
Aku yang bertambah gelisah karena waktu sudah mendekati pukul 09.00, tiba-tiba saja muncul ide brilian yaitu menahan motor yang lewat. Namun setelah mencoba beberapa kali, tapi tidak ada satupun yang berhenti dan memeberi tumpangan. Mungkin karena mereka terburu buru. Tapi aku tidak menyerah sampai disitu.
Dikejauhan sana kulihat ada yang sedang melaju kencang, tiba-tiba aku menerobos kejalan raya, karna kupikir ini satu satunya jalan agar motor itu berhenti.
“””ZZRRIIITTT”” dan dia berhenti tiba-tiba sambil berdecak kesal.
“KALAU LO MAU MATI, YA MATI SENDIRI, JANGAN NGAJAK-NGAJAK” bentak pria dimotor itu, yang ternyata adalah RYAN.
“Huh syukur gua masih hidup” ucapku sambil membuka mata yng sedari tadi tertutup karna ketakutan.
“HAH, Ryan” kagetku.
“Alhamdulillah” Sambungku.
“LO NGAPAIN SIH” Ryan masih dengan wajah marah.
“Mending lo antar gue deh, lo mau ngampus kan? Gue nebeng deh” ucapku sambil memohon.
Yah mending buang saja dulu deh egoku dari pada dikeluarin bu susi.
“OGAH” ketus Ryan tak berperasaan.
“Soalnya pagi ini jadwalnya bu susi, lo tau sendiri kan dia gimana?" Sambungku dengan wajah memelas.
Tanpa menunggu Ryan mengiyakan aku bergegas naik motor gede pria itu.
“Lo ngapain sih” Tanya Ryan keheranan.
“Udah deh, mending lo jalan. Mana helm gue" pintaku yang terpaksa Ryan turuti.
Dengan cepat Ryan menggas motor kesayangannya.
__ADS_1
“Heh, jangan ngebut juga kali” ucapku sambil berteriak.
“Kan lo buru-buru, emang mau dikeluarin bu susi, mending lo pegangan deh”. Ucap Ryan dingin.
Dan aku tidak punya pilihan lain. Dari pada mati dibawa angin, mending aku pegangan dijaket Ryan.
**Kampus
Seteh 7 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di kampus. Yah kami menyusuri jalan yang cukup jauh hanya dengan waktu 7 menit. Itu karena Ryan yang membawa motor ugal-ugalan.
“Huh akhirnya nyampe juga” ucapku dengan cepat aku turun dari motor Ryan dan bergegas menuju koridor.
“WOI, HELM GUE WOI” teriak Ryan yang melihatku berlalu pergi masih dengan menggunakan helm.
“Oh iya yah, lupa gua” Jawabku sambil tersenyum.
“Dasar cewe aneh” tambah Ryan.
Tanpa mendengar ocehannya aku bergegas kembali pergi.
“Woi bro” sapa Rendi yang baru turun dari motor gedenya, dan tak sengaja menyaksikan aku dan Ryan. Tapi tidak mengetahui kalau itu adalah aku.
“Heh” Ryan kaget.
“Pake kaget sgala, so so loh Yan” ledek Rendi.
“Oh ya, tadi tu cewe siapa? Apa skarang lo udah punya pacar? Asyiiik, akhirnya teman gue ngga jomblo lagi” sambung Rendi dengan senyum ledeknya.
“Apa sih Rend, itu tadi Syam” datar Ryan.
“HAH, SYAM? Syam yang junior itu?” Kaget rendi.
__ADS_1
“Biasa aja kali?” jawab Ryan santai.
“kok bisa sih? Lo jadian sama dia?” tanya Rendi masih dengan wajah bingung.
“HUH, jadian-jadian. Otak lo kali yang jadian” jawab Ryan jengkel.
“Truuussss?” kepo Rendi.
“Sambil jalan aja deh” ajak Ryan dan Rendi hanya mengikut.
“Jadi gimana Tan?” Pepet Rendi.
“Itu loh, tadi bla bla bla..” Ryan menceritakan kejadian tadi dari A-Z.
“Hummmm” Rendi mangguk-mangguk
“Gue pikir tadi lo jadian” sambungnnya.
“Huh, emang otak lo sampai situ saja ya?” ejek Ryan.
“Ya kali aja, Syam kan cantik. Tapi kasian si Syam-nya sih” ledek Rendi.
“Emang kenapa?” Tanya Ryan antusias.
“Kan lo gunung es gini, mana tahan dia sama dinginnya lo. Ditambah lagi lo nggak berperasaan. Hahahh” jawab Rendi cengengesan.
“Hahha, lagian gini-gini kan banyak yang naksir gue. Bad boy kan idaman cewe-cewe zaman sekarang” jawab Ryan berbangga diri.
“Idih, najis” ngeri Rendi.
“Hahhahahhaha” mereka langsung tertawa bersamaan, hingga membuat orang-orang di koridor kampus keheranan. Sebab jarang-jarang bisa melihat Ryan tertawa lepas, terlepas dari wajah gunung es nya itu.
__ADS_1