Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
17


__ADS_3

Setelah selesai mata kuliah terakhir, aku dan Lina bergegas keluar ruangan. Karena waktu sudah mendekati asar. Kami memutuskan untuk asar dulu sebelum pulang. Tanggung soalnya.


“Oh ya Syam, kamu jadi pulang bareng kak Ryan?” Tanya Lina kemudian.


“Blum tau nih”jawabku bingung.


“Jadikan saja Syam, barangkali jodoh” ledek Lina.


Drttt ddrtttt,,,


“Ponsel lo tu Syam” ucap Lina sambil menunjuk tas punggunggku.


“Hum, paling ngga penting Lin. Biasanya kan kalau ayah atau ibu, malam hari baru nelpon” tuturku cuek.


Namun belum beberapa menit aku acuhkan nada dering itu, tiba-tiba saja ponselku kembali berbunyi.


Drrtttttt ddrrrrtttt,,


“Tuh kan Syam, bunyi lagi. Angkat gih” perintah Lina.


Aku langsung mengecek ponselku.


“Om Hendra, Lin” jawabku ragu.


“Om Hendra papahnya Ryan?” Tanya Lina mematiskan.


“Hm” jawabku singkat sambil mengangguk.


“Ya udah sana, lo angkat” Lina.

__ADS_1


“Hallo, assalamualaikum om” ucapku memulai percakapan.


“Walaikumussalam Syam” jawab om Hendra.


“Iya om, ada apa?” tanyaku.


“Kamu dimana Syam?” tanya om Hendra.


“Lagi di kampus om, baru selesai mata kuliah” tuturku.


“Kamu pulang bareng Ryan saja yah Syam, supaya sekalian kamu ambil motor” ucap om Hendra lembut.


“Baik om" Jawabku.


"Pantas saja Ryan mengajakku pulang bareng tadi, hmhm padahal aku sudah mulai kegeeran" gumanku.


"Kenapa Syam?" tanyanya.


"Itu loh, tadi om Hendra menyuruh pulang bersama Ryan" jawabku santai.


"Ciyeeeee, rupaya ada yang dapat lampu hijau dari calon mertua nih" ledek lina.


Tampa menhiraukan ledek Lina aku segera masuk musola.


***


Ketika keluar dari musola aku langsung mencari Ryan. Setelah mataku menyapu hampir seluruh area parkiran, akhirnya aku melihatnya berdiri disamping motornya dengan memasang muka dingin khasnya. Mungkin dia sedang menungguku, itulah yang ada dipikiranku saat itu. Aku memperhatikannya sambil tersenyum kecil dan senyuman itu tidak luput dari pandangan Lina.


"Suit suit. Ciyeehh ada yang lagi bahagia nih" ledek Lina kembali.

__ADS_1


"Apaan sih Lin" jawabku sambil tersenyum malu-malu.


Bukan rahasia lagi antara aku dan Lina. Lina tau betul, walaupun aku sering marah-marah kalau bertemu Ryan dan Ryan selalu saja mengundang emosi dengan wajah dinginnya itu. Tapi tetap saja aku sudah terlanjur terpikat dengannya.


**


Di parkiran sana terlihat Ryan yang sedang sibuk memainkan ponselnya, dan sesekali melirik sekeliling untuk memastikan kedatanganku.


Setelah beberapa saat akhirnya dia melihatku mendekat.


Tanpa ba bi bu, dia langsung meneriakiku dengan wajah jengkelnya.


"WOI" teriak Ryan.


Sedangkan aku dan Lina yang berjalan mendekat dia akhirnya di buat kaget.


"Syam, sudah ditungguin tuh sama gunung es kesayangan" ledek Lina ketika melihat ekspresi wajah Ryan yang tidak bisa terbaca. Entah dimana sikap ramah dan senyum manis tadi pagi.


Agar Ryan tidak bertambah murka. Aku memutuskan pamit pada Lina dan mempercepat langkahku.


"Lin duluan ya, by" ucapku terburu-buru pergi dan Lina hanya mengiyakan tak lupa melambaikan tangannya.


"Lo dari mana sih, emang lo pikir gue supir lo apa?" Judes Ryan.


"Maaf, tadi gue sekalian asar dulu" jawabku merasa bersalah.


Namun Ryan seolah tidak ingin mendengar alasanku. Dengan cepat dia memberi helm dan menyuruhku naik di motor kesayangannya itu.


Selama perjalanan pulang kami hanya diam membisu seperti biasa. Aku yang sudah mengerti dengan sikap dingin dan jutek Ryan memilih diam saja.

__ADS_1


__ADS_2