
Alex menatap tajam Cassandra karena telah menolaknya. Alex tak ingin di tolak dan tak biasa di tolak. Ia biasa di turuti. Dan itulah aturan hidupnya! Orang orang harus menurutinya, di bawah kendalinya. Dan wanita di depannya ini, selalu saja menolak kehadirannya dan perintahnya. Dan dengan terang terangan memberikan isyarat membenci yang sangat kuat padanya.
“Kamu tau Cassandra?” usapan tangan lembut Alex di pipi Cassandra justru membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Ia takut, saat Alex berbicara dengan suara dingin padanya. Apa lagi, sesaat ia melihat mata zamrud yang pernah Cassandra kagumi, karena ya ampun! Sangat indah! Ternyata berubah menjadi gelap dan mengerikan.
“Aku belum pernah merasakan penolakan sebelumnya....” bisik Alex dengan masih mengusap lembut pipi Cassandra, sekujur tubuh Cassandra menjadi sangat dingin.
“Aku harus berterima kasih padamu, karena telah membuatku merasakan sensasi ini. Marah karena perintahku di bangkang.” Dan secepat kilat tanpa bisa Cassandra sadari, bibir Alex membungkamnya. Dengan keterkejutan yang membuat mata Cassandra sampai membulat sempurna! Benar! Alex mengindrai bibirnya tanpa permisi.
Plak!!!
Cassandra menarik diri dari Alex semakin menjauh setelah memberikan tamparan pada Alex, laki laki itu, kembali di kejutkan. Sekarang, mungkin posisinya berubah. Bukan lagi Alex yang memberikan kejutan pada Cassandra. Tapi perempuan itu bertubi tubi memberikan banyak kejutan padanya. Seperti tamparan barusan, yang sangat pedih di pipinya. Tapi wajah dingin Alex tak bisa membuat Cassandra tenang. Ia malah semakin gugup dan meneguk ludahnya dengan kelu. Ia sadar, telah membuat Alex semakin marah.
“Well, ini juga sensai baru untukku. Baru kali ini, aku di tampar..... oleh wanita cantik.” Ucap Alex dengan sangat tenang, nyaris tak ada emosi di setiap kata katanya. Saat hendak mendekati Cassandra lagi, tubuh wanita dengan dress peach yang memasuki pesta bersama Alex itu menghadang jalannya.
“Alex! Kamu tidak apa apa!!” tanya Bella dengan sangat panik, ia langsung menjuruskan pandangannya pada Cassandra, pandangan tidak suka tentunya. Alex menyeringai tanpa jawaban.
“Kamu apa apaan! Apa kamu tidak punya sopan santun!!” bentak Bella pada Cassandra yang tak bergeming, ia malas bertikai dengan Bella yang sangat kekanak kanankan di mata Cassandra itu.
“Kamu merusak wajah tampan tunanganku!!! Apa kamu sudah tidak waras! *****!!” teriak Bella dengan sangat marah! Ia sangat gamang dan ingin sekali meremas wajah Cassandra sampai kusut dan tak berbentuk. Lain halnya dengan Cassandra, ia justru kaget. Karena setelah ia bebas dari Alex, dengan mudahnya? Laki laki itu... menjadikan Bella? Wanita super kekanak kanakan yang akan mengandung anak Alex?
Sesaat Cassandra tak bisa menguasai diri karena kekagetannya, tapi ia tersenyum janggal. Bella merasa ini sebagai bentuk penghinaan! Cassandra menghinanya!
“Hei! Kenapa kamu tersenyum seperti itu! Buang senyumanmu itu!” bentak Bella lagi, entah kenapa. Alex hanya diam, ia malah tertarik dengan reaksi yang akan di tunjukan Cassandra pada Bella.
“Seleramu turun.” Tuduh Cassandra dengan tenang dan tak marah karena telah di maki oleh Bella. Alex sangat terkejut, ia kira, Cassandra akan menyerang Bella dengan lidah super tajamnya, seperti yang selalu ia lakukan pada Alex. Tapi Alex sangat terkejut, justru ia yang di serang oleh Cassandra.
Tersenyum tipis,”Aku tidak pernah menurunkan standarku. Jadi, bagaimana Cassandra? Setelah melihat wanita yang katamu terlihat lebih rendah dari standarmu.” Alex menatap Cassandra dari atas sampai bawah. Damn!! So pretty!!! Batin Alex merasa frustasi. Sekarang, karena ulahnya sendiri. Cassandra makin terlihat cantik dengan dress hitam yang fit body dan sedikit basah.
“Apa kamu mau menggantikan wanita itu? kamu tau kan, tujuanku.”
Pipi Cassandra memerah. Ini adalah masalah yang hanya di ketahui Alex, Ayahnya dan juga Cassandra. Jadi Bella menatap kedua manusia itu dengan bingung.
“Mimpi! Mimpi setinggi langit Alex!!”
Setelah mengatakan itu, Cassandra langsung pergi ia sangat malas membawa masalah ini lebih jauh lagi. Cassandra bergegas pergi dengan terburu buru, ia langsung hilang dan lenyap dari pandangan Aelx maupun Bella. Semua mata di pesta itu juga menyoroti mereka bertiga. Tapi begitu Alex sadar ia menjadi tontonan publik. Ia mengitarakan pandangan mengancam dan mengintimidasi. Sekejap, hanya butuh waktu beberapa detik. Para tamu langsugn bungkam dan tak lagi bergosip.
“Alex! Ada urusan apa kamu dengan Cassandra?!” todong Bella dengan raut jengkel dan nada cemburu. Alex tau, kalau mereka adalah tunangan yang saling mencintai, seharusnya ia akan menjelaskan masalah ini agar Bella tak lagi salah paham dan cemburu. Tapi kesabaran Alex dalam menghadapi sikap kekanank kanakan Bella sudah habis.
“Jadi? Otakmu belum bisa mencernanya?” tanya Alex dengan penjelasan yang tak menjelaskan. Wajah Bella menjadi pucat karena sikap Alex menjadi mengerikan terhadapnya.
“Kau pikirkan saja sendiri, aku memberikan kebebasan padamu. Untuk menebak, apa hubunganku sebenarnya, dengan Cassie.”
Nama panggilan sayang Cassandra itu seperti sebuah nama yang membuat Alex ingin memanggilnya berulang kali. Alex tersenyum sekilas, saat ia menyadari, kalau panggilan Cassie itu telah ia gunakan juga saat memanggil Cassandra.
“Maksud-“
“Aku pergi dulu, aku akan menyuruh orangku untuk menjemput dan mengantarmu pulang. Pulanglah sendirian. Aku pergi dari pesta membosankan ini.” Ujar Alex dengan tak peduli dengan kelanjutan kalimat yang Bella belum selesaikan.
Alex berlenggang pergi. Tubuh tegap itu seperti galah yang tegak dengan sangat lurus. Angkuh dan memang sikap Alex sangatlah pongah. Auranya benar benar gelap dan mengintimidasi, bisa membuat orang taklut, bukan karena apa. Tapi karena takut.
Alex meraih ponsel di saku celana bahannya dan memencet salah satu punggawa yang ia miliki. Alex menahan geraman, ia sangat tak suka menunggu lama. Panggilan di jawab! Akhirnya!
“Cepat, jemput Isabella dan antarkan dia pulang.” Hanya perintah singkat itu, dan Alex melihat arloji di tangannya. Lima menit, ia tebak dalam waktu lima menit bawahannya itu akan sampai dalam waktu sekian menit itu.
Langkah Alex kian cepat saat ia mendengar bunyi gemeletuk heels yang berbenturan dengan lantai dengan tempo yang cepat. Bella sedang terbirit birit mengejar Alex di depannya. Tapi Alex acuh, ia terus berjalan ke arah mobilnya dan pergi begitu saja. Bella bahkan tak bisa punya kesempatan untuk berbicara.
__ADS_1
^^^
Halaman rumah Dominica sangatlah luas dan punya jalur keluar mobil yang sangat panjang. Alex menyetir menjauh, setelah lumayan jauh dari pintu utama dan dapat di pastikan Bella takan melihatnya dan mengejarnya, Alex menyetir mobilnya dengan tenang dan lambat.
Alex melihat sekeliling. Ia baru kali ini, bertandang ke rumah keluarga Dominica. Punya selera yang bagus dalam penataan hunian. Alex sampai berdecak kagum saat melihat tatanan bunga yang tumbuh di sepanjang jalan. Bunga bunga mahal.
Mata Alex terpicing saat melihat sosok memakai dress hitam itu. awalnya nampak tak terlihat, samar karena kegelapan. Dan saat sorot lampu mobil Alex menyorotinya. Cassandra langsung menutup mata karena silau.
“Landak kecil....” gumam Alex dengan puas saat lagi lagi, takdir atau apapun itu, mempertemukannya dengan Cassandra.
Wajah panik Cassandra jelas terlihat. Ia melihat mobil Allen, tanpa pengemudinya tentunya. Dan Allen tak ada di manapun! Cassandra berlari ke arah pintu keluar, menanyakan apakah Allen pergi dengan temannya ke suatu tempat dan belum kembali ke pesta. Tapi tak ada yang tau.
Dengan lambat dan untuk mengintimidasi Cassandra. Alex berjalan dengan santainya menuju perempuan itu. gemeletuk sol sepatunya seperti detik detik kematian Cassandra. Ia baru saja menampar Alex! Dan Tuhan mempertemukan mereka di situasi di mana Alex bisa membalas Cassandra dengan banyak cara tanpa bisa ketahuan orang orang.
“Jangan mendekat!” sergah Cassandra dengan cepat. Ia takan membiarkan Alex mendekatinya, barang satu inchi-pun! Tidak! Tapi Alex tak peduli, ia terus berjalan. Lima, empat, tiga, dua, rasanya seperti maut hampir menyergap Cassandra.
“Aku bilang jangan mendekat!!” ucap Cassandra semakin panik.
“Aku tidak mendekat, aku hanya menuju ke arah yang sama denganmu.” Dalih Alex, ia sudah memasukan kedua tangannya ke saku celananya. Alex mungkin terlihat sangat mengerikan sekarang ini, tapi jujur saja. Sebenarnya, Alex sangat menikmati saat ia menuju, berjalan ke arah Cassandra.
Cassandra gugup, takut, khawatir, dan semuanya menjadi satu.
Tuhan! Kalau engkau masih menganggapku umatmu! Tolong, berikan mujizat! Atau apapun sekarang! Selamatkan aku dari setan terkukut yang berhasil lolos dari neraka ini.
Alex malah semakin senang saat melihat Cassandra diam tak berkutik, ia semakin di atas awan.
Lari Cassandra?? Tidak akan!!
Nafas Cassandra tercekat saat Alex hanya tinggal beberapa langkah darinya. ******! Rasanya Cassandra ingin mati di tangan orang lain saja di banding mati di tangan Alex!
“Cassandra!!” panggil Alex dengan sangat panik karena sikap nekat Cassandra.
Cassandra tak terseret atau tertabrak. Ia membuka matanya dengan takut takut, Alex masih terpaku di sana dengan kelegaan di wajahnya, Cassandra bahkan heran, kenapa raut wajah Alex sangat lega saat melihat ia tak terluka. Bukannya Alex datang untuk membunuhnya? Secara langsung?
“Permisi!!” dengan cepat Cassandra langsung memutari mobil dan membuka pintunya, si pengemudi yang masih takut karena seperti melihat penampakan itu masih terpaku. Ia baru saja akan menabrak seseorang, dan orang itu malah berlari masuk ke dalam mobilnya!
“Danil!!!” jerit Cassandra tak bisa percaya saat melihat wajah pengemudi. Saat wajah mereka saling berhadapan.
“Wanita gila!” bentak Danil saat kewarasannya sudah kembali. Cassandra tak tau kenapa, ia selalu berakhir seperti ini. Saat hendak kabur dari Alex, ia selalu berlari dan hampir menabrak mobil. Dan untuk kedua kalinya, ini Danil! Oh Tuhan!
“Cepat, jalankan mobilnya Danil!!”
“Sekarang!!”
Alex yang bergegas mendekati mobil yang tak ia ketahui siapa pemiliknya itu. Alex mengetukan tangannya dengan panik ke jendela mobil.
“Danil!! Cepat jalan!!” perintah Cassandra dengan sangat panik. Danil malah semakin bingung, karena Alex lah yang membuat Cassandra ketakutan.
“Aku harus apa Alana? Oh Cassandra.....” tantang Danil dengan raut wajah lugu yang di buat buat. Cassandra semakin berang karena di luar sana, sepertinya Alex sudah siap untuk mencengkeram lehernya. Bunyi ketukan di jendela saja semakin tak kira kira.
“Aku mohon Danill......!!” Cassandra sangat frustasi kali ini, Danil jadi sedikit iba. Wanita cantik luar biasa pintar yang pernah ia temui di pinggir jalan dan di ruang meeting itu sekarang membuat Danil menyeringai.
“Aku akan membantumu.” Dan saat keputusan itu di ambil, Danil langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat, menderu sampai asap knalpot mobilnya bisa terhirup dengan pekat oleh Alex.
“Fuckkk!!” teriak Alex, ia lagi lagi kehilangan Cassandra. Dan saat palt mobil Danil menjauh, Alex memicingkan matanya dan menyadari siapa pemilik mobilnya.
__ADS_1
“Danil!”
^^^
Di sisi lain, saat Alex berhenti meneriakan nama Danil. Laki laki yang di sebutkan namanya dengan amarah itu justru tersenyum. Ia seperti mendapatkan sebuah kunci emas. Sangat berharga untuk mendapatkan sebuah harta.
“Kamu mau aku antarkan lagi, atau kamu lebih memilih, aku jatuhkan tubuhmu di tengah jalan, Cassandra....”
Cassandra melirik ke arah Danil dengan tajam,”Jangan mengancamku dengan cara seperti ini Danil! Ini tidak lucu sama sekali!!”
Danil terkekeh, rupannya Cassandra masih dengan sikapnya yang tidak mudah di gertak itu.
“Jadi, sekarang aku beri tau Cassandra, kalau aku masih ingat betul jalan ke rumahmu. Tapi selamat atau tidaknya kamu sampai ke rumah, tergantung bagaimana cara kamu menjawab pertanyaanku.”
Cassandra rasa, ia jatuh ke kandang singa setelah di kejar kejar iblis.
“Apa yang ingin kamu tanyakan, cepat!”
Danil terkekeh, rupanya Cassandra sangat ketakutan akan ia turunkan di jalan saat malam malam begini. Danil melemaskan otot lehernya.
“Well, aku akui. Cara Kakaku menciumu di pesta barusan. Sangatlah berkesan...” puji Danil dengan tenang. Nyatanya, wajah Cassandra memerah karena mengingat adegan barusan. Ia tidak emnyukai sentuhan Alex!!
“Kam- kamu melihatnya?” tanya Cassandra dengan terbata bata, ia malah lebih gugup lagi. Jangan jangan! Allen pergi karena melihat ia dengan Alex! Pasti!! Keyakinan Cassandra semakin meninggi!
Danil justru terkekeh, ia melirik ke arah Cassandra sebentar. “Itu pesta Dominica, dan kalau kamu tidak tau siapa itu Danil Airlangga, biar ku ucapkan lkalimat ini sekali lagi. Aku adalah laki laki paling di minati, di kota ini Cassandra.” Ucap Danil dengan sangat menyombongkan diri.
“Tentu, kamu yang paling populer di kalangan wanita, setelah Alex tentunya.”
Danil langsung menghentikan kebanggaanya. Ia lupa, kalau ia bericara dengan Cassandra. Yang mulutnya sangat pedas.
“Terserah pada penilaianmu Cassandra.” Ucap Danil, sepertinya Danil tak ingin membahas lebih lama masalah kekalahannya dengan Alex di bidang itu.
“Kamu sendiri yang menyombong terlebih dahulu.” Jawab Cassandra dengan cuek. Ingat, harga diri laki laki sangat tinggi. Ketimbang mengatakan kalah, mereka akan mengatakan, ini hanya kebetulan.
“Rupanya kamu ingin aku turunkan di dekat palang itu lalu aku tinggal begitu saja ya Cassandra...?” masih dengan nada mengancam, membuat Cassandra harus menelan ludahnya.
“Tentu tidak Danil, sekarang katakan. Akan aku jawab semua pertanyaanmu dengan lemah lembut dan sopan santun.” Cassandra menggigit ujung lidahnya, rasanya sekarang ini, pangkal lidahnya sudah gatal ingin memaki Danil. Tapi ia tahan, dengan cara menggigit lidahnya agar tak kebablasan.
“Hem.. baiklah... aku akan antarkan kamu, sampai di rumah. Pertanyaanku hanya satu, dan itu sangat mudah untuk di jawab.”
Danil meregangkan otot tangannya karena mengemudi terlalu lama.
“Jadi, apa hubunganmu dengan Alex, Cassandra?” tanya Danil dengan suara lirih, dan mengintimidasi. Cassandra sampai gugup, ia tak biasa melihat Danil seperti ini. Memang benar, darah tetaplah lebih kental dari air. Sesaat, cara mengancam Danil, sama seperti Alex.
“Aku tidak-“
“Hubungan kalian yang sebenarnya, apa yang sudah terjadi di antara kalian. Karena aku tidak suka di bohongi Cassandra, jawablah pertanyaanku ini dengan tenang. Karena kamu tidak perlu repot repot untuk berbohong....”
Saat ini, di setiap kata katanya yang selalu pedas dan tak pernah di filter, justru saat ini Cassandra ingin berbohong. Berbohong dengan bodoh pastinya. Misalkan ia kenal dengan Alex saat mereka ada di lapangan golf! Uh! Itu sepertinya takan mungkin!
Apa aku harus mengatakannya? Pada Danil!!?
“Kami, kam-i hanya.....”
__ADS_1