Sexy Partner

Sexy Partner
28. Love begin? No!


__ADS_3

               Cassandra terus membuka matanya. Laporan hari ini benar benar sial! Ia sampai pusing harus di apakan. Sesekali Cassandra meliri jam dinding di kamarnya. Sudah pukul sepuluh malam. Dan belum terdengar bunyi mobil masuk. Harusnya Alex sudah pulang kan?


               “Ah! Kenapa memikirkan urusan yang bukan urusanku?” Cassandra kembali ke keyboard laptopnya. Dengan bibir yang di mancungkan, ia sesekali mengutuk diri sendiri karena ia hampir.... hampir saja bersimpati pada Alex.


               Dan selang beberapa menit, setelah berkali kali menajamkan telinga. Cassandra mendengar deru mobil yang memasuki pelataran rumah. Tanpa sadar, Cassandra berlonjak. Entah untuk apa.


               Tangga itu di naiki Alex dengan terburu buru, ia kesal karena hari ini ia habiskan dengan bertemu wanita yang tak sampai radar menarik untuknya. Tapi tiba tiba, langkah Alex di lanjutkan sampai ia berada di depan pintu kamar Cassandra.


               Rasa penasaran seperti mengulik Alex.”Kiranya dia sedang apa?” Alex nampak menimang. Ia ingin membuka pintu kamar Cassandra sebelum pintu itu terbuka dan mata mereka berhadapan. Ada kegugupan di mata keduanya. Mata zamrud Alex dan mata cokelat hazzel Cassandra. Dan keduanya kompak mengabaikan gelenyar aneh di hati mereka masing masing dan saling membuang pandangan.


               “Kenapa kamu berdiri di depan pintu?! Minggir!” Cassandra kembali ke mode nomral, dan ia mendapatkan seringai jahil dari Alex.


               “Kamu bertanya untuk apa?” tanya Alex mengantung. Cassandra menaikan alisnya, untuk apa Alex yang baru pulang itu ke kamarnya?


               “Untuk menggangguku, tentus saja.” Tebak Cassandra. Mata Alex menyipit? Benarkah?


               Kemudian Alex tersenyum simpul,”Salah!” jawab Alex dan itu memancing rasa penasaran Cassandra. Alex meraih beberapa helai rambut Cassandra. Mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu dan berbisik.


               “Aku sedang observasi tempat, kita lakukan saja besok. Di kamar ini.” Bisik Alex dengan suara yang rendah dan dingin. Membuat tubuh Cassandra menegang, meremang karena ketakutan.


               “Mimpi Alex! Mimpi!”


               “Oh iya?” Alex memandang Cassandra dengan cara yang paling merendahkan,”Kalau aku tidak salah ingat, waktumu hanya tersisa hari ini, dan besok.”


               Cassandra menepikan dirinya agar tak di halangi lagi oleh Alex, memang benar. Waktunya kian menyempit. Dan rasanya, Cassandra langsung bisa melihat kegagalan. Bahkan Ayahnya sendiri sudah tau untuk apa tujuan Alex meminjamkan uang. Tapi? Tidak berpakaian dan sehelai benangpun di hadapan Alex? Ini seperti mimpi buruk untuk Cassandra. Ia takan pernah melakukan itu! takan!


               “Maaf Alex, akan ku carikan perempuan yang mau mengandung anakmu. Akan ku pastikan itu.”


               Mata Alex menatap tajam Cassandra. Tetap saja wanita itu kekeh dengan penolakan. Tetap. Dan Alex tak suka di tolak.


               “Maaf saja Cassandra, kalau urusan kita sudah selesai. Ku peringatkan dari awal, jangan jatuh cinta padaku.” Ucap Alex penuh dengan penekanan dan peringatan. Cassandra malah terkikik geli.


               “Maafkan aku Alex, harsunya aku yang bilang. Jangan sekali kali jatuh cinta. Ingat? Jatuh cinta di awali dengan rindu. Aku sangat lihai membuat orang merindukanku tanpa alasan.”


               Dan Cassandra berlalu meninggalkan Alex yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya. Cassandra sangat yakin itu, karena ia sudah menemukan celah untuk membebaskan diri dari Alex. Yakin. Dan sangat yakin.


^^^

__ADS_1


               Cassandra berjalan menuruni tangga. Ia tak bisa memikirkan hal lain hari ini. Waktunya sudah habis. Ia harus melakukan banyak hal hari ini. Karena hari ini adalah waktu yang terakhir. Sepuluh tariliyun! Yang benar saja.


               Dengan menghentakan kaki, Cassandra menuruni anak tangga terakhir. Ia melangkah dengan cepat menuju ke pintu keluar. Sebelum ia melihat kalau Alex juga pergi tanpa sarapan sama sepertinya. Kasian Clara, dia sudah bekerja sangat keras di rumah Alex.


               “Dia pasti tertekan memiliki Tuan seperti laki laki arogan itu.” selesai mengatakan itu pada gagang pintu, Cassandra melaju ke arah mobil. Memasukinya dan menuju perusahaan Ayahnya.


^^^


               “Pagi Allen....!” sapa Cassandra dengan memeluk kekasihnya itu. rindu. Biasanya ia yang lihai membuat orang merindukannya. Tapi Allen sebaliknya, ia berhasil membuat Cassandra rindu.


               “Kita ke sini untuk bekerja, bukan untuk berpacaran.” Pungkas Allen dengan tegas. Memang, kalau masalah pekerjaan, Allen langsung berubah menjadi seratus delapan puluh derajat.


               “Bisakan kamu membantu kekasihmu ini Allen? Sekaligus berpacaran?”


               Allen mengernyitkan matanya, dan mengedikan bahunya,”Maksudmu melakukan dua hal bersamaan?”               


               Cassandra menjawab dengan senyuman dan anggukan,”Berpacaran dan bekerja. Sekaligus.” Pungkas Cassandra. Allen tertawa geli karena kejelian Cassandra mencari cari kesempatan untuk bermanja manja.


               “Tidak.” Jawab Allen dengan tegas dan langsung membuat senyum Cassandra harus di tekuk dalam dalam.


               Cassandra selesai mengatakan itu dan langsung berlalu, dengan gestur tubuh yang jengkel pastinya. Allen hanya tertawa melihat keimutan tingkah Cassandra. Ia menggeleng kepala, sekarang bukan saatnya untuk memikirkan itu.


               Allen berjalan mengikuti Cassandra dan menuju lift. Yang akan mereka tuju kali ini adalah lantai dua puluh. Bukan lantai paling atas memang, karena bangunan ini memiliki lima puluh lantai. Tapi di lantai dua puluh itu adalah tujuan yang paling tepat. Karena itu adalah tempat Paman Cassandra. Ya, mereka sudah menemukan benalunya.


               Cassandra hanya di temani Allen dan satu assistennya. Mereka bertiga diam tak bersuara dan tanpa saling melihat pantulan masing masing di dalam lift.


               Mereka bertiga langsung menuju ruangan Paman Cassandra itu tanpa permisi. Kedatangan mereka bukan sesuatu yang harus di sambut meriah, karena ini lebih mirip dengan penggerebekan. Dan itu terlihat dengan cara Cassandra yang masuk, bukan dengan mengetuk pintu. Tapi malah mendobraknya dengan kaki. Allen entah harus mengapresiasi keberanian kekasihnya itu dengan apa. Sepertinya, tepuk tangan di saat seperti ini tidak terlalu membantu.


               “Apa kamu tidak tau cara bertamu?!” semprot Paman Cassandra. Baratama. Laki laki berusia lima puluhan dengan ambisis yang tak pernah mati. Rasanya, Cassandra tidak bisa menyalahkan ambisi Pamannya itu. nyatanya, ambisinya untuk menentang Alex itu sepertinya keturunan dari keluarganya itu.


               “Maaf Paman, maafkan keponakanmu yang tidak tau sopan santun ini. Tapi jelas, ini bukan karena didikan Ayahku. Percayalah, kalau Paman ingin menyalahkan tabiat burukku di sebabkan karena cara mendidik Ayahku. Paman akan malu, karena Ayahku adalah salah satu manusia paling sopan di dunia.”


               Brama sudah naik pitam dengan cara bicara Cassandra barusan. Yang terkesan menggurui sekaligus merendahkannya. Dan memang benar, ia ingin membawa Damian ke dalamnya. Tapi sudah di sangkal Cassandra.


               “Paman tidak bisa menyalahkan tabiat burukmu yang memang... sudah mendarah daging.”


               Cassandar tersenyum tipis, amat tipis dengan kesan menerima sindiran tabiat buruk yang mendarah daging.

__ADS_1


               “Kamu juga membawa? Siapa dia? Dua orang orangmu?” tunjuk Brama pada Allen dan assisten Cassandra. Dan gadis itu segera bangkit setelah tadi duduk tanpa harus di minta.


               “Maaf Paman, aku belum mengenalkan dua orang ini. Perkenalkan, Ini Assistenku, dan ini Allen...”


               Cassandra menggantungkan kalimatnya, ia ingin mengenalkan Allen sebagai kekasihnya. Tapi Allen memandangnya dengan peringatan tajam.


               “Allen, pengacaraku. Lain kali, Paman akan sering menemuinya dari pada aku.” Cassandra menarik tangannya dan kembali duduk.


               “Kamu tau bocah tengil, ini perusahaan. Perusahaan keluarga, bukan tempat untukmu bermain main dan membawa teman temanmu.”


               Brama dan Cassandra beradu pangang. Tapi Cassandra tak takut sama sekali. Ia tau kalau Pamannya sedang ketakutan karena melihat Allen dan mengenalkan Allen sebagai pengacara.


               “Tentu saja tidak Pamanku tersayang. Suami dari Bibiku yang sering mencaci maki Ayahku di depan Nenekku....” Cassandra berbicara dengan nada menyenangkan padahal ia bersiap melayangkan ancaman.


               “Tentu saja tidak, ini perusahaan. Perusahaan besar, bahkan walaupun aku tidak di anggap di keluarga kalian. Aku sangat senang mengemban nama Leonidas dari Ayahku. Dari pada punya nama belakang seperti Paman. Rasanya, menjijikan.”


               Brama berdiri dari singgasananya, kursi general manager officier yang ia duduki sejak tadi. Ia hendak menampar mulut Cassandra yang sudah membuatnya kesal bukan main. Tapi saat tanganya hendak mendarat, Allen sudah mengahalanginya.


               “Hei! Jangan ikut campur!!” bentak Brama tak sabaran ingin memberikan pelajaran pada Cassandra karena mulut pedasanya itu. Tapi Allen tak tinggal diam.


               “Tidak bisa Tuan, karena selain sebagai klien saya. Cassandra juga kekasih saya.”


               Cassandra tidak bisa menutupi senyuman puasnya.


               Oke, kalau bukan aku yang mengakui kamu milikku. Kamu boleh mengakui kalau aku milikmu. Batin Cassandra.


               Dengan mata terbelalak karena kaget, Brama langsung menghempaskan tangannya agar lepas dari cengkeraman tangan Allen.


               “Berikan.” Perintah Allen pada assiten Cassandra. Dan dengan cepat perempuan itu memberikan dokumen yang sejak tadi ia pegang dengan penuh kehatia hatian.


               Dengan cepat, Brama meraih surat itu. Surat penahanan.


               Dan Cassandra dengan seringai puas, ia bangkit dan menepuk bahu Pamannya dengan tidak sopan. Karena sangat keras dan berkesan merendahkan.


               “Maaf Paman, aku memenjarakanmu. Karena telah menggelapkan uang perusahaan Ayahku. Dengan cara paling menjijikan.”


               Dan setelah itu, Cassandra berbalik badan di selingi Allen dan asistennya.

__ADS_1


__ADS_2