
“Mas Ryan kok makin ganteng aja. Calonnya juga cantik mas” puji salah satu pegawai butik itu. Ryan memang sudah di kenal di butik ini.
“Biasa aja ko mba. Mbanya aja yang berlebihan” ucap Ryan ramah. Sedangkan aku hanya menanggapinya dengan senyumku.
“Ini orang benar-benar yah. Bisa-bisanya dia bisa seramah ini. Sementara sama gue, bawaanya marah-marah mulu” gumanku.
“Ya sudah mas, mba. Ayo saya antar liat bajunya” ajak pegawai itu.
“Ini baju mas Ryan dan ini baju mbaa….” Ucap pegawai itu.
“Syam mba” jawabku yang melihatnya bingung menyebut namaku.
“OH mba Syam. Ini bajunya mba” ucapnya sambil menyodorkn baju itu.
“Mari saya tungjukan kamar pasnya” tawar pegawai tadi. Dan aku hanya mengikutinya. Sementara Ryan tidak perlu ada yang mengantarnya, mungkin dia lebih menguasai area butik ini dibanding beberapa pegawai baru.
Kini aku sudah mengenakan pakayan itu, kebaya abu silver selutut yang ditambah dengan rok batik dengan corak warna senada begitupun kerudungnya. Pakayan itu terlihat santai tapi begitu mewah dan elegant. Khas aku bangat. Ini pasti ide ibu.
Saat hendak mencari Ryan tak sengaja seseorang menabrakku, yang membuatku hilang kendali dan terjatuh. Namun sebelum mendarat ke lantai seseorang menangkapku ala princes dan pangeran seperti di negri dongeng. Mengetahui ada yang menanggkapku, aku segera membuka mata yang sedari tadi kututup. Sontak mataku terbelalak melihat Ryan. Tampa menyia-yiakan kesempatan, aku menatapnya lekat-lekat. Kini kami beradu pandang yang disaksikan banyak orang.
“Ryan kok ganteng bangat sih?” pikirku.
“CANTIK” guman Ryan yang tak sengaja terdengar olehku. Aku langsung tersenyum bahagia mendengarnya memujiku.
“UKhhuum”
“Ada yang lagi kasmaran nih” ejek tante Lidya pemilik butik, yang menyadarkan lamunan kami.
Kami yang sadar akan kedatangan tante Lidya tersenyum kikuk salah tingkah.
“Kalian cocok bangat deh. Yang satu cantik, yang satu lagi ganteng” puji tante Lidya. Yah, memang Ryan terlihat begitu tampan dan gagah dengan setelan jas yang senada denganku.
“Ah, biasa aja kok tant” elak Ryan yang masih kikuk. Sementara aku hanya sibuk menyembunyikan wajahku yang merah merona seperti kepitin rebus.
“Jadi bagaimana bajunya? Masih ada yang mau dirubah ngga?” lanjut tante Lidya.
“Ngga kok tant, ini sudah sangat cantik. Syam sangat suka” ucapku memuji tante Lidya.
“Ok. Kalau gitu kalian mau langsung bawa aja, atau nanti diantarin?” tanta tante Lidya.
“Sekalian di bawa aja tant” tambah Ryan.
Kami segera ke ruang ganti dan mengganti pakayan tadi. Lalu bergegas keluar dari butik. Karena, selain di butik ini, kami juga akan mencari cincin tunangan kami.
**
“Ryan, kita singgah makan dulu yah, sebelum ke toko cincin. Soalnya aku lapar banget nih” ucapku dengan wajah memelas sambil melihat Ryan.
“Ngerepotin aja lo” jawab Ryan.
__ADS_1
“Emang lo ngga lapar apa? Ini kan sudah siang” jutekku.
“Lo mau makan apa?” Tanya Ryan datar.
“Apa aja. Di kafe itu hari juga boleh” jawabku antusias.
Tak berapa lama, Ryan menepikan mobilnya di depan kafe yang biasa dia datangi bersama Rendi. Aku juga pernah ke sini bareng dia.
“Eh eh, mas Ryan dan mba cantik” ucap pelayan yang pernah mengejek Ryan saat bersamaku.
“Jadi kapan mau halal nih?” tambah pelayan itu.
Aku dan Ryan dibuat kaget. Bagaimana mungkin dia bisa menebak tepat.
“Kok mba tau?” bingunggku.
“Jadi benar lagi OTW halal?” kaget pelayan itu. Sebenarnya dia juga hanya asal menebak sih. Itulah sebabnya dia kaget sendiri.
“Gitulah mba” jawabku, sementara Ryan hanya memperhatikan pelayan itu yang begitu bahagia.
“Semoga lancer sampai hari H yah mba. Dan semoga nanti bisa jadi keluarga sakinah mawadah warahmah” tambahnya lagi yang terlihat begitu semangat.
“AAmmiiinnn” jawabbku.
“Masih agak lama kali mba pernikahannya” tambah Ryan.
“Lagian kita yang mau nikah, kok mba yang bahagia?” bingung Ryan.
“Yang ada dia kali yang beruntung bisa dapatin gue” jawab Ryan yang berbangga diri.
“Cih. Mending mas bersyukur deh, bisa dapatin mba cantik ini” jawab pelayan itu.
“Jadi mau pesan apa?” lanjutnya lagi.
“Seperti biasa saja” jawab Ryan.
“Aku samain aja sama dia” jawabku sambil melihat Ryan.
“OK” jawab pelayan itu dan berlalu pergi.
Tak menunggu waktu lama, pelayan tadi segera mengantar pesanan kami. Aku segera melahap makanan itu. Karena jujur saja, aku memang sedang lapar. Ryan yang melihatku asik makan hanya menggelengkan kepala.
“Lo mau nambah?” Tanya Ryan yang melihat makananku hampir habis.
“Emang boleh?” tanyakku.
“Yah bolehlah. Emang siapa yang mau larang coba? Dasar aneh” jawab Ryan.
“Tapi aku salah ambil tas saat brankat tadi, makanya ngga bawa uang” jawabku polos.
__ADS_1
“Emang lo pikir calon suami lo kekurangan uang apa?” ucapnya datar, namun sangat berbeda denganku yang mendengarnya. Ryan segera melambaikan tangan memanggil pelayan dan memesankan aku makanan.
“Calon suami? Oh my good. Rasanya senang banget bisa mendengarnya dari Ryan” gumanku yang tak di dengar oleh Ryan.
“Mending lo makan. Kebanyakan ngayal lo” tegur Ryan.
Kami pun melanjutkan makan. Dan segera keluar kafe saat selesai. Tak butuh waktu lama, akhirnya kami sampai juga ke toko emas. Ryan segera menyuruhku mencari cincin yang bagus, sementara dia hanya duduk santai di kursi yang disediakan untuk pengunjung.
“Mau yang mana mba?” Tanya pegawai perhiasan itu.
“Gue harus pilih mana nih” gumanku bingung melihat cincin yang begitu banyak.
“Mba bisa tolong cariin yang simple ngga?” tanyaku pada mba pegawai, yang diangguki olehnya.
“Ini silahkan dipilih mba” ucap mba pegawai itu. Aku segera mencari yang kira-kira cocok denganku. Namun tidak ada yang menarik. Semua terlalu glamor untukku. Setelah mencari-cari, akhirnya aku menemukan semuah cincin yang begitu simple tapi elegant dengan berlian kecil diatasnya, yang terpajang cantik di rak toko itu. Namun aku tak berniat mengambil itu, pasti harganya mahal.
Di sisi lain Ryan sedang memperhatiakaku yang sedang melihat cicin berlian itu.
“Lo lama bangat sih?” ucap Ryan yang mengagetkanku.
“Gue bingung harus pilih yang mana. Lo juga sih, ngapain coba nyantai di sana?” jawabku jutek.
Ryan melihat cincin simple yang diperlihatkan pegawainya padaku, dengan ekspresi susah ditebak.
“Yang sana saja mba” tunjuk Ryan pada cincin berlian cantik itu. Aku yang melihatnya sontak kaget.
“Kok dia bisa tau aku suka yang itu. Tapi itukan pasti mahal” gumanku.
“Baik mas” jawab pelayan itu, dan segera membawa cincin itu.
“Silahkan di coba mba” ucap pegawai itu sembari menyodorkan cincin berlian yang dibawanya. Akupun segera mencobanya. Dan cincin itu begitu sempurna dijariku yang imut ini.
“Bungkus yang ini saja mba” tegas Ryan pada pegawai itu.
“Baik mas” jawab pegawai itu lalu membungkus cincin berliat itu.
“Lo yakin?” tanyaku kaget disertai bingung.
“Menurut lo?” Tanya Ryan balik.
“Ya sudah deh. Makasih yah. Gue suka bangat” jawabku dengan senyum manis.
“Tumben trimakasih lo. Prasaan tadi gue traktir, lo ngga trimakasih deh” ejek Ryan.
“Iya iya. TERIMAKASIH TUAN ADRIAN MAHENDRA ADWIJAWA. Puas lo? Lama-lama ngelunjak yah” jutekku.
“Hahhaa. Lama-lama lo pintar juga yah” ledeknya lagi. Namun aku hanya memasang muka jutek.
“Hahah, dasar gadis bodoh. Ayo kita pulang” lanjut Ryan sambil mengusap kepalaku yang terbungkus kerudung. Sontak membuatku merona.
__ADS_1
“Lo punya sisi ini juga rupanya?” ucapku yang tak dihiraukannya, walau sebenarnya dia hanya menutupi rasa bahagianya.