
Alex masuk rumah dengan sangat beringas. Ia baru saja mendengarkan tekanan dari orang tuanya. Airlangga sengaja mampir ke kantor hanya untuk mengusik anak lelakinya itu untuk segera menikah dengan perempuan pilihannya. Dan jawabannya sudah jelas. Tidak. Tidak akan.
Brakk!!! Suara pintu yang di tutup dengan sangat emosi.
“ Kenapa dia masuk seperti kesurupan? “ tanya Cassandra pada Clara yang tetap menyapu lantai dan hanya diam tak mau menanggapi. Huft. Cassandra kembali mengetikan laporan di laptonya. Waktunya semakin menipis. Dua hari lagi. Potongan dua puluh empat jam rasanya tak cukup.
“ Clara!! “ jerit Cassandra dengan sangat frustasi. Clara jadi takut sendiri.
Dua pasangan ini, kenapa sangat suka berteriak? Batin Clara sambil tetap menyapu lantai. Cassandra bangkit dan membawa laptop itu ke atas. Ia akan mengerjakan ini di kamar. Dan melakukan banyak sekali riset. Banyak riset. Camkan itu.
Dengan langkah yang berhati hati. Cassandra takut mengusik hati Alex yang sedang tidak baik. Tuk tuk tuk. Langkahnya terdengar sangat hati hati saat melewati kamar Alex.
“ Cassandra!! “ teriak Alex dari dalam.
Mampus!! Batin Cassandra dengan berusaha mengabaikan panggilan maut itu. Ia berjalan begitu saja. Aku tidak dengar! Tidak dengar sama sekali. Batin Cassandra sambil merem melek berdo’a untu keselamatannya.
“ Cassandra!! Aku tau kamu mendengarnya! Cepat masuk atau aku pangkas kakimu agar tidak bisa lari. “ mendengar ancaman Alex yang terdengar seperti janji yang pasti akan di tepati itu. Cassandra jadi mencirut.
“ Iya Alex, ada apa. “ saut Cassandra di ambang pintu. Gila kalau ia berani masuk ke kamar Alex. Masuk kandang macan namanya!
“ Cepat kemari! “ perintah Alex dengan tak sabaran. Cassandra masih di ambang pintu. Gila! Gila! Makin gila saja Alex ini. Kutuk Cassandra. Lagi lagi ia tak berani.
“ Ada apa? Kamu- “
“ Cepat masuk!! “ perintah Alex dengan amarah yang sudah tak bisa di bendung. Dan Cassandra tak punya tekad ataupun keberanian untuk membangkang. Ia langsung berjalan dengan sangat hati hati. Jangan sampai, ia di telan bulat bulat.
“ Duduk! “ perintah Alex sembari menggeser tubuhnya ke sambping. Laki laki itu sedang duduk menghadap jendela besar yang memperlihatkan langit malam yang hampa dan kosong. Tak ada bintang ataupun rembulan. Kamar yang sama gelapnya seperti keadaan di luar sana, seperti menyatu dengan keadaan.
“ Duduk Cassandra! “
“ Iy- iya. “ dan akhirnya Cassandra benar benar duduk. Ia masih menjaga jarak dan mengawasi Alex. Siapa tau Alex punya shio macan dan hobi menerkam. Kan tidak ada yang tau. Alex membisu. Wajahnya seakan penuh misteri di liputi kegelapan dan tak terlihat ekspresinya sama sekali.
“ Duduk di sini, aku mau mengambil wine. “ dan tubuh Alex bangkit berjalan ke belakang kamarnya entah kemana.
Dia bilang apa tadi? Wine! Gila! Selain impoten dia juga gila, mau mengajaku minum sampai mabuk atau bagaimana?! Cassandra sudah bersiap. Ancang ancang untuk kabur sudah di siapkan. Tinggal menunggu peluit dan yak! Cassandra sudah siap untuk berlari.
“ Mau kemana! “ pekik Alex saat melihat mata Cassandra celingukan melihat situasi, “ Aku bilang duduk, bukan pecicilan seperti barusan. “
Dengan tangan yang terulur mengulurkan gelas wine. Cassandra dengan terpaksa menerima gelas itu. Dengan gerakan cepat dan tutup itu terbuka. Tuangan wine yang harum dan pekat itu membuat Cassandra meneguk ludahnya.
Sial, ini bukan kadar alkohol yang bisa ku toleransi.
Melihat kepanikan di wajah Cassandra membuat Alex jadi menahan geli, “ Kenapa? Takut mabuk? Lemah. “ tantang Alex yang di sambur tatapan tak terima dari Cassandra.
“ Siapa bilang! Dasar imp- “ Cassandra menghardik bibirnya. Hampir saja ia mengumpati Alex dan membuat laki laki itu marah.
“ Minum. “ sela Alex saat ia selesai menuangkan wine di gelasnya dan gelas Cassandra. Ia duduk kembali di samping Cassandra. Mata Alex tertuju pada jendela di depannya. Pemandangan gelap, tapi kenapa Alex lebih memilih begini. Ia menenggak wine itu seperti meminum air biasa. Tuangan yang kedua. Dan Cassandra sampai heran saat melihatnya.
“ Kenapa belum di minum? “ tanya Alex dengan heran. Entah kenapa ia sedang butuh teman untuk minum. Dan sialnya, Cassandra yang lewat di depan pintu kamarnya. Cassandra mulai takut takut.
__ADS_1
“ Kenapa? Kamu benar benar tak kuat minum wine. Tenang. Ini tidak memabukan. “ racau Alex dengan senyum yang sudah terlihat melunak.
Tidak memabukan apanya! Kamu sendiri sudah mulai mabuk sekarang! Mata Cassandra melirik Alex yang meminum winenya lagi. Cassandra yakin. Ia akan pusing kalau meminum banyak wine.
“ Minum. “ dan mendengar itu Cassandra langsung berpura pura menyeruput wine itu dengan perlahan. Senyuman puas Alex tersungging saat tepi gelas itu sudah bersambut dengan bibir Cassandra.
“ Nah, benar bukan. Tidak mabuk. Dasar perempuan bodoh! “ tepukan di kepala Alex membuat Cassandra hampir marah.
Dasar! Kamu yang bodoh! Kamu yang mabukkk!!
Cassandra terima saja saat wajahnya di orak arik oleh Alex. Dua hal yang Cassandra ambil dari hidup ini. Jangan membuat masalah dengan orang yang sedang marah. Dan yang kedua, jangan membuat masalah dengan orang yang sedang mabuk. Dan jangan membuat masalah pada orang yang marah marah sambil mabuk.
“ Hah! Wajahmu memerah! “ pekik Alex saat ia melihat wajah Cassandra yang memerah.
Bodoh! ini merona! Dan bodohnya, kenapa aku merona!!! Cassandra menepis tangan Alex dengan kasar.
“ Jangan mengacak ngacak wajahku!! “ bentak Cassandra. Dengan cepat ia menengguk wine di gelasnya.
“ Aihs!! Aku benar benar bodoh! Berbicara dengan orang mabuk.“ sesal Cassandra setelah melihat gelas itu kosong tak tersisa.
Alex sudah menuangkan wine lagi di gelasnya, entah tuangan yang ke berapa. Sebenarnya, Cassandra sangat penasran. Beban pikiran apa yang membuat Alex sampai stress dan marah marah begini. Tanpa sadar, Cassandra menaruh empati pada Alex. Mata zamrud itu nampak berkabut dan tak fokus. Sesekali Alex meracau tak jelas.
“ Sudah ku bilang, aku bisa mencari perempuan sendiri. “ racau Alex dengan bibir setengah terkatup. Ia berpaling pada Cassandra.
“ Lihat dia! “ tunjuk Alex pada Cassandra yang ada di sampingnya.
“ Dia pemarah, sok pintar. Pembangkang! Aneh, kalau dia punya pacar.“ kutuk Alex.
Alex tak bisa di ajak berbicara. Ia sudah tak sadar sepenuhnya, “ Kalau gadis seperti dia saja bisa memiliki pacar. Aku pasti bisa mendapatkan istri siapapun. Wanita manapun. Jadi jangan memaksakan pernikahan. “
Dan mendengar itu, Cassandra jadi terdiam. Ternyata masalah yang sama. Masalah yang menarik Cassandra masuk ke dalam kehidupan Alex. Pernikahan, istri dan anak. Dan Alex memilih anak dari ketiganya.
“ Wanita seperti dia, pasti tunduk padaku. “ tunjuk Alex ke hidung Cassandra.
“ Jangan bermimpi! Aku mana mau dengamu. “ ujar Cassandra dengan sangat gugup. Karena wajah Alex sudah sangat dekat dengannya. Sampai hembusan nafas Alex yang beraroma anggur fermentasi itu terhirup Cassandra.
Dan hap! Bibir itu bertaut tanpa permisi. Bibir Alex si pelopornya. Dengan cepat Cassandra mendorong tubuh Alex.
“ Wah gila! “ Cassandra bangkit dan meninggalkan Alex yang terbaring di lantai. Suhu tubuhnya jadi panas. Panas sampai ia ingin berendam di kutub utara.
^^^
Cassandra berlari terbirit birit masuk ke kamarnya. Laptopnya bahkan hampir jatuh gara gara sibuk berlari. Untung saja tak sampai rusak. Untung saja. Dan sekarang. Sudah di penghujung hari. Tinggal beberapa jam lagi. Waktu Cassandra tinggal satu hari lagi. Mata Cassandra tak bisa di fokuskan. Ia sangat terganggu. Gara gara laki laki dengan bibir yang asal sosor itu! Gara gara Alex!
“ Maafkan aku Allen! “ gerutu Cassandra sambil mengelap bibir dengan lengannya. Sampai lecet rasanya. Tapi gelenyar panas itu tiba tiba muncul.
“ Aish!! Kotor sekali pikiranku!! Gara gara kecupan itu! Itu kan ciuman pertamaku!!! “ Cassandra berteriak dengan sangat kesal, marah, tapi di saat yang bersamaan dia juga tak bisa berbuat apa apa. Sampai akhirnya Cassandra tertidur pukul tiga dini hari. Ia baru bisa melupakan memori tadi saat ia tertidur.
Alex bangun dengan sedikit pusing. Ia baru sadar saat botol wine di sampingnya sudah kosong.
__ADS_1
“ Kenapa aku tidak sadar sudah meminum banyak semalam. “ rungut Alex sambil memijit kepalanya yang sangat pusing. Ia melihat satu gelas kosong di samping gelas yang ia pakai semalam. Alex tidak ingat apapun.
“ Mungkin aku langsung terkapar dan tidur. “ ujar Alex sambil bangkit dengan tergogoh menuju kamar mandi. Tak lama, suara shower mengucurkan air. Tubuh itu di hujani air dari atas sana. Alex hanya mandi sebentar dan langsung berpakaian. Rambut basahnya benar benar mengucurkan air dingin itu. Wajah tegas Alex terlihat lebih segar.
“ Astaga!!! “ pekik Cassandra saat tubuhnya bertabrakan dengan Alex yang baru keluar dari kamar.
“ Tidak punya mata!! “ kutuk Cassandra dan langsung menuruni tangga.
“ Kenapa dia? Sudah pembangkang, marah marah tak jelas pula. Dasar landak betina. “ seru Alex sambil mengusap rambutnya dengan handuk secara kasar. Cassandra sendiri sudah sangat rapih dan tak beberapa lama, bunyi mobil di jalankan.
“ Dia tidak sarapan? Kenapa? “ tanya Alex dengan kening yang berkerut. Ia berjalan masuk kembali ke kamarnya dan membereskan dua gelas wine dan borol wine yang masih tergeletak di lantai. Etnah ada setan apa, semalam Alex tiba tiba ingin minum wine.
^^^
“ Bagus kamu ingat untuk pulang. “ sambutan tak kekeluargaan keluar dari bibir Airlangga. Anak sulungnya itu sudah datang dengan sangat rapi. Pakaian rapi dan wajah sedingin es kutub.
“ Sekali ini saja Alex, dengarkan Ayahmu yang telah merawatmu dari kecil. “ nada suara Airlangga terdengar melunak. Ia sepertinya frustasi, karena Alex melihat Ayahya memeijit mijit kepala seperti sedang menanggung beban berat. Alex jadi melihat kebelakang. Mengingat hubungan Cassandra dengan Ayahnya yang terlihat sangat harmonis.
“ Aku mendengarkan. “ jawab Alex sambil duduk dan menyilangkan kaki. Ayah dan anak ini memang punya gengsi yang sangat besar. Wajar saja sifat keras kepalanya bisa di adu.api dan wajah sedingin es kutub. sangat rapi. pakaian anak wine dan borol wine yang masih tergeletak di lantai.. Airlangga bernafas dengan lega. Hari ini ia tak harus menambah daftar keributan dengan Alex.
“ Temui wanita wanita itu dahulu dan kamu bisa memutuskan. Ayah takan memaksa. Tapi Ayah juga ingin, kamu tidak mengecewakan Ayah. Ayahmu ini sudah ingin memiliki cucu. “
Dan Alex seperti kerbau yang di cucuk hidungnya. Menurut saja dan menganggukan kepalanya. Dengan ini, Airlangga bisa bernafas dengan lega. Ada celah untuknya agar memiliki cucu. Walaupun sebenarnya, Alex punya rencana lain.
Malamnya, benar benar hari yang melelahkan untuk Cassandra. Sulit mengumpulkan data data pencucian uang yang sudah tertimbun selama bertahun tahun tanpa bisa di endus. Cassandra jadi merasakan kalau sekujur tubuhnya seperti di cabut dengan paksa dan tak memiliki tulang lagi.
“ Nona. “ sapa Clara dengan senyum lebar dan membukakan pintu.
“ Selamat malam Clara. “ sapa Cassandra dengan senyum lesu. Ia sangat lelah. Apa lagi berangkat tanpa sarapan hanya untuk menghindari Alex. Tanpa sadar Cassandra melirik ke kamar Alex yang masih gelap dan tak ada pencahayaan sama sekali. Seperti membaca pikiran Cassandra. Clara menutup pintu sambil tersenyum.
“ Tuan Alex belum pulang. “
Mendengar lalporan dari Clara. Cassandra langsung mengelak.
“ Aku tidak peduli, lagi pula siapa dia? Tidak penting. “ ujar Cassandra sambil melingsir ke kamarnya. Ia yang tadinya lemas begitu topik Alex di angkat, langsung pergi begitu saja tanpa permisi.
“ Wah, rindu memang punya daya pikat tersendiri. Punya energi kuat. “ komentar Clara yang salah tangkap. Ia mungkin mengira kalau Cassandra ingin segera menelfon Alex. Tapi laki laki itu sedang ada urusan lain. Dengan wanita lain tentunya.
^^^
“ Selamat malam. “
“ Malam. “ sapa Alex dengan wajah dingin dan nada dingin. Benar benar punya daya tarik semacam frezeer mungkin. Tapi wanita di depan Alex ini nampak tak begitu peduli. Ia menilai perawakan Alex dengan cerman. Six pack, tampan, menawan, kaya. Semuanya ada di nilai maksimal.
“ Kamu belum memikirkan untuk menikah, padahal sudah mapan. Apa kamu mencari yang seperti apa? “ pancing wanita itu. Baru bertemu Alex sekarang ini saja, dia sudah berambisi untuk menjadi wanita kriteria Alex. Harus. Karena menikah dengan Alex. Mungkin sama saja menikahi ladang harta.
Tapi Alex mengacuhkan perempuan itu. Ia malah sibuk dengan ponsel di tangannya. Entah kenapa Alex sangat senang mengganggu Cassandra dengan mengirimkan countdown perjanjian mereka. Dan besok adalah hari terakhir. Dan sepertinya, Cassandra gagal dalam misinya. Amat sangat gagal. Alex jadi tersenyum sumringah untuk ke gagalan Cassandra. Ia mendekatkan tubuhnya ke meja dan menangkup wajahnya dengan tangan kanan.
“ Yang aku cari adalah wanita dengan kecantikan yang manusiawi. Dengan sifat yang manusiawi. Dan juga tentunya- “ Alex menggantung kalimat itu. Suara bass Alex terngiang di telinga gadis itu. Membuatnya melayang mendengarkan suara Alex dengan berjuta fantasi di otaknya.
__ADS_1
“ Yang pasti, perempuan itu bukan kamu. Malam. “ sapa Alex sambil berlalu. Gadis itu hanya melongo dengan perlakuan yang ia dapatkan barusan. Apa barusan ia? Di campakan.