
Sepanjang perjalanan pulang kami hanya diam membisu, persis seperti orang bisu. Pada dasarnya aku sih ogah kalau harus diam-diam gini, rasanya canggung bangat. Tapi yah mau gimana lagi, ngga mungkin kan aku ngomong sendiri, ntar dikirain orang gila, sama gunug es disebelahku. Yah mungkin gunug es julukan yang tepat sekali. Bagaimana tidak, sifatnya dingin yang mirip es dan hatinya yang tak berperasaan yang mirip batu atau bahkan gunung.
Selama beberapa menit perjalanan kami tampa suara, akhirnya dia memutuskan untuk bertanya walau masih dengan ekspresi dingin.
“Heh, rumah lo dimana?” Tanya Ryan masih dengan wajah tanpa ekspresi itu
“Dialamat ini bla bla bla..” aku langsung memberi tahu alamat, juga dengan ekspresi datar.
Beberapa menit kemudian akhirnya nyampe juga alamatnya.
“Ya udah turun sana” Ryan ketus.
“Iya iya, jutek bangat sih” jawabku.
“Huh, dasar tidak tahu terimakasih” tambah Ryan.
“Ya udah terimakasih TUAN ADRIYAN MAHENDRA ADWIJAYA” ucapku sebal.
Dan tanpa menjawab apapun dia bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
“Dasar, jadi cowok kok dinginnya minta ampun gitu, untung ganteng”. Gumanku saat berjalan menuju apartemenku dengan wajah yang masih kesal.
“Malam syam, kamu kenapa jalan dengan muka ditekuk gitu, seperti kerasukan saja” Tanya bu siti tetangga apartemenku dengan senyum menyelidiknya.
__ADS_1
“Ah tidak bu, itu tadi hanya ada kejadian aneh diluar” jawabku ngasal.
“Oohhh, ya sudah deh kamu masuk sana sudah malam, ntar diculik lagi. Rawan anak gadis sendirian tengah malam begini” sambung bu siti.
“Iya bu, aku duluan yah bu” jawabku kembali.
** Teledor
“Hooouuuuuummmmmm,,,
Dengan mata masih setengah tertutup, aku memustuskan membuka ponsel disampingku.
“HAH ! tumben Lina nelpon pagi-pagi gini. Berkali-kali lagi, ya udah deh aku telpon balik aja” gumanku.
“Oi, lo dari mana saja sih Syam, dari tadi juga gua telponin juga” Tanya Lina diseberang telepon sana sambil teriak.
“Huuuaaanmm, gua baru bangun” jawabku masih setengah bersemangat.
“HAH, lo baru bangun. ASTAGA” teriak Lina.
“Huh, kenapa sih Lin, pake teriak-teriak segala” jawabku jengkel.
“LO LUPA YAH, KAN SEMALAM GUA INGATIN LO, KALAU JADWAL BU SUSI DIPINDAHIN JAM 9” jawab Lina masih berteriak.
__ADS_1
Bu susi adalah dosen terkiller di FK, bukan sesuatu yang baru jika dia tidak mengizinkan masuk ruangan pada mahasiswa yang terlambat, meski itu sedetik saja.
“HAH, GUA LUPA LIN, LO NGAPA BARU NGASIH TAU SIH” jawabku tak kalah berteriak.
“lo teledor banget sih Syam! ya sudah, lo buruan siap-siap 30 menit lagi jam 9 ni" perintah Lina.
“Uda ah, by” jawabku mengakhiri sambungan.
Diseberang sana Lina masih diam terpaku keheranan, dengan tingkah sahabatnya yang begitu aneh ini.
"Tumben bangat Syam teledor gini, pake terlambat bangun sgala?" gumannya.
Tampa berpikir panjang aku langsung bergegas ke kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual mandi pagi yang mungkin tidak bersih, aku segera bersiap-siap.
"Huh untung segala perlengkapan kampusku sudah aku siapkan dari semalam" gumanku sambil terburu-buru berpakayan. Hari ini aku mengenakan celana kain hitam yang agak lebar dibalut baju tunik moca yang senada dengan jilbabku.
Setelah bersiap-siap, aku bergegas kegarasi apartemen.
“Aduh, motor kan dirumah Ryan, ya sudah deh gua naik taksi aja” gumanku sambil menepuk jidat.
Tampan menunda waktu, aku memutuskan berjalan menuju jalan raya, sambil menengok kiri kanan mencari taxi, tapi hasilnya nihil. Jam segini mah jam kantor jadi taksi pasti penuh.
__ADS_1
Aku semakin gelisah, bertambah lagi kulihat jam tanganku yang menunjukan pukul 08.40 menit.