Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
16


__ADS_3

Setelah menyelesaikan tugasnya dikelasku, Ryan segera keluar. Namun sebelum sampai di depan pintu, Ryan malah kembali ke arah tempat dudukku dan Lina yang saat itu kami sedang bersiap-siap keluar.


“0h ya Syam, kamu pulang jam brapa?” tanya Ryan santai.


“Jam 3, emang kenapa kak?” tanyaku bingung, begitupun Lina dan teman teman yang melihat.


“Ya sudah, setelah asar aku tunggu di parkiran tadi” jawab Ryan


“Tapi kak, aaaa” sebelum menyelesaikan apa yang ingin aku katakan, Ryan dengan cepat memotong omonganku.


“Ya sudah, aku pergi” lalu Ryan pergi dengan santai, sementara semua orang di ruangan itu diam membisu. Terutama Lina yang menuntut penjelasan kejadian sekarang dan tadi pagi.


“Lo pacaran sama kak Adryan, Syam?” tanya Rara salah satu teman kelasku.


“HAH, pacaran? Ada-ada saja lo Ra” jawabku tidak mungkin.


“Trusss??”” sahut mereka semua bersamaan.


“Aku juga bingung, mungkin mau minta tolong atau apa kali” jawabku ngasal dan mereka percaya saja kecuali Lina.


Untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan menyudutkanku, akhirnya dengan cepat aku menarik Lina keluar dari ruangan itu, sontak Lina kaget namun tetap mengikut.

__ADS_1


“Apa sih Syam?” Tanya Lina kesal sambil berusaha melepas tangan yang kutarik tadi.


“Malas aja ladenin mereka” jawabku.


“Trus tadi apa maksudnya Syam, lo sembunyiin sesuatu yah dari gue?" tanya Lina ketus.


“Apa sih Lin?” tanyaku bingung.


“Itu tadi kenapa kak Ryan sampai mau nunggu lo pulang, plis deh jangan pura-pura ****!!” jawab Lina yang masih kesal.


“Oh ituu, gue juga bingung?” jawabku jujur. Karena memang aku juga bingung dengan Ryan.


“Ooh, itu karna aku terlambat tidur. Soalnya tadi malam aku keluar makan malam di rumah Ryan. Lalu pulang kerjain tugas jadi ngga cepat tidur” tuturku panjang lebar.


“APA? MAKAN MALAM? RUMAH RYAN?” kaget Lina.


“Maksud lo apa sih Syam? Tadi lo bilang ngga pacaran sama si Ryan, tapi malah makan malam di rumah Ryan” sambung Lina yang masih bingung.


“Heheeh, makanya dengar dulu. Jadi, semalam itu aku diundang sama om Hendra dan tante Rini, yang ternyata itu papa sama mama Ryan” tuturku.


“Trus lo kenal dimana sama orang tua Ryan” Tanya lina.

__ADS_1


“Itu loh, ada dulu gue pernah cerita. Saat mau pergi beli makan malam gue nabrak orang, dan dia ternyata papahnya Ryan. Trus ada juga gue bilang minjamin motor ke orang yang mogok mobilnya di jalan, yah itu orang yang sama” tuturku.


“Hoooohh” jawab Lina.


“Berarti lo memang jodoh sama kak Ryan, Syam” ledek Lina.


“HEH, apa sih lo lin. Gue sih mau aja. Tapi dia?" Candaku.


“Hahahhaahhah” kami tertawa bersama.


"Tapi dalam hati lo berharap kaaaaaannnn??" selidik Lina


"Hahahah, rejeki ngga boleh ditolak Lin. Kalau Tuhan ngasih, yah ayo" jawabku yang maaih ngehalu.


"Ahhahahahhaha" tawa kami lagi.


"Halu Syam, halu!! Kali aja jadi. Ntar gue Aminin deh" ledek lina masih dalam tawanya.


"AAAAMIIIINNNNNN. HAHAH" jawab kami bersamaan.


Setelah perbincangan yang cukup panjang itu, kami memutuskan untuk makan siang di kantin fakultas. Kami memang sengaja makan di sana, karena pukul 01.00 nanti kami ada mata kuliah lagi. Setidaknya kami masih bisa istrahat sedikit selesai makan sembari menunggu jam mata kuliah dimulai.

__ADS_1


__ADS_2