Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
01


__ADS_3

12 maret, tepat 1 bulan lalu. Saat itu aku bertemu dengannya dan berada tepat disamping bahunya. Ya tepat sekali, dia tak mengenalku sama seperti aku yang tak mengenal dia. Tidak cukup sampai disaat itu saja. Tahukah kalian bahwa sejak saat itu aku merasa aneh dengan diriku sendiri. ya benar, aku telah menganggap dia istimewa. Namun hanya sebatas itu saja. Karna kutau kita saling memandang hanya sebatas orang asing yang sama dengan angin lalu.


Setelah dua minggu berlalu, aku tak bisa menghilangkan anganku. Yah itu adalah angan tentang dia. Semua tentang dia. Tapi aku mencoba untuk tak menghiraukan, karna aku berpikir bahwa peluang bertemu hanyalah sebatas jodoh.


Dan entah ada angin apa, senin 25 maret. Kita bertemu kembali. Aku mencoba tersenyum kikuk. Tepat seperti prediksiku, dia mengacuhkanku, bahkan bisa kutebak dari raut wajahnya bahwa dia menganggapku aneh.


Setelah pertemuan yang begitu singkat dan sangat garing itu. Aku sedikit demi sedikit mulai larut kembali dalam keseharianku yang bisa dibilang begitu padat. Ya aku adalah mahasiswa kedokteran, di salah satu univ ternama di Indoesia. Bisa bayangkan kan bagaimana sibuknya? Sempat beberapa kali terlintas dirinya tapi aku mencoba mengalihkannya dengan tumpukkan tugas besarku yang terus mengalir seperti sungai.


"Wah cogan cogan cogan" teriak Lina persis orang kesetanan sambil mencubit-cubit lenganku.


"Apaan sih Lin, ganggu tau" jawabku yang masih tetap bergulat dengan tugas.


"Itu loh Syam ada cogan" Lina.

__ADS_1


"Emang ada ya, di FK cogan, yang ada kutu buku semua kelles" jawabku malas. Tanpa berkata-kata lagi Lina dengan gercep mengangkat kepalaku. Sontak mataku terbelalak melihat pria itu, wanita mana yang tidak akan terhipnotis coba ketika memandangnnya, postur tubuh atletis, dengan tinggi badan sekitar175, bahu tegap, dada bidang, stylis, dan jangan tanyakan wajahnya, dia begitu nampak aktor korea dengan wajah campuran indonesia inggrisnya itu. Tapi bukan itu yang membuatku terbelalak. Ya tepat skali. Dia adalah pria yang tak mengingatku dipertemuan pertama kami, dan juga mengacuhkanku dipertemuan kedua kami.


"Wahh" gumanku yang tak sengaja terdengar Lina.


"Gantengkaaaan???" balas Lina sambil sesekali mengejekku karna sejak tadi aku terpaku seperti mayat hidup.


“Gantengkaaaannn??” goda Lina kembali.


“Ganteng sih, tapiiiii” jawabku ragu.


"Dia itu orang yang sama yang pernah gua ceritain ke lo" jawabku.


“Yang membuatmu tertarik seperti orang gila itu, yang dinginnya seperti gunung es itu yah, oh my good” refleks Lina.

__ADS_1


“Apa sih, kedengaran tau” jawabku.


Dia yang sadar akan perhatian kami tiba-tiba melangkah pergi dengan wajah dinginnya yang mengalahkan suhu di kutub sana. Tapi parahnya lagi adalah, dia dengan sengaja menginjak botol minuman bekas yang masih terisi sisa air seseorang, tepat skali air itu membasahi aku dan Lina.


“Kalau ngga kepincut pandang pertama, percaya deh lin gua amit-amit suka sama si gunung es kaya dia” sebalku. Dan Lina hanya mengelus dada.


"Lagian lo sih pake mandangin mulu. mentang-mentang ganteng" cerewet Lina.


"Kau juga sih, ngagetin gue aja" kesalku.


tampa menunggu perdebatan kami selesai aku memutuskan untuk segera menuju ruang kelas yang akan digunakan untuk kuliah nanti.


"Woi tungguin, enak aja main tinggal" teriak Lina sambil menyusulku masuk keruang kelas.

__ADS_1


bersambung___


__ADS_2