Si Tampan Gunung Es

Si Tampan Gunung Es
37


__ADS_3

“HEI” ucapku mengagetkan Lina yang tengah duduk melamun.


“Ngapain sih loh Syam, sukanya ngagetin gue mulu” kesal Lina.


“Yehhh. Lo tuh, yang ngelamun mulu. Ngapain sih lo ngelamun siang bolong gini” jawabku mencibir Lina.


“Lagian lo ngelamunin apaan sih? Kepo gue” tanyaku kepo pada Lina.


“Ngga kok, gue ngga melamun tadi” elak Lina.


“Yehh, pake bohong lagi. Tapi dari pada lo ngelamun mulu mending ikut gue deh. Kita ke apartemen gue, ada mami lo di sana” ajakku. Lina memang menganggap ibu sebagai maminya, walaupun mereka tidak begitu sering bertemu, tapi karna kebaikan ibu tentu saja membuat Lina begitu menyukainya. Terlebih lagi mamahnya juga kenal baik dengan ibu.


Mendengar bahwa ada maminya di apartemen, Lina antusias menggandeng tanganku lalu menuju parkiran.


“Oh ya Syam, apa kita singgah makan dulu?” Tanya Lina.


“Ah itu, mending jangan. Kasian ibu di rumah sendiri. Biar aku masak aja. Supaya ibu rasin masakan aku” jelasku yang dibalas anggukan oleh Lina.


**


“Assalamualikum mami, putri mahkota come back nih” ucap Lina dengan khas centilnya saat memasuki apartemenku.


Ibu sontak tersenyum, melihat tingkah Lina. Lalu menyambut kami.


“Walaikumussalam nak. Bagaiman kabarmu?” Tanya ibu pada Lina sambil memeluk gadis itu.


“Bu, kenapa hanya Lina yang ditanya kabarnya juga di peluk. Sebenarnya anak ibu siapa sih?” ucapku pura-pura ngambek.


“Kasian anak ibu. Kamu kurusan sayang. Apa kamu ada masalah?” Tanya ibu khawatir.


“Ngga kok bu”


“Biasa mi, masalah sama si doi” ucapku dan Lina berbarengan. Mendengar ucapan Lina aku reflex menyenggolnya yang kebetulan berdiri di dekatku. Namun apalah daya, nasi telah menjadi bubur. Ibu sudah mendengar ucapan Lina.


“Ngga usah terlalu di pikiran nak. Ibu yakin, kalau dia jodohmu kemanapun dia bersembunyi pada akhirnya akan bersama kamu juga. Minta saja pada Allah nak, agar dia dijadikan jodohmu. Sekalipun bukan dia jodohmu, semoga kamu jadi jodoh orang yang mendoakanmu” petuah ibu dan aku menganggukan ibu.


“Aduh, aku jadi terharu nih” ucap Lina.


“Tapi aku lapar nih” tambah Lina jujur.


“Lo kebanyakan ngomong sih Lin” celetukku, dan berhasil membuat Lina memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


“Ya sudah, kalian istrahat dulu biar ibu memasak sesuatu” ucap ibu. Namun hal itu dicegah oleh Lina. dia tetap menyuruhku memasak, karena aku sudah terlebih dahulu berjanji akan memasakanya. Aku langsung segera ke dapur dan menyiapakan bahan-bahan yang hendak kumasak. Tampa menunggu waktu lama aku telah menyelesaikan misi memasakku.


“WAW, anak ibu sekarang sudah ahli memasak yah” puji ibu saat mendekat kearah meja makan yang telah ku hias dengan banyak makanan. Aku hanya menanggapi dengan dengan senyum, begitupun Lina.


“Rasanya juga enak Syam” tambah ibu lagi.


“Ya iyalah mi, kan yang ajarin calon mertua” jawab Lina dengan ledekannya.


“Ah kau benar nak” jawab ibu. Semenantara aku hanya tersenyum kecut menanggapi ledekan mereka.


Setelah menyelesaikan makan siang kami, kami memutuskan untuk bersantai di ruang tengah apartemen yang tidak begitu luas itu.


“Ayah pulang jam brapa bu?” tanyaku di sela-sela pembicaraan kami.


“Paling bentar lagi juga pulang. Soalnya kan ini baru pertemuan pertama dengan klienya. Paling yang mereka bahas belum masuk inti pekerjaan” jelas mama. Dan benar saja, belum beberapa menit terdengar ayah yang memberi salam.


“Assalamualaikum” ucap ayah ketika memasuki apartemenku.


“Walaikumussalam yah, pi” jawab kami bertiga.


Aku segera mendekati dan memeluknya. Aku begitu merindukan ayahku itu. Begitupun dengan Lina. dia memang tidak pernah mau kalah denganku.


“Bagaimana kabar kalian nak?” Tanya ayah yang masih memelukku dan Lina.


“Sudah-sudah, biarkan ayah istrahat dulu, ayah pasti sangat capek” tegur ibu.


“Ya sudah, ayah istrahat dulu! Apa ayah sudah makan?” tanyaku.


“Sudah sayang” jawab ayah. Lalu ayah segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri.


“Ayah ngga ada kerjaan kan malam ini?” Tanya ibu saat mereka di dalam kamar.


“Tidak bu. Emang kenapa bu?” Tanya ayah penasaran.


“Itu loh yah, nyonya Adwijaya mengajak makan malam di rumahnya. Mungkin untuk membahas kelanjutan dati perjodohan” jawab ibu.


“Ya sudah, kita siap siap sekarang. Keburu kemalaman” ucap ayah. Lalu kami bersiap-siap.


Kini Kami sudah selesai bersiap-siap. Aku juga terlihat begitu cantik kata ayah dan ibu, dengan balutan dress panjang berwarna pink yang ditambah jilbab pashmina moca. Sedari tadi mereka memaksaku berdandan dan memakai pakayan yang itu. Padahal mereka tahu kalau aku nggak begitu menyukai pakayan yang begitu feminim. Ini saja ibu yang bawa dari bandung.


Tak lama setelah kami selesai bersiap, Mang Dio yang ditugaskan untuk menjemput kami, akhirnya sampai juga. Kami lansung bergegas keluar apartemen dan menuju mobil yang dibawa mang Dio. Tidak untuk membuat majikannya menunggu, mang Dio segera melajukan mobilnya menuju rumah mewah keluarga Ryan.

__ADS_1


Sesampainya di sana, kami disambut antusias oleh keluarga Ryan yang sedari tadi tengah sibuk memepersiapak segaa hal untuk menyambut kami.


“Assalamualaikum tant om” ucapku sambil bergantian mencium tangan mereka.


“Walaikumussalam Syam. Bagaimana kabarmu sayang? Bebrapa hari ini kamu ngga mengunjungi tante” Tanya tante Rini lembut.


“Aku baik tant, hanya sedikit sibuk saja” jawabku. Lalu mereka berbincang-bincang sesama mereka. Aku hanya diam dan mataku sibuk menyapu ruangan mencari keberadaan Ryan.


“Ryan sedang dikamarnya sayang. sedang bersiap” tutur tante Rini yang melihatku. Aku merasa slah tingkah kedapatan tante Rini, dan mereka tersenyum yang melihat tingkahku.


“Ah. Ayo silahkan masuk. Kami sampai lupa mempersilahkan masuk” tutur tante Rini.


“Ngga paapa kok” ucap ibu dan berjalan masuk.


“Kita langsung ke meja makan saja yah” ajak tante Rini pada kami semua dan kami hanya menurutinya.


“Mah, coba cek Ryan. Kenapa dia lama sekali?” perintah om Hendra.


Namun sebelum mama beranjak dari kusinya, terlihat Ryan yang menuju meja makan tempat kami semua berada.


“Pantas saja Syam sampai terpikat, rupaya anak kamu sangat ganteng” puji ibu saat melihat ketampanan Ryan. Yah Ryan memang sangat ganteng dengan pakyan formalnya juga, celana panjang hitam dipadu dengan kemeja moca yang senada dengan jilbabku.


“Ibu” ucapku pada ibu. Bagaimana bisa dia membuat anaknya tersudut.


“Maaf Ryan terlamabat” ucap Ryan pada kami, lalu mencium tangan ayah dan ibuku.


“Ngga papa kok nak. Kamu sangat ganteng” puji ibu pada Ryan.


“Tante bisa saja. Anak tante juga cantik” elak Ryan lalu menarik kursi di sampingku dan duduk. Aku yang mendengar Ryan memujiku sontak menoleh kea rah Ryan dengan ekspresi kaget.


“Lo ngga usah pede. Gue cuman bercanda” ucap Ryan dengan wajah dinginnya.


Setelah semua berkumpul kami segera makan malam.


“Siapa juga yang pede” elakku.


“Kalian sedang bisik-bisik apa?” Tanya ibu.


“Ngga kok bu” jawabku. Sedangkan Ryan hanya tersenyum.


“Kalian sangat cocok deh, pakayan kalian juga serasi” ucap tante Rini.

__ADS_1


“Mah” ucap Ryan dengan ekspresi melototnya. Sedangkan aku hanya tersenyum malu-malu menanggapinya.


“Kenapa sih sayang, Syam saja biasa saja responnya” elak tante Rini.


__ADS_2