Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
24


__ADS_3

Di sebuah kamar apartemen yang cukup luas terlihat Ryan sedang sibuk mondar-mandir mempersiapkan segala keperluan prakteknya ke dalam tas KOAS-nya. Mulai dari thermometer, penlight, senter kecil, dan peralatan lainnya yang biasa di bawa ke rumah sakit tempatnya saat ini melanjutkan study.


Setelah semua selesai Ryan berangkat dengan menggunakan mobil sport mewahnya. Saat sampai di rumah sakit begitu banyak pasang mata yang memandang pria tampan itu. Dengan wajah tampannya dia dengan cepat membius semua orang-orang di sekelilingnya. Namun Ryan hanya tersenyum ramah pada mereka yang terpesona. Seolah hal tersebut adalah biasa baginya.


“Maaf mba, ruangan dokter Grad dimana yah?” tanya Ryan pada perawat bagian resepsionis.


Dokter Grad adalah kepala rumah sakit saat ini. Yang merupakan teman baik papa Ryan. Ryan sengaja memilih rumah sakit ini untuk melanjutnya studynya, karena di rumah sakit ini tidak banyak yang tahu bahwa dia adalah anak dari pemilik rumah sakit. Sangat berbeda dengan di Jakarta. Ryan hanya ingin fokus dengan studinya dan dapat diperlakukan sama dengan dokter KOAS lainnya.


“Maaf, apakah anda dokter Ryan?” tanya balik perawat dan Ryan hanya mengangguk.


“Oh, ruangannya di blok C lantai 3 dok” tambah perawat itu.


“Dok, apa anda ingin ke ruangan dokter Grad? Mari ikut saya, kebetulan saya mau menyerahkan data pasien” tawar perawat lain.


“Oh, baik. terimakasih” jawab Ryan dan langsung mengikuti perawat itu.


Tok tok tok


“Masuk” jawab dokter Grad dari dalam ruangan.


“Maaf dok saya mengantarkan data pasien yang dokter minta” jawab perawat itu.


“Oh ya dok, di luar ada dokter muda yang ingin bertemu” lanjut perawat itu.


“Oh, itu pasti dokter Ryan. Tolong suru masuk!” perintah dokter Grad.


“Hallo dok, apa kabar?” ramah Ryan.


“Hallo Ryan. Kalau kita berdua saja kamu bisa memanggilku paman seperti biasa. Soalnya kamu kaku bangat kalau harus memanggilku dokter” ucap dokter Grad.


“Baik paman” jawab Ryan.


“Oh ya, bagaimana kabar mama sama papahmu?” Tanya dokter Grad pada Ryan.


“Alhamdulillah baik paman, hanya saja mama masih tidak boleh kecapean. Paman tau sendiri kan kondisi fisik mamah” jelas Ryan.


“Hm ok, kalau gitu om akan antar kamu keruangan dokter sekalian memperkenalkan kamu” ajak dokter Grad.


“Tapi paman jangan bilang kalau aku anak papah. Paman tahu kan alasan aku kesini” ucap Ryan.


“Ok”

__ADS_1


“Hallo semua” sapa dokter Grad.


“Halo dok” jawab semua dokter dan perawat yang ada di ruangan.


“Maaf saya mengumpulkan kalian di tengah sibuknya kalian. Perkenalkan ini dokter KOAS tahun ini. Silahkan perekenalkan diri” ucap dokter Grad.


“Hallo, nama saya ADRYAN MAHENDRA. Panggil saja Adryan. Saya salah satu lulusan dari universitas Indonesia” ucap Ryan. Ryan sengaja tidak menyebut nama belakangnya, agar tidak ada yang mengetahui tentang keluarganya.


“Hallo dokter Adryan, selamat bergabung” ucap dokter Derik.


“Ah terimaksih” ucap Ryan ramah.


“Baik semua, silahkan kembali pada kesibukannya” perintah dokter Grad yang dipatuhi oleh para dokter dan perawat yang ada diruangan tersebut.


“Oh ya Ryan, kamu langsung ke UGD yah ini hari. Bantu-bantu di sana. Karena pagi ini ada kecelakaan bis wisata, jadi ada banyak pasien” tutur dokter Grad.


“Baik dok” ucap Ryan tegas.


“Oh ya kamu ikut bersama dokter Derik, dia adalah penguasa UGD” tambah dokter Grad. Benar kata dokter Grad, bahwa dokter Derik adalah salah satu dokter yang kompeten di usia 29 tahun. Dan karena kekompotenanya itu dia diankat sebagai kepala UGD.


“Ah dokter bisa aja” bantah dokter Derik.


“Ayo dokter Adryan, jangan sampai pasien menunggu lama” ajak dokter Grad.


Benar sekali kata dokter Grad, hari ini pasien UGD sangat banyak dan didominasi korban kecelakaan bis wisata. Tapi itu bukan hal yang asing bagi Ryan. Dia sering melihat hal seperti ini saat di rumah sakit papahnya di Indonesia, bahkan tidak jarang dia ikut membantu jika para pegawai rumah sakit kewalahan.


Bukan tanpa alasan para dokter mengizinkan Ryan, karena mereka sudah mengenal Ryan dengan baik. Bahwa dia adalah orang yang kompeten dan cerdas.


Melihat banyaknya pasien, Ryan dengan handal memeriksa pasien dan itu membuat beberapa perawat kaget dengan keterampilannya.


Setelah seharian bergulat dengan pasien akhirnya shift Ryan berakhir untuk hari ini. Dia memutuskan untuk segera pulang dan beristirahat. Hari ini adalah hari yang berat baginya. Bagaimana tidak, di hari pertamanya dia harus bergulat dengan banyak pasien.


***Kampus


Di seberang koridor sana telihat Lina yang sedang asyik mengerjakan tugasnya yang mungkin masih cukup banyak. Hal seperti ini memang lazim terlihat di fakultas ini, mau bagaimana lagi. Tugas yang begitu banyak membuat kami terkadang kewalahan, belum lagi harus mengahafal materi-materi untuk persiapak ujian lisan.


“HEI” teriakku tepat di samping telinga Lina.


“Oi” kaget Lina.


“Lo ngagetin gua tau” judes Lina.

__ADS_1


“Hahah, sory. Tugas lo blum selesai lagi Lin?” tanyaku.


“Yah biasa lah Syam, gue akhir-akhir ini lagi sibuk juga. Jadinya gitu deh” keluh Lina.


“Oh ya, lo kayanya sibuk juga akhir-akhir ini Syam. Emang lo ngapain aja?” kepo Lina.


“Kepo loh” jawabku pura-pura judes.


“HIIhhhh, tu kan. So so deh lo” jutek Lina.


“Oh ya Syam, pulang kampus kita jalan yuk. Sudah lama kita tidak jalan bareng” ajak Lina.


“Tapi Lin, aku sudah janjian sama orang tua Ryan” jawabku merasa bersalah.


“Yaahh” kecewa Lina.


“Hah apa Syam, kamu janjian sama mama papah Ryan?” kaget Lina.


“Santai kali Lin, tuh banyak yang liatin kita” jawabku sambil menunjuk orang-orang sekeliling kami yang sedari tadi melihat kearah kami.


“Jangan bilang kalau kamu sibuk dengan keluarga kak Ryan beberapa hari ini?” selidik Lina dan aku hanya mengangguk.


“Jadi hubungan lo sudah serius sama kak Ryan?” Tanya Lina lagi.


“Heh, apa sih Lin?” jawabku judes.


“Tapi Lin, dari pada lo suntuk di rumah, mending lo ikut gue kita sama-sama ketemu orang tua Ryan. Pasti tante Rini akan senang, soalnya dia sering tanyain lo yang ceplas-ceplos ini” jelasku meyakinkan Lina.


"Emang iya?" tanya Lina penasaran.


"Iya. Ngapain juga gue boong" jawabku.


“Ya udah. Kalau gitu aku ikut lo ajah deh” setuju Lina.


“OK, setelah kuliah kita langsung go” ucapku.


“Ok. Sekarang kita masuk deh, daripada nanti kita telat” ajak Lina.


“Yah, tumben lo pintar” heranku sambil mengejek Lina.


“Yeh, lo baru tau. Kemana aja lo selama ini?” jelas Lina berbangga diri.

__ADS_1


Berhubung tugas Lina sudah selesai, aku dan Lina segera berjalan memasuki ruangan. Takutnya kami bisa terlambat.


__ADS_2