
“Drrtttt”
“Syam, maaf ya, gue ngga bisa temanin lo hari ini. Soalnya gue tiba-tiba saja ada urusan penting sama mami” ucap Lina merasa tidak enak.
“Yah, tapi gue udah di mal. Gimana nih?” ucapku juga kecewa.
“Yah, sorry. Tadinya sudah mau kesitu tadi. Tapi ternyata mami yang nahan katanya antar dia kerumah tante gue” ucap Lina lagi.
“Yah udah gue sendiri aja. Mau gimana lagi?” jawabku terdengar tidak semangat.
“Tapi lo ngga marah kan sama gue?” Tanya Lina.
“Ya ngga lah. Ya udah gue tutup. Bay” ucapku dan menutup percakapan kami.
Kini aku hanya sendiri di depan mal itu, tidak tau harus lanjut atau kembali pulang. Tapi kalau kembali, aku membutuhkan apa yang ingin ku cari di mal ini. Tapi klau harus lanjut, malas bangat keliling sendirian.
Setelah menimang-nimang, aku memutuskan untuk masuk ke dalam mal dan mencari segala kebutuhanku.
“Syam” panggil Andra dari arah belakang saat aku hendak memasuki mal itu.
“Andra” ucapku ketika Andra sudah mendekat.
“Lo sama siapa?” Tanya Andra.
“Sendiri sih. Kalau lo?” tanyaku balik.
“Sama. Lo mau ngapain ke sini?” Tanyanya basa-basi saat kami berjalan masuk.
“Gue mau bli keperluan gue di rumah?” jawabku.
“Kalau lo?” tanyaku lagi.
“Ya sudah gue temani lo. Setelah lo blanja kita makan. Sebenarnya tadi gue ke sini mau makan sih” jawab Rendi.
“Duh, gue ngga enak nih. Takut ngerepotin lo” ucapku tidak enak.
“Ngga kok. Gue malah senang bisa jalan bareng lo. Heheh” jawab Andra lagi.
Lalu kami berkeliling mol untuk mencari segala keperluanku. Cukup lama kami berkeliling, akhirnya semua yang kubutuhkan di Apartemen sudah terpenuhi.
“Skarang makan yuk” ajak Andra.
“Ok. Tapi mau makan di mana?” tanyaku bingung.
“Ah, itu mah gampang. Di sini aku punya tempat favorit” ucap Andra sambil menarik tanganku dan berjalan menuju temapat makan favoritnya di mal ini.
Disisi lain seoran pria tampan tengah memperhatikan kami. Yah, itu adalah Ryan. Yang entah sejak kapan sudah memperhatikan kami dengan tatapan mematikan.
“Lagi-lagi pria itu. Apa sebenarnya hubungan mereka? Kenapa harus jalan berdua sambil pegangan tangan? Gadis cerewet itu malah terlihat bahagia lagi” gerutu Ryan mempertatikan kami. Yang berjalan menuju tempat yang saat ini dia tengah duduk.
“Eh, kak Ryan” sapa Rendi tampa dosa.
Aku yang mendengar nama Ryan di sebutkan Rendi, sontak membuatku memalingkan kepala memastikan. Dan benar saja saat ini Ryan tengah berada di depan kami. Seketika aku merasa takut, karena tatapan Ryan yang sulit di artikan, terutama dia terus memandang tangan Andra yang masih setia menggandeng tanganku. Sontak aku melepaskan tanganku.
“Kamu kenapa Syam?” bingung Andra melihat situasi saat ini.
“Ah, ngga apa-apa kok Ndra” ucapku tersenyum kaku.
__ADS_1
“Oh ya, kak Ryan kesini sama siapa?” Tanya Andra lagi.
“Mo tau aja loh” Ketus Ryan dan berlalu pergi tampa menyelesaikan makannya.
“Yan” panggilku yang berniat menyusul Ryan. Namun belum sempat berlari, tangan Rendi tiba-tiba menghentikanku.
“Lo mau kemana?” Tanya Andra.
“Ayo duduk” lanjut andra.
Aku terpaksa menurutinya agar dia tidak curiga. Walaupun sedang berdua dengan Andra, tetap saja pikiranku kemana-mana.
“Apa yang dipikirkan Ryan tadi, apa dia marah?” gumanku yang samar terdengar oleh Ryan.
“Nggg ngga kok Ndra. Kita makan skarang aja. Aku harus pulang” ucapku pada Andra.
“Ya sudah kita makan skarang” ucap Andra yang menyadari perubahanku.
Setelah menyelesaikan makan kami, kami langsung pulang dengan kendaraan masing-masing.
Sesampainya di apartemen, aku langsung membersihkan diri.
“Kok Ryan ngga hubungin gue, mungkin dia benar-benar marah? Tapi kenapa, dia kan ngga suka sama gue?” pikirku.
Aku begitu bingung, bagaimana tidak. Sejak tadi aku menelpon Ryan tapi tidak ada jawaban juga. Trus chat yang ku kirim juga tidak di balas.
Di sisi lain Ryan sedang memandangi ponselnya. Rupaya dia sengaja mengabaikan telpon dariku.
“Rasain lo. Seenaknya saja jalan bareng cowok lain. Gue aja ngga pernah jalan bareng cewek lain. Tapi, dia malah ngga ngehargaiin gue” gerutu Ryan.
“Tapi kok, gue berlebihan skali jengkel sama tuh cowok yah?” bingung Ryan dengan perasaannya sendiri.
“Ryan” ucapku di seberang sana.
“Yan”
“Ryan”
“Oi”
“❤”
“Ryan”
“Sayang❤”
Beberapa chat dariku yang masuk itu, tidak juga di balas oleh Ryan.
Meskipun tidak membalas, tapi kata-kata di layar ponselnya itu membuatnya sedikit meleleh. Setelah lama menyaksikan isi chat di layar ponselnya sambil berbunga-bunga, akhirnya dia memutuskan untuk membalas chat terakhir itu.
“Apa?” balas Ryan pura-pura jutek.
“Lo marah sama gue?” tanyaku.
“Marah? Emang kenapa?” tanyanya lgi.
“Ya udah gue minta maaf. Tadi hanya kebetulan kok ketemu Andra” balasku.
__ADS_1
“Maksud lo apa sih?” balas Ryan yang masih pura-pura.
“Yah, gue pikir lo marah gara-gara tadi. Makannya ngga angkat telpon gue” balasku lagi.
“Ngga kok. Lo kok kepedean bangat sih. Sudah ah. Gue sibuk nih” balas Ryan lagi.
“Ya udah. Bay” balasku yang hanya di read oleh Ryan.
**
Hari ini pagi-pagi skali aku sudah di rumah Ryan karna undangan tante Rini. Aku dengan sigap membantu tante Rini menyiapkan sarapan.
“Mah, mama masak apa? Kok harum bangat?” ucap papa Ryan yang berjalan ke dapur.
“Mama sedang masak nasi goreng kesukaan papah” jawab tante Rini.
“Ada Syam juga rupanya” ucap om Hendra yang melihatku sedang menata makanan di atas meja.
“Ah iya. Pagi om” jawabku.
“Pagi sayang. kamu sudah lama?” Tanya om lagi.
“Nggak kok. Baru om” jawabku.
“Syam, kamu panggil Ryan dulu yah. Keburu dingin nasi gorengnya” perintah tante Rini lembut.
“Iya tant” ucapku lalu segera menuju kamar Ryan di lantai 2 rumah itu.
“Tok Tok”
“Kenapa mah? Masuk aja” ucap Ryan yang mengira bahwa aku adalah mamahnya. Akupun masuk dengan takut-takut. Walaupun dulu pernah nginap dikamar ini, tapi sekarang ada Ryan di dalam.
Aku memberanikan diri membuka pintu kamar Ryan, dan…
“Aaaaaa” teriakku ketika melihat Ryan yang hanya meggunakan celana selutut tampa baju, sehingga dada bidangnya terekspos sempurna, ditambah lagi rambut yang masih basah membuat ketampannya bertambah. Aku sontak menutup mataku.
“Lo ngapain di kamar gue?” Tanya Ryan marah.
“Tadi, di suru tante untuk panggil lo sarapan” jawabku masih menunduk dengan posisi tangan setia menutup mataku.
“Ya sudah, ayo turun” ucap Ryan yang masih kesal setelah memakai bajunya. Aku hanya terdiam mematung.
“Lo mau tetap di sini? Trus kenapa lo masih menutup mata? Gue sudah pakai baju” ucapnya. Mendengar Ryan mengatakan sudah memakai baju, aku perlahan membuka mataku.
“Ayo, keluar” ajak Ryan dan menarik tanganku. Sontak membuatku kaget. Sontak membuat Ryan melepaskan tanganku.
“Lo ngga suka kalau gue pegang tangan lo, tapi terlihat bahagia kalau cowok itu yang pegang” gerutu Ryan kesal.
“Lo cemburu yah. Hahah” ledekku sambil mengikuti Ryan menuruni anak tangga.
“Yee, siapa juga. Dasar lo. Kepedean tau ngga” ucap Ryan.
“Siapa juga yang pede” jawabku.
“Kalian kenapa malah berdebat. Ayo makan, keburu dingin nasi gorengnya” ajak tante Rini.
“Iya mah, tant” jawab kami serempak.
__ADS_1
Lalu kami makan dengan tenang. Aku juga memperhatikan Ryan, sepertinya dia sangat menyukai nasi goreng.