Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
23


__ADS_3

Setelah sambungan telpon dengan mamanya terputus. Ryan segera memindahkan barang-barangnya ke dalam lemari. Ryan langsung tersenyum ketika melihat kotak navy pemberianku tadi yang disimpan dalam tas selempang miliknya.


“Sebenarnya apa sih isinya” penasaran Ryan sambil memutar balikan kotak kecil itu.


"Huh dasar cewe aneh" ucap Ryan sambil tersenyum dan masih dengan memainkan kotak kecil itu.


Karena begitu penasaran dia memutuskan untuk segera membukanya. Sontak dia terkaget ketika melihat tasbih putih mengkilat yang begitu indah dan mewah.


“WAW, bagus juga selera tuh cewek” guman Ryan yang masih memandang penuh pesona pada tasbih putih itu.


“Tapi apa maksudnya coba dengan memberi hadiah, apa jangan-jangan ini pellet lagi?” guman Ryan.


“Atau jangan-jangan dia suka kali sama gue? Hah, tapikan dia selalu saja jengkel sama gue. Bawaanya marah-marah mulu kalau liat gue. Duh harusnya tadi gue Tanya alasannya”


“Arrgghh, ya udah deh. Ngapain juga gue pusingin” frustasi Ryan.


Untuk menghindari beberapa pertanyaan dalam pikirannya. Ryan memutuskan untuk mencari makan malam. Dia segera memasuki dapur dan menuju kulkas yang sengaja telah di isi bahan makanan oleh petugas. Satu jam kemudian, meja yang tadinya kosong disulap Ryan dengan beberapa makanan. Ryan memang ahli dalam hal memasak. Selain karena keturanan mamahnya yang ahli memasak. Dia juga sering memasak untuk dirinya sendiri saat mamanya sibuk di restoran miliknya. Padahal ada koki dirumah mereka, tapi Ryan merasa lebih mengetahui seleranya sendiri.


***Mol


Hari ini aku tidak begitu sibuk di kampus. Maklumlah, karena sekarang lagi menjelang akhir semester. Jadi, hampir semua mata kuliah sudah selsai final. Hanya saja masih ada beberapa yang belum, kalau bukan karena dosennya yang biasanya sibuk juga karena memang materinya banyak. Melihat urusanku di kampus sudah selesai, aku segera pulang. Bukan untuk pulang kerumah melainkan pulang kerumah Ryan. Yan memang. Akhir-akhir ini aku sering berkunjung di rumah Ryan atau bahakan terkadang menemani tante Rini di restoran. Sedangkan Lina juga sering di kantor papanya. Yah walaupun Lina kuliah di kedokteran, tapi dia tetap dibimbing oleh ayahnya untuk terjun langsung ke dunia bisnis perhotelan. Karena adik laki-lakinya masih terlalu kecil untuk belajar bisnis.


Setelah perjalan yang cukup lama karena macet. Akhirnya aku sampai juga di rumah Ryan.


“Assalamualaikum tante” ucapku di depan pintu Ryan.


“Walaikumussalam, masuk Syam. Kamu kaya orang lain saja. Kan tante sudah sering bilang kalau kamu kesini langsung masuk saja” jawab tante Rini.


Yah, aku memang sudah dekat dengan tante Rini, itulah sebabnya dia selalu menceramahiku jika aku datang berkunjung masih saja sungkan.


“Oh ya tant, kita hari ini mau ngapain?” tanyaku antusias.


“Gimana kalau hari ini kita syoping trus ke salon? Tante bosan soalnya kalau ngajarin kamu masak mulu, heheh” jawab tante Rini.

__ADS_1


“Ok deh tante” jawabku antusias.


Tante Rini memang selalu mengajariku memasak. Sebenanya aku sih tidak ingin, apalagi mengetahui Ryan yang melarang keras tante Rini untuk kecapean. Hanya saja dia selalu memaksa, katanya dia bosan kalau hanya cerita-cerita saja. Itulah sebabnya kami belajar memasak tampa sepengetahuan orang rumah.


Tampa menunggu Lama, kami langsung bergegas keluar.


“Oh ya tan, karena hari ini kita akan ke salon, bagaimana kalau Syam aja yang nyetir? Soalnya ngga enak kalau harus mang Dio harus nungguin kita saat di salon nanti” tawarku.


“Ok. Ide bagus tuh” jawab tante Rini.


“Mang, hari ini Syam aja yang nyetir. Mang dio di rumah saja” ucapku menghampiri mang Dio.


“Tapi non?” Tolak mang Dio sambil melihat tante Rini seolah sedang menunggu perintar dari majikannya. Dan tente Rini hanya mengangguk pertanda setuju.


“Baik non. Ini kuncinya” jawab mang Dio sembari memberi kunci mobil


Tidak menunggu lama mobil mewah yang kami tumpangi mendarat indah di halaman parkiran mol mewah. Kami langsung keluar dan masuk kedalam mol itu. Setelah berbelanja tas, tante Rini tak lupa mampir ke tempat baju yang juga aku yang masih setia berjalan di samping wanita separu baya itu.


“Syam kamu cobain ini deh! Pasti kamu akan sangat cantik” perintah tante Rini sembari menyodorkan dua pasan baju. Yang satu adalah baju formal dan yang satu lagi adalah baju yang lebih kasual.


“Sudah Syam, coba saja!!” bujuk tante Rini. Lalu aku segera mengambilbaju itu dan menuju ruang ganti.


Setelah beberapa menit aku keluar. Semua orang terpesona melihatku (pede banget sih gue) dengan balutan gamis berwarna biru langit dengan tambahan putih dibagian bawah dipadu dengan jilbab putih. Sungguh pakayan yang sangat cocok untukku, simple dan mewah. Aku dengan gaya malu-maluku menuju tante rini yang sedang sibuk VC dengan sesorang.


“Tant” panggilku pada tante Rini agar dia menengok ke arahku.


“Masya Allah Syam. Kamu cantik sekali” puji tante Rini yang masih fokus memandangiku.


“Bagaimana Yan, Syam cantik kan?” selidik tante Rini kepada anaknya yang masih menganga memperhatikanku melalui ponsel mamanya yang masih terhubung VC.


“Ryan, gimana cantikkan?” Tanya tante Rini lagi karena Ryan masih belum juga menjawab.


“Eh, iya mah. Kenapa tadi?” kaget Ryan.

__ADS_1


“Syam cantikkan?” tante Rini.


“Iya mah. CANTIK. Ehn maksud Ryan biasa aja” jawab Ryan kaku seolah sedang terciduk.


Sedangkan aku hanya memperhatikan percakapan mereka sambil tersenyum malu-malu.


“Ayo Syam kesini, soalnya Ryan ngga ngeliat kecantikanmu” goda mama Ryan, yang membuatku bertambah malu dan mendekat pada tane Rini.


“Apa sih mah” elak Ryan.


“Liat nih Yan. Syam cantik tau” goda tante Rini lagi.


“Ah tante bisa aja” jawabku.


“Kenapa tuh cewe makin cantik aja sih” guman Ryan.


“Wah, Ryan tambah ganteng saja. Aku seolah mendapat semangat baru” gumanku sambil tersenyum.


“Anak tante ganteng kan Syam?” bisik tate Rini yang membuatku tersenyum kikuk.


“Ya udah deh Yan. Kita mu ke salon nih. Mama tutup dulu. assalamualikum” ucap tante Rini.


“Mah, jangan terlalu kecapean mah. Ingat kondisi badan mama. Sama salam sama papa mah” Ucap Ryan.


"Iya. Nanti mama sampaikan sama papa" tanye Rini.


"Hanya untuk papa Yan, ngga ada kirim salam untuk seseorang gitu?" goda tante Rini.


"Emang siapa lagi mah?" bingung Ryan.


"Ini. Yang disamping mama" canda tante Rini sambil menuenggolku.


"Tante ada-ada aja" jawabku. sementara Ryan malah tambah bingung dengan mamanya.

__ADS_1


"Sudah ah mah. By" ucap Ryan mematikan telponnya.


__ADS_2