Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
05


__ADS_3

"PLAKK"


“Sakit tau Syam” cemberut Lina sambil memegangi bagian kepala yang aku pukul.


“Lo sih. Pikiran loh tuh, di kontrol” Ucapku sebal.


“Sory deh. Sory. Gua kan bercanda Syam” jawab Lina menyesal.


"Bercanda sih bercanda, tapi kalau aneh-aneh gitu gue ngga trima" jawabku lagi.


“Ya udah kita keluar deh. Gua lapar” lanjut Lina.


“Ok” sahutku antusias


"Lin. Lo mau pesan apa. Skalian gua pesanin" tawarku.


Ngga sekalian  dibayarin aja syam, ucap lina sambil memankan keningnnya.


“Enak aja. Udah buruan” ketusku.


“Iya deh. Kejam amat sih jadi cewek. Pantas lo jomblo” Ledek Lina.


“Linaaaaaaa” teriakku.


“Iya iya. Gua pesan nasi goreng sama jus jeruk” tutur Lina.


“Ok”


Seteleh selesai memesan makanan kami, aku mengambil pesanan kami. Dengan telaten aku berjalan dan makanan kami mendarat dengan indah di atas meja.


“Syam Syam” greget Lina.


“Apa sih. Lo kebiasaan deh Lin. Kalau ngomon buru-buru mulu dan ngga pernah jelas” ketusku.


“Itu loh. Itu” Lina yang masih fokus memandangi apa yang menyita perhatiannya.


“Siapa sih” dengan wajah bingun aku menoleh kearah yang dikodekan Lina.

__ADS_1


“Hah, ucapku kaget. Dia ngapain kesini” sambungku.


“Yah makan lah. Masa nyari lo” Lina  tertawa tanda tidak percaya dengan pertanyaan yang kulontarkan barusan.


“Siapa tau yah” tambahku sambil tersenyam tidak mungkin.


"Idih mulai gila ya loh, atau lo sakit?" selidik lina dengan kondisiku sembari memegang kepalaku.


###


Diseberang sana nampak Ryan dan temannya yang sedang kebingungan mencari tempat untuk duduk.


“Yan, kantin penuh nih”. Ucap teman Ryan yang tak lain adalah Rendi.


“Trus, kita balik?” tanya Ryan dengan wajah datar.


“Ya elah Yan. Emang lo ngga lapar apa? Lagian kan setelah ini kita ada kelas” ucap Rendi.


“Jadi?” Ucap Riyan bingung.


“Apa sih” Ryan.


“Kita duduk saja bareng gadis gadis cantik itu” tawar Rendi.


“Bukannya itu gadis sebelumnya yah”. Guman Ryan.


“Yan. Lo bilang apa barusan. Ngga denger gua” Rendi


“Ngga Rend” Ryan.


“Ya uda ayo” Rendi yang bergegas menuju mejaku dan Lina sedangkan Ryan megikut saja. Karena jujur Ryan juga sedang lapar.


“Hi nona-nona cantik, apa kami boleh numpang duduk disiini” tanya Rendi dengan gaya playboynya.


“Yah kambuh ni anak” Guman Ryan.


“Oh silahkan kak” jawab Lina antusias menyambut kedua cowok tampan itu.

__ADS_1


sementara aku hanya diam menyaksikan begitupun dengan Ryan.


“Ok thanks” Rendi.


“Ayo yan, Duduk. lo Ngga cape berdiri mulu” ajak Rendi.


“Iya”. Jawabnya singkat.


Seteleh makanan mereka datng. Kami melanjutkan makan sambil sesekali bercakap.


“Oh ya nama nona-nona cantik ini siapa” tanya Rendi.


“Ah ya, saya Lina dan ini teman saya Syam” jawab Lina.


“Oh ok. Oh ya gua Rendi dan ini teman gua adryan atau panggil saja Ryan”. Tutur Rendi.


“Ooh” tutur lina.


Setelah meyelesaikan makanan kami, aku mengajak Lina keluar dari kantin. Selain karena sudah selesai juga karena aku merasa agak nggak nyaman gitu sama mereka.


“Lin ayo. Kita solat dulu”. Aku membisik Lina.


“Oh ya kak. Kami duluan mau solat. Hehe”. Ucap Lina cengengesan.


“Apaan sih Lin. Ngapain pake bilang coba” Gerutuku.


“Ok. Manis. Hati-hati” Rendi sambil melambaikan tangan sedangkan aku dan Lina bergegas pergi.


 “Plaaaak”.


“Loh kebiasaan ya Rend. Liat cewe dikit aja, kambuh gilanya”. Sebal Ryan.


 “Eh apaan sih Yan. Dan kenapa coba lo diam dari tdi. Huh” sebal Rendi.


Lalu mereka melanjutkan makan mereka.


bersambung___

__ADS_1


__ADS_2