
Malam ini adalah malam pertunangan kami. Saat selesai isya aku sudah selesai dengan dandananku yang simple namun tetap cantik (kata orang-orang sih).
Semua orang terlihat bahagia di malam ini, tidak terkecuali aku. Tapi sebenarnya aku juga tidak tahu bagaimana perasaan Ryan.
“Waw, apa benar ini putri ibu?” ucap ibu tidak percaya saat masuk kamar tempatku berada. Yah, karena pertunangannya diadakan di rumah mewah keluarga Ryan. Maka para orang tua sepakat agar aku, ayah dan ibu nginap dirumah ini.
“Ibu apa-apan sih. Ini kan Syam. Masa lupa sama anak sendiri sih?” ucapku pura-pura ngambek.
“Habisnya kamu cantiknya kelewatan sih” puji ibu sambil memelukku.
“SYAM, kamu kok bisa cantik gini sih?” teriak Lina saat memasuki ruangan.
“Huh, apaan sih Lin” elakku.
“Tapi, ngomong-ngomong, akhirnya halu lo jadi kenyataan juga yah. Ciiyeeeh” goda Lina.
“Sudah-sudah, kalian jangan ribut. Ini adalah hari bahagia, jadi ngga usah pake debat segala” ucap ibu menengahi perbincangan kami.
**
Sedangkan di kamar Ryan, Ryan yang sudah rapi dengan setelan jasnya terlihat sibuk menghafalkan kata-kata untuk melamarku. Tentunya bukan kata-kata dari hatinya tapi kata-kata romantic yang sengaja di rangkai oleh mamah tercintanya. Seperti biasa, Ryan awalnya menolak. Tapi sekeras apapun dia mempertahankan egonya, tetap saja mamahnya tidak mau kalah.
“Mah, kenapa harus lebai gini sih?” jengkel Ryan.
“Apanya yang lebai sih sayang, ini itu kata-kata yang normal untuk melamar” tegas mamah.
“Tapi mah, aku geli sendiri bacanya, apalagi harus aku ucapkan di depan gadis cerewet itu” tambah Ryan lagi.
“SYAM Ryan, namanya Syam. Dia itu calon istri kamu, kamu harus hargain dia” marah mamah Ryan.
“Iya mah, Ryan tau. Tapi mama yakin dia yang terbaik?” Tanya Ryan merasa tidak yakin.
“Ya iyalah, emang kamu pikir mama akan biarkan anak kesayangan mama ini dimilikin sama orang yang tidak baik?” jawab mamah Ryan dengan percaya diri sambil memegang lembut pipih anaknya.
“Terserah mama saja deh” jawab Ryan malas.
“Ya sudah, kamu lanjut hafalin lagi. Mamah tinggal dulu” ucap mamah Ryan, sedangkan Ryan kembali menghafalkan kata-kata romantic itu. Pada dasarnya bukan masalah menghafalnya yang sulit, apalagi dengan otak cemerlang Ryan, hanya saja dia merasa geli saat mengucapkan kata-kata itu. Itulah sebabnya dia sulit untuk menghafalnya.
**
Di disi lain, aku sedang berjalan keluar menuju taman dimana para orang tua dan sanak keluarga saat ini berada. Yah, memang pertunangan ini diadakan di taman samping rumah Ryan. Dekorasi berwarna putih dan ditambah lampu-lampu kecil yang banyak menambah kesan romantic taman ini. Aku berjalan begitu cantik yang di damping oleh Lina. Bukan hanya para keluarga yang memuji kecantikanku, bahkan Ryan tidak berkedip memandangku sejak tadi. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
“Waw, calon lo tuh bro” ucap Rendi yang tidak dihiraukan Ryan.
“Oi” teriak Rendi menyadarkan lamunan Ryan.
“Ngapain sih lo teriak-teriak Rend” jengkel Ryan.
__ADS_1
“Yah lo, ngapain coba ngelamun gitu” jutek Rendi.
“Habisnya, kenapa coba tuh cewek bisa cantik gitu?” jawab Ryan.
“RYAN, gue kan lebih cantik” jengkel Dindea.
“Apaan sih lo Din?” jengkel Rendi.
“Lagian lo sih Rend, ngapain coba lo ngajak dia?” ucap Ryan.
“Kaya lo ngga tau dia aja” ucap Ryan santai.
“Baiklah, para hadirin sekarang kita akan melangkah pada acara inti malam ini. Acara yang begitu kita nanti-nantikan. Yaitu acara pertunangan putra putri kita.
"Untuk Ryan dan Syam, silahkan naik ke panggung” Ucap paman Ryan.
Mendengar ucapan pamannya, Ryan langsung berjalan menuju panggung dengan jentelnya.
“Syam, ayo naik ke panggung nak. Kasian nak Ryan sudah dipanggung tuh” ucap ibu.
“Tapi aku malu bu” ucapku.
“Kamu ngga boleh gitu sayang. ayo sana” ucap ibu lembut yang dituruti olehku.
Kini aku begitu tegang diatas panggung yang hanya tersisa aku dan Ryan, namun Ryan justru terlihat santai.
Tapi takdir tuhan yang mempertemukan kita.
Pertemuan yang kita anggap kebetulan saat itu, rupaya kesengajaan yang di rancang Tuhan.
Syam, mungkin aku bukanlah laki-laki yang baik,
Bukan laki-laki yang sesoleh pangeran impianmu,
Atau bahkan mungkin aku sangat jauh dari sosok laki-laki yang kau idam-idamkan sebagai imammu kelak.
Tapi untukmu, semua akan ku usahakan.
REFINA SYAM AZZAHRA, hari ini dihadapan keluarga besar kita
Aku memintamu
Maukah kau menikah denganku ADRIAN MAHENDRA ADWIJAYA?
Maukah kau menerimaku sebagai pendamping hidupmu?
Maukah kamu Bersama-sama saling mengingatkan di dunia yang fana ini
__ADS_1
Dan saling merangkul menujuh jannah-Nya Allah***?”
Kata-kata itu, entah mengapa terdengar indah di ucapkan oleh Ryan, yang dengan sekejap menggetarkan seluruh tubuhku. Seolah tak kuasa mendengarnya, air mataku pun membersamai kebahagiaan ini. Aku seolah terpaku mendengar semua kata perkata yang keluar dari bibir Ryan dengan lancarnya.
“SYAM” ucap Ryan lembut masih dengan posisi setengah duduk dihadapanku dan seketika menyadarkanku yang masih terpaku mencerna semua kalimat yang diucapkannya.
“ Ah... ADRIYAN MAHENDRA ADWIJAYA……”
“YA, aku mau menikah denganmu. Dan kumohon pahamilah sifatku yang kekanak-kanakan ini” ucapku yang membuat semua orang bernapas legah. Tak terkecuali Ryan. Namun mereka sedikit tertawa karena ucapan penutupku yang sedikit aneh.
“Baiklah, sekarang kedua ibu masing-masing calon memakaikan cincin tunangan kepada anak masing-masing” ucap paman Ryan, yang diikuti oleh ibu dan mama Ryan.
“Selamat yah sayang” ucap mama berkaca-kaca saat memakaikan cincin berlian itu di jari manis mungilku.
“Iya bu” balasku lalu memeluk ibu.
“Selamat yah sayang. Oh ya, kamu curi dimana kata–kata mutiaramu itu?” ejek mama Ryan saat memakaikan cincin di jari manis anak kesayangannya itu.
“Mama apaan sih, Ryan jadi malu nih. Lagian mama pandang enteng Ryan sih” jawab Ryan dengan narsis, sedangkan mamahnya hanya tertawa.
“OI. Selamat bro. Ternyata lo bisa juga, HEHH” ucap Rendi.
“Selamat yah Syam. Ciyyeeehhh” ejek Lina sambil melihatku bergantian dengan Ryan.
“Huh, Apa sih Lin?” ucapku melihat tingkah Lina.
“Selamat yah Syam. Yang sabar aja hadapin ES kutub. Dia aslinya baik kok” ucap Rendi padaku sambil melirik Ryan.
“Makasih kak” ucapku sambil tersenyum simpul.
Tak hanya dari sahabat-sahabat kami, ucapan selamat datang bergantian dari keluarga kami yang sempat hadir di acara ini, bahkan keluarga yang tak sempat hadirpun ikut memberi ucapan selamat pada kami.
Melihat kami yang begitu bahagia, membuat darah Dindea bertambah mendidih.
“Liat aja, gue ngga akan biarin lo milikin Ryan. Dasar wanita tidak tau diri” guman Dindea.
“Lo ngga mau ngasih selamat sama pangeran kesayangan lo Dind” bisik Rendi mengejek.
“Apa-apan sih lo. Pergi sana” ucap Dindea.
“Mending lo relain dia, Ryan sudah menjadi tunangan orang. Dan mereka juga terlihat sangat cocok” ucap Rendi lagi.
“Lo bawel bangat sih. Mending antarin gue balik” ketus Dindea sambil berjalan keluar.
“Yan, Syam gue balik dulu yah. Dindea sudah naik darah tuh. Oh ya, salam sama mami papi gue” ucap Rendi terburu-buru.
“OK” ucap Ryan.
__ADS_1
Karena malam yang sudah larut, para keluarga bergantian pamit pulang. Sedangkan aku, ayah dan ibu masih menginap di rumah Ryan. Karena hari ini kami terlalu kelelahan. Hari ini benar-benar hari yang panjang.