
Rendi yang tengah sibuk di dapur tiba-tiba saja sesuatu mengalihkan pandangannya. Dia adalah Dindea yang saat ini sedang berjalan menuju dapur dengan baju kemeja putih yang nampak kebesaran sehingga terlihat seperti tampa menggunakan celana pendek. Rambut panjangganya yang digulung handuk memperlihatkan leher jenjangnya yang begitu menarik pehatian Rendi.
“Rend Rend” ucap Dindea menyadarkan lamunan Rendi.
“Ah iya Dind. Kamu sudah selesai?” tanya Rendi kaku.
Dindea hanya menaikan kedua bahunya sambil meraih botol minuman dari dalam kulkas.
“Lo masak apa?” Tanya Dindea.
“Ah ini. Hanya masakan biasa” ucap Rendi masih memandangi kaki jenjang Dindea yang terekspos.
“Rendi. Jaga mata lo” bentak Dindea sambil memukul keras Rendi.
“Sory Dind” ucap Rendi malu karena tetangkap basah.
“Gue balik dulu deh” ucap Dindea.
“Tapi Dind. Aku sudah masak untuk kita berdua” ucap Rendi dengan wajah memelas.
“Ya udah, nanti gue kesini lagi” ucap Dindea dan berlalu keluar.
Tidak butuh waktu lama, kini Dindea sdah berada kembali di meja makan bersama Rendi, namun sekarang dia menggunakan pakayan khasnya dari rumah.
“WAW, masakan kamu enak juga” puji Dindea yang masih melahap makan dipiringnya.
“Oh ya, syukurlah jika kau menyukainya” ucap Rendi legah dan langsung memakan makanan milikknya juga.
“Rend” ucap tamu yang baru masuk apartemen Rendi. Siapa lagi kalau bukan Ryan.
“Lo masak apa? Kok baunya le…..” ucapan Ryan tiba-tiba menggantung, karna kaget melihat Dindea.
“…zat gini?” lanjut Ryan.
“Kenapa lo? Mending lo makan deh” Tanya Rendi.
“Kalian sedang apa?” Tanya Ryan yang masih bingung.
“Sedang makan. Emang lo buta?” jawab Rendi santai.
“Ryan” ucap Dindea yang menyadari keberadaan Ryan, di tengah kesibukannya melahap makanan.
“Ayo sayang makan. Masakan Rendi ternyata enak” ucap Dindea sambil menarik tangan Ryan.
Ryan dan Rendi hanya beradu pandang, seolah ada hal yang perlu diluruskan di sini.
“Ngga usah. Suapin saja si Rendi. Aku bisa makan sendiri” ketus Ryan saat Dindea berusaha menyuapakn makanan padanya, sedangkan Dindea hanya memonyongkan bibirnya.
“Kok dia bisa disini Rend” Tanya Ryan lagi dengan melirik Dindea.
“Semalam dia mabuk di bar. Jadi gue menjemputnya” jawab Rendi santai.
__ADS_1
“Trus lo tau darimana kalau dia mabuk di bar?” Tanya Ryan lagi.
“Oh iya ya. Kok lo bisa tau gue di sana Rend? Jangan-jangan lo….” Sebelum Dindea menyelesaikan ucapannya Rendi telah berbicara.
“Lo ngga usah pikir macam-macam” ucap Rendi menjelaskan.
Flassback on
Kini Rendi terlihat sibuk membolak-balikkan badannya di kasur kebanggannya. Pikirannya masih berada di rumah Ryan. Kenapa Dindea menelpon Ryan berulang kali? Apa yang dilakukannya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang bolak-balik dikepalanya.
“Drrtttt”
Tiba-tiba saja ponsel Rendi berdering. Dan ternyata itu adalah Dindea. Tampa berpikir lama dia langsung meraih ponselnya.
“Ryan. Kenapa lo lama bangat angkat telpon gue. Lo lagi apa? Kenapa sih lo, mengabaikan gue mulu. Hhuhuhuu” cerewet Dindea masih dengan mabuknya.
“Lo dimana skarang?” Tanya Rendi tegas karna menghawatirkan gadis itu.
“Di bar biasa” ucapnya masih dengan nada lemah.
“Lo jangan kemana-mana. Gue ke situ skarang” tegas Rendi lagi.
“Iya sayang” ucap Dindea. Tampa mengetahui bahwa yang bicara dengannya adalah Rendy.
Rendi hanya mengacuhkan apa di ucapkan Dindea, karena dia tau bahwa itu bukan kalimat yang ditujukan padanya. Rendi memilih meraih jaket dan kunci mobilnya, lalu berlari keluar untuk menjemput Dindea.
Flassback off.
“Ya sudah. Gue balik dulu. Gue kemari hanya mau pamit ke lo” ucap Ryan.
“Ok. Lo hati-hati. Sampaikan salam gue sama calon ipar gue” ucap Rendi menggoda Ryan.
“Ko lo buru-buru pulang? Pasti karena mau ketemu perempuan itu. Apa sih hebatnya dia? mendingan juga gue” histeris Dindea.
“Maksud lo apa? Lo ngga usah jelek-jelekin Syam. Intinya dia jauh lebih baik dibanding lo” ucap Ryan.
“Gue duluan yang Rend. Bisa panas kuping gue, dengar ini cewek” ucap Ryan lagi melirik jengkel Dindea. Mendengar itu Rendi hanya menganggukan Ryan.
“HIh, dasar. Awas aja. Gue akan rebut lo Ryan dari cewek itu” ucap Dindea geram, sedangkan Rendi hanya meggeleng menyaksikan tingkah Dindea.
***
Kini semua sudah berkumpul di kampus tercintaku. Semua anggota keluarga begitu antusias dan bahagia. Apalagi setelah mendengar namaku di sebut sebagai wisudawan terbaik angkatan kali ini.
“Aaahhhh, selamat yah sayang” ucap ibu dan ayah berjalan dan memelukku.
“Iya bu, yah. Makasih. Semua ini berkat ibu dan ayah” ucapku.
“Selamat sayang” ucap tante Rini dengan memelukku juga.
“Iya tant. Makasih semuanya” ucapku sambil menitihkan air mata.
__ADS_1
Setelah aku selesai dengan drama tangisku, aku mencari-cari sosok yang kurindukan itu, dengan kecewa aku menghela napas panjang, karena tidak juga melihatnya.
“Ciyyehh, ada yang mencari seseorang nih” goda Lina padaku.
“Apa sih Lin?” ucapku malu, sedangkan semua orang hanya memandangku dengan senyum meledek.
“Syam, selamat yah. Ini untukmu” ucap Andra sambil memberikan bunga yang begitu cantik.
“Makasih Ndra” ucapku sambil tersenyum manis.
Disisi lain Ryan tengah kebakaran jenggot, melihatku tersenyum manis pada Ryan.
“Huh, itu cowok siapa sih? Lagian tuh cewek kenapa juga kecentilan begitu sih?” kesal Ryan.
“Eh kak Ryan” ucap Lina sontak membuatku mengangkat kepala dan memandang Ryan yang berjalan mendekat dengan sebuah buket bunga yang bahkan lebih cantik dari Andra.
“Bunga dari siapa?” Tanya Ryan pura-pura.
“Ah eh. Itu. Dari Andra” ucapku gugup.
“Iya kak, itu dariku” ucap Andra sopan pada seniornya. Sedangkan Ryan hanya memandang tidak suka pada Andra.
“Jelek. Lo kasi ke Lina saja. Mengganggu saja” ucap Ryan mencari alasan agar tidak ketahuan kalau sedang cemburu.
“Taaappiii. Ini kan cantik” ucapku. Namun Ryan tidak menghiraukan ucapanku dan langsung menarik paksa bunga itu dari genggamanku lalu di berikan pada Lina. Sontak tindakan itu membuat semua orang yang ada di sana terkaget. Terutama Andra yang tidak tahu akan hubungan kami.
“Nih buat lo” ucapnya menyodorkan bunga yang dibawanya.
“Makasih” masih dengan wajah yang cemberut.
“Lo ngga suka? Ya sudah gue buang skarang” ucap Ryan dan berniat mengambil kembali bunga dari genggamanku.
“Ngga. Apa sih lo? Lo kan sudah kasih ke gue. Dasar tidak berpendirian” ucapku kesal.
“Lo bilang apa?” marah Ryan.
“Sudah-sudah. Kalian ini. Baru ketemu sudah bertengkar lagi” ucap papa Ryan menengahi.
“Dia nih pah, om” ucap kami serentak.
“Sudah-sudah. Mending kalian foto dulu. Kita semua kan sudah dari tadi foto-foto. Sementara Ryan belum” tutur tante Rini.
“Biar mama yang foto. Mana kameranya Lin?” ucap tante Rini dan Lina langsung menyodorkan kamera padanya.
“Kalian ini mau berfoto atau mau berantam sih, kenapa saling menatap begitu?” Tanya ibu dan segera mendekatkan aku dan Ryan. Sontak jantungku berdetak tak karuan lagi.
“Senyum dong sayang” perintah tante Rini pada kami. Danterpaksa kami turuti.
“Cekrek, cekrek,cekrek”
“Kalian benar-benar serasi” puji tante Rini, yang membuatku bertambah malu.
__ADS_1