mendapatkan jawaban dari Alexa kemarin, Cassandra langsung pulang. Ia tak ingin menunggu Alex ataupun menggangu saat saat membahagiakan laki laki itu dengan wanita itu. Cassandra memilih untuk pulang.


               Dan lucunya, Alex menelfonya saat Cassandra sudah sampai di rumah. sekelibat percakapan mereka pun teringat lagi di kepala Cassandra.


               “Mau bertemu? Aku baru sampai....” ucap Alex di telfon.


               Aku juga tau kamu pulang, dengan wanita lain pula! Hardik Cassandra di dalam hati, tapi ia tak berani mengatkan isi hatinya.


               “Aku sangat merindukanmu Cassie...”


               Harusnya Cassandra mengatakn hal yang sama dengan Alex, tapi rasa rindunya sudah di gilas. Hanya jawaban singkat yang sepertinya juga membuat Alex kecewa.


               “Hemm aku juga,” jawab Cassandra dengan singkat.


               Jawaban yang singkat dan jelas. Dan tanpa alasan yang pasti, Cassandra seperti sedang lelah untuk berbicara dengan Alex.


               “Istirahat Alex,  kamu baru saja sampai. Semoga kamu tidur yang nyenyak...”


               Dan ponsel di tutup. Cassandra memutuskan panggilan sepihak tanpa memedulikan jawaban, atau dalih Alex nantinya. Ia sedang hancur di dalam.


 


^^^^


^^^^


^^^^


               Pagi yang tak menyenangkan. Cassandra bangun, tapi hari ini ia harus pergi ke suatu tempat. Hari ini ia tak jadi mengenalkan Alex dengan orang yang sangat ia hormati itu.


               Berjalan dengan sangat lesu menuruni tangga.  Damian hanya menatap puterinya dengan kebingungan, banyak hal yang di sembunyikan perempuan. Damian sadar itu, tapi kali initerlihat jelas kalau kesedihan Cassandra karena Alex.

__ADS_1


               “Tidak apa apa...” ucap Cassandra menenangkan Ayahnya yang sudah bersigap itu. tersenyum seadanya, Cassandra memilih bersikap biasa biasa saja.


               “Ayo, kita berangkat sekarang....”


               Ajakan Cassandra mengusap kekhawatiran Ayahnya. Mereka berjalan keluar rumah dan menuju mobil.


               “Kamu duduk saja, Ayah yang akan menyetir....”


               Cassandra terima saja, ia menempatkan diri di kursi penumpang di samping Ayahnya. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Cassandra yang punya kebiasaan baru dulunya, memegangi ponselnya dan menghubungi Alex. Sekarang nampak tenang dan sepertinya tak ada keinginan untuk menghubungi laki laki itu.


               Harusnya, hari ini Cassandra bertemu dengannya bersama Alex, memperkenalkan Alex sebagai orang yang ia anggap berharga sekarang ini. Tapi harapan Cassandra pupus begitu saja. Ia tak menceritakan kemana perginya ia hari ini. Alex mungkin.... mungkin dia sedang sibuk dengan orang yang ia habiskan waktu bersama kemarin.


               “Kamu baik baik saja?” tanya Damian pada puterinya.


               “Baik baik saja.” Jawab Cassandra lemah tanpa menunjukan kalau ia benar benar baik.


               Damian memilih diam. Untuknya, Cassandra sudah menjadi sosok yang dewasa, apa lagi dengan kepergian Allen yang selalu memanjakan Cassandra. Dan Cassandra yang memilih bersama Alex. Damian menganggap kalau, Cassandra punya keputusannya sendiri.


^^^^^


^^^^^


^^^^^


               Alex berhadapan dengan Danil. Menatap Alex dengan penuh kebencian adalah yang sedang di lakukan Danil sekarang.


               “Untuk apa kamu menemuiku, tidak ada gunanya.” Cerca Danil seperti sudah menolak keberadaan Alex sekarang ini. Tapi Alex tidak peduli, ia justru duduk di sofa di apartemen Danil dengan seenaknya.


               Danil merasa kalau ia sedang di uji dengan keberadaan Alex pagi hari di apartemennya. Sungguh kakaknya ini adalah laki laki yang paling tidak tahu keadaan. Danil sudah ada di ujung kesabarannya, tapi Alex malah menyilangkan tangannya dan bersikap acuh. Benar benar menyebalkan.


               “Ada apa, katakan sekarang apa maumu. Aku sedang tidak ingin berbasa basi.”

__ADS_1


               Sepertinya, penolakan akan kehadiran Alex sudah menguap begitu saja. Alex mengangguk mengerti. Ia memang takan pernah akur dengan adiknya yang satu ini.


               “Bukan aku yang ingin menemuimu. Tapi dia.” Ucap Alex seperti memberikan kode, kalau orang yang akan bertemu dengan Danil adalah orang yang sudah di nantikan laki laki itu sejak lama. Tertahan di tempatnya. Danil tak bisa percaya dengan pendengarannya.


               Mengernyitkan dahi dan tersenyum mengejek, Danil tak ingin di bodohi seperti dulu.


               “Aku tidak mudah di bohongi seperti bocah SMA.” Tantang Danil. Dan Alex sudah membaca ini. Danil akan menolak penjelasannya.


               “Oke, kalau begitu aku akan membawanya kemari....”


               “Buktikan.” Tantang Danil dengan suara yang meninggi. Mulai di redam emosi.


               Alex langsung bangkit dan meninggalkan Danil yang masih terdiam.


^^^^


^^^^


^^^^


               Cassandra masih memalingkan wajahnya ke jendela, ia ingi mengalihkan pikirannya ke jalanan yang ada di sampingnya. Nyatanya, berdiam diri tetap saja membuat ia terpikirkan seseorang. Alex.


               Dan saat Cassandra sedang memikirkan laki laki itu. tubuhnya seperti di sengat aliran listrik dengan jutaan volt yang bisa membunuh, dan sekarang. Hati Cassandra yang di bunuh.


               Alex sedang merangkul bahu seorang wanita, memasuki sebuah lobi apartemen. Cassandra tak bisa. Melihat ini lebih jauh lagi. Ia melemparkan wajahnya dan menahan air mata.


               “Kamu kenapa...?”tanya Damian dengan nada khawatir.


               Cassandra hanya menekuk wajahnya dan tak berani menjawab pertanyaan Ayahnya.


               “Tidak... tidak apa apa....” jawab Cassandra.

__ADS_1


               Alex. Memang bukan yang terbaik untuknya. Sudah jelas, kalau ia tak bisa membawa Alex untuk menemui orang itu. Tidak sekarang, ataupun nanti.


__ADS_2