Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
10


__ADS_3

Ryan terlihat berjalan sendiri menuju kantin fakultas. Hal ini karena setelah keluar mata kuliah tadi, Rendi segera pulang untuk mengantar mamahnya ke rumah sakit.


Sesampainya di kantin Ryan terlihat bingung. Bagaimana tidak, kantin yang begitu luas kini tidak menyisakan meja kosong yang memungkinkan untuk ditempatinya.


“Aduh rame lagi. Giman nih?" Guman Ryan sambil mencari-cari tempat untuk duduk.


“Ryan” panggil Dindea. Sambil melambaikan tangan.


“Huh. Apa sih tu cewe. Bikin malu gua aja. Mana Rendi ngga ada lagi" gerutu Ryan.


“Ryan. Lo disini aja”. Panggil Dindea lagi.


“Ngga Din makasih. Gua disini aja. Lagian kalian kan rame”. Jawab Ryan datar.


Tanpa permisi. Ryan segera menarik kursi dan duduk tepat dihadapanku. Sontak membuatku kaget.


“Lo ngapain disini”. Tanyaku ketus.


“Lah. Makan lah. Masa mau liat lo”. Jawabnya tidak kalah ketus dengan wajah dinginnya itu.


Sementara Dindea menggerutu di mejanya.


"Huh, siapa sih tu cewe. Awas aja kalau berani dekat-dekat Ryan" kesal Dindea.


“Ngapain lo duduk ditempat gua” tanyaku masih dengan wajah jutek.


“Emang lo kira ini tempat lo?” Ryan datar


“Kan gua yang duduk duluan” jawabku.

__ADS_1


“Trus.??? Jawab Ryan sambil mengerutkan keningnya.


“Lo ngga bisa diam yah. Cerewet banget sih jadi cewek”. Kata Ryan.


“Lo kali yang diam, jadi cowok kok nyebelin banget” Jawabku lagi.


“Eh. Eh. Ada apa ini?" Tanya Lina yang baru dari toilet.


“Kak Ryan? Kak Ryan ngga dapat kursi lagi yah? Tanya Lina.


“Iya”. Jawab Ryan singkat


“Trus kalian kenapa brantam tadi?. Jangan suka brantam deh. Nanti jodoh lagi. Oooppppsss”. Lina keblablasan lagi.


“OGAH”. Jawab kami serentak.


“Itu kan. Jodoh benar” ucap Lina cengengesan.


“Iya iya” jawab Lina.


Lalu kami makan makanan masing-masing, tanpa perbincangan. Walaupun Lina terkadang mencari-cari topik. Tapi Ryan hanya menanggapi dengan wajah dinginnya.


**** Apartemen


Aku yang baru sampai diapartemen bergegas ke sofa empukku di depan televisi sederhanaku. Tanpa melepaskan seragam kampusku.


“Huh. Hari ini lelah bangat”.


“Mending gua mandi dan istrahat deh”. Gumanku.

__ADS_1


Aku yang masih sementara duduk dikursi. tiba-tiba saja ponsel di dalam tas ranselku berbunyi.


“Drrrt drrt"


Aku dengan sigap mengambil ponselku yang berbunyi.


“Oh. Om Hendra”. gumanku sambil melihat layar ponselku.


“Hallo assalamualaikum om” ucapku membuka percakapan.


“Walaikumussalam, Hallo Syam. Kamu lgi sibuk ngga?" Tanya om Hendra diseberang sana.


“Ngga om. Ada apa yah” jawabku.


“Ini istri om Syam. Mau ngajak kamu makan malam. Sekalian ucapan trimakasih katanya. Boleh ngga?” Tanya om Hendra.


“Tapi om. Nanti Syam ngerepotin” timpahku yang merasa tidak enak hati.


“Ngga syam. Kamu datang yah. Kasian istri om sudah siapain semua” tutur om


“Oh iya om. Nanti Syam datang” ucapku yang tidak enak menolak tawaramnya.


“Ya sudah Syam, om tutup dulu, mau bantu tante, heheh, assalamualaikum”.


“Walaikumussalam” jawabku dan om Hendra segera memutus percakapan kami.


Karena sudah terlanjur setuju dengan ajakkan om Hendra, aku memutuskan segera bersiap-siap.


"Ya sudah deh, mending aku mandi dan siap-siap, sekalian sebelum pergi aku solat isya dulu. Lagian ini juga sudah mau waktunya isya, supaya lebih nyaman juga saat diluar" gumanku.

__ADS_1


Aku memang terbiasa dengan melaksanakan shalat dulu sebelum keluar, jika memang waktu shalatnya sudah mendekat. Kupikir itu cara yang baik agar aku tidak ketinggalan waktu shalat, dan juga biar perjalanannya jadi bertambah berkah. Hehehh.


__ADS_2