Sexy Partner

Sexy Partner
19. To much.


__ADS_3

         Damian Leonidas. Laki laki paru baya itu mengacak acak rambutnya.


         “ Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda. “


         Sekretaris bernama Brian itu muncul dengan berita yang tak ingin Damian dengar.


         “ Aku sedang tidak ingin menerima tamu. “ jawab Damian singkat. Matanya kembali tertuju ke laporan keuangan perusahaanya yang tak kunjung membaik. Itu alasannya, kenapa ia mengacak acak rambut dengan frustaso.


         “ Tapi aku memaksa. “ tiba tiba Alex masuk menerobos tubuh Brian. Tubuh Brian terhuyung karena menghalangi jalan Alex. Ia nampak bingung.


         Aku harus mengusir Tuan Alex atau bagaimana? Brian kebingungan. Sebagai sekretaris perusahaan. Ia sangat tau, kekuatan bisnis yang di miliki Alex.


         “ Tuan Al- “


         “ Sudah, aku ingin duduk. “ Alex masuk dan memotong perkataan Damian. Laki laki itu terkejut dengan “ kunjungan “ tiba tiba itu.


         “ Brian, pergilah. “ Brian mengikuti perintah Damian barusan. Pintu di tutup dan privasi terjamin.


         “ Puterimu … “


         Mendengar Cassandra yang di sebut sebut. Damian langsung menyesali keputusannya itu. Ia rasanya ingin mengambil alih Cassie – nya.


         “ Dia amat sangat menarik. “ tatapan tajam itu di layangkan Alex. Kemudian ia menerawang.


         “ Apa kamu tidak penasaran, semenarik apa puterimu itu? Tuan Damian? “


         Damian merinding. Ia takut, Cassie – nya yang keras kepala itu dengan sengaja memberontak pada Alex.


         “ Dia amat sangat membangkang. “


         Dan tepat! Tebakan Damian amat sangat tepat. Sekarang ia ketakutan, jangan jangan. Alex tak sabar. Secara mereka berdua. Sama sama arogan dan keras kepala.


         Ya ampun! Cassie – maafkan Ayahmu ini. Damian terus berdo’a. semoga Cassie baik baik saja.


         Senyum itu muncul seketika di bibir Alex, “ Lucu. “ komentarnya. “ Puterimu itu, berani berani – nya kabur. “


         Dan bom itu meledak! Damian takut. Kalau kedatangan Alex ke sini, untuk memberi tau padanya. Kalau ia takan memaafkan Cassie karena mencoba kabur.


 


^^^


         Cassandra sudah ada di ruang tamu, ia menunggu Ayahnya pulang. Ia ingin membicarakan semuanya. Masalah yang sedang Ayahnya hadapi ini. Semoga saja.


         “ Ayah! “


         Panggil Cassandra saat laki laki itu muncul di pintu depan. Rautnya nampak lesu, tapi Damian memberikan senyuman untuk puterinya.


         “ Kenapa? “ todong Cassandra. Itu pertanyaan ganda. Untuk keadaan Ayah dan apa yang sudah Ayah lakukan.


         “ Kita bicarakan di atas. “ Damian berjalan dan Cassandra mengikutinya. Langkahnya benar benar heran, sembari berjalan juga sembari berpikir.


         “ Duduklah Cassie. “


         Perintah itu di turuti, Cassandra duduk dan berhadapan dengan Ayahnya.


         “ Ayah tau, ini salah … “


         Tanpa di minta penjelasan Damian sudah memberikan penjelasan. Tangannya menutupi wajahnya, memberikan ekspresi rasa malu karena masih berani bertatapan dengan puterinya.


         “ Ayah, tidak apa apa. Aku tau ini berat. “


         Cassandra memeluk Ayahnya. Kekesalannya hilang dan kesalahan Ayahnya termaafkan. Ia mengerti, berat memang menjadi Damian.


         “ Ayah rasa ini adalah jalan yang terbaik. Tapi itu salah, bukan begini cara menyelesaikannya. “


         Damian terus saja menutupi wajahnya dan rasa malunya. Cassandra hanya mengangguk dengan lambat. Ayahnya selalu di rendahkan. Di anggap tak kompeten. Di anggap tak becus dan Cassandra menyadari itu. Tekanan saat perusahaan bangkrut pasti membuat ia berpikir pendek.


         “ Maafkan Cassie yang tak pernah membantu Ayah. “


         Selama ini aku hanya tau belanja dan bersenang senang. Oh ya ampun! Apa gunanya otakku yang katana jenius ini.

__ADS_1


         “ Tidak bukan seperti itu, tapi – “


         “ Sebaiknya kita selesaikan ini. Di antara pihak pertama dan pihak ke dua. “


         Alex muncul tanpa mengetuk pintu pastinya, ia langsung nyengir. Cassandra hanya menatap laki laki itu seolah tak peduli.


         Kamu menantangku Cassandra?


         Kamu berani mengejarku, laki laki impoten!


         Mereka saling berperang lewat tatapan. Damian menyadari, ini kesalahannya. Mengumpankan puterinya ke singa, singa api malahan.


         “ Tuan Ale- “


         “ Berhenti, keluarlah Tuan Damian. Ini masalah yang harus di selesaikan antara aku dan anakmu. “


        .l anti depresi yang di sembunyikan di balik buku buku ini. “


         Jangan percaya kata katanya Cassie! Laki laki ini mudah sekali berbohong. Sepertinya dia ahli di bidang bohong – grafi.


         Alex bangkit dan mengambil salah satu buku tebal dengan judul ‘ The History Of USA ‘ buku dengan sampul kulit itu di ambilnya dengan paksa. Sampai beberapa pil obat terlihat di balik sana. Cassandra melongo mendapati apa yang ia temukan baru baru ini.


         “ Kasihan. “ komentar Alex tak di dengar Cassandra. Ia masih syok karena ada banyak botol pil kosong. Jumlahnya mungkin puluhan di belakang buku itu. Raknya penuh dengan botol pil kosong.


         Sejak kapan Ayahku banyak meminum obat obatan.


         Alex mengambil salah satu botol pil yang sudah kosong. Ia melihat puluhan botol itu saat menemui Damian. Tak sengaja ia menemukan pil yang baru di minum Damian saat laki laki itu menemui Cassandra.


         “ Apa Ayahmu depresi, aku dengar. Dia sering di rendahkan di antara keluargamu yang lain. “


         Cassandra meremas jari jarinya dengan geram. Berani beraninya Alex ikut campur dalam urusan keluarganya dan ikut menjelek jelekan Ayahnya.


         “ Aku juga tau, Ayahmu tidak terlalu pandai dengan urusan bisnis. Tapi dia harus tetap masuk dunia bisnis. “


         Alex memutar tutup botol itu. Isinya benar benar sudah habis.


         “ Apa yang kamu mau sebenarnya. “


         “ Anak, darimu. “


         Alex mengatakannya dengan nada dingin. Mata zamrud itu tak bergetar sedikitpun. Aku memang bersungguh sungguh. Yang aku butuhkan sekarang, anak.


^^^


                  Cassandra memiringkan kepalanya, ia lalu tersenyum ganjil.


         “ Butuh berapa anak kamu dariku? Sepuluh? Sampai kamu mengejarku sampai ke sini. “


         Cassandra sudah hendak berdiri. Ia tak mau di tekan oleh Alex. Ini rumahnya! Wilayah kekuasaanya.


         “ Jadi, kalau aku bilang aku butuh sepuluh bagaimana? Kamu menyanggupinya? “


         Alex menarik tangan Cassandra dan menatap wajah itu lekat lekat.


         Pembangkang. Pendendam, juga pemarah. Kombinasi yang tepat. Aku jadi tertarik untuk hal lain, bukan lagi masalah anak. Membuat pembangkang menjadi penurut, pemarah jadi penurut, pendendam jadi penurut. Ah! Menarik.


         “ Lepaskan! “


         “ Tidak mau. “ jawab Alex dengan tenang. Ia malah tersenyum dengan sangat manis pada Cassandra.


 Sial! Jantungku! Kenapa kamu berdebar hanya dengan senyuman murahan itu! Kamu menghianatiku! Cassandra memutarkan wajahnya. Tak kuat melihat senyuman Alex.


Alex malah bingung, kenapa Cassandra memalingkan wajahnya.


         “ Tatap aku Cassandra. “ panggil Alex. Ia ingin tau ekspresi apa yang sedang di sembunyikan Cassandra. Apakah umpatan, sumpah serapah atau apapun itu. Alex penasaran.


         Sial! Mana mungkin aku menatapnya kalau jantungku seperti loncat indah!


         “ Tidak mau! Lepaskan aku sekarang. “ desis Cassandra tanpa memalingkan wajah sedikitpun. Cassandra merasakan nafas Alex yang semakin mendekat.


         Asih! Apa yang sedang dia lakukan! Sinting, apa dia mau menggerayangi leherku.

__ADS_1


         Plak!!


         “ Kamu menamparku? “ Alex mengelus pipinya yang tak bersalah apapun. Tapi malah terkena tamparan Cassandra.


         “ Hei, aku sudah bilang jangan sentuh aku. Lepas. Itu bayaran yang setimpal. “


         Akhirnya Cassandra bisa bebas dari cengkeraman Alex. Ia menjauh ke belakang tak mau sedekat tadi dengan Alex. Tanpa sadar, ekor matanya menatap botol pil yang teronggok di meja. Cassandra menatap miris ke botol itu.


Ayah menghianatiku. Ayah dan anak harusnya tak menyimpan rahasia. Desis Cassandra. Ia merasa sangat bersalah dan juga durhaka. Dan sialnya, Alex menangkap tatapan Cassandra barusan.


         “ Kamu khawatir bukan? Jangan berbohong. “ ujar Alex. Ia tau, sedikit demi sedikit. Cassandra anak yang manja pada Ayahnya. Berarti, dia juga peduli pada Damian.


         “ Apa? Sok tau. “ komentar Cassandra. Tapi memang benar sih, dasar! Dia bisa membaca pikiran ternyata.


         “ Seminggu. “ Alex mengepalkan tangannya dan duduk lagi dengan elegan. Bulu mata Alex benar benar lentik, membingkai mata zamrud itu dengan sempurna. Sayangnya, Cassandra ingin mencolok mata sempurna ciptaan Tuhan itu.


         “ Seminggu lagi, kalau sampai kamu tidak ikut denganku. Mengikuti peraturanku. “ Alex mengucapkan semua kata katanya dengan dingin dan tak berperasaan. Seperti sedang menghitung detik pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.


         “ Maka Ayahmu akan bangkrut, bukan karena dia tak becus. “


         Cassandra mendesis saat Ayahnya di rendahkan oleh Alex.


         “ Tapi karena aku sendiri yang akan membuatnya bangkrut. “


         Rasanya Alex seperti di atas awan. Tak akan ada lagi perdebatan atau pembangkangan dari Cassandra kalau ancamannya sudah menyangkut Damian. Cassandra malah sudah membayangkan lebih tinggi lagi dari kebangkrutan.


         Ayah? Bangkrut! Jangan sampai! Apa kata Paman dan Bibi? Mereka akan mengejek Ayah karena ketidak becusannya! Apalagi mulut Nenek! Di sumpal apa mulut itu kalau sekali bersuara sudah seperti ocehan Sweety di pagi hari.


         Cassandra membayangkan nasib Ayahnya dengan nelangsa.


         Alex menatap kecemasan di wajah Cassandra. Cepat berpikir Cassandra. Aku tidak punya waktu banyak. Aku juga sedang di kejar kejar tuntutan anak tau!


         Alex mengetuk ngetukan jarinya ke meja seolah sedang mendentumkan waktu. Dan waktunya semakin menipis karena Cassandra lama berpikir. Otaknya tersumbat! Untuk berpikir saja butuh waktu lama. Alex nampak tak sabaran. Ia hendak berdiri. Tapi Cassandra menghentikannya.


         “ Ayo! “ tantang Cassandra dengan pikiran bulat. Tiba tiba pikiran gila yang tak pernah terbesit di otaknya muncul begitu saja.


         “ Apa?! “ tanya Alex dengan bingung. Ayo untuk apa?


         “ Iya, ayo kita tanda tangani kontrak. “ ujar Cassandra dengan percaya diri.


         “ Kontrak, denganku? “ Alex menunjuk wajahnya dengan telunjuknya. “ Kamu tidak akan menyesal Cassandra, karena aku adalah laki laki yang menepati janjinya. “


         Alex hampir saja bangkit, ia begitu senangnya karena akhirnya Cassandra berhenti keras kepala dan mengikuti perintahnya. Ah, akhirnya dia tak lagi pembangkang.


         “ Siapa?! Yang mau menandatangani kontrak untuk punya anak denganmu! “


         Alex melotot, jadi? Kontrak apa yang dia maksud barusan? Aku tidak salah dengar kan? Alex mulai meragukan pendengarannya.


         “ Ayo kita buat kontrak! Aku akan melunasi hutang sepuluh triliun itu dalam seminggu.”


         Kata kata yang keluar dari mulut Cassandra. Mengejutkan Alex.


         “ Seminggu? Sepuluh triliun? “ Alex nampak mencemooh.


         “ Jutaan orang bahkan tak menyadarai. Kalau kamu itu bodoh, “ Alex menatap Cassandra dengan merendahkan. Cassandra juga tau, ia memang bodoh. mana bisa seminggu ia menghasilkan uang sepuluh triliun!! Sinting dan tak punya otak memang Cassandra. Ide cemerlang apa barusan! Ide konyol baru benar!!


         Sabar Cassandra! Selain sifat menyebalkan yang di miliki laki laki impoten ini. Dia juga sangat suka merendahkan orang lain. Setelah aku lebih kaya dari dia, aku akan membeli rumahnya dengan paksa, membeli semua yang ia miliki dengan paksa. Haha! Aku akan menunggu saat itu. Saat kejayaanku.


         “ Kenapa? Kamu takut kalau aku bisa membayar hutang hutang Ayahku dalam seminggu? Kamu takut kamu kalah dan kamu harus mencari perempuan lain. Bersiaplah Tuan Alex. “


         Cassandra ingin menghardik lidahnya karena sudah menyebut nama Alex.


         Alex tak suka di tentang. Dan Ia sedang di tentang.


         “ Aku yakin, kamu akan gagal. “ ujar Alex dengan mantap.


         “ Dan maaf, aku akan membuatmu kecewa. Aku tidak akan gagal. “


         Aku akan memimpin perusahaan Ayah. Aku tidak akan membiarkan tangan laki laki menyebalkan ini menghancurkan perusahaan Ayah. Tidak akan.


         

__ADS_1


__ADS_2