
Alexa datang dengan sangat terburu buru. Ia membawa banyak sekali makanan sampai tangannya kewalahan untuk mengatur makanan itu agar tidak jatuh.
“Aduh!” pekikan keras Alexa karena ia menabrak tubuh kekar dan tinggi yang tak bisa ia lihat karena terhalang puluhan snack di tangannya.
“Hati hati bodoh!” umpat Danil dengan sangat keras.
“Jangan berjalan di tengah lorong idiot!” semprot Alexa tak ingin kalah. Tapi akhirnya, Danil mengalah ia menepikan diri di lorong panjang itu dan membiarkan Alexa untuk lewat. Dan kembali, satu bungkus camilan itu jatuh.
“Ah!! Siallllll!” jerit Alexa dengan sangat frustasi karena itu sudah bungkus kelima yang jatuh dan tak bisa ia pungut. Dengan gerakan cepat dan gesit, Danil meraih bungkus yang berceceran di lantai dan berjalan di samping Alexa.
“Mau kemana? Biar aku bawakan.” Ucap Danil dengan sangat tenang dan dingin. Alexa sampai bingung, kakak nomor duanya ini berlaku sangat baik?
“Ke mini theater, aku mau menonton.” Ucap Alexa dengan gugup. Karena biasanya Danil hanya bisa membuatnya marah marah dan emosi tak jelas. Dengan langkah yang sangat tenang, Danil berjalan di belakang Alexa sembari memungut beberapa bungkus yang jatuh dari tangan adiknya itu. jalan menuju teater itu lumayan jauh dari dapur. Melewati beberapa lorong dan ruangan. Ruangan yang harusnya di gunakan untuk menonton film keluarga itu, justru tak pernah di gunakan selayaknya. Hanya Alexa yang selalu nonton di sana sendirian. Itu seperti kebiasaan.
Dengan nafas lega, akhirnya Alexa bisa menjatuhkan gudang makananya ke lantai tanpa peduli apapun itu. ia duduk dengan sangat tenang dan mulai mensetiing film apa yang ingin ia tonton. Dengan cepat, Alexa memilih sebuah film superhero terkenal yang sering ia tonton dulu.
Danil duduk di samping Alexa tanpa bisa di duga duga.
“Kenapa?” tanya Danil dengan santai menanggapi wajah kebingungan Alexa yang bahkan mulutnya sampai melongo.
“Tidak, ini seperti sangat asing. Kenapa kamu malah ke sini? Maksudku, kenapa masih di sini?” tanya Alexa dengan jujur.
“Kamu mengusirku dari rumahku sendiri Alexa?”
Alexa menggeleng dengan sangat keras, ia justru berpura pura sibuk menonton film tanpa subttile itu. ia sangat senang dengan karakter Thor yang di gambarkan punya palu dengan sengatan petir. Dulu, Alexa ingin membeli palu itu untuk memukul Danil dan juga Alex saat kedua kakanya itu bertengkar. Tapi saat mengingatnya sekarang ini, semuanya terlihat sangat konyol dan lucu.
Alexa meraih raih keripik kentang yang ada di lantai dan matanya masih fokus ke arah layar. Danil dengan sigap menyerahkan satu bungkus camilan yang sangat di sukai Alexa itu.
“Danil! Ayolah! Sebenarnya kenapa hari ini kamu sangat anehh!!!” jerit Alexa dengan sangat frustasi, ia tak tau kenapa Danil tiba tiba sangat baik padanya.
“Memangnya kenapa Alexa? Apa yang membuat kamu marah marah sebenarnya....” gerutu Danil. Ia menatap layar proyektor itu dengan sangat tenang dan santai tanpa memedulikan tatapan menghujam dari Alexa. Dan ia tersenyum saat melihat adegan yang menurutnya lucu.
“Dulu, kalau kalian bertengkar. Aku hanya menonton sendirian...” Alexa buka suara, dulu saat mereka bertiga berjanji akan nonton bersama di hari minggu dan Danil maupun Alex menyanggupi. Alexa sudah sangat senang sekali, ia sudah mengumpulkan banyak sekali snack dan camilan kesukaan ketiganya. Tapi berakhir dengan Alexa yang harus menonton sendirian, karena setelah sedikit demi sedikit tumbuh dewasa. Alex dan Danil jadi sering bertengkar.
“Aku tidak suka di kegelapan sendirian, tertawa rasanya jadi menyeramkan....” tanpa sadar Alexa meraih butiran air matanya yang berhasil lolos. Ia tak suka kalau Alexa dan Danil bertengkar. Tapi ia juda tak bisa ikut campur, karena tak tau apa akar masalahnya. Kenapa dua saudara itu bertengkar untuk waktu yang cukup lama.
“Danil...” rengek Alexa dengan mata yang merah. Ia beruntung menangis di kegelapan, jadi tak perlu repot repot menutupinya.
“Apa kamu tidak bisa akur dengan Alex? Sekali saja, aku mohon ....” pinta Alexa dengan sangat sendu. Suaranya menjadi sangat serak. Danil tiba tiba langsung bangkit dari kursinya saat pembahasan Alex sudah di katakan oleh Alexa.
“Alexa, walaupun kamu sudah bukan bocah ingusan lagi. Tapi permintaanmu itu bukan hal yang mudah untuk di kabulkan....” dan setelah mengatakan itu, Danil pergi begitu saja. Sebelum pintu teater di tutup kembali, Danil kembali berucap.
“Karena kesalahan Alex, sudah tak punya pintu maaf.”
^^^
Danil menghempaskan tubuhnya dan menarik nafas dengan sangat berat. Danil bangkit dari ranjangnya itu dan berjalan ke arah laci di samping ranjangnya. Dengan gerakan lambat tanpa suara. Danil mengeluarkan sebungkus rokok dan menyalakan satu puntungnya, menghisap rokok itu sampai kepulan asap itu melayang di udara kosong kamarnya.
Berkali kali Danil lakukan itu sampai ia merasa lebih baik. Tapi rasanya tetaplah sama. Ia tak merasa baik sama sekali. Ia justru semakin merasa kacau. Dengan gerakan yang sama, Danil mengambil satu bingkai dengan sebuah foto di dalamnya. Seorang perempuan dengan paras ayu yang melebarkan senyum ke arah kamera. Di samping perempuan itu ada Alex, dan mirisnya. Hanya itu foto yang Danil miliki. Seakan mengingatkan rasa sakit dan dendamnya untuk di pupuk bersamaan.
“Karena kesalahan Alex takan pernah bisa di maafkan Alexa, dan aku bukan orang yang bisa memafkan.” Tangan kanan Danil kembali menghisapkan puntung rokok itu berkali kali sampai ia merasa lebih baik. Nyatanya, tidak sama sekali. Danil sudah hancur. Dan itu takan pernah membaik.
__ADS_1
Danil terus menerus melakukan hal yang sama sampai isi satu bungkus rokok itu habis. Dan saat melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul tiga pagi, Danil langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dengan gerakan lambat seperti sedang frustasi.
^^^
Pagi hari Alexa sudah berada di meja makan dan kursi Danil kosong. Ia tak perlu bertanya kemana si penunggu kursi itu. Alexa hanya tau, dini hari tadi. Danil menjalankan mobilnya dan belum pulang sampai sekarang.
“Aku berangkat ke kantor....” seru Alexa dengan sangat lemas.
Alexa berangkat dengan lesu tanpa tau alasannya kenapa. Ia ingin mereka bertiga menjadi saudara dalam artian sesungguhnya. Walaupun banyak sekali pertengkaran di antara mereka, saudara tetaplah saudara bukan?
“Alex....” sapa Alexa dengan lesu. Alexa bisa melihat itu. adik perempuannya yang sangat cerewet dan bermulut dinamit itu tiba tiba menyapanya dengan sangat lesu. Ini hanya berarti satu hal. Dia sedang merasa sedih akan sesuatu. Tapi apa?
“Kamu kenapa Alexa?” tanya Alexa dengan sangat prihatin. Ia sangat menyayangi adiknya satu ini, walaupun kadang sangat merepotkan memikirkan mood Alexa yang naik turun seperti roaller coaster.
“Aku? Tidak apa apa, hanya sedang merasa tidak enak badan....” ucapnya dengan sangat lemas dan berjalan ke arah meja Alex. Meraih beberapa map dan menangkupnya di dada.
“Akan aku kerjakan beberapa urusan kantor, kamu tunggu saja. Aku takan lama, dan kamu tinggal menandatanganinya.”
Alexa berjalan dengan sangat gontai ke arah pintu, tapi Alex mengahalanginya dan menyilangkan tangannya di depan Alexa.
“Kamu sakit Alexa? Katakan sesuatu pada kakakmu ini. Cepat, apa yang sakit? di mana?” tangan Alex sudah menyelusuri jidat Alexa dengan sangat khawatir. Dengan gerakan cepat seperti sedang memastikan suhu tubuh Alexa, panas atau tidak. Tapi Alexa menepis tangan Alex.
“Aku baik baik saja, jangan sok perhatian. Kamu itu boss yang menyebalkan.” Gerutu Alexa sambil berlalu. Alex hanya bisa melongo dengan logat adiknya yang sangat ketus itu.
“Sebenarnya, dia sangat ketus seperti itu keturunan siapa sih?” gumam Alex dengan raut tak percaya baru saja di bentak oleh adiknya sendiri saat ia sedang memperlihatkan perhatian pada adik kecilnya itu.
“Menyebalkan.” Gerutut Alex, sepertinya mereka sama saja.
“Sebenarnya, kamu kenapa Alexa?” tanya Alex dengan sangat tak sabaran, ia sudah berhari hari di perunguti oleh Alexa, dan gadis itu kehilangan keceriaanya. Dan Alexa rasa, ia lebih memilih Alexa yang sangat cerewet di bandingkan Alexa yang sangat pendiam.
“Aku tidak apa apa, Alex. Bisa antarkan aku pulang? Aku sangat kelelahan hari ini, kamu makan malam di rumah juga, biar orang tua kita tidak kesepian, hanya makan bertiga setiap harinya....”
Permintaan Alexa itu tak di tolak oleh Alex, ia hanya diam dan menuruti perintah Alexa. Dengan itu, hari ini mereka akan makan malam berempat. Seharusnya berlima. Tapi Alesa rasa, ini lebih baik kalau ia melihat kursi Alex terisi dari pada melihat kursi Danil yang selalu kosong beberapa hari ini.
^^^
Alex turun dari mobil dan mengantar Alexa untuk berjalan dengan hati hati.
“Besok jangan berangkat, biarkan tubuhmu istrirahat.” Ucap Alex penuh perhatian.
“Kalau begitu, biarkan aku jadi pengangguran dan tetap gaji aku dengan layak.”
Alex hanya diam, ia berjalan di samping Alexa, ia takut adiknya itu akan oleng dan terjatuh karena terlihat sangat lesu dan lemah. Sebelum mereka masuk ke dalam rumah. alexa meraih kursi di teras dan duduk di sana untuk beberapa saat. Menangkupkan tangannya ke wajah.
“Apa yang kamu lakukan Alexa, ayo masuk...”
“Aku menunggu Danil....” gumam Alexa dengan sangat lirih,”Danil belum pulang selama beberapa hari ini.” Lanjut Alexa lagi dengan gumaman yang kian lirih dan kemudian mata Alexa menutup. Alex bergerak sangat panik mendekati Alexa yang tiba tiba pingsan.
“Alexa!! Alexa!!!” teriak Alex dengan sangat panik karena tubuh adiknya terkulai sangat lemas dan bibirnya sangat pucat. Tuhan! Alex seperti ingin menghabisi Danil.
“Alexa kenapa?” tanya Danil yang tiba tiba muncul dari mana.
__ADS_1
“Dasar sialan! Ini gara gara kamu!!” umpat Alexa sambil menepis bantuan yang di tawarkan Danil padanya. Ia langsung meraih tubuh Alexa dan membawa adik kecilnya itu untuk beristirahat ke kamar.
^^^
Alexa terkena tipes. Hanya itu yang bisa di jelaskan mengenai kondisinya yang sangat lemah akhir akhir ini juga karena beban pikirannya yang sangat banyak. Alexa bahkan tak bisa menelan makan siang saat di kantor. Saat makan malam di rumah, ia hanya berpura pura makan untuk membuat kedua orang tuanya tidak khawatir.
“Semua gara gara kamu!!”
Bugh! Pukulan di layangkan Alex ke wajah Danil dan laki laki itu tidak menghindarinya. Justru Danil mengusap ujung bibirnya dan tersenyum sinis.
“Memangnya apa yang aku lakukan hah? Apa kamu tidak merasa ini semua karena ulahmu? Memberikan banyak pekerjaan pada Alexa...?”
Alex semakin marah karena jawaban Danil barusan, ia langsung menerjang tubuh Danil dan melayangkan satu tinjuan lagi.
“Kamu pikir Alexa seperti itu karena apa hah? Dia memikirkan kemana saja kamu selama beberapa hari ini!! Dasar sialan!!” sekali lagi adu jotos antara Alex, memang hanya di dominasi Alex karena Danil tidak membalas sama sekali. Ia justru sedang mencerna kata kata Alex barusan. Ia sudah pergi sejak empat hari yang lalu dan Alexa tau ia pergi? Nyatanya, orang tuanya bahkan tak menyadari kepergianya. Miris.
“Kamu kira aku kemana hah!!” sekarang pukulan perdana Danil berhasil di layangkan dan membuat Alex tersungkur dari atas tubuhnya. Sekarang Alex menyeringai.
“Memangnya kamu kemana hah? Bersenang senang dengan banyak wanita, membuat keonaran dengan adu jotos dengan klien! Apa tidak ada satu halpun yang kamu lakukan dengan benar Danil!!
Bugh!! Layangan tinju ke dua yang di layangkan Danil tepat di wajah Alex.
“Sialan! Apa kamu tidak tau! Kesalahanmu selama ini Alex! Dan kamu masih merasa di atas awan! Sekarang aku berikan pelajaran padamu, kalau kamu bisa jatuh dan tersungkur, bahkan luka luka!!”
Mereka saling beradu pukul, tinjuan yang makin membabi buta dan tanpa belas kasihan. Nyatanya kegaduhan itu berhasil menarik perhatian di lantai bawah. Dengan cepat Cassandra melihat ke lantai atas dan matanya menangkap siluet dua orang yang sedang bertengkar.
Langkah Cassandra dengan cepat menapaki anak tangga dengan terburu buru hanya untuk mendapati kalau Alex sedang beradu tinju dengan Danil.
“Hei! Apa yang kalian lakukan!!” teriakan Cassandra itu tak di gubris baik Alex maupun Danil mereka masih saling adu tinju satu sama lain. Merasa kalau ini perlu di luruskan. Cassandra berlai ke arah mereka berdua dan mencoba untuk melerai keduanya.
“Hentikan!!!”
Nyatanya kedatangan Cassandra di antara mereka seperti memberikan efek magis yang membuat Alex dan Danil berhenti, melepaskan kerah satu sama lain, baik cengkeraman ataupun ancang ancang bogeman selanjutnya.
“Di mana Alexa, dia ingin aku menemainya nonton film.”
Danil langsung menegang seketika. Ia tak tau, kalau ini adalah hari minggu. Seharusnya, ini hari mereka. Bertiga. Dan Alexa masih melakukan ritual seperti itu? ritual masa kecil mereka yang kekanak kanakan?
Bukan hanya Danil, Alex juga terkejut dengan kata kata Cassandra barusan. Tubuhnya langsung menegang seketiga.
“Alexa sedang sakit dan beristirahat di kamar.” Tunjuk Alex ke arah pintu yang tertutup rapat.
“Dia tidak bisa di ganggu, dia sedang istirahat karena terkena tipes.”
Mata Cassandra tak bisa berhenti untuk melotot.
“Alexa terkena tipes dan kamu bilang untuk tidak mengganggu dia? Dan kalian berdua malah bertengkar di depan kamarnya!! Adu jotos pula!!” Cassandra menggelengkan kepalanya untuk menghapus kejadian buruk yang sedang ia lihat ini.
“Saudara macam apa kalian ini!” nada sinis Cassandra itu berhasil mencubir hati Alex dan Danil. Benar, saudara macam apa ini?!!
__ADS_1